Masa Masa SMA

Masa Masa SMA
Jadi Givan? Omo!


__ADS_3

Zia menggeleng. "Gak tau sih Cha, gak gitu," katanya. "Tadi Si Alkana cuma bilang, 'eh kayaknya gue harus anterin Echa lo ikut di belakang' maksudnya ke gue, biar gampang gitu balik ke sekolah nya lagi ambil motor setelah balikin lo ke rumah dengan aman. Nah, Givan nyaut."


"Nyaut gimana?" tanya Echa.


"Dia bilang, dia aja yang anterin lo," jawab Zia. "Pas Alkana bilang kalau dia bakal ikutin di belakang karena Givan bawa motor juga, dia bilang gak perlu. Dia mau nganter lo sendiri."


Jadi begitu.


Echa mengangguk dan diam, tak sadar kalau sikap itu membuat Zia melihatnya sambil memincingkan mata.


"Apa nih?" Nadanya terdengar penuh ke curigaan. "Kalau Crush lo bukan Angga, jadi Givan? Omo!"


Zia kaget sendiri dengan apa yang di katakan nya, sampai Zia menutup mulutnya dengan mata membulat dan sekarang telunjuknya menujuk-nunjuk Echa. "Lo, jangan-jangan ngotot mau ikut cerdas cermat itu karena Givan?"


Sedikit benar tapi tepatnya bukan itu yang berperan besar memotivasi Echa untuk ikut Lomba Cerdas Cermat. Saat itu, Echa ingin terlihat pintar karena tidak ingin di bandingkan dengan kucing.


"Lo mau buktiin ke Givan kalau lo pinter?" kemudian Zia tercenung sendiri, mendengarkan isi pikirannya. "Iya, juga. Itu lebih masuk akal. Kalau incaran lo Angga, ngapain juga lo memantaskan diri? Kalau Givan si---"


"Terus aja bikin pertanyaan dan jawab sendiri," cetus Echa. "Terusin aja."


Setelah berakhir seperti ini, setiap kali Echa ingin bercerita pada Zia, tidak ada yang tuntas, tidak ada yang membantu.


Echa jadi bertanya-tanya, kemana saja dia selama ini sampai temannya hanya Zia saja?


"Eh, tapi bener gak sih yang lo suka itu Givan? Dan Givan bilang lo gak boleh suka karena lo bodoh?"


Pertanyaan ini, bisa tidak sih tidak Echa jawab?


***


Pukul sebelas malam.


Echa yang tidak bisa tidur akhirnya memutuskan untuk bangun dari tempat tidurnya dan berjalan ke meja belajar setelah menyalakan lampu kamar.


Echa diam di sana sambil menatap kosong ke tumpukan buku. Echa bertanya-tanya banyak hal tentang kenapa? Kenapa Givan bersikap begitu?


Jika pertanyaan ini Echa lemparkan ke Givan sendiri, laki-laki itu akan bilang 'entah kenapa' dengan menyebalkan nya.


Getaran singkat ponsel nya yang ada di meja belajar membuat Echa menoleh. Dia meraih ponsel nya di sana saat melihat nama Givan yang muncul di notifikasi pop upnya.


[Jam segini lampu kamar lo masih nyala?]


Refleks setelah melihat pesan itu, Echa melihat ke jendela.


Kamar Echa berada di lantai satu bagian depan. Tepat sekali jendela kamarnya menghadap ke rumah Givan. Apa Givan selalu memperhatikan kamarnya?


Kemudian suara getaran panjang menyusul, karena tidak ingin mengganggu tidur Zia, Echa segera mengangkat panggilan itu dan menempelkan ponselnya ke telinga.


"Ngapain lo telepon gue malem-malem?" tanya Echa setengah berbisik.

__ADS_1


["Gue mau tanya,"] kata Givan di seberang sana. ["Lo udah move on dari cowok hangat itu?"]


(Hangat udah kayak pantat ayam🤣✌🏻)


Echa tidak tahu harus menjawab apa, bagaimana dia harus menjelaskan perasaan ini. Bukan udah move on lagi, tapi Echa sudah tidak memikirkan Kak Kaivan -entah sejak kapan. Mungkin juga, dia tidak akan mengingat nya malah jika Givan tidak membahasnya duluan.


"Harus banget gue jawab?" tanya Echa. "Terlalu niat gak sih nelpon jam segini cuma buat bahas itu?"


