Mawar Tak Berduri

Mawar Tak Berduri
Chapter 42


__ADS_3

Disebuah apartemen, seorang gadis sedang menangis di kamar mandi, dia duduk melantai dibawah deraian air shower, meratapi hidupnya. Ia tak menyangka jika nasibnya akan seperti ini. Niat hati menolong laki-laki mabuk itu, ternyata malah berakibat buruk untuknya. Masa depannya hancur, hidupnya seakan runtuh.


Bagaimana dia menjelaskan pada orang disekelilingnya? Orang yang telah membantunya untuk bangkit. Akan apa dia kedepannya? gadis itu semakin terisak, bingung apa yang harus dilakukannya.


Baru saja ia menjalani banyak tes untuk masuk perguruan tinggi, dan hari ini merupakan pengumumannya, ia diterima di salah satu perguruan tinggi negeri yang ada dikota ini.


Setelah pulang merayakan kelulusan bersama dengan temannya, ia malah menemukan laki-laki tergeletak di jalan, karena tak tega, iapun berusaha membantunya mengantar pulang sesuai alamat yang diberikan laki-laki itu.


Saat sudah berhasil membawa laki-laki itu, dan membaringkannya, justru dia mendapatkan serangan mendadak yang membuatnya kehilangan mahkota yang dia jaga selama ini. Laki-laki itu tak memperdulikan teriakannya, tak memperdulikan dia yang memohon untuk dilepaskan. Laki-laki itu malah semakin liar melakukannya. Dia yang kehabisan tenaga pun hanya bisa pasrah, berharap laki-laki ini akan bertanggung jawab atas perbuatannya.


...****...


Berbeda dengan pasangan yang menyandang status baru mereka. Rasya nampak masih sibuk mengobrol dengan para orang tua diruang depan. Membahas banyak hal, yang sama sekali tak dimengerti wanita yang kini menyandang status nyonya Mahardika.


Mawar memilih masuk kekamarnya terlebih dahulu, mengganti kebaya yang terasa panas untuknya. Ketukan pintu membuatnya berdebar, takut jika laki-laki yang kini menyandang status suami sahnya masuk. Ia pun kembali merapikan kebaya yang resletingnya sudah turun setengah. Lama dia membiarkan ketukan itu terus mengudara, ia mengatur ritme jantungnya, sungguh situasi ini membuatnya sangat gugup.


Ceklek


Pintu pun terbuka, helaan nafas lega ia hembuskan.


"T-t-tante" ucapnya gugup.


Ya ampun Mawar, emang kamu pikir siapa yang datang.


"Kok masih panggil Tante sih, Mama dong, boleh Mama masuk?" pinta wanita yang umurnya sudah setengah abad itu, namun masih terlihat sangat cantik.


Ia pun mengangguk, mempersilahkan wanita yang kini menjadi mertuanya untuk duduk disofa yang ada dikamarnya.


"Kamu nungguin Rasya ya?" mama Rika tersenyum menggoda.


"Eh, itu enggak ma"


"Jangan gugup gitu, Mama minta waktu kamu sebentar ya, nggak papa kan?"


"Eh iya Ma, nggak papa" mama Rika makin tersenyum geli, lucu sekali menantunya ini, dia memang nggak salah memilihkan istri untuk putra semata wayangnya itu.


"Mama mau ucapin terima kasih, kamu mau menerima Rasya, semoga rumah tangga kalian langgeng sampai maut yang memisahkan" Mawar langsung mengaminkan doa mama mertuanya.


"Kamu anggap Mama sebagai Mama kamu sendiri, jika Rasya menyakiti mu, bilang sama Mama"

__ADS_1


Mawar begitu mengharu, mendengar ucapan mama Rika, dia sudah berkaca-kaca


"Iya Tan_, eh Ma" Mawar masih grogi atas panggilan pada mertuanya. "Terima kasih, Mama sudah menerima Mawar dengan segala kekurangan yang Mawar miliki, semoga pernikahan Mawar dan Rasya menjadi yang pertama dan yang terakhir, Mawar juga mohon bimbingan Mama, agar menjadi istri yang baik untuk Rasya"


"Pasti sayang, kamu bisa datang kapan saja kerumah Mama, dan hubungi Mama jika kamu butuh bantuan Mama" Kedua wanita berbeda generasi itu saling berpelukan, merasa lega, kini mereka sudah dipersatukan dalam ikatan keluarga.


"Mama pulang dulu, sekali lagi, Mama ucapkan terima kasih, kamu mau menerima Rasya kembali,"


"Iya Ma" Mawar hendak mengantarkan mama Rika, namun mama Rika menolak itu, sebab dia masih mau berbicara sebentar dengan papa Marcel.


"Mawar" panggil mama Rika lagi, kepalanya menyembul dibalik pintu "Hati-hati sama belutnya Rasya" setelah mengatakan itu mama cekikikan sendiri, melihat ekspresi bingung Mawar.


"Belut, ngapain Rasya bawa belut?" Mawar menggeleng, ada-ada saja.


Mawar sudah mengganti kebayanya dengan kaos rumahan, dan sudah membersihkan make up dan aksesoris yang menempel.


Rasya masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu.


"Kamu ngagetin aja sih" ujarnya, Mawar menghampiri suaminya.


"Mama udah pulang?" tanya Mawar, tangannya sudah mau membantu membuka jas yang dikenakan Rasya, tugas utamanya, sebagai seorang istri.


