
"Mama kecewa sama kamu, kenapa Mawar pulang sendiri?."
"Udahlah Ma.. Rasya capek.. Mama tuh mikirin Mawar terus, yang anak Mama tuh Rasya apa Mawar sih?". Rasya melepaskan dasi yang seharian ini mencekik lehernya, membuka kancing kemejanya paling atas, lalu merebahkan kepalanya pada sandaran sofa.
Rasya menoleh pada papanya yang sedang membaca koran duduk disebelahnya.
"Papa enak, jam segini udah pulang."
Papa yang anteng dari tadi menjadi sasarannya, pengalihan agar mama tak membahas Mawar lagi.
"Terus kamu mau papa pulang malam terus, untuk apa papa punya anak, kalo tidak bisa diandalkan". Titah papa Reyhan, tanpa mengalihkan pandangannya pada koran yang dia baca.
"Ma.. mama tahu tentang parfum 'rose's mom'?, dikalangan para pebisnis, parfum ini sedang jadi perbincangan hangat.. mereka akan melakukan launching besok, nama dari parfum tersebut memakai nama mom, jarang sekali ada produk yang menggunakan nama mom, terlebih ini menyasar anak muda". Papa bangkit, menunjukkan produk yang ia bicarakan pada mama Rika.
Mama Rika mengamati gambar yang ada di iklan koran tersebut, sebuah gambar foto botol parfum yang didesign dengan sangat unik dan elegan, dicover botol dan kemasan menunjukkan gambar setangkai bunga mawar, terdapat keterangan komposisi bahan parfum itu, dan menunjukkan jika ada produk khusus untuk pelanggan yang membeli dengan jumlah yang ditargetkan.
Insting mama Rika mengarah pada seseorang, iya yakin jika parfum ini ada hubungannya dengan Mawar. "Kamu besok luangkan waktu buat nemenin mama Sya, mama ingin mencoba parfum baru, hadiah untuk Mawar".
Rasya mendengus, mama mulai lagi, Mawar yang selalu diperhatikan.
"Kamu nggak mau Sya?" tanya mama lagi, karena tak mendapat jawaban dari putranya.
"Rasya nolak juga mama bakal maksa". mama tersenyum mendapat jawaban Rasya, diacaknya rambut Rasya yang masih rapi walau sudah malam.
Langkah mama pasti memasuki mall tempat dimana pelauncingan parfum yang papa Reyfan katakan. Ia tak sendiri, melainkan mengajak serta Mawar, digandengnya tangan Mawar, melihat setiap stand-stand parfum tersebut dipajang.
"Kamu coba yang ini deh, dari wanginya seger.. kamu suka nggak?" mama menempelkan bibir botol tersebut pada hidung Mawar
"Ini enak tante, Mawar suka ... wangi mawarnya terasa, ini perpaduan mawar dan vanilla."
"Kamu pinter, tahu kandungan parfum cuma dari nyium baunya saja" pancing mama, mama yakin jika Mawarlah pemilik perusahaan parfum ini
Mawar tersenyum mendengar penuturan dari mama Rika "Biasa aja tante, ini kan cuma produk biasa yang banyak digunakan orang sekarang"
"Oh ya.. berarti tante ketinggalan jaman ya.. kita muter lagi yuk.. cari yang lebih wangi..".
__ADS_1
Rasya yang mengekor dibelakang merasa bosan karena diacuhkan, ia berjalan dijalur yang lain, mencari parfum yang sekiranya cocok untuk Putri. Dari jauh ia menangkap sosok pria yang kemarin ia lihat memeluk Mawar, dadanya tiba-tiba bergemuruh, senyum cibiran terbit pada bibir Rasya, "Hmm.. dua kekasih tak lama lagi akan bertemu, kita lihat Mawar apa kamu bisa menghindar dari mama". Dilihatnya jarak Mawar dan laki-laki itu yang tidak terlalu jauh. "Mereka cocok jika jadi pasangan, angka sepuluh, nilai yang sempurna".
Rasya membuka satu botol parfum berwarna pink, dari designnya menunjukkan bahwa parfum ini memang berkelas, dari harga parfum yang ada ditangannya tertera jika ini yang paling mahal diantara yang lain, dan hanya diproduksi khusus jika ada yang memesan, dihirupnya wangi dari parfum itu "Wangi ini... aku seperti pernah mencium wangi ini..." Ia berbalik, mencari keberadaan Mawar.
