Mawar Tak Berduri

Mawar Tak Berduri
Chapter 31


__ADS_3

Dikediamannya, papa Marcel sedang sibuk mengurus perceraiannya dengan sang istri, istri yang telah dinikahinya, dan telah menemaninya selama kurang lebih tiga puluh tahun. Bukan keputusan yang mudah untuk papa Marcel, dulu dia begitu mencintai istrinya, namun setelah mengenal Warda, wanita muda yang mengerti semua kebutuhannya, membuatnya berpaling.


Tak ada lagi yang bisa dipertahankan dari pernikahan ini, sudah terlalu banyak kebohongan diantara mereka.


Mawar yang kini pergi, disaat mereka mulai dekat, dan dia yang akan memulai semua sebagai seorang ayah yang baik. Untuk Marvin? entahlah, papa Marcel masih berpikir, apa dia biasa menerimanya, setelah tahu Marvin bukan anak kandungnya.


Ibu Vivi sudah tak pernah pulang lagi kerumah mereka, semenjak pernikahan Mawar yang gagal, sudah dipastikan bahwa ibu Vivi pulang ke apartemen miliknya. Papa Marcel menghela nafasnya, tak menyangka rumah tangganya akan berakhir seperti ini.


Ibu Vivi sebenarnya sosok wanita yang baik, wanita sederhana yang ia pacari selama dua tahun, setelah ibu Vivi lulus dari bangku SMA, dia melamar gadis itu. Papa Marcel yang memang dari keluarga berada, mampu membiayai kuliah ibu Vivi beserta biaya hidup keluarganya. Umur mereka yang terpaut dua tahun, diawal pernikahan, mereka mampu melewatinya.


Namun setelah ibu Vivi memilih berkarir terlebih dahulu, dan tak mau bekerja di perusahaan suaminya, ia beralasan ingin mengembangkan ilmunya, membuat ibu Vivi menunda memiliki momongan. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Membuatnya lupa akan tugasnya sebagai seorang istri.


Papa Marcel awalnya tak mempermasalahkan semuanya, dia mengerti akan ambisi sang istri. Diapun berinisiatif mencarikan pegawai Art untuk membantu perkejaan istrinya dirumah. Dengan bantuan papa Reyhan, mereka memperkerjakan Warda, adik dari Bi Nur seorang pengasuh Rasya, yang memang sedang mencari pekerjaan.


Ibu Vivi semakin sibuk, ia yang memiliki jabatan sebagai seorang sekretaris dari perusahaan retail yang sudah memiliki nama besar, mengharuskannya sering pergi keluar kota dalam waktu yang lama. Papa Marcel seorang laki-laki normal, ia membutuhkan istrinya untuk menyalurkan hasratnya. Namun sang istri selalu menolak, karena kelelahan sehabis pulang bekerja.


Waktu terus bergulir, ibu Vivi semakin melupakan kewajibannya, hingga papa Marcel tergoda dengan kecantikan dari pembantunya, diapun khilaf, hingga memaksa Warda untuk memuaskan hasratnya. Semakin lama, hubungan itu semakin dalam, hingga keduanya saling jatuh cinta.


Tanpa mereka sadari, Warda telah mengandung buah cinta mereka, papa Marcel sangat bahagia mendengar kabar itu. Dia yang memang sudah lama menantikan kehadiran buah hati, ingin menikahi Warda, dan meminta izin pada istrinya. Tentu saja ibu Vivi menolak itu, ibu Vivi kecewa, ia tak ingin dimadu, dan tak ingin berpisah dari papa Marcel.


Ditambah lagi, wanita yang akan dinikahi suaminya tak lain adalah pembanti mereka. Ibu Vivi membuat papa Marcel memilih, meninggalkan Warda, atau dia akan bunuh diri.


Tak ada pilihan lain, akhirnya papa Marcel memilih meninggalkan Warda, tanpa mereka ketahui, Warda mendengar semua obrolan itu, dan memilih pergi dari rumah mereka.


Warda bukan kembali pada kakaknya, dia terlalu malu untuk mengakui semua perbuatannya, diapun memilih tinggal dipinggir jalan, bersama dengan para pemulung. Beruntungnya, papa Marcel segera menemukan keberadaan Warda, dan membawanya pergi, papa Marcel memberikan rumah di Bogor untuk Warda, dan menikahinya secara diam-diam.