"Udah" Rasya langsung merengkuh pinggang istrinya, agar tubuh mereka saling menempel "Kenapa? kamu udah nggak sabar ya" kerlingnya menggoda sang istri, tanganya menggenggam tangan Mawar yang hendak membuka jasnya. "Kamu nggak sabaran sayang" suara Rasya terdengar parau. Membuat Mawar bergidik ngeri dan salah tingkah.


Rasya menelan salivanya kasar melihat Mawar hanya menggunakan kaos kebesaran, dan celana jean pendek diatas lutut, "Kok udah ganti baju aja sih," ujarnya lagi berbisik ditelinga Mawar, mengalirkan gelombang aneh untuk Mawar. Ia langsung menjilati cuping istrinya, memberikan sensasi geli yang menggelitik di sekujur tubuh wanita itu.


"Sya.... kamu ganti baju dulu gih" Mawar mencoba mendorong tubuh suaminya, dia masih begitu gugup.


"Kenapa?" ujarnya berbisik, membuat Mawar meremang. Rasya mengeratkan pelukannya,


"Ini masih siang, kamu udah makan?" tanyanya mencoba mengalihkan, Mawar masih belum siap untuk melakukannya.


"Aku belum laper" Rasya menarik dagu istrinya, agar ia dapat melihat dan merasakan bibir manis itu, yang sudah manjadi candu untuknya. Kening keduanya saling menempel, Rasya memainkan hidung mereka, dia tersenyum melihat wajah Mawar yang memerah, istrinya itu masih malu-malu. "I love you my wife"


Rasya langsung menempelkan dua benda kenyal itu, menahannya tanpa melakukan pergerakan apa-apa. Dilihatnya sang istri yang sudah memejam, Rasya langsung menggigit bibir tipis itu, menyesapnya, merasai semua yang selama ini ditahannya, Mawar tak diam, dia ikut membalas, membuat Rasya melonjak kegirangan, keduanya saling membelit, bertukar Saliva didalam sana.


Rasya menahan tengkuk sang istri dengan tangan kirinya, memperdalam ciuman mereka, tak ingin membuang waktu percuma, tangan kanannya sudah berada diantara dua gundukan dada yang belum sempat disentuhnya. Meremati dengan lembut, ia ingin momen pertama ini menjadi hal yang paling berkesan untuk Mawar, tak terburu-buru, namun memberi sensasi tersendiri.


Tanpa terasa Mawar melenguh, "Sya" ujarnya, saat tangan Rasya mulai menelusup menyentuh puncak dada itu.

__ADS_1


"Apa sayang?" Rasya menjauhkan tangannya, melihat reaksi sang istri selanjutnya.


Mawar seolah menggila, tidak terima Rasya yang menghentikan itu. Mawar membuka matanya, pandangannya berkabut, mengharapkan Rasya mengulanginya lagi. Dengan cepat Rasya melepaskan pengait pembungkus dada itu, "Mau disini apa kita pindah ke hotel sayang?" tawaran bodoh disaat yang tidak tepat.


Mawar tak menjawab, ia malu, disembunyikannya wajahnya pada dada bidang Rasya, wangi laki-laki itu membuatnya tenang, debar jantung Rasya bergegup begitu kencang, saling bersahutan dengan jantungnya.


Mawar mendongak, pandangan keduanya saling mengunci, tatapan mereka mendamba. Dorongan dalam diri Mawar membuatnya berani membuka kancing kemeja Rasya satu persatu, dirabanya dada itu, mereka masih saling berpandangan, tangan halus Mawar membuat belut dibawah sana sudah terasa sesak ingin menyetrum mangsanya.


Dengan sekali tarikan, Rasya sudah menanggalkan kaos milik Mawar, membuat kedua benda itu terlihat, ukuran yang tidak terlalu besar, namun membuatnya sangat ingin merasainya, Rasya menunduk, menghisap puncak dada itu, membuat Mawar menggelinjang, tangannya meremati rambut Rasya, menekannya agar lebih dalam lagi melakukannya.


Rasya mendongak, melihat wajah Mawar yang begitu menikmati permainannya. Kembali ia menghisap puncak gunung itu secara bergantian. Tangannya meremati dan memijat kedua benda itu, membuat Mawar ingin sekali menjerit.


Rasya membuka penutup bawah Mawar, dan langsung mengangkatnya ke tempat tidur, Mawar begitu malu, tak pernah ia tanpa sehelai benangpun seperti ini, dilihat oleh orang lain, tapi ini suaminya sendiri, dia suami sahku.


Dengan sangat pelan, Rasya membaringkan istrinya, ia bertumpu pada kedua lututnya, menahan tubuhnya, agar tak menimpa tubuh sang istri. Rasya membuka semua penutup bawah miliknya, memperlihatkan benda miliknya yang sudah mengeras.


Mawar memalingkan wajahnya, baru kali ini ia melihat benda itu secara nyata.


"Sya, itu apa?" tanyanya dengan suara bergetar.


"Ini belut milik kamu sayang"


"Hah?"


Mawar langsung bangun.


"Belut? mana belutnya?" ia langsung panik.


"Sya aku takut belut"


Melihat Mawar seperti itu, membuat Rasya melemas, polos sekali istrinya itu, padahal tadi dia sangat menikmatinya.


.


.


.


.

__ADS_1


*Bersambung,


udah aku ngos-ngosan gara-gara belut, gagal deh, Rasya sih segala bawa belut 🤭😂*


__ADS_2