Mawar Tak Berduri

Mawar Tak Berduri
Chapter 28


__ADS_3

Mawar berdiri di balkon apartemen, melihat pemandangan ibu kota dimalam hari, lampu berkelap-kelip, mengalahkan gemerlapnya bintang diatas sana, selama ini dia hanya tahu dari buku, jika Jakarta akan lebih indah dilihat dimalam hari, sekarang dia melihatnya sendiri, bukan hanya dari buku.


Mawar merentangkan kedua tangannya, menghirup aroma angin yang berhembus, aroma angin malam yang menyejukkan, seakan baru merasakan dunia yang bebas.


Diseberang sana, berjarak dua balkon diantara mereka, seorang laki-laki juga berdiri, melihat diarah yang sama, mengagumi keindahan pemandangan kota pada malam hari. Dia menyalakan pemantik, belum pernah ia melakukan itu, namun karena banyaknya pikiran, membuatnya ingin mencoba. Mungkin saja bisa menghilangkan sedikit beban dikepalanya.


Dia terbatuk-batuk hingga mengeluarkan air mata, saat melakukan hisapan pertamanya pada benda tersebut. Dibuangnya rokok yang sempat ia hisap tadi pada tong sampah tang tak jauh dari sana, digelengkanya kepala dengan kasar, dia tidak bisa melakukan itu.


Namun dalam keadaan yang tidak dapat melihat dengan jelas, dia seperti melihat seorang wanita yang dia rindukan beberapa hari ini, Rasya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum kecil, "Aku udah gila beneran, nggak mungkin Mawar tinggal disini." Dipikirnya halusinasi semata.


Benar saja, saat ia lihat lagi, sosok wanita itu sudah tak ada lagi.


Arrrrggghhhh


"Mawar, astaga kenapa jadi kepikiran kamu terus." Rasya lagi menjambak rambutnya kasar.


"Woiiii jangan teriak-teriak, pengen istirahat ini," Teriak Abdi dari dalam "Kenapa nggak ngungsi di hutan aja sih." Rutuk Abdi lagi.


"Lagian dulu aja, Mawar kamu harus batalin pernikahan kita, Mawar kamu harus kabur dari pernikahan ini," Dengan ,mulutnya yang di menyong-menyongin, "Hahhhhh sekarang aja giliran udah kejadian kayak ayam dicabut bulunya."


"Berisik, mau tidur, tidur aja, nggak usah ngurusin hidup orang, kalo masih mau apart ini kebayar"


"Hahhh ggancem terus, ngaancem terooooss, anak sultan gini nih galaunya." Abdi berlari, saat menyadari Rasya telah masuk, dan mau menimpuknya dengan vas bunga, yang ada diatas meja balkon. Hingga keduanya kejar-kejaran


Rasya dan Abdi kini menyandarkan badan mereka pada sofa yang ada di ruang depan, duduk selonjoran, dengan nafas yang masih ngos-ngosan. Mereka mentertawakan diri sendiri.


"Nggak punya stok makanan apa? laper nih." Rasya mengelus perutnya yang keroncongan.


"Oke, aku turun beli mie cup, kita main PS, besokkan hari sabtu, kita begadang gimana?" Abdi menarik turunkan alisnya.


Rasya nampak berpikir, dia mengendikkan bahunya, "Ide bagus."


Abdi beranjak, dia keluar menuju mini market yang ada di lantai bawah apartemennya. Saat dia keluar, Abdi terkejut, dia berpapasan dengan Mawar dilorong apartemen. Keduanya terdiam, saling melihat satu sama lain.


Abdi melirik pada kantong belanjaan milik Mawar, memang tak nampak jelas, namun Abdi bisa menebak jika isinya adalah pembalut.


Mawar tinggal disini? Dilantai yang sama? Dia bertanya dalam hati.


"Ehemm" Mawar berdehem untuk mengurai keterkejutan keduanya.


"Ka- kamu tinggal disini?" Tanyanya sedikit kikuk.


"Iya."


