Mawar Tak Berduri

Mawar Tak Berduri
Chapter 69


__ADS_3

Seminggu sudah Mawar berada dirumah pasca melahirkan, mereka tidak pulang kerumahnya, melainkan kerumah orang tua Rasya, sebab kamar mereka saat ini sedang direnovasi, kemarin Rasya mengecat kamar mereka dengan warna biru, kini kamar itu diganti menjadi warna merah muda, sesuai dengan jenis kelamin anaknya.


Rumah orang tua Rasya setiap hari selalu ramai dikunjungi oleh rekan dan saudara dari orang tuanya, mereka sangat antusias melihat bayi cantik, lucu dan menggemaskan, yang hingga kini belum diberi nama, sebab mama Rika ingin, saat pemberian nama, bersamaan dengan acara syukuran kelahiran cucunya.


Benar saja, besok merupakan hari syukuran itu, Mawar kira mama Rika akan mengadakan pengajian biasa, ternyata mertuanya itu membuat sebuah acara besar, seperti akan ada acara pernikahan saja. Rumah itu telah berdiri sebuah tenda besar untuk menampung para undangan, terdapat juga panggung yang tidak terlalu tinggi sebagai singgasana penyelenggara acara dan berbagai macam hiburan yang akan ditampilkan.


Entah acara apa yang akan diadakan mertuanya itu, Mawar tak ambil pusing, suatu kewajaran jika mama Rika membuat syukuran secara besar-besaran, sebab pernikahannya dengan Rasya tidak diadakan acara resepsi.


Mawar melihat mulut anaknya yang terus mengecap, Mawar antusias mengangkat bayi lucu itu, lalu menempelkan tangannya pada bibir sang bayi, mulut mungil itu terus mengikuti pergerakan tangan Mawar,


Ibu kejam


Itulah kata yang pantas untuk Mawar saat ini, dia sangat senang mempermainkan anaknya, terus mengerjai sang bayi yang sekarang sudah agak berisi.


Oeee oeee oeee


Akhirnya tangis bayi itu pecah, karena merasa kesal, Mawar malah tertawa, dan langsung memberikan ASI pada anaknya, hari-hari Mawar kini lebih berwarna, dia sangat menikmati perannya sebagai seorang ibu. Apalagi Rasya yang menjadi suami siaga, dia rela bergadang, bergantian dengannya jika putri mereka terjaga, Rasya juga tak segan memandikan anaknya sebelum berangkat bekerja.


Kini Mawar bisa memberikan ASI nya dengan nyaman setelah beberapa hari yang lalu, ia sempat merasakan nyeri pada pucuk dadanya, Mawar sempat ingin menyerah, tapi Rasya dan mama Rika selalu memberi dukungan untuknya. Sayang jika bayi mereka diberi susu formula, sedang ASI Mawar sangat melimpah. Diluar sana, banyak ibu baru yang berjuang mati-matian agar anak mereka tetap mendapat ASI eksklusif, itulah yang Rasya katakan.


Rasya sangat mengerti kondisi Mawar, hormon setelah melahirkan membuat Mawar sedikit tidak bisa bersabar. Agak jauh dari sifatnya yang sebelumnya, Mawar jadi sering menangis tanpa sebab, beruntung Rasya kini menjadi lebih dewasa, dia yang selalu menenangkan Mawar saat istrinya kesulitan dalam memberikan ASI.


"Sayaaang Apap pulang" suara Rasya terdengar begitu semangat, ayah baru ini jadi bersemangat bekerja, demi masa depan anak-anakny kelak, dan tak sabar ingin cepat pulang demi melihat istri dan anaknya.


"Hubby kamu mandi dan ganti pakaian dulu" peringatkan Mawar agar Rasya tak menyentuh anaknya terlebih dahulu.


"Siap nyonya, tapi sun Amam nya dulu boleh" pintanya dengan wajah memelas.


