
Mawar kembali bersama Chio, menghampiri mama Rika yang sedang berbincang dengan pramuniaga, menjelaskan kelebihan parfum yang sedang mereka tawarkan.
Ya... Chio mengikuti Rasya yang membawa Mawar secara paksa. Ia bersembunyi dibalik tembok pembatas, menguping apa yang terjadi, jika Rasya bertindak diluar batas, baru Chio akan turun tangan. Sungguh ia kasian dengan hidup Mawar, dijodohkan dengan laki-laki seperti Rasya.
"Selamat siang tante, perkenalkan saya Chio, sahabat satu-satunya Mawar, sekaligus pemilik dari parfum 'rose's mom'." Sapa Chio Mama Rika dengan sopan.
"Pantas dia sudah punya, ternyata pacarnya pemilik dari parfum ini". Gumam Rasya yang mendengar itu.
"Wahh... jadi kamu pemilik dari parfum ini?."
Mama Rika begitu kagum "Tante bersyukur bisa disapa pemiliknya langsung, sebuah kehormatan loh buat tante"
"Terima kasih tante, sebenarnya bukan saya pemilik yang sesungguhnya, saya hanya menjalankan perintah tante" diliriknya Mawar yang melotot kan mata, Chio terkekeh melihatnya.
"Nggak penting siapa pemilik yang sebenarnya" karena tante yakin jika Mawar kan pemiliknya, ingin rasanya Mama Rika mengungkapkan itu, tapi ia tak ingin melakukannya, ia menghargai keputusan Mawar, menyembunyikan statusnya karena dia tahu semua yang terjadi. "Ayo tunjukkan sama tante, produk terbaik kalian, karena tante akan menghadiahkan seseorang, eits.. tadi katamu Mawar sahabat kamu, jadi tante mau minta harga spesial." Chio dan Mawar tergelak mendengar permintaan Mama Rika, yang mana mama sama seperti ibu-ibu pada umumnya, meminta harga murah, jika mengenal salah satu dari mereka.
"Pasti, Chio cowok dengan tubuh seksi ini akan memberikan harga yang paling spesial, jika yang lain harganya, 1 juta, maka untuk tante, harganya jadi 2,5 juta, karena tante istri pengusaha terkenal yang baik hati." Chio kembali pada dirinya sendiri kala bersama Mama Rika, ia tak segan lagi, karena menurutnya Mama orang yang humble.
Chio dengan semangat mengajak Mama Rika, menunjukkan koleksi parfum terbaik mereka.
"Pilih yang ini..." Mawar memberikan botol parfum berwarna biru pada Rasya, saat ia lihat Rasya sedang memilih parfum, bisa ia tebak, jika Rasya membelikan untuk Putri. "Wanginya cocok untuk Putri"
"Aku nggak minta pendapatmu"
"Terserah... aku cuma membantu."
Mawar pergi, meninggalkan Rasya, kembali bergabung dengan mama Rika dan Chio.
Lagi-lagi Rasya diserang rasa bersalah, Mawar pandai menyembunyikan sesuatu, padahal tadi dia sudah berbuat tak senonoh, namun Mawar bisa bersikap biasa saja.
...****************...
Setelah mengantar mama terlebih dahulu, kini Rasya mengantar Mawar kerumah. Mereka dilanda kebisuan, berkutat pada pikiran masing-masing. Rasa canggung karena perlakuan Rasya, dan mengingat kata-kata pedas yang Rasya lontarkan padanya, membuat Mawar enggan menatap laki-laki itu. Salah paham yang Rasya ciptakan sendiri membuatnya bertindak tanpa berpikir panjang. Mawar memilih melihat keluar.
Rasa malu, marah dan bersalah menjadi satu. Rasya tak mau meminta maaf, ia terlanjur kecewa. Padahal ia lihat sendiri sudut bibir Mawar yang sedikit membiru, karena ulahnya.
Sampai dikediaman rumah Mawar, Mawar turun tanpa berucap apapun. Ia bergegas masuk, tanpa menoleh kebelakang lagi.
Hati Rasya mencelus, sungguh dia tidak menyukai Mawar, namun diacuhkan membuat hatinya sesak. Masih didepan rumah Mawar, Rasya memijit-mijit keningnya, menyandarkan tangan pada stir. Namun ia menangkap sesuatu, parfum yang dipilihkan Mawar, lagi... Mawar mengerti dia, walau ia tak mengatakan apapun.
Akkhhh...
Kesal, Rasya membenci keadaannya, semenjak Mawar hadir dalam kehidupannya, semua menjadi kacau. Ia ingin Mawar membatalkan pernikahan yang tinggal menghitung hari, namun justru dia membuat kesalahan, kilasan saat ia memaksa Mawar masih begitu terasa. Disandarkannya kepala pada sandaran kursi, harus apa kedepannya, apa ia masih berani meminta Mawar, untuk menggagalkan pernikahan mereka.
