
Tak ada benci, tak ada amarah, mendengar suara orang yang kita cintai saja sudah membuat kita cukup lega, walau masih menyisakan tanda tanya, cukup memberi waktu untuk menjelaskan.
Rasya mendapat begitu banyak ocehan dan pukulan dari sang mama, sebab membuatnya menuggu diluar. Mama tak habis pikir, Rasya yang langsung menyerang Mawar, padahal istrinya itu dalam keadaan yang tidak sehat, walau Rasya menyangkal, ia tidak melakukannya. Rasya mendapat banyak wejangan juga dari mamanya, untuk lebih dewasa lagi bersikap, apalagi kini dia akan menjadi seorang ayah, sudah pasti akan lebih banyak mengemban tanggung jawab.
Mama juga mengatakan Rasya bersyukur mendapat istri seperti Mawar, mungkin jika wanita lain, sudah pasti Rasya akan ditinggalkan begitu saja, tidak akan dimaafkan dengan mudah apapun alasannya, dan jika mama jadi Mawar, pasti mama sudah memotong aset berharga miliknya itu. Tapi beruntung Mawar tipe yang tidak ingin memperpanjang segalanya, ia sudah cukup lelah menghadapi semua masalah.
Mama Rika datang sebab Rasya mengabari jika Mawar hamil, tentu saja wanita itu bergegas, sebab akan segera mendapat cucu, rasa haru dan bahagia tak dapat lagi ia bendung, ia begitu posesif pada menantunya, melebihi Rasya, untuk minum saja Mawar tak boleh mengambil sendiri, padahal Mawar masih bisa menjangkaunya.
Mama Rika melakukan itu, karena dulu dia diperlakukan hal demikian juga dengan mertuanya, sebab mama Rika juga sama seperti Mawar, tidak memiliki seorang ibu. Mengakibatkan dia yang hingga kini tak bisa melakukan pekerjaan rumah tangga sama sekali, sebab terlalu dimanja oleh mertua serta suaminya.
Awalnya mama Rika ingin menemani Mawar saat ditinggal Rasya ke Medan, sebab menggantikan sang papa, karena papa Reyhan tidak bisa datang atas undangan peresmian hotel rekannya, dia juga memaksa Rasya untuk membawa Mawar, memperkenalkan pada rekan kerjanya, namun laki-laki itu tidak ingin Mawar dikenal banyak orang dulu, tidak ingin hal buruk lainnya terjadi lagi pada istrinya.
Setelah satu hari Mawar dirawat, kini dia sudah diperbolehkan pulang, dan sebelumnya sudah memeriksakan kehamilannya pada dokter Obgyn. Kini diketahui sudah kandungan Mawar sudah memasuki usia delapan minggu, dan janinnya berada didalam rahim dan sehat, namun Mawar tidak boleh stress dan kelelahan dulu agar tidak mempengaruhi pertumbuhan janinnya.
"Sya, dia ada didalam sini Sya, aku akan jadi seorang ibu" Mawar terus melihat hasil USG kandungannya, ia berkaca-kaca, masih tidak percaya, seraya mengusap perutnya yang masih rata
"Dan jangan lupa aku akan jadi seorang Ayah sayang" ucap Rasya yang menggenggam tangan Mawar, ia mengecup tangan istrinya.
"Mama juga akan jadi Nenek" sambung mama Rika yang duduk di bangku penumpang, mama mencibir "Mama selalu dilupakan, seperti obat nyamuk"
Rasya dan Mawar terkekeh, mereka jika sudah berdua memang selalu seperti ini, melupakan siapapun disekitar mereka.
"Bukan obat nyamuk Ma, Mama tahukan Mama itu orang ketiga disini, kata orang, jika ada orang ketiga berarti yang ketiga itu_"
"SETAN gitu maksud kamu" sungut Mama yang sudah tahu akan yang akan diucapkan Rasya
"Tuh Mama tahu"
"Dan kamu anak setan" ucap mama lagi
"Setan yang ganteng kan Ma"
"Itu karena warisan dari Mama"
"Mana ada Ma, warisan wajah itu 90 persen dari laki-laki, sedangkan perempuan itu mewarisi kecerdasannya" sangkal Rasya
"Ahh terserah kamu saja, yang penting nanti Mama mau, cucu Mama lebih mirip ibunya, bukan ayahnya"
__ADS_1
Mawar hanya tersenyum mendengar perdebatan anak dan ibunya ini. Hingga tak terasa mereka telah sampai dirumah. Mawar melihat pagar rumah mereka yang sudah dihiasi dengan balon berwarna pink dan biru, ia memajukan duduknya, agar dapat melihat lebih jelas.
