
Mawar tersentak, dia sontak berdiri, mendengar Rasya mengatakan jika dia tidak menikah.
"Apa maksud kamu Sya?." Tanyanya dengan nada tinggi.
"Iya, aku tidak jadi menikah karena calon pengantin wanitaku kabur" Jawabnya santai.
Mendengar itu Mawar menjadi semakin jengah.
"Omong kosong, bukanya semua ini kemauan kamu?" Mawar menghela nafasnya, dia tidak habis pikir, Rasya sudah begitu mudah mempermainkan hati orang.
"Kamu tahu Sya, aku rela pergi, tak perduli apa tanggapan orang lain, karena aku tidak mau menjadi Mawar berduri diantara hubungan kalian, aku tidak ingin Putri terluka, aku yakin, dia pasti kecewa." Mawar begitu frustasi, dia menghawatirkan keadaan Putri saat ini.
Rasya berdiri mendekat pada Mawar, ingin diraihnya tangan gadis itu, namun ditepis oleh Mawar.
"Oke, aku akui aku salah, aku minta maaf, aku melukai banyak orang, terutama kamu." Lirihnya, Rasya menatap sendu Mawar, dia begitu menyesal.
"Kamu egois Sya, kamu mementingkan diri kamu sendiri, kamu mengatakan mencintai Putri, kamu memberikan banyak harapan padanya, kamu sadar tidak, kamu begitu melukainya?"
"Apa kamu tidak terluka Mawar? kamu memikirkan perasaan orang lain, sedangkan aku sangat mengkhawatirkan, dan memikirkan perasaan kamu"
"Jangan pedulikan aku, aku baik-baik saja, untuk apa memikirkan aku, bukankah kamu senang aku seperti ini, inikan yang kamu mau? " Ucap Mawar penuh penekanan.
"Oke oke aku minta maaf Mawar, aku mohon maafkan aku, aku menyesali semuanya, aku begitu khawatir saat kamu pergi, aku ingin kita memulai semua dari awal lagi." Pintanya dengan sungguh-sungguh.
"Semudah itu kamu menganggap semuanya?" Mawar begitu kesal atas ucapan Rasya. Mawar memijit keningnya "Lebih baik kamu pulang Sya, aku ingin istirahat" Usirnya, Mawar sudah sangat lelah.
Rasya menatap nanar Mawar yang begitu marah padanya. "Oke aku pulang, tapi katakan dulu, dengan siapa kamu disini?."
Mawar menatap tajam atas pertanyaan Rasya, laki-laki ini begitu kekanak-kanakan, tidak punya pendirian, dan masih begitu labil, padahal usianya jauh diatas Mawar.
"Kamu tidak perlu tahu, cepat keluar Rasya, ini sudah terlalu malam"
"Aku mau tahu dulu, sama siapa kamu disini?." Ia menelisik wajah Mawar yang terlihat gugup.
"A- aku bersama pacarku." Mawar asal menjawab, dia ingin Rasya cepat pergi.
"Ada apa ini Kak?." Suara Marvin membuat keduanya menoleh keasal suara.
Karena mendengar perdebatan mereka, Marvin dan Chio pun terbangun, keduanya lantas keluar.
Mawar tertunduk malu, Marvin keluar disaat yang tidak tepat. Sedang Rasya tersenyum penuh kemenangan, mendapati Mawar yang berbohong.
"You can't lie, baby" (Kamu tidak bisa berbohong, sayang).
Bisik Rasya tepat didepan Mawar yang masih tertunduk.
Tanpa menunggu diusir lagi, Rasya melangkahkan kakinya keluar, kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celana pendeknya. Dia terus tersenyum bahagia, seakan baru saja memenangkan penghargaan, didepan pintu ia kembali berbalik, melambaikan tangan pada Marvin dan Chio yang masih kebingungan.
"Thank you buat kalian, besok aku akan mentraktir kalian." Rasya menutup pintu apartemen Mawar, sebelumnya dia melihat Mawar yang masih tertunduk.