Ia tak boleh lengah... Rasya melajukan mobil menuju rumah Putri, berharap bisa menghilangkan sedikit pikirannya tentang Mawar.
__ADS_1
Berselang satu jam,Rasya sudah berada didepan rumah Putri, berharap Putri sudah ada dirumah.
Tok tok tok
Putri membuka pintu, senyum Putri seketika mengembang melihat kehadiran Rasya.
"Mas Rasya..."
"Hai..."
"Masuk mas..."
Rasya mencium aroma masakan menyeruak berdesakan masuk ke indra penciumannya.
"Wangi masakan, kamu masak?,"
Dengan cepat Putri mengangguk.
"Kebetulan mas Rasya dateng, jadi ada yang habisin masakan Putri." Putri terkekeh.
"Dasar emang aku tukang ngabisin makanan apa?." Diacaknya rambut Putri.
Sumpah demi apapun, perlakuan Rasya membuat Putri benar-benar salah tingkah, ia bersemu malu. Ia berlalu kebelakang mengambil makanan, untuk mereka makan bersama.
Putri keluar dengan membawa dua piring yang telah diisi nasi dan lauk berupa ayam rica-rica, dan capcay.
Putri tertawa "Mas Rasya wajib cobain masakan Putri" Ia kembali kebelakang, mengambil air minum untuk mereka.
"Mas tenggorokannya lempeng ya, tau kalo Putri masak." Diletakkannya teh hangat diatas meja. Rasya tak lagi menjawab, mulutnya telah penuh oleh makanan. Putri yang melihat itupun tersenyum senang, berarti Rasya menyukai masakannya.
Rasya menenggak teh hangat yang dibuat Putri hingga tandas.
"Aku udah kayak makan di warteg ya, makan nasi minumnya teh hangat." Ia tertawa sambil mengelus perutnya yang kekenyangan. "Kalo punya istri kayak kamu, mungkin aku bisa gendut, tiap hari dimasakin makanan yang enak-enak."
Blushh
Pipi Putri merona mendengarnya. Rasya adalah orang pertama yang bisa membuat hatinya berdebar. Kalau boleh meminta, ia ingin selalu dekat dengan Rasya.
Rasya menghela nafasnya, bayangan saat Mawar menangis membuat hatinya gelisah. Dia salah, saat ia pikir kerumah Putri bisa menghilangkan segala maslahnya, nyatanya wajah sendu Mawar berseliweran diotaknya. Padahal Mawar tak pernah melakukan hal manis, namun tetap saja, Mawar selalu mengganggunya. Hah... lupakan Rasya... nyatanya dia sudah memiliki kekasih lain.
"Ini buat kamu." diberikannya paper bag berwarna pink dengan motif Mawar.
Putri mengambil paper bag tersebut lalu melihat isinya.
"Mas... ini untuk Putri? ini kan baru launching."
__ADS_1
Putri membuka kemasan parfum yang diberikan Rasya, menyemprotkan ke bagian badannya, leher, hingga bagian ketiak. Rasya yang melihat itu tertawa, Putri benar-benar gadis yang polos.
.
.
.
"DAVID DIMANA KAMU?." Mama Vivi murka, setelah mendapatkan laporan dari orang suruhannya, tentang parfum 'rose's mom.
"Saya dirumah nyonya."
"Kamu tahu tugas kam bukan? aku menyuruhmu mengawasi gerak-gerik Mawar, jangan sampai anak itu melakukan hal-hal yang tak aku inginkan"
"Bukankah saya sudah melaporkan segala yang dilakukan Mawar nyonya."
"Dasar tidak berguna, kenapa sampai Mawar bisa mendirikan usaha sendiri."
"Maaf nyonya, setahu saya, perusahaan parfum tersebut bukan milik Mawar"
"Iya, tapi milik temannya yang cupu itu."
Mama Vivi memutuskan sepihak panggilannya.
Nafasnya ngos-ngosan menahan amarah.
"Kamu tenangkan dirimu, jangan terbawa emosi" Seno menenangkan Mama Vivi.
"Aku nggak habis pikir, Mawar yang aku harapkan bukan seperti ini, aku ingin hidupnya hancur, aku benar-benar muak, apa aku harus melakukan hal keji untuk menghancurkan dia?"
"Jangan kau lakukan itu, bukanya katamu calon suaminya tidak menyukainya, dan memiliki gadis lain?"
"Entah, sekarang aku tidak yakin." Mama Vivi beranjak dari duduknya.
"Seno... atur waktuku, kepala ku pusing."
Laki-laki bernama Seno itupun mengerti yang dimaksud mama Vivi. Apa yang harus dia lakukan?.
.
.
.
.
__ADS_1
*Bersambung...
Ayo donk, like nya... berilah semangat untuk Mawar.. taburkan Mawar juga boleh lah ya... 😁😁*