Mawar Tak Berduri

Mawar Tak Berduri
Chapter 10


__ADS_3

Mobil yang ditumpangi Mawar berhenti tepat didepan Putri. Mawar segera turun, menghampiri Putri yang terkejut.


"Putri.."


"Mba Mawar.." Putri menstandarkan sepedanya. Ia menghampiri Mawar. "Putri kira tadi siapa..?"


"Siapa..? kamu lagi nunggu seseorang?." tanya Mawar yang dilihatnya Putri nampak sedang menunggu seseorang.


"Eh nggak.." dustanya. Padahal Putri berharap Rasya yang tiba-tiba datang memberi kejutan, dia seperti sudah bergantung pada Rasya.


Sadar Put, kamu siapa? mungkin mas Rasya hanya kasian, dan merasa bersalah karena menabrakmu.


Putri nampak kecewa dengan Rasya yang tidak mengantarnya pergi ke cafe hari ini, tapi dia juga harus memaklumi Rasya yang mungkin sibuk pada pekerjaannya.


Putri yang tak pernah menonton acara televisi, atau membaca gosip pun tak tahu, jika Rasya adalah anak pemilik salah satu televisi swasta.


Ya, memang televisi milik keluarga Rasya bukan televisi swasta ternama seperti yang banyak menampilkan acara sinetron atau acara gosip, televisi milik Mahardika corp, adalah televisi yang menampilkan banyak acara anak-anak, bisnis, edukasi, dan kuis-kuis yang bisa mengasah kemampuan otak, dan menambah ilmu pengetahuan.


Sudah terhitung hampir satu minggu, setelah sang mama menyatakan akan mempercepat pernikahan Rasya dan Mawar. Rasya mulai memutar otak, ia tak ingin membuat kekacauan, tapi sasaran utamanya adalah Mawar. Mengantar jemput Putri pulang dari bekerja, salah satu cara yang ia gunakan, agar Mawar akan berpikir ulang, untuk melanjutkan pernikahan mereka.


Tak peduli, Abdi yang selalu protes dengan kelakuan Rasya. Abdi takut jika-jika ada yang melihat kedekatan Rasya dengan Putri, karena dia sudah bertunangan dengan Mawar, seorang anak pengusaha ternama, Abdi khawatir Rasya terlibat skandal perselingkuhan, walau Rasya tak terang-terangan mengantar Putri sampai ke depan cafe miliknya.


Beruntung karyawan cafe mereka tak begitu tahu jika Rasya adalah pemilik cafe tersebut, sebab, Abdilah yang sering datang, mengecek, mengurus segala keperluannya cafe. Sedang Rasya banyak disibukkan dengan perusahaan miliknya.


"Kok lemes.." lihat Mawar, Putri yang tak bersemangat.


"Nggak papa mba..." Putri nyengir, menunjukkan deretan giginya yang putih.


"Kamu mau kemana?"


"Kerja.."


Mawar melihat sepeda Putri yang ia standar tadi. "Aku ikut ya.." pintanya, Mawar menyeret tangan Putri.


"Ehh.. mba Mawar mau naik sepeda Putri?"


"Iya.. kenapa? nggak papa kan?"


"I- iya nggak papa sih mba.." Putri menggaruk kepalanya yang tak gatal "Tapi emang mba Mawar nggak papa?" Ia takut, Mawar tidak biasa naik sepeda.


"Aku mau nyoba naik sepeda, boleh ya?" Mawar mengiba, dengan muka yang dibuat-buat.


"Pasti boleh donk mba.."


"Udah yuk.. Sepeda kamu kuat kan dinaikkin aku?"


"Tenang.. ini memang sepeda lama, tapi soal kualitas sepeda Putri nggak bisa diragukan"


Sombongnya.


"Bisa aja.." mereka tertawa bersama

__ADS_1


Mawar senang, ia bisa mendapat teman selain Chio, walau Rasya pernah menyatakan bahwa ia mencintai Putri, tapi Mawar tak sedikitpun menaruh benci dan tak suka terhadap Putri, karena menurutnya Putri sosok gadis yang baik.


"Eh.. Put tunggu sebentar ya, aku minta pak David untuk mengikuti kita"


Mawar pun menghampiri David yang masih berada dimobilnya, meminta agar David tetap mengikuti mereka.


Sepanjang perjalanan mereka mengobrol, Mawar merasa nyaman didekat Putri, pantas menurutnya Rasya mudah jatuh hati pada Putri, dia gadis periang, walau usia Putri terpaut dua tahun lebih mudah darinya, namun Putri mampu mengimbangi, tak seperti dia, yang lebih banyak diam.