Suara kekehan di seberang sana terdengar, dan karena itu Echa jadi terdiam karena membayangkan wajah Givan tertawa dalam kepalanya.


Setelah suara kekehan surut, Echa mendengar suara lagi di sana. ["Oca?"]


Echa tidak menyahut, karena mungkin yang di panggil bukan dirinya. Tapi kucing yang tinggal satu rumah dengan Givan.


["Lo tidur?"] tanya Givan.


Jadi dirinya. "Gue kira lo lagi manggil kucing."


["Bukan tapi lo."]


"Mm."


["Boleh gak gue minta tolong sekarang?"]


Echa mengernyit dan melihat jam yang ada di kamarnya. Pukul sebelas malam? Givan meminta tolong? "Buat?" tanya Echa.


["Matiin lampu kamarnya dan buka gorden kamar lo,"] jawab Givan, jawaban yang masih membuat Echa mengernyit.


["Lakuin aja kalau mau tau."]


Mereka penasaran, akhirnya Echa melakukan apa yang di minta Givan, dia mematikan lampu dan membuka gorden kamarnya. "Udah," kata Echa


["Jangan berdiri di deket jendela,"] pinta Givan membuat Echa akhirnya melipir ke pinggir.


"Udah."


Setelah itu, entah apa yang Givan lakukan di sebarang sana, tiba-tiba saja ada cahaya yang masuk ke dalam kamarnya lewat jendela, dan membuat bentuk bulat putih di tembok kamarnya.


["Baca kata yang lo liat,"] pinta Givan.


Kemudian setelah mendengar Givan berkata begitu, Echa melihatnya ada kata yang muncul. Di tengah cahaya putih itu tertulis namanya. "Niscala Rescha," kata Echa sambil tersenyum. "Lo mau nunjukkin itu doang ke gue?"


["Itu percobaan,"] jawab Givan. ["Mau di foto dulu gak?"]


"Mau," kata Echa kemudian membuka fitur kamera dan memotret nya. "Udah."


Selain namanya yang muncul di sana, ada berbagai bentuk lain, siluet dari bintang-bintang yang Givan minta Echa menebaknya.


Sampai kemudian ada siluet lain yang muncul di sana.

__ADS_1


Bukan bintang lagi.


Melainkan bentuk hati.


["Sekarang sebutin apa yang lo lihat?"] tanya Givan di panggilan nya yang masih terhubung.


"Bukan bintang," kata Echa dengan tatap yang masih tertuju pada siluet bentuk hati di cahaya putih itu.


["Oh ya? Terus apa yang lo lihat?"] tanya Givan.


Ada dua pertanyaan yang muncul di kepala Echa yang melihat bentuk hati itu.


Pertama, apa Givan tidak sadar dengan apa yang di tunjukkan nya?


Kedua, apa ini maksud dari semua yang Givan lakukan? Givan ingin menunjukkan bentuk hati itu padanya, dan setelahnya?


"Bentuk hati," jawab Echa pada akhirnya.


Tidak ada suara Givan yang menyahut seperti sebelumnya untuk memberitahu Echa tentang benar atau salah atas jawabannya.


"Gue salah?" tanya Echa, padahal dia sangat yakin apa yang di lihatnya.


["Apa yang lo lihat bentuk hati?"] Givan malah balik bertanya. ["Coba lihat lagi."]


Echa masih melihatnya, tapi bentuk itu tetap sama, tidak berubah. "Lo yang lihat sendiri di sana," kata Echa.


["Oh gue yang salah."] Givan berkata begitu bersamaan dengan bentuk hati itu yang menghilang. Di ganti dengan bentuk lain.


Bentuk ... bebek.


["Sekarang---"]


"Lucu ya?" tanya Echa dengan nada datar.


["Lo marah---"]


Suara Givan terputus karena Echa sengaja memutuskan panggilannya. Setelah itu menarik gorden jendela membuat cahaya serta siluet dari bentuk bebek itu hilang.


Selalu seperti ini, kan? Echa seharusnya sudah sangat hapal dengan pola permainan Givan yang membagongkan. Givan yang selalu bermain dengan hati dan perasaannya tapi ... apa coba yang Echa pikiran sedetik sebelum bentuk hati itu menghilang dan berubah jadi bentuk bebek sialan?


Echa berpikir, kalau Givan akan menyatakan perasaannya.


"Perasaan apa?" cibir Echa pada dirinya sendiri. "Pacaran aja lo sama papan tulis Cha."


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung... ...


__ADS_2