Masa Masa SMA

Masa Masa SMA
Gak Ada Gajah di Atas Gue!


__ADS_3

Sekarang mereka berhenti dan berdiri berhadapan.


"Di ulang tahun gue yang ke tujuh belas tahun kemarin, gue di kasih tau kalau ternyata gue bukan anak dari Mama, dan gue bukan adik kandung Kak Yuda. Gue adalah anak dari wanita lain, yang Papa dapatkan di luar pernikahan itu."


Echa benar-benar tidak tahu harus berkata apa saat mendengarnya.


"Gue baru tau saat itu. Gue baru ngerti, kenapa Kak Yuda dan Mama gak pernah mau menganggap ke hadiran gue dari kecil, karena emang, gue emang gak di inginkan mereka."


Echa merasa ada yang terasa teriris di dalan dirinya saat mendengar pengakuan itu, dia tidak bisa membayangkan menjadi Givan.


"Lo inget gak, waktu itu, waktu gue lempar bola futsal ke wajah lo, hari itu ada perkumpulan orang tua kan?" Givan tiba-tiba membahas hal lain. "Gue lupa acara apa tepatnya, tapi semua orang tua dari anak-anak dateng, kecuali orang tua gue."


Echa mengangguk dan kembali mendengarkan.


"Soal gue yang jadi lempar wajah lo pake bola futsal, itu bukan karena gue melempar kekesalan gue ke lo," kata Givan. "Lo mau tau alasannya?"


Meski Echa masih tidak tahu kaitannya dengan apa yang mereka bahas sebelumnya, Echa mengangguk.


"Yang gue denger dari anak-anak lain. Setelah orang tua keluar dari kelas, anak dan orang tuanya. Gue lihat mereka antusias, dan gue benci itu. Karena orang tua gue -nyokap gue satu-satunya yang gak dateng. Karena itu, gue gak bisa foto, kan? Mangkanya gue lempar wajah lo pake bola futsal," papar Givan. "Gue nyari temen, yang gak akan foto juga sama orang tuanya hari itu."


Echa tertegun, jadi itu alasannya. Echa tidak pernah tahu, Echa hanya berpikir kalau Givan emang sialan dan sudah itu saja.


Sekarang dia jadi mengerti kenapa Bunda jadi menyayangi Givan selepas itu. Setelah Givan membuatnya menangis karena di lempar bola futsal. Bunda pasti tidak bisa membenci Givan karena tahu alasannya, Givan kecil yang tidak di perhatikan orang tuanya, hanya ingin mendapatkan teman.


"Gue minta maaf," kata Givan setelahnya. "Gue harusnya gak bersikap buruk sama lo."


Echa menggeleng, setelah tahu alasannya dia merasa rela bahkan jika wajahnya harus di lempar bola futsal sekali lagi.


"Jadi lo ngerti sekarang?" tanya Givan. "Maksud gue, setelah gue bilang semuanya ke lo?"


"Gue ngerti," balas Echa.


"Apa yang lo ngerti?" Givan tersenyum tipis saat mengatakannya.


Echa sedang di tes? "Alasan lo lempar bola futsal?"


Givan menggeleng. "Lebih dari itu," katanya. "Lo kemarin, baru aja bilang kalau lo suka sama gue?"


"Iya." Meski Echa tidak tahu kenapa Givan sejak tadi membuat topik mereka loncat-loncat. "Kenapa sama itu?"


Apa kaitannya semuanya?

__ADS_1


"Jadi lo ngerti sekarang, siapa yang lo sukai ini?" tanya Givan. "Anak haram yang gak di inginkan, itu sosok yang lo sukai?"


Anak haram.


Mendengar Givan berkata begitu, cukup membuat Echa merasa sesak.


"Kenapa lo bilangnya gitu?" cicit Echa.


"Gimana lagi harusnya?" tanya Givan dengan senyum yang di paksakan.


Echa juga tidak tahu apa yang tepat untuk di katakan, tapi yang jelas Echa tidak ingin mendengar Givan berkata begitu.


"Itu faktanya, gue mau lo tahu siapa gue sebenarnya."


Echa menggigit bibir bawahnya keras, lalu kembali menatap Givan. "Setelah itu? Setelah gue tau?"