"Emmm aku cuma numpang ditempat teman"


Abdi mengangguk saja, menunggu apa yang akan dikatakan Mawar selanjutnya.


"Boleh aku minta satu hal?" Mawar menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, sedang Abdi mengernyitkan keningnya, dengan alis yang diangkat, "Tolong jangan katakan paa siapapun jika aku ada disini."


"Cuma itu?"

__ADS_1


"Ahhh, iya"


"Nggak masalah." Abdi berlalu, meninggalkan Mawar, dia berjalan dengan santainya, sembari bersiul, lalu memutar tubuhnya dengan gaya selengek anya.


Mawar masih menatap Abdi, sedikit ragu, takut jika Abdi akan mengatakan keberadaannya pada Rasya. Mawar apa yang kamu takuti, Rasya mencarimu, untuk apa?. Dia sudah bahagia dengan wanita yang diinginkannya.


Mawarpun masuk, masih dengan hati yang mengganjal.


Abdi sudah meyeduh dua mie cup yang tadi dibelinya, membawanya pada Rasya, yang sudah siap dengan stik PSnya. Abdi sedari tadi senyum cengengesan, membuat Rasya curiga.


"Nyengir mulu, kering tuh gigi" Ejek Rasya.


"Aku yakin, abis ini akan ada yang mati penasaran." Abdi masih dengan senyum cengengesannya, membuat Rasya makin menatapnya curiga.


"Abis liat apa kamu?"


"Abis ketemu cewek cantik, yang kemarin kabur dari pernikahan, tapi dia jalan sama cowok lain, mesraaa abis" Ucapnya dengan dilebih-lebihkan.


"Siapa?"Rasya melotot, diletakkannya stik PS asal.


"Menurutmu?"


"Jangan becanda Abdi, siapa yang abis kamu lihat?" Dicengkeramnya kerah kaos Abdi, geram dengan temannya yang membuatnya makin penasaran.


"Santai dong Broo, wolesss" Rasya melepaskan tangannya, lalu dia duduk, tangan diletakkan diatas lutut, menatap tajam Abdi yang seakan-akan sedang mempermainkannya.


"Cepet katakan, siapa?"


"Nggak semudah itu kawan"


"Gitu donk, kalau begini kan semua bisnis jadi lancar." Abdi tersenyum, menarik turunkan alisnya.


"Kelamaan, cepet jangan sampai aku berubah pikiran"


"Bonus bulan ini ditambah dua kali lipat, dan cicilan apartemenkan sisa dua bulan lagi, lunasin ya." Abdi nyengir, dengan mengacungkan dua jarinya.


"Gilllaaa, ini namanya pemerasan"


"Yaudah terserah, yang pasti tadi aku ngikutin Mawar sedang jalan sama cowok" Abdi nampak berpikir, "Aku ngikutin mereka, yang juga tinggal disini, aku tau kamar mereka" Abdi menyeruput mie cup-nya santai, mie itu begitu menggodanya saat ini, yang masih mengeluarkan sedikit kepulan asap.


Rasya sudah tak berselera lagi, dadanya bergemuruh, membayangkan Mawar berjalan dengan laki-laki lain. Apalagi tinggal di apartemen hanya berdua, pikirannya menjadi tak tenang, membayangkannya saja dia tak rela.


"Kamu yakin nggak salah lihat?." Tanyanya lagi pada Abdi, yang asik dengan mie cup-nya. Karena tidak mungkin menurutnya Mawar seperti itu. Walau selama ini dia sedikit tak perduli pada Mawar, namun Mawar tak semurahan itu, dengan laki-laki.


Abdi hanya mengangguk, mulutnya penuh dengan mie. Bibirnya memerah, karena dia terlalu banyak menambahkan saus.


Rasya menarik cup mie yang dipegang Abdi, kesal karena Abdi tak serius menanggapi ucapannya.