Sepeda Putri yang tidak memiliki boncengan, membuat Mawar harus berdiri pada besi yang timbul pada dua sisi ban sepedanya. Mawar yang tidak pernah merasakan sensasi menaiki sepeda pun merasa sangat senang, bak anak kecil yang baru diizinkan naik sepeda, ia merentangkan kedua tangannya, merasakan angin yang bertiup menerpa telepak tangannya


Putri heran, Mawar seperti baru mendapatkan kebebasan, bak burung keluar dari sangkarnya.


Putri mengayuh sepedanya dengan perlahan, ia tak ingin Mawar terjatuh


"Kamu kerja dimana?" tanya Mawar saat Putri


Mawar meletakkan tangannya dibahu Putri untuk berpegangan.


"Di cafenya mas Rasya mba, di midPlaza, mba taukan cafe yang terkenal itu? Putri juga baru tahu mba kalau cafe tempat Putri kerja itu milik mas Rasya, kebetulan bngt kan ya mba?, teman-teman kerja Putri aja nggak ada yang tahu mba, kalau cafe itu milik mas Rasya, taunya punya pak Abdi, karena pak Abdi yang sering datang."


Pertanyaan Putri menyentak Mawar.


Apa..? jadi selama ini Putri kerja di cafe Rasya..


Mawar terdiam,mengasihani dirinya yang tak mengetahui apapun tentang calon suaminya, kecuali calon ibu mertua yang Mawar harapkan bisa memberikan kasih sayang yang selama ini Mawar impikan. Ia tak peduli sama sekali apapun itu tentang Rasya.


"Mba..." panggil Putri yang merasa Mawar hanya diam.


"Eh.. iya.."


"Eh.. kamu sudah lama kerja di cafe Rasya?" Ia malah balik bertanya, mengalihkan pembicaraan yang ia bingung harus menjawab apa.


"Baru enam bulan"


Tak lama mereka sampai pada cafe milik Rasya, tempat Putri bekerja, mengais rejeki, demi memenuhi kebutuhan perutnya, dan untuk membayar keperluan yang harus ia bayar setiap bulanya.


Putri memarkirkan sepedanya pada parkiran khusus karyawan.


Putri langsung menuju loker, mengganti pakaiannya dengan seragam cafe yang berwarna merah dengan kombinasi hitam, dengan bawahan celana panjang hitam juga.


Mawar mengedarkan pandangannya pada seluruh ruangan cafe tersebut. Mawar berdecak kagum pada setiap ornamen yang ada didalam cafe, para pegawainya sudah disibukkan dengan kegiatan mereka masing-masing. Cafe yang terletak di bersebelahan dengan mall tersebut menyajikan menu sarapan yang sederhana, pantas Putri datang sepagi ini. Tempat yang luas dan nyaman, Rasya benar-benar matang dalam membuat sebuah konsep untuk cafenya.


Disetiap meja tersedia juga bermacam game, yang bisa dimainkan dengan kelompok mereka untuk menciptakan keseruan para pengunjung, membuat siapa saja yang datang pasti akan betah berlama-lama di cafe ini.


Mawar teringat, ia yang dulu pernah membuka cafe, harus gagal, karena ibu Vivi melarangnya. Sedih, mengapa ia tak bisa melakukan apapun yang dia mau, ibu seakan membuatnya menjadi orang yang benar-benar tidak berguna.


Mawar duduk disalah satu meja yang terletak di sudut ruangan, nyaman.. dan mungkin dia akan sering datang ke cafe ini, nanti bersama Chio


Dibukanya buku menu, terdapat menu sarapan western, makan siang, dan menu sarapan lokal, serta menu makan siang. Berbagai menu coffe pun tersedia, nampaknya coffe ini dikhususkan coffe yang didatangkan langsung dari sumatera. Bukan coffe yang didatangkan dari luar negeri.


"Mba Mawar mau pesen makan apa, nanti Putri yang bayar"

__ADS_1


"Coffe yang istimewa di cafe ini"


"Baik mba, Putri pesenin ya, nggak sama sarapannya sekalian mba, tenang, uang Putri banyak, mas Rasya kasih Putri kartu ini" Ditunjuknya kartu berwarna hitam yang dulu pernah Rasya berikan padanya "Putri belum pernah gunain sama sekali" ia terkekeh "Habisnya bingung mau buat apa? jadi mba Mawar orang pertama yang Putri traktir pakai uang mas Rasya".


Lagi-lagi Mawar dibuat tercengang, kenyataan apa lagi ini, Rasya sampai memberikan Putri kartu limit juga?


"Jadi aku jadi orang pertama yang menggunakan uang itu?."