Nasib tak berpihak pada Warda, dia meninggal saat melahirkan karena pendarahan hebat. Papa Marcel terpuruk, dia meminta ibu Vivi mengurus anak mereka. Dengan berat hati, ibu Vivi menerima itu. Dia yang sakit hati, membuat janji, agar kelak papa Marcel tak memberikan kasih sayang pada bayinya, sampai kapanpun.


Tak hanya disitu, ibu Vivi juga dendam terhadap suaminya. Diapun berselingkuh dengan mantan pacarnya, dan memiliki buah hati, tanpa sepengetahuan papa Marcel.


Papa Marcel memijit keningnya, dia pusing, Mawar yang belum diketahui keberadaannya, dia merindukan anaknya. Papa Marcel mengeluarkan ponsel disaku celananya, menghubungi seseorang.


"Belum ada kabar, dimana anak saya?"


"....."


"Baiklah, saya tunggu kabar baiknya." Diapun mematikan panggilannya, melihat foto sang anak, potret mungil bocah bayi yang sedang tersenyum, menunjukkan kedua gigi atasnya yang baru tumbuh.


...*********...


"BI.... Biiiiii Nurrrrr, jangan pergi Bi...... maafkan Rasya"


Mawar yang tertidur disofa dikamar Rasya, terbangun mendengar teriakkan Rasya. Diapun lari, menghampiri dimana laki-laki itu tidur, dilihatnya Rasya mengeluarkan keringat, namun laki-laki itu masih terpejam.


"Biiiiii Rasya sudah menemukannya, Rasya akan melindunginya, Biiiiii"


Mawar mengguncang-guncangkan tubuh Rasya agar terbangun, Mawar sangat kasihan melihat Rasya seperti ini.

__ADS_1


"Rasya bangun..." Panggilannya agar laki-laki itu segera bangun.


"Sya...." ulanginya.


Rasyapun terbangun, dia berhambur memeluk Mawar.


"Kamu masih disini Mawar? kamu menemani ku"


Mawar mengangguk, dibiarkannya Rasya yang memeluknya, agar Rasya tenang.


"Kamu bermimpi?" tanyanya, Rasya mengangguk, dia memeluk erat perut Mawar yang berdiri.


"Jangan pergi lagi Mawar, aku membutuhkanmu." Tak terasa, Rasya mengeluarkan bulir bening itu, dia bermimpi lagi, mimpi buruk yang menghantuinya, disaat dia sedang sakit.


Mawar mengusap lembut rambut Rasya, membiarkan Rasya tenang, hawa panas masih terasa pada tubuh Rasya.


"Kamu sakit Sya, kamu harus berobat"


Rasya menggeleng, terasa pada perut Mawar, dia yang menempel.


"Kamu belum makan, aku belikan kamu bubur dulu, lalu kamu harus minum obat" katanya lagi.


"Jangan pergi, biar Abdi yang membeli, kamu tetap disini" pintanya dengan suara terdengar serak.


Mawar tersenyum, dia baru tahu Rasya begitu manis saat sedang manja. Sosok yang baru diketahuinya, Rasya menunjukkan sisi lemahnya pada Mawar.


"Hah?" Mawar melepaskan dekapan Rasya, melihat pada wajah laki-laki itu.


"Kamu senang kan, lihat aku kayak gini." Mawar mengulum senyum, sungguh dia sangat ingin tertawa.


"Rasya, simulut berbisa, menangis" Mawar semakin menggoda Rasya, dengan tangannya yang ia peragakan mengejek menangis.


Rasya merajuk, dia menutup badannya dengan selimut, membelakangi Mawar yang sedang mentertawakanya.


Mawar menghentikan tawanya, "Yaudah, aku keluar dulu, beli bubur dan obat."


Rasya langsung membuka selimutnya, melihat Mawar yang sudah memegang handle pintu, "Aku kan udah bilang, biar Abdi yang beli" Rasya berangsur duduk, menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang "Ambilkan hapeku Mawar." Perintahnya ketus.


