
Rasya langsung ambruk disebelah Mawar, dia jadi tak bersemangat, ditariknya selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya.
"Sya kamu nggak papa?" tanya Mawar polos, dia bingung, suaminya itu tidak meneruskan kegiatan mereka.
Rasya menggeleng, menarik pinggang Mawar dan memeluknya, dikecupnya kening Mawar dengan lembut. Sentuhan kulit mereka membuat Mawar merinding, bulu kuduknya berdiri, Mawar mendongak, melihat Rasya yang hanya terdiam
"Aku ada salah?" dia merasa tak enak, suaminya yang mendadak diam
"Enggak sayang," dia menarik-narik rambut Mawar.
Mawar bingung, dia tidak mungkin jujur, jika dia menginginkan suaminya lagi, tapi dia juga tidak tahu, kenapa Rasya tiba-tiba menghentikan aksinya.
Rasya sengaja mengulur waktu, mengerjai istrinya, ingin melihat reaksi Mawar, apa Mawar menginginkan mereka melanjutkan apa yang sudah mereka mulai tadi, walau sebenarnya dia bersusah payah menahan keinginannya.
"Kamu tadi bahas belut apa sih, kamu bilang belut milik aku, belut apa coba? kamu sama Mama dari tadi bahas belut" Mawar mengerucutkan bibirnya, ia menelusup pada ketiak Rasya, mungkin ini akan menjadi tempat favoritnya, wangi maskulin deodorant Rasya membuatnya tenang dan nyaman.
Rasya terkekeh, istrinya benar tidak paham belut yang dia maksud, dilihatnya Mawar yang setengah memejam dibawah keteknya.
"Tadi mama bilang apa tentang belut hem?" Rasya tahu, pasti tadi mamanya sempat menggoda Mawar.
"Aku harus hati-hati sama belut kamu"
"Terus kamu mau tau nggak belut aku yang mana?" dia terus mengecupi kepala istrinya, wangi sampo Mawar menjadi candu baru baginya.
"Kamu suka makan belut?" tanya Mawar, dia masih belum mengerti
"Bukan sayang, kamu beneran mau tahu?"
Mawar mengangguk, "Aku harus tau semua tentang kamu kan?"
Rasya tersenyum, dia senang, Mawar berusaha ingin menjadi istri terbaiknya. Dibawanya tangan Mawar untuk menyentuh miliknya, membuat Mawar terlonjak kaget
"Ini belut aku, kamu harus kenalan sama dia" Rasya bak senjata makan tuan, tangan lembut Mawar yang menyentuh miliknya membuat belutnya kembali menegang sempurna, dengan sigap ia mengungkung tubuh mungil Mawar, tanpa menghiraukan Mawar yang akan berkata, ia langsung membungkam bibir mungil itu, manis bibir Mawar yang selalu membuatnya tergila-gila.
Lama ciuman itu semakin menuntut, tak hanya disitu, tangan Rasya meremati salah satu benda kembar milik istrinya, membuat ia semakin menggila. Rasya melepaskan ciumannya, bibirnya mengecupi setiap inci tubuh putih bersih milik Mawar, tak lupa ia meninggalkan banyak tanda kepemilikan di seluruh leher, dada, dan diantara kedua gunung kembar milik istrinya.
Menghisapi puncak dada itu, dan memainkan lidahnya disana, Mawar tak dapat menahan lenguhannya, membuat Rasya semakin terpacu,bibir Rasya terus turun kebawah, melewati perut rata milik Mawar, sedang tangan Mawar meremasi kepala Rasya, memjambaki rambut suaminya, mulutnya terbuka, dia begitu menikmati setiap perlakuan Rasya. Tubuhnya pun meliuk-liuk merespon setiap yang Rasya lakukan.
"Sya..." lenguhnya
Rasya mendongak, melihat wajah Mawar yang begitu menikmati permainan mereka.
"Terus sebut namaku sayang, aku akan pelan-pelan"
Mawar mengangguk samar, tak dapat lagi menjawab suaminya.
Rasya membelah kedua paha Mawar, tangannya bermain-main disana, memberikan rasa agar Mawar lebih rileks, Mawar menggeleng, dia tak bisa lagi menahannya, dia begitu menginginkan lebih, ahh masa bodoh, mereka sekarang suami istri, kakinya terus bergerak saat Rasya memainkan lidahnya disana, ini sungguh luar biasa, Mawar begitu ingin berteriak, rasa apa ini?