Mawar menggeleng keras "Kamu bawa virus yang akan menempel sama aku, terus berpindah pada anak kita"


"Oke-oke" Rasya langsung menghilang dibalik pintu kamar mandi


Tak butuh waktu lama, Rasya telah keluar, ia melilitkan handuknya sebatas pinggang, Mawar yang melihat itu hanya bisa menelan ludah, sudah memiliki anak namun dia masih saja terpesona jika melihat Rasya bertelanjang dada.


"Sayang mata kamu" goda Rasya yang mengerti arti pandangan istrinya


Mawar tersipu malu, ia ketahuan tengah memperhatikan suaminya, dan ini membuat Rasya semakin mencintai istrinya, mereka seperti jatuh cinta untuk pertama kalinya lagi.


Jika saja ini bukan masa nifas Mawar, Rasya pasti akan menerkam istrinya saat ini juga, tapi dia berjanji akan menahan keinginannya, sampai Mawar sudah memasang alat kontrasepsi, ini ia lakukan karena agar anak mereka bisa mendapatkan ASI sampai usia yang dianjurkan.


Rasya banyak mencari tahu tentang cara memberikan dan mendukung pertumbuhan anaknya di 1000 Hari Pertama Kehidupan.

__ADS_1


Ia ingin mendukung Mawar sepenuhnya dalam mendidik anak mereka, bukan hanya memberi dari segi materi, tapi juga memberi dari segi ilmu yang ia dapatkan, bersama dengan istrinya, agar anaknya tumbuh menjadi anak yang memiliki adab yang baik.


...****...


Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, Pagi ini bayi cantik itu telah dipakaikan gaun berwarna pink salem, dengan pariasi pita di pinggangnya, serta bandana berbentuk pita bertengger manis dikepala bayi itu. Sedang Mawar mengenakan kebaya berwarna senada dengan anaknya. Mawar terus mengambil potret bersama anaknya.


Ceklek


Pintu kamar mereka terbuka, menampilkan wajah tampan Rasya, laki-laki yang sudah menjadi ayah itu memakai setelan jas berwarna pink, dengan kemeja warna putih didalamnya.


"Hubby.... kamu nggak pa-pa pakai baju warna itu?" Mawar meletakkan anaknya yang kini tertidur


"Apa masalahnya sayang, aku ingin kita terlihat kompak diacara anak kita" Rasya menarik pinggang istrinya, merapikan helaian rambut kebelakang telinga Mawar.


Mawar tersenyum simpul, dia merapikan kerah baju Rasya.


"Kamu tampan pake baju ini, mau tebar pesona ya sama karyawan kamu yang cantik-cantik dan muda"


Rasya terkekeh mendengar pujian istrinya, yang berakhir wanita itu menunjukkan rasa cemburunya.


"Untuk apa aku tebar pesona, aku ingin terlihat tampan karena kamu, agar kamu selalu mencintai aku, selalu didekat aku apapun yang terjadi, aku memang bukan laki-laki sempurna yang diimpikan banyak wanita, tapi aku selalu ingin menjadi yang terbaik untuk kamu, jangan pernah tinggalkan aku, Mawar tak Berduri ku"


Tanpa terasa Mawar meloloskan bulir bening dari matanya, ia tak menyangka akan melangkah sejauh ini dengan pria yang sangat membencinya, dan hidup mereka disempurnakan dengan kehadiran sosok malaikat kecil yang hadir dalam hidup mereka, kini pria ini menjadi sosok yang sangat ia butuhkan, ia sangat bergantung pada laki-laki ini, mengerti semua yang ia inginkan tanpa ia minta, menerima semua kekurangannya dan keluarganya.


Rasya menghapus air mata itu dengan ibu jarinya, Rasya menangkup wajah Mawar, ia teliti wajah cantik yang kini agak sedikit tembem itu, Rasya langsung memasukkan bibir tipis itu dalam mulutnya, bak permen, bibir itu ia hisapi dengan sangat liar.


Mawar terengah-engah, ia kehabisan nafas, melihat itu Rasya tertawa.