"Kak bukanya tadi Rasya?" Tanya Marvin, dia mendudukkan pantatnya di sofa, diiikuti anggukan Chio, y juga ikut duduk di sofa
"Bukan, dia jelmaan jin Qori."
Rasya ucapnya dalam hati.
Marvin mengernyitkan dahinya, tak lagi memperdulikan itu, Marvin berniat mengambil sisa pizza yang memang baru dimakan sedikit.
__ADS_1
"Jangan Vin." Mawar mengambil begitu saja, kotak pizza itu.
"Ihh Kak Mawar pelit, Marvin laper Kak."
"Apa karena itu dari Rasya, makanya kita tidak boleh makan." Ucap Chio yang juga merasa lapar.
"Kalo kalian makan ini, nanti mulut kalian ikut berbisa"
"Kakak apa-apaan sih, yang nggak-nggak aja, emang kita uler apa?"
"Nggak boleh Vin, kalian order yang baru aja, ini mau Kakak buang."
"Ini udah malem Kak, males banget harus order dulu, lagian emang ada jam segini?"
"Pokoknya kalian beli makanan baru aja." Mawar hendak membuang kotak makanan itu, namun dia kalah cepat dengan Chio, secepat kilat Chio merebutnya dari tangan Mawar.
"Yeyyy.... kita dapat, Mawar mubazir membuang makanan." Chio langsung melahap pizza yang berhasil direbutnya.
Mawar mengehembuskan nafasnya pasrah. "Terserah kalian deh, aku tidur dulu."
Marvin dan Chio hanya mengacungkan jempol, dan mengangguk sebagai jawaban, mulut keduanya sudah penuh oleh pizza.
Rasya merebahkan dirinya diatas tempat tidur, bibirnya terus melengkungkan senyum, benar dugaannya, Mawar tidak mungkin bersama dengan sembarang pria. Rasya terus membolak-balik badannya, susah sekali matanya untuk terpejam. Diliriknya waktu, sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
Ia memaksakan matanya untuk terpejam, namun terasa sulit, ia masih ingin terus bersama Mawar, menghabiskan malam bersama gadis yang pernah sangat dia benci.
Rasya tertawa kecil, tak pernah ia merasakan dikamar yang tenang, namun kepalanya memikirkan banyak hal tentang Mawar, sedang dihatinya sangat merindu.
...********...
Pagi ini Mawar sudah berkutat di dapur, dia membuat sarapan untuk Marvin dan Chio, Mawar membuat nasi goreng sederhana, dengan sosis dan sayuran, juga ditambah telur dadar. Mawar juga membuat acar sebagai pelengkapnya, Mawar menyajikannya dalam piring, kemudian meletakkan diatas mini bar, dimana Marvin dan Chio sudah menunggunya.
Mendengar itu Mawar tersenyum, dia menuangkan air putih kedalam cangkir.
"Kakak suka nonton tutorial di sosial media."
"Chio kamu kenapa?" Mawar lihat Chio yang hanya diam.
"Aku merasa senang kalian tinggal disini, aku berharap kalian tinggal disini selamanya"
"Tidak bisa seperti itu juga Chio, kita tidak mungkin merepotkan kamu terus."
Ditengah obrolan mereka, terdengar ketukan dan bel yang begitu riuh. Mereka saling pandang, siapa yang ribut sepagi ini. Chio sang pemilik apartemen pun turun dan membukakan pintu.
"Siapa si_?." Baru Chio membuka sedikit pintunya, Abdi menerobos masuk.
"Mawar tolong, ini gawat" Abdi berkata begitu paniknya, dia sampai melompat-lompat kecil, saking paniknya.
"Ada apa Abdi?" Tanya Mawar, dia begitu tak tenang, takut terjadi suatu hal pada Rasya.
"Tolong Rasya"
"Iya, ada apa?"
