Mawar Tak Berduri

Mawar Tak Berduri
Chapter 23


__ADS_3

Putri terus memperhatikan Rasya dari jauh, dan sudah berganti seragam cafe tempatnya bekerja. Rasya sama sekali tak menyadari kedatangannya, tak ingin mengganggu, Putri melanjutkan pekerjaanya. Mungkin memang Rasya sedang banyak masalah. Mengingat semalam dia datang terlambat, padahal dia sendiri yang membuat janji. Malah digantikan Abdi, yang Putri tahu, Abdi adalah pengurus cafe ini. Untung mereka sudah saling mengenal, jadi tak ada kecanggungan diantara mereka.


Ada sedikit rasa kecewa di hatinya, yang mana dia semalam sudah berdandan secantik mungkin, mempersiapkan segala sesuatunya, nyatanya tak sesuai dengan yang diharapkan. "Sudahlah Putri, apa yang kamu harapkan, kenapa sih hati perempuan itu sensitif sekali, diajak makan malam, dikira ngedate, dikasih perhatian, dikira suka, diajak_"


"Mba Putri kok ngomong sendiri?". Suara Ayu mengagetkan Putri yang sedang membersihkan meja. Ayu adalah pegawai baru di cafe Rasya.


"Siapa bilang aku ngomong sendiri, aku lagi ngomong sama semut, kenapa sensitif sekali?, nggak bisa nyium yang manis sedikit, langsung dikerubuti".


"Sama kayak cowok ya mba, nggak bisa liat cewek manis sedikit langsung..."


"Kerja Yu, jangan bergosip". Disumpalnya mulut Ayu menggunakan serbet bekasnya membersihkan meja.


"Iyyuuhhh mba, jorok banget sih". Ayu terus menggosok mulutnya yang terkena serbet.


Tak menghiraukan celotehan Atau, Putri terus memikirkan Rasya."Kamu lagi ada masalah apa si mas? sampai nggak denger suara aku yang ada disini". Putri berjalan lemas, sesekali ia melihat Rasya yang masih duduk di meja yang tak jauh dari pantry.


"Ya ma...". Rasya mengangkat telepon dari mamanya.


"Kamu pulang sayang, mama minta tolong"


"Apa ma?"


"Antarkan kebaya kerumah Mawar, tadi mama lupa, kebawa sama mama, mama buru-buru, harus temani papa ketemu klien, mama taruh dikamar kamu ya".

__ADS_1


Tut tut tut


Belum juga menjawab, mama Rika sudah memutuskan panggilannya. Rasya semakin kesal saja, mamanya kebiasaan, memutuskan kemauannya sendiri.


Rasya bingung apa dia harus kerumah Mawar atau tidak, dia yang baru saja bertemu dengan papa Mawar, dan terlibat sedikit pertengkaran.


Rasanya sedikit canggung jika harus bertemu kembali.


Akhirnya Rasya meninggalkan cafe tanpa mengetahui Putri yang sudah datang. Gadis itu kembali menghela nafasnya, "Kamu harus mengerti Put, mungkin sekarang mas Rasya memang sedang banyak masalah".


Setelah kembali kerumahnya, dan mengambil kebaya milik Mawar, Rasya kini sudah berada dirumah Mawar, rumah besar itu nampak sepi. Rasya ragu apa harus mengantarnya sendiri, atau ia titipkan saja pada security yang berjaga. Setelah menimang-nimang, Ia memutuskan untuk mengantarnya sendiri. Rasya turun dari mobilnya, dan menyapa security tadi dengan ramah.


Rasya berjalan pelan, dengan kebaya yang dia bawa, entahlah apa dia akan bertemu dengan calon mertuanya lagi atau tidak. Dilihatnya pintu rumah itu sedikit terbuka, Rasya hendak mengetuknya namun ia urungkan, saat terdengar suara gaduh dari dalam.


...----------------...


"Kamu sudah melanggar janjimu Pa...". Suara Ibu Vivi terdengar begitu marah.


