Mawar Tak Berduri

Mawar Tak Berduri
Chapter 33


__ADS_3

Mawar mencoba mendorong tubuh Rasya, namun Rasya semakin memperdalam ciumannya, kini tangan kanannya menarik pinggang Mawar agar semakin mendekat kepadanya, mengikis jarak diantara mereka, tanpa menyisakan kekosongan untuk udara sekalipun, sedang tangan kiri Rasya menahan tengkuk Mawar. Mawar pun terlena, kini dia melingkarkan tangannya pada leher Rasya.


Keduanya terhanyut oleh gelombang rasa yang mereka ciptakan, mengerti Mawar yang tak kuat lagi menyeimbangi pergerakannya, Rasya menuntun Mawar untuk berbaring ditempat tidur, rasa lapar yang mendera kini hilang, tergantikan rasa lain yang mulai menguasai jiwa kelakian Rasya. Diusianya yang sudah cukup dewasa, ini untuk pertama kalinya Rasya melakukan dengan seorang wanita.


Hatinya begitu bahagia, Mawar menjadi wanita pertama yang bisa menyentuhnya, wanita yang diharapkannya sejak dulu. Rasya juga tahu, Mawar pasti baru pertama kali melakukannya, hanya denganya. Bibir Rasya terus memagut, tak sedikitpun dia lepaskan, kini tubuhnya mengukung Mawar. Mawar yang pasrah atas serangan Rasya yang semakin menggebu, matanya mulai berkabut, meminta sesuatu yang lebih.


Tangan Rasya tak tinggal diam, nalurinya membuatnya ingin menyentuh kedua gundukan yang ada dibalik dress Mawar. Perlahan tangan itu turun, menyusuri leher Mawar, lalu berhenti sejenak dipundak Mawar, menyingkap sedikit dress itu sampai kepundak. Lenguhan kecil keluar begitu saja dari bibir Mawar, membuat Rasya semakin terpacu adrenalinya, tubuh Mawar menggeliat, merespon setiap perlakuan Rasya padanya.


Tangan Rasya kini sudah menyentuh satu aset gundukan sebelah kanan Mawar, ia sangat penasaran, seperti apa benda itu jika dimainkan.


"Woi Sya.....nih makananya dah sampe."


Suara menyebalkan itu mengganggu aktivitas keduanya diiringi ketukan keras dipintu. Mawar mendorong tubuh Rasya diatasnya, ia segera bangkit, membenarkan dresnya yang sedikit berantakan, dan sudah tersingkap. Mawar merutuki dirinya. Astaga, bagaimana bisa dia ikut terlena?.


Pesona Rasya memang tak bisa dielaknya, tampan, tinggi, alis tebalnya, mata sedikit sipit, namun tetap manis dipandang. Ya, walau Rasya sering ketus, justru dia menyukai sifat laki-laki itu.


"Bangsat," Maki Rasya, ia berdiri dengan lututnya, menahan tangan Mawar yang akan membuka turun. "Mau kemana?"


"Buka pintu"


"Biar aku saja." Rasya turun dan membukakan pintu, dengan tetap menggenggam tangan Mawar yang ikut dibelakangnya.


"Mana?" Tanyanya pada Abdi yang sedang tersenyum menyebalkan.


Bukanya menjawab, kepala Abdi malah celingukan, mengintip kedalam pada pintu yang sedikit terbuka.


"Mawar sudah pulang?" tanyanya basa-basi.


"Ngapain nanyain Mawar?"


"Akukan beli makanannya banyak Sya, mubazir kalo nggak dimakan" Matanya terus menelisik kedalam.


"Nyari apa sih?" Tanya Rasya lagi, sebal Abdi yang jiwa kekepoannya terlalu tinggi.


Abdi kembali nyengir "Nih makanannya" Dia mengangkat tentengan yang ada ditangannya, menunjukkan begitu banyak makanan yang dibelinya.


"Yasudah tunggu." Rasya membanting pintunya, entah dia merasa kesal sekali.


"Kamu lapar?" Tanyanya pada Mawar. Rasya mengusap-usap bibir merah jambu milik Mawar.


"Aku udah makan, lebih baik kamu makan sekarang"


"Aku maunya makan kamu, boleh?" pintanya memohon "Kita lanjutkan yang tadi"


Mawar mencubit pinggang Rasya.


"Aduh sakit sayang." Usapnya bekas cubitan Mawar, yang terasa panas.

__ADS_1


"Lagian kamu tuh masih sakit, harus minum obat, seharian kamu belum makan, emang kita pengantin baru." Omel Mawar panjang lebar, bibirnya sudah maju beberapa senti.


Rasya merasa tersentil, pengantin baru, ya seharusnya mereka saat ini sedang menikmati hari mereka sebagai pengantin baru.


"Maaf." Lirihnya.


"Untuk?." Mawar menaikkan satu alisnya.


"Semua yang terjadi"


"Sudahlah, ini juga salahku"


Rasya menarik tangan Mawar memeluknya erat, sungguh dia menyesal, telah pernah melukai hati gadis sebaik Mawar.


"Kita makan, aku lapar." Keduanya tertawa, mereka telah melupakan Abdi yang mungkin saat ini kesal menunggu lama.


...-------...


"Nggak papa aku makan sendiri, aku sanggup menghabiskan semuanya sendiri." Abdi menunjuk makanan yang dibelinya, dan sudah disusunnya diatas meja.