"Sya dirumah lagi ada acara?" tanyanya pada Rasya.
Rasya hanya mengendikkan bahunya, dan mama juga tidak mau menjawab pertanyaan Mawar. Rasya memarkirkan mobilnya didepan pagar rumah mereka, Rasya turun mengambil kursi roda untuk Mawar duduk, sedang mama sudah turun terlebih dahulu.
Dengan sangat hati-hati Rasya meletakkan Mawar,
"Sya, aku masih bisa jalan loh, ini berlebihan"
"Jangan membantah sayang, ini demi anak kita"
"Cuma demi anak?" ucap Mawar tak terima ia sudah memberengutkan wajahnya
"Menurut kamu?"
"Kamu udah nggak sayang aku?, terus kalo aku nggak hamil apa kamu bakal ninggalin aku"
"Sayang udah, kita baru saja baikan"
"Jawab aku dulu"
"Aku menyadari, aku laki-laki bodoh, dan aku laki-laki paling beruntung bisa memiliki kamu, apapun akan aku lakukan untuk kamu walau nyawa taruhannya"
Mawar bersemu mendengar pengakuan Rasya, sejurus kemudian dia mengerucutkan bibirnya
"Gombal, tapi kemarin kamu membuat aku mau mati"
"Iya, aku salah dan aku bodoh, aku nggak akan mengulanginya, terima kasih tidak membalas semua keburukan ku, terima kasih sudah memaafkan kesalahan ku, dan aku akan belajar banyak tentang arti dewasa padamu, tetaplah jadi Mawar yang seperti ini, jangan pernah berubah, Mawar yang tak berduri, tidak pernah melukai orang lain" ucapan tulus itu membuat Mawar berkaca-kaca
"Woiiii kelamaan, pegel nih kaki berdiri" teriakan Abdi mengacaukan suasana haru mereka. Membuat Rasya mengumpat
"Bangsat nih anak"
Rasya berdi, membalik badannya, melihat Abdi yang berdiri ditengah pintu mereka.
"Ngancurin suasana aja sih, masuk dulu nggak" teriak Rasya "Awas aja kalo acaranya sampai gagal" ancamnya lagi
__ADS_1
"Lagian ini udah siang, cacing diperut udah pada demo, belum makan dari kemarin dipaksa kerja bakti terus"
Mawar mengernyit heran "Sya ada apa sih?"
"Biasa sayang, itu anak kalo nggak ada kerjaan ya gitu, suka bikin kerusuhan"
Rasya mendorong kursi roda Mawar untuk mereka masuk, sepanjang jalan kiri kanan mereka lewat, terdapat balon-balon dengan warna senada menyambut kedatangan mereka
"Sya sebenarnya ada apa sih?" tanya Mawar lagi.
"Sssttt, nggak ada apa-apa, ini kerjaan Abdi, dia lagi gabut, kamu tahu, dia habis melamar cewek, tapi cewek itu saudara tirinya"
"Apa?"
"Hemm"
Mereka memasuki rumah
"HAPPY BIRTHDAY MAWAR"
*Dorr
Dorr
Dorr*
Tembakan Party popper mengudara, mengeluarkan potong-potongan kertas berwarna-warni, berjatuhan keatas kepala Mawar.
Mawar terkejut, suasana dirumahnya begitu ramai, semua orang berkumpul dirumahnya, Mawar menipiskan bibirnya, menahan bulir bening yang akan merangsek keluar. Ada papa Marcel, papa Reyhan,dan mama Rika, Marvin dan juga Putri, Chio dan teman-temannya, tak tertinggal David dan Abdi. Serta semua asisten rumah tangga mereka.
Mawar mendongak, melihat Rasya
"Sya...." suaranya bergetar, dengan mata yang sudah membasah
"Iya, ini untuk kamu, untuk kesabaran kamu" Rasya menunduk, mengecup kening Mawar
"Happy birthday my wife" Bisiknya, Rasya ingin mengecup bibir Mawar, namun Mawar menahan dengan telapak tangannya
__ADS_1
"No, cukup untuk live streamingnya"
Rasya terkekeh, Mawar sudah tahu, dia pasti akan khilaf, tanpa tahu tempat lagi.