Mawar Tak Berduri

Mawar Tak Berduri
Chapter 20


__ADS_3

Arrggghhh...


Prang...


Prang...


Semua benda yang berada diatas meja berhamburan kelantai, kertas-kertas putih berterbangan jatuh melambai-lambai, mentertawakan hati yang tak siap menerima kenyataan bahwa, semua yang ia harapkan akan hancur, nyatanya justru menjadi lebih baik, memori yang terkubur terkuak kembali. Rasa benci yang mendalam, terus tumbuh subur, terpupuk dengan adanya wajah yang melekat bak pinang dibelah dua.


Hari ini, wajah memelas itu memintanya agar semua rahasia pahit itu terkubur, dan menerima dia sebagai buah hatinya. Semua yang gadis itu lakukan karena sangat mencintai dirinya sebagai Ibunya.


Yah... gadis itu tumbuh dengan baik walau tanpa kasih sayang, gadis itu tak menyakiti dirinya sendiri. Justru kini Dialah yang menghancurkan hidupnya, membuat dosa besar karena dendam yang menguasai jiwanya. Akankah bangkai yang Ia tutupi tak akan tercium oleh orang lain? Tak ada yang bisa menjamin itu.


Suara sepatu yang beradu dengan lantai semakin mendekat, Ia yakin, sekretarisnya telah menghubungi orang ini.


Ceklek


Laki-laki itu berkacak pinggang, sangat marah pada wanita yang ada dihadapannya. Wajahnya yang terlihat sangat berantakan, ruangannya yang lebih dari kapal pecah.


Ia mendekat mencoba untuk menghibur, menekan ego yang ingin Ia luapkan, namun melihat wanita lemah ini, akhirnya ia urungkan.


Dibawanya wajah yang menempel pada meja, untuk dibawa kedadanya "Tenanglah, jangan menyakiti dirimu sendiri".


"Aku gagal..." Dipuku-pukulnya dada laki-laki itu. "Aku gagal membuatnya hidup menderita, mereka, yang membuatku seperti ini".


"Bukanya sudah kubilang, dari awal seharusnya kamu membuangnya".


Mama Vivi mendongakkan kepalanya "Kamu lupa, kita belum punya apa-apa waktu itu"


"Tapi kamu bisa menggunakan cara lain kan?"


"Kamu pikir mudah"


"Terserahlah, lebih baik kita keluar dulu, kita bicarakan diluar, aku rasa kita tidak aman"


...******...


Didalam mobil Mawar terus merenung. Apa yang harus ia pilih, padahal ia menerima pertunangan ini, karena ibu Vivi. Ibu yang ia harap akan benar-benar menjadi ibunya.


"Non kita sekarang kemana? apa kita akan pulang kerumah".

__ADS_1


Mawar tak bergeming, ia terus memandang kearah luar.


Hah.. David menghela nafasnya, akan kemana dia mengarahkan mobilnya.


"Non kalau kita terus berjalan tanpa arah seperti ini, mungkin kita bisa sampai ke surga atau neraka". Sebenarnya itu kalimat penghibur dari David, tapi dia tidak tahu cara melakukan yang benar. Mendengar itu Mawar sontak melotot kearah David, tak disangka, mulut David tak ubahnya dengan Rasya, pengawalnya


"Jalan aja terus kalau bisa, kita akan melakukan perjalanan seperti nabi Idris kan, bisa ke neraka, habis itu ke surga".


Hahaha


David tertawa, membuat Mawar semakin heran.


"CK.. dasar aneh".


"Ternyata non Mawar bisa ngelawak juga".


Mawar tak menanggapi lagi, Dia harus hati-hati dengan pengawal yang diberi ibunya, setiap gerak-geriknya pasti akan dipantau.


"Apa jangan-jangan Ibu udah tau semua tentan kejadian pagi tadi, karena David langsung melaporkannya pada ibu?". Mawar menerka sendiri.


Padahal Mawar ingin sekali bertemu Chio, melihat laboratorium parfum rose's mom yang suka diceritakan temannya itu, tempat produksinya, hingga seluruh rinciannya, sampai pengemasan. Mam Ia harus menahan itu semua, tak ingin semua yang sudah mereka bangun jadi berantakan karena dia yang tak bersabar.


"Wa'alaikumsalam mba, mba Mawar lagi sibuk nggak mba".


"Nggak, ada apa?".


"Mba tolong Putri"


Mawar terkesiap, dia tiba-tiba khawatir "Oke aku kesana". Langsung dimatikannya panggilan itu.


"Pak David kita kerumah Putri". Perintahnya.


"Siap non" Huh... akhirnya, gumam David. Dia tak lagi harus mengendara tanpa tujuan.


Tak butuh lama, Mawar sampai dirumah sederhana Putri


"Putri kamu nggak papa?". Dilihatnya, Putri yang yang sedang duduk disofa panjang diruang depan.


Putri malah nyengir, seraya menggelengkan kepala "Nggak papa mba".

__ADS_1


"Tadi kenapa?". Lagi Putri malah tersipu malu


"Putri bilangnya gimana ya?"


"Ada apa sih?" Mawar malah semakin penasaran. Ia yang tadi masih berdiri dipintu, kini duduk disebelah Putri, wanita itu terlihat begitu gugupnya.


"Nanti malam mas Rasya ajak Putri makan malam".


Degh


Bagai dihantam batu besar, dada Mawar begitu sakit mendengarnya, sampai perutnya terasa mual.


"Mba...". Putri menggoyangkan lengan Mawar yang malah melamun.


"Eh... iya"


"Mba nggak suka?" ujarnya, tanganya masih berada di lengan Mawar.


Mawar tersenyum, menutupi hatinya yang sakit. Walau Ia belum mencintai Rasya, tapi tak dapat dipungkiri, ia merasakan sakit itu. Bagaimana pun Rasya adalah tunangannya, yang dalam hitungan hari, akan menjadi suaminya. Mawar menggeleng samar.


Putri terlihat kecewa melihat Mawar yang menggelengkan kepala.


"Mas Rasya udah punya pacar?" tanyanya menyakinkan. Lagi Mawar hanya menggeleng.


Putri melepaskan tangannya dari lengan Mawar, ia menunduk. "Makanya Putri minta tolong sama mba, Putri sebenarnya juga ragu, mba Mawar kelihatannya deket sama mas Rasya, dari itu Putri minta pendapat".


"Put... maaf sebenarnya Rasya...".


Mawar menghela nafasnya.


.


.


.


.


*Bersambung

__ADS_1


Maaf ya cuma sedikit.. sebenarnya akutuh pengen banget double tiap hari, ,. ternyata susah. Ternyata nulis itu nggak semuda yang kita kira.. dan aku tetap akan terus memperbaiki tulisan ku. Semoga kalian nggak bosen ya sama Mawar.. maafkan aku yang cuma othor remahan emping jengkol ini🤭🤭*


__ADS_2