"Apa yang aku langgar?, KATAKAN janji mana yang sudah aku LANGGAR". Suara Papa Marcel terdengar keras. "Dua puluh lima tahun aku mengikuti semua yang kamu mau, sebagai penebus kesalahan ku".


"Semua tidak akan cukup, Mawar harus menanggung semuanya, kamu pikir semudah itu aku memaafkan kalian"


"Dia sudah menanggungnya, dia tidak pernah membantah, dan menuruti semua yang kamu mau bukan?, ini semua bukan salahnya, apa kamu tidak merasa bersalah dengan apa yang terjadi PADAKU?, kamu turut andil dengan apa yang terjadi dirumah tangga kita, jika saja kamu tidak egois, mementingkan karirmu, aku tidak akan melakukan kesalahan itu".

__ADS_1


"Kamu menyalahkan aku Pa? padahal aku yang menjadi korban disini. Kamu berselingkuh, kamu menghianati pernikahan kita, kalian tega melakukan hal menjijikkan itu, ketika aku sedang tidak di rumah. Dan aku harus melihat anak haram kalian tinggal dan besar bersamaku. Kamu mau tahu?, mengapa aku menyetujui Rasya menikahi anak haram itu? Karena Rasya tidak menyukainya, dia sudah memiliki kekasih, dan aku yakin, setelah mereka menikah, Mawar akan lebih menderita bukan dari tanganku, tapi dari tangan suaminya sendiri".


"CUKUP! kamu sudah melewati batasmu Vivian, kamu pikir aku tidak mengetahui kelakuanmu diluar sana". Papa Marcel melempar amplop putih itu keatas meja. "Katakan padaku, siapa ayah Marvin?". Papa Marcel masih begitu tenang.


Mata ibu Vivi terbelalak, ia sungguh tak menduga suaminya akan tahu secepat ini. Ia tak lagi dapat berkata apa-apa. Tubuhnya gemetar. Kakinya seakan tak dapat lagi menahan beban tubuhnya. Darahpun rasanya berhenti mengalir.


"Pa...". Suaranya bergetar.


"Mawar bukan anak haram, kami sudah menikah". Ucap Papa Marvin lirih. Ia kemudian berlalu, meninggalkan ibu Vivi yang terduduk memegang amplop bertuliskan nama sebuah rumah sakit dengan air mata yang tak henti mengalir. Hatinya semakin remuk, mengetahui kenyataan suaminya yang sudah menikah. Ia seperti orang bodoh, dipermainkan oleh suaminya sendiri. Luka yang dulu sudah mengering, kini seakan dipaksa menganga kembali, dan disiram dengan air garam.


Seketika suasana menjadi hening, rumah besar itu seperti tak ada kehidupan. Ibu Vivi yang masih meratapi nasibnya, dibohongi, disakiti, bahkan dia dipaksa harus mengurus anak dari madunya. Hidup seakan tak adil untuknya, bahkan dia belum memindahkan segala aset atas nama Marvin, semuanya sudah terkuak.


Harapannya dulu, Mawar hidup menjadi anak nakal, menjadi anak psiko, masa depannya hancur, karena tak mendapat kasih sayang sama sekali darinya, nyatanya justru sebaliknya. Ia semakin frustasi, Marvin yang tidak mau diatur, bagaimana nasib Marvin kedepannya.


Mawar menangis, baru ini dia mendengar pertengkaran keduanya, Papanya yang terlihat begitu menyayangi Ibu Vivi ternyata menorehkan luka yang begitu mendalam pada wanita yang telah mendampinginya lebih dari dua puluh lima tahun. Mereka sama-sama menderita, sama-sama terluka.


Mawar berusaha biasa saja, berpura-pura tidak mengetahui pertengkaran keduanya, karena Mawar sendiri sangat menyayangi ibu dan papanya. Semua yang ibu Vivi lakukan padanya, itu semua karena ibu Vivi terluka.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2