Putri mengangguk, memasukkan lagi pada saku baju seragamnya.


"Mba Mawar tunggu disini, Putri pesankan dulu ya."


Belum Mawar menjawab, Putri berlalu meninggalkanya, menuju pantry.


Lima belas menit menunggu, makanan pun tiba, Putri memberikan menu sarapan andalan cafe tersebut, coffe Americano, plain croissant with butter dan smoke beef toast. Sebenarnya Mawar sudah kenyang, tapi melihat menu dihadapannya, ia ingin cepat mencicipinya, dan ditambah lagi, uang yang digunakan untuk membayarnya adalah uang milik Rasya, anggap saja kata Mawar ini traktiran pertama dari Rasya. Hah... andai laki-laki dengan kata-kata pedas itu tau bahwa dia yang menggunakan uangnya, Mawar yakin Rasya tak akan mengizinkan hal tersebut.


"Mba nikmati menu sarapannya dulu ya, Putri nggak bisa nemenin, nggak papa kan Putri tinggal dulu?"


"Iya.. mksh ya traktirannya" ucapnya sebelum Putri berlalu, kembali pada tugasnya.


Mawar mengambil garpu, menikmati sarapan dihadapannya. Saat makanannya habis, Mawar mengelap bibirnya, namun ia teringat kembali, ketika dia mencium Rasya, ini hal pertama untuknya. Hangat bibir Rasya masih begitu terasa, ia pikir Rasya akan begitu marah, namun ia tak menyangka, laki-laki itu justru diam saja. Mawar meraba bibirnya, rasa malu itupun kembali, membuat wajahnya merona. Ada desiran aneh muncul membuat aliran darahnya seakan berhenti, setiap ia mengingat kejadian itu.


Mawar memutuskan kembali, ia mulai tak nyaman, ketika cafe mulai ramai.


...----------------...


"Terima kasih pak Reyhan, anda kembali mempercayai perusahaan kami untuk mengerjakan proyek pembangunan kantor anda"


"Sama-sama, itu semua karena kami percaya, bahwa pak Marcell tidak pernah mengecewakan kami"


"Saya berusaha akan memberikan yang terbaik yang kami mampu pak"


"Saya percaya itu.." kedua lelaki yang berumur lima puluh tahun tersebut berjabat tangan, sebagai telah disepakatinya keputusan, dengan senyum penuh kepuasan.


"Oh pak Marcel, saya tidak menyangka Mawar pintar memasak, saya pikir dia tidak pernah melakukan hal itu, istri saya memang tidak salah mencarikan jodoh untuk putra saya"


Ucapan papa Rasya menghentikan langkah papa Marcel, ayahnya Mawar. Ia yang sudah berbalik hendak keluar dari ruangan dibuat kembali melihat kearah papa Rasya.


"Emm... dia hanya berusaha pak, semoga anda dapat menerima putri saya, apapun kekurangannya"


"Itu pasti, istri saya sudah tidak sabar lagi, ingin menjadikan Mawar sebagai menantunya"


"Yah semoga tidak ada halangan apapun pak, saya permisi dulu". Pamitnya, ia tak bisa menahan gejolak batinnya.


Papa Marcel menitikkan air mata, tak terasa putri satu-satunya tak lama lagi akan melepas masa lajangnya. Dia yang dua puluh lima tahun hidup bersama, satu atap belum pernah merasakan masakan buatan anaknya. Mendengar orang lain memuji masakan Mawar membuatnya sadar, bahwa dia adalah orang tua buruk untuk anaknya.


Tak pernah ia mengajak Mawar jalan-jalan, Mawar selalu ia tinggalkan sendiri, disaat ia bersama mama Vivi dan Marvin keluar negri, maupun acara-acara keluarga lainnya.


Mawar selalu menuruti apa kata mereka, tak pernah membantah, apalagi menuntut.


"Mawar, mama sama papa pergi dulu, kamu jaga rumah, jangan menangis, jangan nakal, jangan merepotkan mba, kamu harus rajin belajar, jangan pernah main keluar, diluar berbahaya"

__ADS_1


Kata-kata itu yang selalu mereka ucapkan pada Mawar, Mawar kecilnya hanya mengangguk, melihat mobil mereka yang menjauh meninggalkanya seorang diri, mengintip disebalik pintu, mendada-dada walau tak dihiraukan.


"Maafkan papa Mawar, maafkan papa". Dibukanya kaca mata menghapus bulir bening yang pertama kali ia keluarkan untuk putri yang selama ini ia abaikan. Bahunya bergetar, menyesali perbuatannya, dosa besarnya.


__ADS_2