Abdi membeli sate, pecel lele, martabak telor, ayam bakar, nasi goreng dan segala jenis minuman, es kelapa, es boba kekinian, dan es cendol durian. Tentu itu semua mendapat protes dari Rasya. "Orang sakit harus banyak makan." Jawabnya enteng. Sungguh menaruh kecurigaan Rasya.


"Jangan sering berduaan, nanti aku cepat dapat keponakan sebelum waktunya." Ocehnya lagi, dan mendapat lemparan kotak tissu dari Rasya.


Mawar hanya tersenyum, mendengar ocehan Abdi, mulutnya sudah penuh dengan pecel lele.


"Huhh lebih baik ngungsi ke sebelah, perutku mendadak mual" Abdi begitu muak melihat sahabatnya, bisa-bisanya dia diabaikan. Walau ada rasa bahagia melihat Rasya sekarang sudah merasakan jatuh cinta. Abdi bangkit membawa makanannya, berpindah ke unit Chio.


"Sya, kamu kapan pulang kerumah?" Mawar mencoba menghilangkan rasa canggung, karena terus dipandangi Rasya.


"Jika kamu pulang, kita pulang sama-sama, lalu kita menikah." Pandangannya tak lepas dari Mawar.


Mawar terdiam, ada rasa bimbang, Rasya yang berubah terhadapnya 180 derajat, masih menyisakan tanda tanya dihatinya. Mawar belum bisa mempercayai Rasya, meski belakangan ini, sifat Rasya begitu lembut terhadapnya.


Apalagi jika keluarga Rasya tahu, tentang jati diri dia yang sebenarnya. Tentang kekacauan keluarganya. Dia tidak mau berharap pada Rasya, tak ingin hatinya terluka lagi. Keluarga Rasya bukanlah dari keluarga biasa, pasti mereka mengharapkan Rasya mempunyai calon pendamping yang layak. Mawar harus menyelesaikan masalah keluarganya terlebih dahulu.


Rasya menggenggam tangan Mawar, seakan tahu yang gadis itu pikirkan.


"Beri aku kesempatan, aku akan menebus semua kesalahan ku." Diselaminya mata Mawar, yah gadis itu ragu.


Rasya kembali mendekatkan wajahnya, dia tak bisa menahan diri jika berdekatan dengan Mawar.


"Beri aku waktu." Mawar menundukkan wajahnya, dia tak ingin terlena lagi.


Rasya menghela nafas, kecewa keinginannya tak tersampaikan, "Aku bisa memberi mu waktu, sampai kapanpun, tapi aku tak bisa menahan keinginan ku Mawar, aku tidak bisa menahannya."


Mawar mengusap wajah Rasya, "Cepat habiskan makanya, aku mau pulang, cepatlah sembuh, aku bosan jadi doktermu."

__ADS_1


"Bosan?" Rasya terkesiap atas ucapan Mawar.


"Iya aku bosan jadi dokter laki-laki manja, tukang maksa, suka main...." Mawar menggantungkan kalimatnya, tidak mungkin dia berkata jujur, Rasya yang menciumnya secara tiba-tiba, namun dia menyukainya juga.


"Main apa?" Rasya penasaran apa yang akan diucapkan Mawar. Mawar hanya menggeleng, tak ingin menjawabnya.


"Jika kamu tak mau menjawabnya, sebagai hukumannya kamu tidur disini."


"Eh.... kok gitu? aku nggak mau"


"Harus mau"


"Nggak"


"Mau"


Terus seperti itu, sampai perdebatan itu berakhir, mereka tertidur disofa itu. Lengan Rasya yang dijadikan bantal untuk Mawar, sedang Mawar membelakangi Rasya, posisi Mawar dipinggir sofa.


...******...


Ibu Vivi tersenyum senang, disaat semua orang lengah, dia sudah mengatur strategi untuk menghancurkan Mawar. Dia tahu jika suaminya pasti akan mengajukan cerai untuknya. Namun dia tak mau kalah langka, dia sudah mengatur semuanya. Mawar yang dia tahu keberadaannya bersama Marvin.


Semua aset perusahaan harus jatuh ke tangannya. Termasuk harta gono-gini.


"Kamu yakin, semua rencana mu akan berhasil?." Suara laki-laki itu mengagetkannya.


"Aku sangat yakin, setelah semua keluarga Rasya tahu siapa mawar sebenarnya, mereka akan membatalkan kerja sama dengan Marcel"


"Sayang berhentilah, tidakkah cukup dengan hidup kita yang sekarang, kita akan bahagia, menjadi keluarga utuh, aku ingin hidup bersama Marvin."


"Aku tidak akan bisa hidup bahagia Mas, jika mereka semua hidup bahagia, mereka harus merasakan apa yang aku rasakan selama ini, aku menderita, aku tersiksa." Ia sampai menepuk dadanya, menahan sakitnya, cintanya yang dikhianati.


"Cukup sayang, jangan sampai dendam menguasai dirimu, kamu sudah membalasnya bukan? Kita sudah punya Marvin"


"Aku hanya ingin Mawar hancur Mas, aku ingin dia merasakan selama ini yang aku rasakan." Ibu Vivi menangis dalam pelukan laki-laki yang selalu mengerti keadaannya.


.


.


.


.


*Bersambung


Hayo-hayo, tinggalkan jejaknya*..

__ADS_1


__ADS_2