Mawar Tak Berduri

Mawar Tak Berduri
Bonchap 1


__ADS_3

Sebuah truk Mitsubishi Ragasa 135ps berhenti didepan kediaman Mawar, truk tersebut berisikan 12 ekor sapi, sapi dewasa yang berjumlah 6 ekor, sapi sedang 3 ekor, anakan sapi 2ekor, serta sapi yang baru lahir berjumlah satu ekor.


Mawar yang baru saja menidurkan baby Marsha begitu terkesiap, akan truk tersebut yang berhenti didepan rumahnya,. kini dia telah kembali kerumah mereka sendiri, setelah kamar baby Marsha selesai direnovasi.


Kamar berwarna pink dan putih itu, berdekatan dengan kamar Mawar dan Rasya, yang pintunya terhubung langsung dengan kamar mereka, untuk mempermudah Mawar mengurus baby Marsha.


Awalnya Mawar keberatan dengan ide Rasya yang memisahkan tidur mereka, ini bukan diluar negeri ujar Mawar saat itu, namun Rasya ingin, Marsha mandiri sejak dini, dan nanti akan terbiasa, sehingga tidak kesulitan jika nanti sudah besar harus tidur terpisah, lagi pula pintu aksesnya hanya satu dari kamar mereka, jadi tidak akan ada bahaya, dan tempat tidur itu aman, karena ranjangnya luas, dan diberi sekat disekelilingnya, dan jika Marsha menangis pun, tetap akan terdengar. Kecuali Marsha sakit, baru tidur bersama mereka.


Akhirnya Mawar mengalah, dan usia Marsha pun, sudah memasuki usia tiga bulan.


"Teh, kenapa ada truk berhenti didepan rumah" tanya Mawar pada teh Sumi,


"Teu nyaho ya Non" Teh Sumi yang baru saja selesai mencuci piring, mengikuti langkah Mawar kedepan, yang ingin melihat ada apa sebenarnya.


Didepan sudah ada mang Dadang dan pak Aryo yang sedang berbicara dengan supir truk tersebut.


"Ada apa mang Dadang?" tanya Mawar mang Dadang yang berlari menghampirinya.


"Maaf Non, kata supir truk, sapi ini mau diantar kesini, hadiah dari Bu Vivi buat Non Marsha, ini surat jalanya Non" mang Dadang memberikan kertas pada Mawar.


"Apa!?" belum selesai Mawar sadar dari keterkejutannya, ponsel Mawar berdering, nama Seno muncul disana


"Halo pak"


"Halo Mawar, apa sapinya sudah datang?"


"Sapi? apa maksud Pak Seno truk ini, yang bawa sapi?"


"Oh sudah sampai Mawar?"


"Iya, ini untuk apa Pak?" tanya Mawar yang tak mengerti maksudnya


"Itu hadiah dari istri saya Vivi, dia memang sudah niatan, untuk memberi hadiah sapi untuk anak kamu, sebagai ucapan maaf dia pada kamu, Vivi tidak bisa hadir secara langsung, saat ini kondisi Vivi sedang tidak bagus, makanya hanya saya wakilkan pada teman saya, tolong diterima ya nak Mawar, sebagai ucapan terima kasih saya juga, berkat nak Mawar, Marvin mau menerima saya dan juga memaafkan Vivi"


"Pak, sungguh saya ikhlas melakukan semuanya, dan saya sudah memaafkan Ibu Vivi sejak dulu, tapi ini berlebihan, apa ini untuk Marvin juga?"


"Semua untuk baby Marsha, Marvin sudah ada bagiannya, itu semua untuk baby Marsha"


"Tapi Pak_" belum Mawar menyelesaikan ucapannya, Seno memotong omongan Mawar


"Tolong ya nak Mawar ... rawat sapi itu dengan baik, semua yang kami berikan, tidak akan sebanding dengan perbuatan kami dulu, maka, terimalah nak"


Mawar meneteskan air matanya "Terima kasih Pak_" ucap Mawar bergetar, hatinya terasa sesak karena terharu, panggilan itu diakhiri oleh Seno secara sepihak, karena dia tidak ingin Mawar menolaknya.


Mawar menghapus air matanya, ia harus memberi tahu Rasya,


"Teh, tolong siapkan makanan dan minum untuk mereka, aku akan menghubungi Rasya dulu" perintah Mawar pada teh Sumi, yang diangguki oleh asisten rumah tangganya itu


"Pak Aryo dan mang Dadang, tetap temani mereka ya" ucap Mawar lagi, sebelum ia kekamarnya.