"Gue mau lo pertimbangkan lagi." Givan tersenyum, lalu mengajak Echa kembali berjalan. "Perasaan suka lo ke gue."


Tangan Echa di genggam sementara langkahnya masih terayun.


Karena fakta yang baru di ketahuinya, itu Echa mulai mengerti perlahan, tentang latar belakang yang mendasari sikap Givan, lalu saat Givan mulai menjadi rumit dengan bilang kalau dia tidak akan menikah.


Tapi, "Kenapa gue harus pertimbangin?" tanya Echa yang tidak mengerti bagian itu. Lalu, "Sejujurnya gue gak ngerti sama sekali kaitan dari semuanya," kata Echa sambil melihat Givan yang masih berjalan di sampingnya. "Dari mulai lo bahas Zia, kenapa lo jadi bahas ke sana?"


Ah benar, Givan baru menyadarinya.


"Padahal gue usah susun dengan baik semaleman, yang mau gue omongin ke lo," kata Givan. "Tapi jadinya gak jelas."


"Jadi?" tanya Echa. "Kenapa gue harus pertimbangin rasa suka gue?" Echa mengembalikan topik. "Ini guenya yang bolot atau gimana sih, Givan? Gue gak ngerti banget."


Givan tertawa melihat Echa yang geregetan sendiri. Bahkan, saat Givan sedang memaparkan kisah kelamnya, Echa yang ada di sampingnya itu masih bisa membuat Givan merasa terhibur, hanya dengan melihat reaksinya.


Givan cukup lega, Echa tidak mengasihaninya.


"Duduk lagi, mau gak?"


"Lo ajakin gue bergelantungan di pohon demi ngerti sama apa yang lo bahas, kayaknya gue mau aja."


Setelah menemukan bangku lain, mereka berhenti lagi dan kembali duduk. Echa sudah dalam kondisi siap menyimak.


"Apa lo gak keberatan?" tanya Givan.

__ADS_1


"Kenapa gue harus keberatan?" Echa kembali bertanya. Lalu mengedikkan bahunya, "Gak ada gajah di atas gue."


Givan tersenyum tipis. "Soal semua yang baru lo tau tentang gue?"


Baik, Echa mengerti pertanyaan Givan yang ambigu itu. "Enggak," kata Echa. "Maksud gue, itu sesuatu yang terjadi di luar kendali lo, iya, kan? Kita gak pernah bisa milih untuk ...terlahir dari keluarga orang tua yang seperti apa."


Echa benar-benar berharap kalau kata-katanya tidak menyakitkan untuk Givan dengar.


"Benar, masa lalu bukan sesuatu yang bisa gue kendalikan. Tapi, masa depan ...sebaliknya, kan?" tanya Givan.


Echa memikirkan sebentar, lalu mengangguk. "Bener," katanya dengan senyum.


"Jadi itu keputusannya masih sama," kata Givan. "Gue memutuskan untuk gak menikah karena itu."


Tunggu, tunggu, jadi apa yang Givan maksud dengan mengendalikan masa depan itu? Echa sampai menegakkan punggungnya.


Sumpah ya, yang ada di pikiran Echa saat Givan mengatakan kalau masa depan masih ada dalam kendalinya adalah, Givan yang akan mengusahakan yang terbaik untuk dirinya di masa depan.


Bukan malah ...ke sana.


"Gue gak mau nanti punya anak, yang akan tahu kalau dia lahir dari seorang Ayah yang ternyata adalah---"


"Sumpah, Givan!" Echa menginterupsinya. "Lo bisa berhenti bikin keputusan yang ekstrem tentang masa depan lo dari sekarang?"


Echa mulai merasa frustrasi sekarang. Jujur.


"Keluarga gue, Mama dan Kak Yuda, dia juga bakal memperlakukan siapa pun yang jadi istri gue dengan buruk. Jadi dari pada harus ada orang lain yang mendapat perlakuan itu dari mereka gue lebih memilih untuk enggak---"


"Menikah?" Echa mengatakannya, dan langsung di angguki oleh Givan.


"Tapi---" Echa menyukai Givan!


Dan seolah mengerti bagian yang tidak terucap dari mulut Echa, Givan berkata, "Kita masih bisa jadi temen, kan?"


.


.


.


...BERSAMBUNG .... ...

__ADS_1


__ADS_2