Mawar Tak Berduri

Mawar Tak Berduri
Chapter 11


__ADS_3

Ting .


Suara notifikasi pada ponsel Rasya. Dilihatnya tagihan sebesar seratus lima puluh ribu, Putri menggunakan uang untuk sarapan di cafe miliknya. Rasya mengulas senyum, akhirnya Putri mau menggunakan kartu yang dia berikan. Jika wanita lain mungkin akan belanja barang branded yang mereka inginkan, tapi Putri tak sama sekali memanfaatkan uang yang telah ia berikan, "gadis yang langka." gumamnya.


Rasya menjadi tak sabar ingin segera pulang, ia ingin mengajak Putri makan malam, sayangnya pekerjaan yang menumpuk mengharuskan ia lembur.


Sebenarnya mamanya ingin Rasya mengambil cuti menjelang hari pernikahannya, namun ia tak menggubris, kalau bisa selesai akad dia akan kembali bekerja.


Ponselnya bergetar, nama mom love tertera pada layar pipih tersebut


"Iya ma.."


"Mama tunggu kamu di cafe, mama ingin ajak Mawar makan siang"


Hah... di cafe? bersama Mawar?, kalau Putri tahu Mawar bukan sepupunya, bisa kacau semua rencananya.


"Mana bisa ma... Rasya benar-benar sibuk, Rasya hari ini banyak pertemuan untuk acara baru televisi"


"Jangan banyak alasan, Abdi bisa menggantikan kamu, dia bisa diandalkan?"


Hemmm.. kalau sudah begini, mama tidak bisa dibantah lagi.


"Oke Rasya mau, tapi jangan dicafe Rasya ya ma.. dirumah makan langganan mama biasanya aja ya, biar Mawar tahu, tempat makan favorit mama". tawarnya, Rasya yakin, jika menyangkut Mawar mama pasti setuju.


"Apa kamu lagi menyembunyikan sesuatu dari mama?" tebak mama Rika.


"Menyembunyikan apa sih ma, nanti juga kalau Mawar sudah jadi istri Rasya, Rasya pasti sering bawa Mawar makan di cafe."


"Memangnya kenapa kalau sekarang?"


Duh.. mama kenapa jadi bawel sih..?


"Ya... nggak papa ma, jadi nggak nih makan siangnya?"


"Yasudah, mama akan telp Mawar."


Tut...Tut...


Mama memutuskan panggilan secara sepihak.


Rasya menghela nafasnya panjang, lalu menekan telepon diruanganya, menghubungi Abdi, meminta Abdi agar bisa menggantinya pada pertemuan selanjutnya.


Dari sebrang Abdi mengumpat, "Sya kenapa kamu nggak resign aja sih jadi pewaris Mahardika corp, biar pak Reyhan mengangkat aku jadi pewaris tunggalnya, aku yakin, perusahaan akan jauh lebih baik, punya pemimpin pintar dan bisa segalanya."


Rasya tergelak mendengar penuturan Abdi "Yaudah, kamu buat surat pengunduran diri sekarang".


Abdi melemah jika Rasya sudah mengeluarkan ancaman andalannya.


"Makanya nurut kalau atasan nyuruh"


"Kapan sih Sya seorang Abdi membantah, disuruh nyebokin cacing aja aku nurut". kesal Abdi


"Bagus, lain kali, jika ada pembagian bapak lagi, kamu harus milih bapak yang punya banyak warisan, jangan pilih bapak yang pintar ngajarin merayu cewek". Rasya terkekeh, mengingat ibu Abdi yang sudah tiga kali menikah, namun bukan mendapat suami yang bisa menghidupinya, tapi malah mendapat suami yang doyan selingkuh, keadaan inilah yang membawa Abdi menjadi seorang cassanova.


"Sialan, b***t" Abdi semakin kesal dibuatnya.


Mawar tiba direstoran yang telah diberitahukan oleh mama Rika, dari luar ia sudah melihat mama Rika dan Rasya duduk, disebuah meja didekat kaca yang menghadap kejalan, mama Rika melambaikan tangannya, menyapa Mawar untuk segera masuk, sedang Rasya membuang muka, seakan tak peduli akan kehadirannya.


Mawar menarik nafas dalam, rasa canggung melandanya, bagaimana ia menghadapi Rasya atas kejadian pagi tadi.

__ADS_1


"Assalamualaikum, tante, Rasya"


"Wa'alaikumsalam" hanya mama Rika yang menjawab, sedang Rasya sibuk dengan layar pintar miliknya.


"Sya.. calon istri datang bukannya disambut". tegur mama.


"Rasya mengecek kerjaan ma, mama kan tahu sendiri, kalau Rasya lagi sibuk sama program acara baru, semua harus sesuai dengan yang papa mau."


"Ini juga Rasya harus banyak meninggalkan pertemuan penting." lanjutnya ketus, tetap fokus pada ponselnya.


Mawar tak menanggapi, ia menarik kursi disebelah mama Rika, belum sempat ia duduk mama Rika melarangnya.


"No..no.. sayang kamu duduknya disebelah Rasya"


Mama menuntut tangan Mawar, dan menarikkan kursi disebelah Rasya untuknya.


"Terima kasih tante, Mawarkan bisa sendiri"


"Nggak papa sayang" dielusnya bahu Mawar


Lagi-lagi Mawar mengharu, perlakuan manis mama Rika membuatnya nyaman.