__ADS_1


Dikantornya, Rasya baru saja selesai meeting bersama para direksi dan produser atas kemajuan tayangan televisi mereka, dan mereka banyak mendapat tawaran sponsor yang ingin bekerja sama dengan perusahaannya juga.


Rasya juga telah selesai meeting bersama Abdi, atas banyaknya keuntungan cafe beberapa bulan terakhir.


"Terima kasih Abdi, semua berkat bantuan kamu, kasih hadiah untuk para pegawai, biar mereka tambah semangat" Rasya mendudukkan pantatnya pada kursi putarnya.


"Lah, bonus buat saya mana?" Abdi juga duduk pada kursi didepan Rasya


Rasya meletakkan amplop coklat diatas mejanya.


"Buka itu, maaf aku nggak bisa ngasih hadiah untuk kamu, karena akibat hadiah dari kamu, bikin aku repot meletakkannya dimana, belum lagi ongkos jalan buat mengangkut dari rumah Mama kerumah ku" Rasya benar-benar kerepotan atas hadiah Abdi, tapi dia juga tidak bisa tidak menerimanya, dia tetap menghargai pemberian absurt dari temannya itu.


Abdi tertawa senang, membayangkan rumah Rasya yang disulap seperti pasar malam, apalagi seringnya anak tetangga yang datang, untuk numpang bermain


"Bos perhitungan, kan dapet pahala, bisa bikin anak tetangga senang" Abdi langsung mengambil amplop yang diberi Rasya, dan langsung membukanya


"Sya, ini serius!" saking terkejutnya atas isi amplop tersebut, Abdi sampai menegakkan badannya, menatap bergantian, Rasya dan amplop tersebut.


"Kerja yang rajin lagi, kalo nggak, itu bakal aku ambil lagi" ancam Rasya


"Aku kerja dari pagi, sampe malam, kadang sampai pagi lagi, sampai lupa arah jalan apartemen sendiri, masih disuruh rajin lagi, labih baik aku resign, dari pada berakhir dirumah sakit, dan jadi jomblo seumur hidup"


"Itu bukan urusan aku, yang penting perusahaan aku banyak untung, dan kamu masih bisa tetap makan, iya kan" Rasya menyandarkan kepalanya pada kepala kursi dan melipat tangannya di dada.


"Nasib-nasib punya atasan tega gini, sabar ya lele, kita jajan aja" ujar Abdi sambil melihat kebawah


"Iya tau" Abdi mengusap kepalanya yang bekas toyoran Rasya


Obrolan mereka terhenti saat ponsel Rasya berbunyi, dan Abdi cepat undur diri, dia sangat bahagia atas amplop yang diberikan Rasya padanya


"Ya sayang"


"Hubby cepat pulang, Ibu Vivi mengirim banyak sapi kerumah, dan aku nggak tahu harus diletakkan dimana"


"Apa?" Rasya menggaruk-garuk pangkal hidungnya, baru saja beres mengatur letak hadiah Abdi, sekarang dia harus pusing atas hadiah dari Vivi, mengapa orang-orang tidak memberi cek saja, agar mereka tidak pusing, sungguh Rasya ingin tertawa atau sedih atas hadiah ini. "Yasudah sayang, aku akan pulang sekarang"


Rasya memasukkan ponsel pada sakunya, lalu bergegas keluar


"Sinta ada siapa didalam?" tanya Rasya pada Sinta asisten Abdi


"Ibunya pak Abdi Pak" jawab Sinta yang langsung berdiri


"Kamu hapalin mukanya, dan beri tahu pada resepsionis dibawah, jika wanita itu datang lagi, jangan kasih izin" Rasya tahu kedatangan Ibu Abdi hanya meminta uang


"Dan beri tahu Abdi saya pulang lebih dulu, kamu rapikan semua berkas diatas meja saya" pesan Rasya pada Sinta sebelum dia keluar dan menghilang kearmada besi kotak yang akan menghantarkannya kebawah.


Rasya sangat membenci orang tua Abdi, sebab mereka tak pernah bertanggung jawab atas hidup Abdi, padahal ibunya itu sudah menikah lagi untuk yang ketiga kalinya, dan Abdi yang tak pernah tahu, ibunya menikah lagi dengan siapa, sebab dia tak pernah diberi tahu, sehingga beberapa waktu lalu, Abdi sempat menyukai wanita yang akan Abdi pilih sebagai pendampingnya, ternyata saat menemui keluarga wanita itu, ibu wanita tiri wanita itu adalah ibu kandungnya, membuat Abdi harus kembali terpuruk, dan kecewa akan takdir hidupnya.