Melihat Mawar yang seperti sudah tak tahan lagi, dengan lembut Rasya memasuki diri istrinya, Rasya langsung membungkam mulut Mawar saat wanita itu akan berteriak
"Ini mungkin akan sakit, aku juga baru pertama kali,"
Rasya membiarkan miliknya disana, tidak melakukan pergerakan, disaat dirasa Mawar sudah menguasai dirinya, barulah dia melakukannya lagi, dengan sekali hentakan, belut Rasya sudah mampu masuk kedalam sarang lawannya, kedua tangan Mawar mencengkeram keras sepreinya, dia menggigit bibir bawahnya, menahan perih sekaligus memabukkan baginya.
Hawa panas terus menyelimuti keduanya, pendingin ruangan itu pun seakan tak terasa, Rasya terus menghentakkan miliknya didalam sana, lenguhan-lenguhan merdu terus mengudara, membuat Rasya semakin bersemangat. Lama kelamaan hentakan itu semakin cepat, saat Rasya merasa belut miliknya serasa dipijat oleh sarangnya.
__ADS_1
Semburan larva hangat keluar bersamaan, nafas keduanya tersengal, peluh terus bercucuran, perlahan Rasya menarik miliknya, membuat Mawar meringis menahan perih.
"Terima kasih sayang" Dikecupnya kening Mawar, lalu memeluk tubuh lemah itu. Mawar tak dapat lagi menjawab, dia masih begitu menikmati rasa itu.
Ditutupinya tubuh mereka, seakan benar-benar kelelahan, Mawar langsung menyembunyikan wajahnya pada ketiak Rasya, tak ada rasa risih, walau ketiak itu penuh keringat, melingkarkan tangannya pada punggung Rasya, dia memejam, "Jangan pernah tinggalin aku" pintanya, ucapan itu melemah, Mawar langsung terlelap dialam mimpinya.
Rasya mengangguk, terus mengecupi pucuk kepala sang istri, membelai rambut coklat itu, memberikan rasa nyaman. Rasya melihat sang istri yang sudah memejam, ditatapnya wajah cantik alami Mawar. Wajah itu begitu teduh, terbesit penyesalan atas perbuatannya dulu, Dia berjanji tak akan sedikit pun menyakitinya, sebisa mungkin dia akan terus memberikan kebahagiaan untuk Mawar.
Rasya tak dapat memejam, kulit yang terus menempel kembali memantik keinginan dalam dirinya, Rasya terkekeh sendiri, ternyata rasanya begitu nikmat. Dia ingin mengulangnya lagi, namun tidak tega, melihat Mawar yang sangat kelelahan.
Rasya menundukkan kepalanya, mengecup bibir sang istri, sungguh ini hanya keisengan, namun dia mengulanginya lagi, kecupan itu berubah menjadi hisapan kecil, hingga dia tak dapat lagi menahannya, digigitnya bibir itu, membuat Mawar mengerjap, mata Mawar membola, melihat sang suami yang sudah memulai aksinya kembali.
"Sya, bisa istirahat dulu nggak" pinta Mawar, sungguh perih yang tadi masih sangat terasa, sekarang suaminya sudah memulai lagi.
"Aku maunya juga gitu, tapi kamu sih meluk aku, jadinya belutnya mau kesarang lagi, punya kamu enak sayang"
Plakk
Mawar memukul lengan suaminya "Yang tadi masih perih Sya, tahan dulu ya?"
Rasya terlihat kecewa, ia merajuk seperti anak kecil, membuat Mawar tidak tega.
Mawar sigap menyatukan bibirnya, tak ingin Rasya yang kecewa.
"Baru sekali, kamu mulai nakal ya" Senyum Rasya mengembang. Dia langsung membalas aksi sang istri
Hingga keduanya mengulang aktivitas mereka, kali ini Rasya lebih lembut, tak ingin menyakiti sang istri, sedang Mawar, meski terasa nyeri, namun tubuhnya juga menikmati, sampai pelesan itu terjadi untuk kedua kalinya.
Keduanya ambruk, Rasya memeluk sang istri, bertubi-tubi ia hujami Mawar kecupan dikepalanya.
Cubitan kecil itu langsung mendarat di dada Rasya.
"Jangan ngomong begitu lagi, nanti aku nggak mau, ini juga demi kamu tau, masih sakit Sya" rengek Mawar, dia benar-benar merasakan sakit, tanpa ditutupi.
"Iya aku tahu, maaf ya" direngkuhnya tubuh Mawar agar lebih dekat
Mereka tidur dengan saling berpelukan, dengan Mawar yang berbantalkan lengan Rasya.
...****...
Dering ponsel Rasya terus mengudara, membuat dua insan yang sedang terlelap terganggu.
"Sya, ponsel kamu dari tadi bunyi, angkat dulu"
Tangan Rasya coba menjangkau ponsel yang tak jauh dari tempat tidur mereka, tanpa melepaskan tangannya yang masih memeluk tubuh polos sang istri.
