
Setelah memasang kancing dan memakai seragam nya kembali, Echa keluar dari UKS. Dia mendapati Givan masih ada di sana, menepati janji.
Givan tidak terlalu berengsek seperti yang selama ini ada dalam bayangan Echa, ternyata. Setelah memberi kan kancing nya, setelah di tampar dengan nampan cewek yang di sebut nya kesurupan reog, Givan masih mau menjaga dan menemani nya.
"Thanks, Van," kata Echa. Dia tidak mau terlalu di anggap tidak tahu diri jika sampai tak mengucap kan sepatah kalimat terima kasih. "Thanks udah nungguin di sini. Karena kalau enggak ada, gak tau deh."
Mungkin Echa akan kesurupan beneran?
Menyadari ada Echa yang berdiri di depan nya, Givan yang semula menyandar kan punggung nya ke tembok -sambil memain kan ponsel nya- segera menegak kan tubuh.
"Thanks juga buat ... kancing." Echa menyentuh kancing yang kedua dari atas yang baru saja di pasang nya. "Nanti gue traktir lo, kapan kapan kalau gue udah gak miskin."
Tanpa menanggapi perkataan Echa, laki laki itu memasuk kan ponsel nya ke saku dan melihat Echa. "Ayo ke kelas."
"Mm." Echa berpikir dan melihat ke koridor di sisi kanan nya, sebelum kembali melihat Givan saat bilang, "Lo duluan aja, gue mau ke toilet nyamperin Zia."
"Temen lo yang di kuncir itu?"
"Iya."
"Tadi ke sini dan bilang mau ke kelas duluan."
Echa menyangsi kan nya. "Masa sih?"
Tetapi Givan memberi kan anggukan mantap, membuat Echa akhir nya percaya.
Akhir nya Echa pergi ke kelas bersama Givan.
Jarak dari UKS ke kelas itu cukup jauh. Echa sudah menghitung nya dalam bayangan begitu mulai melangkah di samping Givan. Belum lagi rute nya akan melewati tangga tempat terjadi ciuman pertama yang membagong kan itu.
Sebenar nya ada tangga lain, tapi letak nya di ujung koridor, sangat jauh. Akan ketara sekali usaha menghindari nya dari tangga penuh kenangan itu, jika Echa tiba tiba mengajak Givan untuk menaiki tangga lain.
Jadi Echa pikir, terlarut dalam obrolan akan lebih baik dari pada mereka saling diam di tangga nanti. Takut nya Givan tiba tiba malah membahas itu, Echa masih menyayangi diri nya. Jangan sampai Givan banyak menista kan nya hari ini.
"Boleh gak sih gue nanya?" tanya Echa membuka percakapan. "Um ... lo kenapa pindah ke Bandung?"
Itu pertanyaan yang acak sebenar nya, Echa tidak mengharap kan jawaban apa apa. Dia hanya ingin membuat fokus nya Givan tertuju untuk menjawab pertanyaan saat mereka menyusuri satu per satu anak tangga nanti. Tetapi, jawaban Givan yang sangat tidak terduga berhasil membuat Echa menganga kan mulut nya.
Givan menjawab begini, "Karena gue kangen Bebek Kuning ini." Sambil menatap Echa dengan senyuman yang ... mengandung madu tidak sih? Kok kayak ada manis manis nya gitu?
__ADS_1
Echa segera menyadar kan diri.
"Apaan Bebek Kuning?" Echa mengalih kan pandangan ke arah lain dengan pipi yang terasa panas.
"Salting ya?" tanya Givan sambil ... wah apa ini? Telunjuk nya baru saja menusuk pipi Echa. "Kesurupan reog lagi dong." Setelah mengata kan itu, Givan tertawa keras.
Heu~
"Gak kapok ya, di hantam nampan?"
Itu adalah jawaban yang di katakan Echa dengan susah payah.
"Enggak ada nampan di sini." jawab Givan.
Benar juga sih.