...****...

__ADS_1


"Amam ... Apap pulang...." teriak Rasya, dia langsung masuk kedalam kamarnya, namun tak ada siapa-siapa disana.


Ia langsung mencari keberadaan istrinya dikamar anaknya, Rasya mengulas senyum, saat melihat Mawar tertidur disebelah anaknya, wajah itu terlihat kelelahan, sedang Marsha tersenyum melihat kehadirannya,


Anak pintarnya itu selalu membuat Rasya takjub, semakin hari perkembangan Marsha semakin membuat Rasya terenyuh,


"Sayang inikah yang membuat mu dulu enggan melaporkan Vivi, karena kamu tahu, seperti apa menjadi ibu? memang sangat melelahkan dan butuh kesabaran ekstra, terkadang kita saja tidak sabar mengurus anak kandung, apalagi mengurus anak dari selingkuhan suaminya"


Rasya mengecup kening Mawar dengan lembut, tak ingin membangunkan Mawar, lalu ia menggendong Marsha, membawanya keluar.


Rasya berbicara pada mang Dadang, agar sapi itu dihantarkan ke kampung mang Dadang, untuk saudaranya pelihara disana. Sebab keluarga Rasya juga memiliki villa disana, dan mereka pasti akan sering berkunjung kesana, tak mungkin ia memelihara sapi diperumahanya, lagi pula Rasya belum memiliki lahan yang pas dan sesuai, dan mang Dadang menyanggupi itu.


Lalu Rasya menghubungi Seno, mengucapkan terima kasih atas hadiah itu, dan menanyakan keberadaan Seno dan Vivi sekarang, ternyata mereka sedang berada dirumah sakit, sebab kondisi Vivi yang ngedrop karena kecapean dan salah makan.


"Hubby kamu sudah pulang?" Mawar muncul dari pintu, "Kamu membuat aku jantungan saja, aku pikir Marsha dibawa siapa?" pukul Mawar pundak suaminya


"Maaf sayang, aku tidak tega membangunkan kamu" Rasya kembali mencium kening Mawar didepan para pekerjanya dan tiga orang yang mengantar sapi tersebut.


"Ayo kita siap-siap sayang, kita jenguk Vivi, dia sedang dirawat dirumah sakit sekarang"


"Ibu kenapa hubby?"


"Dia ngedrop, mungkin dengan kedatangan kita, dia kembali semangat" mendengar itu membuat Mawar berkaca-kaca, Rasya telah bisa menerima Vivi, "Terima kasih hubby, kamu sudah memaafkan Ibu"


"Itu semua karena kamu, bukankah katamu Tuhan mampu membolak-balikkan hati manusia"


Mawar mengangguk, "Mama sebentar lagi kesini, untuk menjaga Marsha, kita tunggu Mama datang"


Sesampainya mereka dirumah sakit, mereka disambut Marvin dan Seno


"Bagaimana keadaan Ibu Vin?" tanya Mawar panik, melihat raut wajah sedih Marvin


"Mama sudah mengalami banyak komplikasi Kak, doakan Mama supaya Mama cepat sembuh"


"Itu pasti, kamu jangan khawatir" Mawar mengusap punggung Marvin, menenangkan adiknya


"Dokter bilang, kaki Vivi akan diamputasi, sebab luka dikakinya sudah menyebar" tambah Seno "Selama ini, Vivi rajin membersihkan kandang sapi sendiri, makanya kakinya banyak bakteri, sehingga menimbulkan luka, kaki Vivi akan diamputasi sampai mata kaki, akibat penyakit gula yang diderita Vivi sudah parah, maaf aku terlambat mengobatinya"


Seno tertunduk, sebab Vivi yang sangat keras kepala jika disuruh minum obat.


Mawar menutup mulutnya, ia kembali menitikkan air matanya, sedih melihat penderitaan Vivi.


Rasya membawa Mawar duduk dibangku panjang disana.


"Kapan operasi itu dilakukan Vin?"


"Dua hari lagi Kak"


Mawar menghela nafasnya, ia tak bisa berbuat banyak, namun dia berjanji akan memberikan pengobatan terbaik untuk Vivi, dan berjanji akan merawat wanita itu, jika Vivi sembuh nanti.

__ADS_1


__ADS_2