"Rasya.... Rasya...." Nafasnya tersengal-sengal. "Rasya keselek ko-ko-in" Ujarnya terbata
"Apa??" Mawar yang panik, langsung berlari keluar, dia tak bisa membayangkan nasib Rasya jika tidak segera ditolong.
__ADS_1
Setelah diluar, Mawar bingung, yang mana unit milik mereka, "Abdi yang mana unit kalian?". Tanyanya pada Abdi yang masih mengatur nafasnya.
Abdipun mengantarkan Mawar, setelah menunjukkan bahwa Rasya sedang berada dikamar, Abdi tak ikut masuk.
"Rasya...."
"Sya...."
"Kamu dimana?" Sunyi, tak ada jawaban dari Rasya. Saat Mawar akan mengeceknya kekamar mandi, Mawar mendengar pintu kamar Rasya yang tertutup, dan dikunci. Mawar hendak berbalik, namun Rasya memeluknya dari belakang.
Mawar terkesiap, tangan lebar Rasya melingkar diatas perutnya, Rasya memeluk erat tubuh Mawar dari belakang.
"Sya.... lepas" Mawar memberontak, dia hendak melepaskan tangan Rasya, namun Rasya semakin mempererat pelukannya.
"Biarkan seperti ini Mawar, aku rindu." Helaan nafas Rasya begitu terasa ditengkuk Mawar. Mawar merasakan nafas Rasya yang hangat, dan tangannya yang juga hangat.
"Sya.... kamu sakit?"
Rasya mengangguk, Mawar merasakan itu, karena Rasya menempelkan kepalanya pada pundaknya. Dia yang awalnya ingin begitu marah karena sudah dikerjai dan dibohongi, luluh karena dirasakannya suhu badan Rasya yang hangat.
Mawar diam, membiarkan Rasya yang mendekapnya, karena tak ada perlawanan lagi, Rasya melonggarkan pelukannya. Mawar berbalik, meletakkan punggung tangannya pada kening Rasya.
"Kamu sudah sarapan?" Tanyanya lembut.
Rasya lagi menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tidur semalaman, aku memikirkan kamu"
Ucapnya yang dibuat manja.
Mawar memutar matanya jengah, "Berbaringlah, aku kompres" Mawar menuntun Rasya untuk berbaring ditempat tidur. Rasya menurut, dia yang memang benar pusing. Mawar mencari kaos yang bisa dipakai untuk mengompres Rasya. Saat akan membuka pintu, dia menyadari pintu yang dikunci.
"Sya, mana kuncinya?." Mawar melihat Rasya yang memejamkan matanya. Rasya hanya menunjuk, pada saku celananya. Mawarpun mengambil kunci itu dalam saku Rasya, dia hendak keluar mengambil air hangat untuk mengompres.
Rasya menahan tangan Mawar "Jangan pergi, temani aku" Suara Rasya terdengar serak, dia sepertinya benar sakit.
Mawar mengehembuskan nafasnya, "Iya."
Mawar keluar mengambil air hangat. Lalu mengompreskan pada kening Rasya.
Diunit Chio.
Kini Marvin, Chio dan Abdi memakan sarapan yang tadi dibuat Mawar.
"Kamu menipu Kakakku?" Tanya Marvin, dia merasa kasihan pada kakaknya itu.
Abdi hanya mengangguk, dia begitu menikmati nasi gorengnya, "Biarlah mereka menyelesaikan masalah mereka, memang seperti itu, terkadang mantan itu lebih terlihat menarik setelah jadi mantan" Abdi menepuk pundak Marvin "Kamu belum cukup umur, jangan dipikirkan."
Marvin mendengus, dia sedikit kesal pada Abdi, karena bekerja sama dengan Rasya untuk mengerjai kakaknya.
.
.
.
.
*Bersambung...
__ADS_1
Semoga suka ya part ini,
makasih yang sudah like dan komen, dan yang bersedia memberi gift bunganya, aku terharu 🤧🤧 ,Karyaku yang jauh dari kata rapi dan bagus*.