
Mawar begitu mengharu, Rasya mengingat hari kelahirannya, seumur hidupnya dia tidak pernah merayakan apapun dalam hidupnya, jangankan merayakannya, mendapat ucapan dari kedua orang tuanya pun tidak, bahkan Mawar pun tak pernah mengingat tanggal kelahirannya sendiri.
Tapi Mawar selalu ingat hari kelahiran Marvin, karena jika tiba hari itu, Mawar pasti tak boleh keluar, tak boleh menampakkan diri, jangan sampai dia terlihat oleh orang lain, dia harus memiliki ilmu menghilang.
Mawar menangis sejadi-jadinya, tangis bahagia atas kejutan yang diberikan oleh Rasya.
"Hei, sayang kenapa?"
Mawar hanya menggeleng, dia tak dapat lagi berkata-kata, Rasya menarik kepala Mawar dibawa kedalam dadanya.
"Aku ada salah?"
Kembali Mawar menggeleng, menenggelamkan wajahnya kedada bidang suaminya.
Papa Marcel mendekat, ini untuk pertama kalinya untuk dia sebagai seorang ayah, mengucapkan selamat selamat kepada putri satu-satunya ini.
"Mawar" panggil Marcel
Mawar menjauhkan wajahnya dari dada Rasya
"Pa...."
"Selamat ulang tahun anak Papa" Marcel merendahkan tubuhnya, memeluk anak tercintanya.
"Terima kasih Pa" ujarnya, suaranya serak
__ADS_1
"Maaf, Papa tidak pernah mengingat ini"
"Nggak pa-pa Pa, ini nggak penting lagi, sekarang yang terpenting kita bisa bersama"
"Terima kasih untuk selalu mengerti keadaan Papa" tak ada yang bisa diungkapkan laki-laki paruh baya ini, ketulusan hati anaknya selalu membuatnya malu
Semuanya silih berganti mengucap selamat kepada Mawar, juga atas kehamilannya. Chio menjadi orang yang paling bahagia atas kebahagiaan Mawar saat ini.
"Rimate sihka, muka dahsu bantumem taki, karangse rose's mom jadimen bihle juma gila, rose's mom kana borasikola ngande nerdesai namater, lamda cara'a kartaja hionfas week" (Terima kasih, kamu sudah membantu kita, sekarang rose's mom lebih maju lagi, rose's mom akan berkolaborasi dengan desainer ternama, dalam acara Jakarta fashion week" ucap Chio dalam bahasanya, membuat Mawar terkesiap
"Apa?"
"Iya, muase katber misua muka, adi gaju kana bukamem buahse letout id satpu belanjaanper" (Iya, semua berkat suamimu, dia juga akan membuka sebuah outlet disebuah pusat perbelanjaan)
Obrolan mereka berdua sempat membuat yang disana terheran, apa yang mereka bicarakan, Mawar bisa mengerti bahasa aneh Chio
Chio mengangguk, "Aku tidak bisa membalas semua kebaikanya, tapi aku minta padamu untuk membalaskan kebaikannya" Chio tersenyum penuh arti, tanpa Mawar ketahui maksudnya.
"Ya aku pasti akan membalaskanya untuk mu" jawabnya polos.
Hahaha
Chio tertawa terbahak, hingga mereka berdua jadi pusat perhatian "Pantas Rasya sangat tergila-gila sama kamu" Mawar mengernyit, masih tak mengerti maksud dari sahabat satu-satunya ini
"Yasudah, jangan dipikirkan, aku tak membawa kado untukmu, pesan suamimu, dia tak menerima kado dari siapa pun, sebab tak mau istrinya mempunyai barang dari orang lain" Chio menggelengkan kepalanya
__ADS_1
"Laki-laki mulut berbisa itu, ternyata posesif" ujar Chio berbisik ditelinga Mawar, memancing reaksi Rasya, benar dugaannya, Rasya langsung menghampiri mereka berdua.
"Chio, jangan melebihi batas, aku tahu kamu sahabatnya, tapi tidak boleh_"
"Iya iya iya Chio juga tahu batasannya" ini Abdi yang berbicara, ia berjalan menghampirinya Mawar, memberikan bucket bunga Mawar berwarna warni
"Happy birthday Mawar, dan selamat juga untuk kehamilan kamu, semoga dengan hadirnya buah hati untuk kalian, si cowok tua ini lebih bisa menghargai kamu lagi" letakkan Abdi bunga itu pada pangkuan Mawar, dan Mawar menerimanya dengan senang hati
"Eh eh eh"Rasya langsung menyambar bunga itu, "Berani ya kasih bunga untuk istri bosnya, liat aja, jangan harap gaji bulan ini akan keluar, dan proses pelunasan apartemen, aku batalkan" lagi dan lagi, ancaman itu keluar dari mulut Rasya
"Udah nggak mempan bos" ujarnya acuh, Abdi tahu jika Rasya hanya mengancam, mulut pedasnya tak sejalan dengan hatinya
"Mawar, padahal jika kemaren dia masih bersikap acuh, aku sangat siap menunggu jandamu"
Plakkk
Bucket bunga melayang dikepala Abdi
"Benar-benar makin kelewatan yah nih anak" sungut Rasya
"Aku juga siap menerima anak yang ada di kandunganmu, jadi dapat satu bonus satu" sambungnya lagi, benar-benar memancing amarah singa yang kini siap melayangkan pukulan dikepalanya.
Bucket bunga itu hingga berceceran dimana-mana, kepala Abdi menjadi gebotan seperti alat perontok padi, yang bisa merontokkan bunga-bunga yang tersusun rapi itu.
Yah, Abdi akhirnya bisa mengungkapkan isi hatinya, lewat candaannya, sudah lama dia mengagumi sosok Mawar, dihari pertunangan Rasya dan Mawar kala itu, ia yang merupakan penjajah wanita, setelah melihat Mawar, gadis cantik yang mampu membuat hatinya berdesir hanya dengan melihat Mawar dari jauh, membuatnya sangat mengidam-idamkan sososk wanita yang akan jadi pendampingnya kelak, namun dia cukup tahu diri, keluarga Rasya sudah banyak membantu dirinya, mengangkatnya dari lumpur hitam kehidupan, hingga bisa menapaki kehidupan yang lebih baik seperti sekarang. Cukup dia mencintai dalam diam, tanpa memisahkan keduanya, apalagi dia melihat perjalanan cinta keduanya, walaupun begitu banyak jalan terjal yang dilewati keduanya, cukup membuktikan, kekuatan cinta Rasya dan Mawar begitu kuat dan saling melengkapi.
__ADS_1
Dari kejauhan, wanita lain juga memperhatikan keharmonisan rumah tangga laki-laki yang dulu sempat ia harapkan menjadi pendamping hidupnya, ada rasa iri menelusup, melihat kebahagiaan itu, kini dia harus banyak belajar dari sifat wanita yang menjadi pendamping laki-laki itu, sifat sabar wanita itu, yang bisa membawa mereka hingga menjadi keluarga yang saling melengkapi, dia yakin, suatu saat keluarganya akan sama bahagianya, dia hanya butuh bersabar, memang tak semudah membalikkan telapak tangan, harus butuh perjuangan dan pengorbanan.