Mawar terus mengulum senyum, Rasya yang kekanak-kanakan, begitu berbeda dengan Rasya yang kemarin memintanya membatalkan pernikahan mereka. Mawar mengambil hape Rasya yang berada dinakas, didekat tempat tidurnya, dan memberikannya pada Rasya.


Rasya mengambil hapenya, dengan tetap memegang tangan Mawar, tak ingin Mawar pergi meninggalkannya.


Setelah menghubungi Abdi, Rasya menutup kembali tubuhnya dengan selimut, tanpa melepaskan tangannya dari Mawar.


"Kalo lagi panas badannya, nggak boleh ditutup, nanti tambah panas" Ujar Mawar mengingatkan.


"Rasya menyibak selimutnya kasar "Kamu tiduran disini ya?" Rasya menepuk sisi kosong disebelah kirinya, meminta Mawar untuk berbaring didekatnya.

__ADS_1


Mawar menggeleng, tersenyum kecil "Tidak boleh, aku duduk saja" Mawar menarik kursi didekatnya, duduk disisi ranjang, membiarkan Rasya memejam, dengan memeluk tangannya.


Ditempat lain, Abdi yang baru saja menerima telepon dari Rasya yang memintanya membelikan obat dan bubur, dikagetkan dengan kadatangan mama Rika.


"Tante" ujarnya, menyalami tangan wanita paruh baya itu.


"Rasya tidak disini?" Tanya mama Rika to the point.


"Loh memang Rasya kemana Tante?." Tanyanya balik, pura-pura tidak mengetahui keberadaan Rasya, "Mari duduk dulu Tante" Ajaknya sopan.


Kini mereka duduk di cafe milik Rasya itu, Abdi sudah memesankan minuman untuk mama Rika.


"Rasya sudah tiga hari tidak pulang, Tante khawatir, Rasya takut salah jalan, dia sedang marah pada Tante." Abdi manggut-manggut mendengar cerita mama Rika.


"Kamu pasti tahu kan keberadaan Rasya?"


Abdi gelagapan, dia paham, mama Rika pasti hanya memancingnya, "Emm itu, ehh, saya tidak tahu Tante." Dustanya.


Mama Rika mengeluarkan amplop coklat, sudah dipastikan isinya adalah uang, Abdi menelan ludahnya, "Tante titip Rasya jika dia bersamamu, anak itu tidak pernah mengenal dunia gelap, Tante ingin kamu melaporkan segala kegiatan Rasya, dia anak baik, Tante tidak ingin, karena dia marah sama Tante, terus dia salah jalan."


Mama Rika menatap Abdi yang terlihat sedang memikirkan tawarannya. Laki-laki yang seumuran dengan anaknya itu memainkan bibirnya, kekanan-kekiri.


"Tante harap uang itu cukup untuk biaya Rasya selama tinggal bersamamu, jika kurang, kamu bisa katakan pada Tante." Terang mama Rika lagi.


Abdi berdehem, sebelum memulai bercerita, dia juga tidak tahu harus mengatakan apa. "Rasya memang tinggal bersama saya Tante" Akunya keceplosan, dia menipiskan bibir, menyadari kecerobohanya.


"Tapi Tante tidak perlu repot-repot, saya akan melaporkan semuanya pada Tante, Rasya akan aman tinggal di tempat saya."


Andai Tante tahu, dia sudah ada baby sitter handal yang merawatnya, jadi dia sudah jinak.


"Tidak apa-apa Abdi, Tante percaya padamu, ambillah itu, anak itu pasti merepotkan kamu" Mama Rika berdiri menepuk pundak Abdi. "Tante pulang dulu ya." Mama Rika berlalu, meninggalkan Abdi yang masih menatap amplop coklat itu.


"Lihatlah Sya, kamu beruntung punya ibu sebaik ibumu, dan sekarang Mawar, wanita sempurna yang berhati malaikat." Ada timbul rasa iri, mengingat ibunya yang tak sama sekali memikirkannya, kerjanya hanya kawin terus.


Abdi menghela nafasnya "Eh.... ini isinya berapa ya?."


.


.


.


.


*Bersambung...


Semoga nggak bosen ya sama ceritanya.. 😍😍*

__ADS_1


__ADS_2