"Yahh rese banget"


"Makanya kalau orang ngomong tanggepin"

__ADS_1


"Nggak percayaan banget si bos, aku serius nggak salah lihat, bahkan aku sempat ngobrol sama Mawar." Akunya jujur, mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah, lalu mengambil lagi cup mie yang dipegang Rasya.


Rasya berdiri, pikirannya semakin tak karuan, ia berjalan mondar mandir sesekali memegangi pelipisnya, ia teringat, saat tak sengaja melihat Mawar waktu di balkon tadi. Berarti dia tak sedang berhalusinasi. Itu benar Mawar, ia kembali melihat Abdi yang masih asik menyantap mienya.


"Bos kalo punya bos nggak dimakan, biar aku makan aja deh, sayang ini udah medok." Abdi melirik isi cup mie Rasya yang memang sudah mengembang.


"Habisin aja, sekalian sama tempatnya." Jawab Rasya ketus, dia yang memang sudah tak berniat memakan mie miliknya.


Waktu terus berputar, Rasya yang masih gelisah, memikirkan Mawar, mana mungkin dia bisa tenang, sedang Mawar mungkin sedang marajut asmara dengan laki-laki yang disebutkan Abdi. Dilihatnya waktu, menunjukkan pukul sepuluh malam lewat lima belas menit.


Dilihatnya Abdi yang tertidur diatas karpet ruang tamu, laki-laki itu tertidur karena kekenyangan. Mereka yang tadinya berencana bermain PS akhirnya gagal, karena Abdi yang membawa kabar bertemu Mawar.


Rasya membangunkan Abdi dengan menoel lengannya, Abdi hanya berhem, karena dia sudah terlelap dalam alam mimpinya. Ck.. Rasya berdecak, "Kalo masih nggak bangun, berarti nggak ada bonus tambahan, dan juga pelunasan apartemen ini ya" Ancamnya dengan suara yang keras.


Sontak saja Abdi langsung terbangun.


"Duhh gila ya berurusan dengan orang yang lagi patah hati, sampe orang disekitarnya kena imbasnya." Abdi sedikit memijit kepalanya yang sedikit pusing, karena terbangun disaat akan mulai terlelapnya.


"Cepat kasih tau, Mawar diunit nomor berapa?"


"G 203, beda dua unit dari sini." Abdi kembali merebahkan tubuhnya, dia masih begitu mengantuk.


Rasya mengusap layar ponselnya, memesan makanan atas alamat dan nama Mawar.


Mawar yang sehabis membersihkan dirinya, dan duduk di ranjang, sedang membaca buku tentang bisnis, mendengar bel unit mereka yang berbunyi, lama seperti tak ada yang membukakan, mungkin Chio dan Marvin sudah tertidur pikir Mawar. Mau tak mau, Mawar turun lagi dari tempat tidurnya dan membukakan pintu.


Dilihatnya dari dalam, ternyata kurir ojek online mengantarkan makanan. Mawar melihat kearah kamar Chio yang nampak sepi. Mawar membuka pintu.


"Selamat malam, atas nama ibu Mawar?" ujar sang kurir.


"Iya saya sendiri." Jawab Mawar.


"Ini pesanannya Mba." Kurir itu memberikan kotak makanan cepat saji berwarna cokelat, tersebut.


"Tapi saya nggak pesan loh Pak." Mawar bingung, memang dia tidak memesan makanan apa-apa.


"Aku yang pesen." Suara itu membuat Mawar mematung, kakinya terasa lemas, dia tahu betul suara itu milik siapa.


.


.


.


.


Bersambung...


Maaf banget ya baru nongol, habis berburu vaksin, dan setelah dapet, ternyata dapat antrian nomor paling terakhir. Semalam sudah ngetik, tapi efek dari obatnya bikin mata serasa dielus. Jadi tak bisa dipaksakan.


Semoga semua suka sama alurnya, jangan lupa tinggalkan jejak, biar othor makin semangat up-nya,

__ADS_1


untuk yang mau follow igeh aku juga boleh, Ismawatiromadon90


Love you all ❤️❤️😘*


__ADS_2