Mata Echa berpendar, mencari cari sesuatu. Lalu dia mendapati jajaran bunga mawar di sisi koridor.
"Di lempar bunga mau gak?"
Givan malah mengangguk. "Mau."
"Tapi, sama pot nya." lanjut Echa.
Bentar. Bungkus? BUNGKUS?!
"Woy!" Echa menatap nya sambil melotot. "Bungkus apa sih ah, lo tuh---" Tau tidak sih kalau Givan baru saja Echa puji dalam hati karena sudah terlalu baik dengan memberi kancing dan menunggu nya di UKS?
"Kok lucu ya?" kata Givan sambil menatap Echa. "Lo kalau melotot, lucu banget." Givan mencubit pipi Echa dan menarik nya.
Sumpah Echa tidak bisa menahan nya lagi untuk diam selagi di nistakan.
Semua perasaan bersalah tentang nampan dan semua ke baikan Givan baru saja terhempas dari ingatan nya.
Echa balas mencubit pipi Givan dan menarik nya lebih keras.
Kevin meringis, tetapi masih dengan tawanya, karena melihat wajah Echa semakin lucu.
Melihat itu, Echa membuat satu tangan nya lagi bekerja mencubit dan menarik pipi Givan.
__ADS_1
Melihat wajah tampan Givan yang menjadi konyol, Echa tertawa juga akhir nya. "Bwengwek bwangwet muwka low."
"Low jugwa."
Selama beberapa saat mereka asik tertawa, seperti ada di dalam dunia nya sendiri, mereka masih sibuk menertawakan wajah konyol nya satu sama lain, sampai akhir nya ....
"Permisi, paket."
Suara dari samping membuat mereka menoleh.
Echa tersiap saat melihat Angga berdiri di sana dengan mata dan ekspresi yang datar. Dia segera menarik tangan nya dari wajah Givan, mendorong dada laki laki itu menjauh.
"L-lo ngapain di sini?" Pertanyaan yang di tunjuk kan untuk Angga itu reflek terlontar begitu saja dari mulut Echa. Tanpa di pikir kan matang matang.
"Cha parah ko." Angga menggeleng geleng. Dia menunjuk kan dua keping kancing putih di dalam plastik klip transparan. "Ini, lo tadi nyuruh gue buat dapetin kancing, lo lupa?"Angga mengusap wajah nya, padahal ingin mengusap wajah Echa dengan tanah liat. "Astaga ingatan lo di seruput Givan apa gimana?"
Lalu saat tatap Angga tertuju ke baju Echa yang sudah terpasang kancing, Angga tak ragu menunjuk kan ke kecewaan nya. "Jadi kancing nya buat apa sekarang? Gue telen aja gak sih?"
"Kalau lo mau telen aja," kata Echa dengan ringan nya. "Paling mati."
Givan tertawa mendengar itu.
Karena kasihan pada Angga, "Sini." Untuk menghargai usaha nya Givan mengambil plastik klip berisi kancing itu. "Kancing atas kita belum di pasang." Kemudian memasuk kan plastik klip itu ke dalam saku nya.
"ECHA." Suara langkah rusuh serta teriakan cempreng memancing perhatian ke tiga orang itu.
Itu Zia, yang baru saja tiba dengan napas terengah setelah berlari lari di koridor. "Heuh, bentar gue napas dulu."
Echa menatap nya dengan bingung karena melihat Zia yang muncul dari koridor, bukan nya Givan tadi bilang Zia sudah pergi ke kelas duluan? Wah, Echa merasa bodoh karena sudah percaya.
Echa melempar tatapan tajam pada Givan.
"Ayo ah, kita balik ke kelas." Echa menarik tangan Zia untuk pergi tetapi gadis itu tidak mau menggerak kan kaki nya mengikuti.
"Bentar, bentar." Zia masih mengatur napas nya. "Kapan lo keluar dari UKS?" tanya Zia dengan serius.
.
.
__ADS_1
.
...Bersambung... ...