Rasya naik pitam, Mawar benar-benar membuatnya meradang, ia berdiri membelakangi mamanya, dan tersenyum begitu manis pada laki-laki lain, seraya memberikan jempol. Ia yang tersulut emosi berjalan mendekat kearah Mawar, diseretnya Mawar meninggalkan keramaian, tujuannya sekarang adalah membawa Mawar keruangan yang mungkin tak ada pengunjungnya.
"Sya ada apa ini?" Mawar begitu panik, ia tergopoh mengimbangi langkah Rasya, "Lepas Sya.. kita mau kemana?" Dilihatnya muka Rasya yang penuh amarah.
"Diam wanita murahan..." bentaknya.
Mawar tercekat, hatinya perih mendapat makian dari Rasya.
Mereka memasuki ruang khusus ibu menyusui, beruntung tak ada ibu-ibu yang sedang memberikan Asi. Rasya membanting tubuh Mawar ditembok, lalu ia kunci tubuh mungil calon istrinya itu.
"Auuu.. sakit Sy..."
"Hummmp"
Mawar membelalakkan matanya, Rasya ******* bibirnya dengan kasar, dipukulnya dada Rasya untuk melepaskan diri, namun Rasya yang tersulut emosi tak mengindahkan itu.
Plaakk
Tamparan kuat ia daratkan dipipi Rasya, saat Rasya melepaskan ciumannya.
"Dasar kurang ajar, brengsek kamu Sya...".
Mawar terduduk, meremas dadanya, begitu sakit diperlukan Rasya bak perempuan murahan, Mawar menenggelamkan wajahnya pada kedua lututnya. Ia menangis, tak mengerti apa kesalahannya, namun Rasya bak melampiaskan emosi padanya.
Rasya semakin emosi, tamparan Mawar begitu panas dipipinya, ia memegangi pipinya yang memerah.
"Itu hukuman untuk perempuan nggak tahu diri, bisa-bisanya kamu tersenyum dengan cowok lain, dibelakang mama".
Ditinggalkannya Mawar yang masih menangis, tak memberi kesempatan untuk Mawar menjelaskan siapa sebenarnya laki-laki itu.
Mawar tersadar, jika yang dimaksud Rasya adalah Chio, sahabatnya.
__ADS_1
Mawar melantai, merasakan perih pada bibirnya yang digigit Rasya. Ia menetralkan emosinya sebelum keluar dari ruangan itu, tak ingin mama Rika curiga padanya.
Rasya kembali ketempat pelauncingan parfum, menghampiri mama yang masih memilih-milih parfum. "Mama belum selesai?".
Mama Rika menoleh, melihat kedatangan Rasya yang hanya sendiri, mama celingukan "Mana Mawar? tadi mama lihat kamu jalan sama dia"
"Lagi ke toilet," dustanya.
"Kalian ke toilet berdua?" mama mengernyit.
"Ya nggak ma, Rasya tadi cuma nganterin Mawar".
"Sya coba deh kamu cium parfum ini, mama kayak nggak asing ya, sama wanginya.. " mama menyodorkan parfum yang dipegangnya ke hidung Rasya.
"Nggak tahu ma". Rasya mengendikkan bahunya, padahal diapun sama, merasa wangi yang sama dengan yang Mawar pakai.
"Padahal kan parfum ini baru dilaunching, mana mungkin Mawar bisa punya lebih dulu".
Rasya masih menatap kearah dimana mungkin Mawar muncul, rasa bersalah mulai menyergapi hatinya, jika dalam hitungan lima menit Mawar tak muncul juga, Rasya akan menyusul, serta meminta maaf, atas dia yang tak bisa mengontrol emosinya. Rasya memijat keningnya, memikirkan kata yang akan ia ucapkan.
Dilihatnya arloji yang melingkar ditangannya, sudah sembilan menit berlalu, Rasya berniat untuk kembali menghampiri Mawar, namun apa yang dilihatnya, Mawar keluar bersama laki-laki itu lagi.
Rasya mematung, melihat Mawar dirangkul oleh Chio "****... bisa-bisanya aku khawatir, padahal dia sudah punya pahlawan sendiri, didekat mama dia berani bersama laki-laki lain".
.
.
.
.
*Bersambung...
Ayo donk tinggalin jejak jempolnya*...
__ADS_1