"Hubby, kamu hobi banget ya hapus lipstik aku" Mawar langsung berbalik menuju meja rias, benar saja, lipstik yang sengaja ia pakai sedikit tebal itu kini telah menghilang, menyisakan sedikit warna yang sudah nampak lebih seperti warna bibir asli miliknya.


Mawar membuka kembali lipstik yang tadi ia pakai, dengan cepat Rasya mengambil lipstik itu, menyembunyikannya dibelakang tubuhnya.


"Aku udah sering bilang, dandan cukup untuk aku aja, jangan untuk orang lain"


"Hubby.... ini juga untuk kamu, gimana nanti kalo orang menilai aku sekarang bertambah jelek, kan kamu juga yang malu, terus kalo aku jelek, nanti kamu malah punya hati lain" Mawar menghentakkan kakinya seperti anak kecil


Sudut bibir Rasya terangkat, dia semakin suka dengan Mawar yang cemburu


"Tapi aku minta maaf, untuk saat ini aku belum bisa setia padamu" Rasya menyudutkan Mawar pada meja rias, mengurung Mawar dengan kedua tangannya


Mawar mendongak, menyelami mata suaminya, "Maksud kamu?" tanyanya ketus

__ADS_1


"Aku sekarang tidak bisa hanya setia pada satu hati" ujar Rasya yang juga menatap mata Mawar yang sudah berkaca-kaca


"Karena ada malaikat kecil yang akan mengisi sudut hati ku yang lain" Rasya kembali menautkan bibirnya pada bibir Mawar.


Tautan itu semakin lama semakin menuntut, hingga Rasya merasakan asin pada bibir Mawar


"Sayang kamu menangis?" usap Rasya lembut pipi mulus milik istrinya


"Aku nggak bisa bayangin, kalo sampai kamu beneran mendua"


Hikss hikss


"Dan aku akan pergi dari hidup kamu, membawa anak kita"


Sssttt


Rasya meletakkan jari telunjuknya pada bibir Mawar


"Jangan pernah ucapkan itu, itu tidak akan pernah terjadi, aku yang tidak bisa membayangkan gimana hidup aku tanpa kalian" ujar Rasya, dia melihat anaknya yang masih tertidur pulas, tanpa ingin ikut pada drama yang dibuat kedua orang tuanya dipagi hari.


"Rasyaaaaa, Mawaaaaarr ayo keluar sayang, tamu kita sudah banyak yang datang"


Mendengar teriakkan Mama Rika membuat mereka tertawa, mereka lupa jika hari ini adalah syukuran anaknya, mereka keluar dengan Rasya yang menggendong bayi mereka.


Segala rangkaian acarapun dimulai, Mawar dan Rasya duduk lesehan dipanggung yang dihias dengan bunga dan balon serba pink, bingkai foto anak Rasya dengan ukuran besar dan juga berwarna pink berdiri disisi kiri dan kanan panggung tersebut.


Tamu undangan yang datang, semua adalah anak-anak kurang beruntung dari panti asuhan yang selama ini dikelola oleh mama Rika dan keluarganya, mereka mengenakan kostum berwarna putih, dan bawahan berwarna coklat muda, sepertinya mama Rika memang membuat acara syukuran cucunya dengan sangat matang, semua terkonsep rapi, Mawar dan Rasya sama sekali tak ikut andil dalam acara ini.


Hingga acara puncak yang dinanti-nanti pun datang, pengumuman nama bayi cantik Mawar dan Rasya, itu juga mama Rika yang telah menyiapkan semuanya, bukan Mawar tak ingin memberi nama pada anaknya, tapi melihat begitu bahagia mertuanya itu, Mawar tidak ingin membuat mama Rika kecewa.


Dengan suara keras dan semangat Rasya menyebutkan nama anaknya


Marsha Mahardika


Nama yang singkat namun penuh makna, Marsha berarti seorang yang pemberani dan pekerja keras, diharapkan anak mereka menjadi anak bisa menjadi penerus Rasya kelak.


Sedang Mahardika diambil dari nama keluarga Rasya, yang berarti kaya, berilmu dan berbudi luhur


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2