Rasya tetap cuek, enggan menatap Mawar. Sebal jika harus melihat bibir yang telah mencuri ciuman pertamanya, dan wangi parfum itu, kembali mengingatkanya kejadian pagi tadi.


Hingga makanan mereka habis, Mawar dan Rasya tetap saling diam, hanya mama Rika yang berceloteh, membahas tentang acara akad yang akan digelar dikediaman keluarga Mawar.


"Kamu nggak masalah kan sayang, jika kita hanya mengadakan akad terlebih dahulu?" diusapnya punggung tangan calon menantu kesayangannya.


"Iya.. tante, Mawar ikut yang yang terbaik saja."


"Kalian dari tadi Tante perhatikan, saling diam saja, padahalkan pagi tadi udah dapet semangat"


"Apa..? mama nggak ada maksud apa-apa, kenapa kamu jadi bersemu gitu si Sya? ya ampun anak mama ini comelnye" ujar mama menirukan gaya bahasa salah satu kartun anak-anak dari negeri Jiran, seraya mencubit gemas kedua pipi putranya.


Rasya membuang muka, walau mama tak menjawab maksudnya, itu sudah cukup menjelaskan bahwa mama melihat kejadian pagi tadi. Dihelanya nafas panjang, sungguh Rasya bertambah kesal.


"Kamu antar Mawar pulang ya, soalnya supir Mawar sudah mama suruh pulang"


"Hah..?"


Keduanya membelalakkan mata, tak percaya dengan tindakan mama yang selalu seenaknya.


"Duhh.. kompaknya..".Mama Rika semakin semangat menggoda keduanya.


"Sya..kamu antar Mawar sampai kerumanya, jangan tinggalkan Mawar sendiri atau naik taksi, nanti kamu mama sunat lagi"


"CK.. apaan sih ma." Dilihatnya Mawar yang menahan tawa, lucu mendengar ancaman mana Rika.


"Tante duluan ya sayang, kamu tenang aja, calon suami kamu sudah tante jinakkan".


Mawar mengangguk "Hati-hati Tante, terima kasih sudah mengajak Mawar makan siang"


Keduanya menautkan pipi mereka.


Sepeninggal mama Rika, Rasya dan Mawar kembali dilanda kecanggungan.


Satu menit...


Dua menit...

__ADS_1


"Sya.."


"Mawar..."


Ujar keduanya bersamaan.


Mereka kembali terdiam


"Aku banyak pekerjaan, aku pesankan taksi online" Rasya berdiri, membuka aplikasi untuk memesan taksi.


"Apa??"


"Kenapa? kamu pikir aku mau bersedia nganterin kamu?"


Mawar yang tadi duduk sontak berdiri, ia membuang muka, menarik nafas mangatur emosi agar tak lepas kendali, dadanya naik turun, tak habis pikir Rasya ingkar atas mamanya. Dilihatnya kunci mobil Rasya yang tergeletak diatas meja, dengan cepat Mawar menyambar kunci tersebut.


"Oke, kamu pesan aja taksi, aku pulang sendiri". Ditunjukkannya kunci yang sudah digenggamnya, ia berlalu meninggalkan Rasya.


"Dasar cewek egois" Rasya hendak mengejar Mawar yang lebih dulu meninggalkannya.


Auuu...


Mawar jatuh, ia terduduk dilantai


Mawar melihat dua kaki orang yang berdiri dihadapannya, ia seperti mengenali sepatu yang dikenakan salah satu dari mereka, didongakkanya kepala..


"Ibu..." lirih Mawar


Dua orang tersebut tak ada yang mau berinisiatif menolongnya.


Mawar menelan ludah, emosinya terhadap Rasya belum mereda, sekarang ia harus merasakan sakit yang teramat menyesakkan dadanya, ibu Vivi yang menabraknya, namun tak ingin menolongnya.


Mawar membersihkan tangan dengan menepukkan kedua tangannya, dengan perlahan ia berdiri.


"Ibu.."


Bukan menjawab ibu Vivi malah mengabaikanya "Permisi". ujarnya seperti tak mengenali Mawar, ia berlalu menabrak pundak Mawar.


Mawar terdiam... kakinya seakan lemas, ibu tak menyapaku? Matanya mulai berembun.. Ia yang selama ini tak peduli terhadap sikap ibunya, mendadak lemah.. pertahanannya mulai runtuh.


Rasya bingung melihat tindakan ibu Mawar, kenyataan apa ini?


Ia melangkahkan kakinya hendak menolong, ada sedikit rasa iba melihat Mawar seperti ini, namun ia kalah cepat. Mawar lebih dulu berlari meninggalkan kunci mobilnya dilantai.


Diambilnya kunci tersebut, dan mengejar Mawar, diambang pintu dia melihat Mawar tengah menangis dalam pelukan seorang laki-laki.


Rasa kasihan yang sempat ada menguap begitu saja, tergantikan dengan rasa kesal.


"Hmm.. kupikir dia wanita yang baik, ternyata.." Rasya tersenyum sinis. "Andai mama melihat ini ma.. apa mama masih akan memaksa Rasya untuk menikahinya, dia telah mengkhianati kepercayaan mama".


.


.


.


.


*Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like dan komenya ya, ❤️❤️*


__ADS_2