Tertera nama Abdi disana, Rasya langsung menggulir tombol hijau.
"Ya" ujar suara Rasya sedikit ketus
"Bisa biasa aja nggak bos" suara diseberang sana terdengar menyebalkan
"Ada apa?" tanyanya tak ingin berbasa-basi
"Cuma pengen tahu bos, apa bos masih kuat? nggak ada nanyain kabar saya bos, kasih kabar kek, gimana lancar nggak? kan saya juga pengen tahu, takutnya Mawar kabur lagi"
__ADS_1
Rasya langsung mematikan panggilan secara sepihak, tak ingin meladeni ucapan temannya yang hanya menggodanya, Rasya menggeram, "Awas saja kamu Abdi"
"Siapa Sya?" tanya Mawar, dilihatnya muka Rasya memerah menahan kesal.
"Nggak penting sayang" dilihatnya waktu menunjukkan pukul tujuh malam, sudah hampir setengah hari mereka menghabiskan waktu dikamar.
Rasya baru ingat, jika mereka masih dirumah mertuanya, astaga, malu sekali dia jika harus bertemu papa Marcel.
"Sayang kamu nggak laper" tanya Rasya pada Mawar
"Banget"
"Ayo kita bersih-bersih dulu, nanti kita makan bersama papa" Rasya langsung mengangkat Mawar, membawanya ke kamar mandi, meletakkan tubuh istrinya didalam buth up.
Tak lama mereka sudah rapi, bersiap keluar, jika Rasya tak mengingat ini dirumah sang mertua, dia pasti sudah menyerang Mawar lagi saat mandi tadi. Dia pikir mereka harus segera pindah kerumah baru mereka.
Saat berdiri Mawar menahan sakit pada pangkal pahanya, wajahnya terlihat meringis, serangan Rasya untuk kedua kali, masih menyisakan nyeri untuk Mawar.
"Kamu yakin mau keluar sayang?" Rasya menyakinkan lagi istrinya.
"Aku nggak enak sama Papa, kita seharian nggak keluar"
Rasya tersenyum, mendengar kejujuran istrinya, "Papa pasti mengerti, kamu tunggu disini, biar aku bawa makanan kedalam, emm atau kamu pengen makan apa gitu, biar aku pesankan?"
"Nggak usah, aku makan yang ada saja, kasian makanan yang sudah dimasak kalau tidak dimakan, Bibi pasti sudah masak lebih untuk kita"
Rasya mengacak rambut istrinya, mengecup lembut bibir itu, sebelum dia keluar
"Baiklah, aku ambil makanan dulu"
Dimeja makan papa Marcel terlihat sedang duduk sendiri, dia seperti menunggu anak dan menantunya untuk makan bersama. Dilihatnya Rasya keluar seorang diri. Dia sudah menduga, Mawar pasti tidak bisa ikut bergabung. Papa Marcel berkaca-kaca, anaknya sudah dewasa, dia sudah menjadi tanggung jawab suaminya, padahal dia belum sama sekali membahagiakan putrinya, membayangkan Mawar tidur bersama sang suami membuat hatinya sakit, namun inilah kehidupan, walau masih ada ketidak relaan, dia harus mengerti, tidak mungkin dia menahan sang anak meraih kebahagiaannya.
Dia harus mendukung semua yang dilakukan Mawar saat ini, mungkin itulah wujud pengorbanannya sebagai seorang ayah, dia hanya harus sehat, agar bisa melihat cucunya kelak, melihat Rasya benar-benar membahagiakan putrinya, dan akan menjadi pendengar dikala putrinya membutuhkannya, bagaimana pun dia tetap menjadi tempat kembali sang Putri.
"Mawar tidak keluar" tanya papa Marcel dingin.
"Mawar sedikit tidak enak badan_ Pa" dustanya, tidak mungkin jika harus jujur kan, walau masih terjadi perang dingin diantara keduanya, Rasya harus menghormati papa Marcel, kini dia harus berusaha meluluhkan hati sang mertua yang pernah kecewa padanya.
Papa Marcel tak berucap lagi, dia mengangguk mengerti.
"Rasya tinggal dulu ya Pa, kasihan Mawar mungkin sudah kelaparan, kami tidak bisa menemani" berat Rasya menyelipkan kata maaf pada ucapannya.
Dia berlalu, meninggalkan papa Marcel, Rasya mambawa nampan berisi satu piring nasi yang sudah diberi lauk dan dua gelas minum. Untuknya dan Mawar.
Sekarang kamu merasakan yang dulu Mawar rasakan Marcel, hidup sendiri dan kesepian. Papa Marcel memejamkan matanya, menghalau butiran bening itu berjatuhan.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya... ❤️❤️❤️ dan komenya.
__ADS_1