
"Sya, kemarin Putri mengundurkan diri"
Saat ini mereka sedang duduk santai dibalkon sambil minum kopi, Rasya yang kini sering kurang tidur, acap kali meminta Abdi membuatkan kopi untuknya.
Rasya tersedak mendengar laporan dari Abdi, bahwa Putri keluar dari cafenya. Iya, dia melupakan Putri. Semenjak kejadian Mawar kabur dari pernikahan mereka, Rasya tak pernah tahu, kabar gadis itu, gadis yang telah diberikannya harapan palsu.
"Kenapa?"
Abdi mengendikkan bahunya, tanda tak tahu. "Semoga aja dia nggak ada niatan bunuh diri, karena telah di ghosting."
"Setan"
"Ya siapa tahu aja kan, apalagi cowoknya sama sekali nggak peduli lagi sama dia."
Rasya berdiri, mengambil cangkir berisi kopi milik Abdi, dan meletakkannya di wastafel.
"Setan, woi Sya itu belum diminum, lagian jadi cowok gatel sih, pusing sendiri kan?" Rasya tak mempedulikan lagi teriakan Abdi, dia keluar begitu saja, meninggalkan Abdi yang sangat kesal padanya.
Lama Rasya berdiri didepan pintu unit milik Mawar, dia ragu, akan minta maaf lagi sekarang atau tidak. Dia sadar, bahwa dia salah, kemarin sempat marah pada Mawar. Tapi dia juga kesal, Mawar yang pergi tanpa izin padanya terlebih dahulu, soal ucapan Mawar, Rasya pikir hanya asal ucap.
Diurungkannya niat itu, dia akan membeli bunga dahulu sebagai ungkapan rasa bersalahnya. Rasya mengarahkan mobilnya menuju kediaman Putri, semoga saja gadis itu masih ada, harapnya.
Rasya memakirkan mobilnya tepat didepan rumah Putri, bersamaan dengan Putri yang sudah siap akan pergi. Gadis itu sudah terlihat rapi, memakai dress dibawah lutut denga tas yang disampirkan dibahu kirinya.
"Mas Rasya" Lirihnya.
Putri bingung harus apa dia bersikap, kecewa, kesal, marah bercampur jadi satu. Tapi disisi lain, Rasya belum pernah menyatakan suka padanya.
"Hai" Sapa Rasya, dia memberikan senyum terbaiknya.
Putri tersadar, jika dia selama ini salah menilai semua kebaikan dan perhatian Rasya, bukan karena suka, tapi memang Rasya mungkin memperlakukan orang lain sama seperti dirinya. Rasya memang memiliki pesonanya tersendiri.
"Kamu mau kemana?"
"Mau kerumah ayah bunda"
"Bisa bicara sebentar" Pintanya, Putri mengangguk.
"Aku nggak lama, kita disini aja" Terangnya, entah dia sekarang harus menjaga perasaan Mawar, walau wanita yang sekarang membuatnya tak bisa tidur tak melihatnya.
"Nggak papa mas, Putri ngerti" Dia menunduk, ada rasa sedih, bercampur kecewa menyerang hatinya.
"Aku minta maaf." Aku Rasya
Putri mendongak, menatap Rasya yang berdiri didepannya.
__ADS_1
"Untuk?"
"Semuanya, tentang aku dan Mawar"
"Putri harus apa mas?" Suara Putri terdengar serak, "Mba Mawar selama ini begitu baik sama Putri, Putri merasa menjadi wanita paling jahat, seperti wanita tak tahu diri, Putri mengungkapkan semuanya pada mba Mawar, mba Mawar mendengarkan semua keluhan dan cerita Putri, perasaan Putri sama mas Rasya, mba Mawar mendengarkan semua, tanpa menyela, tanpa memberi tahu yang sebenarnya," Air matanya tak bisa ditahan lagi, Putri begitu merasa bersalahnya pada Mawar.
"Putri nggak bisa bayangin perasaan mba Mawar, saat mas mengatakan mba Mawar sebagai sepupu mas, menanyakan semua tentang mas_" Kalimatnya terpotong
Hiks
Hiks
Putri tak bisa menahan kesedihannya, dia memukul-mukul dada Rasya, benci terhadap laki-laki tampan namun menyebalkan ini, tetap saja dihati Putri Rasya pria sempurna baginya.
Dia harus mengungkapkan semua , agar tak ada lagi yang mengganjal dihatinya.
"Apalagi dimalam mas Rasya mengajak Putri makan malam, mba Mawar yang menyiapkan semua mas" Akunya, Putri tak bisa membayangkan, bagaimana perasaan Mawar saat itu.
Ada rasa nyeri yang masuk direlung hatinya, Rasya baru tahu, Mawar melakukan semuanya. Ya Tuhan Rasya, kamu menyakiti dua wanita baik sekaligus.
"Maafkan aku" Hanya itu yang dapat dia ucapkan.
"Bukan sama Putri mas, tapi sama mba Mawar"
"Iya, aku tahu."
"Kemarin mamanya mas datang, beliau minta Putri untuk kuliah mas, sebagai ucapan maaf, karena mas Rasya_" Putri bingung, bagaimana mengatakannya, bahwa mama Rika datang, sebagai permintaan maaf, karena perbuatan Rasya terhadapnya.
"Mama datang?" Tanya Rasya seolah tak percaya.
"Ia mas, beliau minta Putri untuk fokus pada kuliah, makanya Putri keluar dulu dari cafe"
Ya Tuhan, kenyataan apalagi ini Sya?,Rasya malah berperang pada batinya Mama....
"Mas, boleh Putri minta satu hal?" Putri menyeka air matanya menggunakan lengannya.
"Apa itu?"
"Boleh Putri peluk mas Rasya untuk yang terakhir?"
Rasya nampak ragu, dia tak pernah bersentuhan dengan wanita, kecuali Mawar, namun karena rasa bersalahnya, Rasya pun mengangguk, menyetujui permintaan Putri.
Putri tersenyum, dia lega, semua yang mengganjal sudah terungkapkan semua. Kini dia memeluk Rasya, berharap perasaannya terhadap Rasya dapat memudar, seiring berjalannya waktu, dia harus ikhlas, mengenal Rasya dan Mawar, membuatnya menemukan banyak kasih sayang, dia seperti mendapat keluarga baru.
Putri melihat dari jauh, sebuah taksi berwarna biru terparkir diseberang sana, dia menangkap wajah yang tak asing baginya.
__ADS_1
"Mas, ada taksi, tapi kok kayak mba Mawar ya" Dia melepaskan pelukannya.
Rasya berbalik, melihat kearah taksi yang dimaksud Putri, namun taksi itu sudah pergi.
"Mawar?"
"Iya, sepertinya itu mba Mawar" Putri menutup mulutnya. "Ya Ampun mas, mba Mawar melihat kita." Putri begitu panik, dia takut akan ada salah paham.
Berbeda dengan Rasya, laki-laki itu justru mengulum senyum, dia ingin tahu, bagaimana ekspresi Mawar saat cemburu. Ah Mawar, mengingat itu, membuat Rasya semakin tak sabar ingin menemuinya.
Andai saja dia tak banyak pekerjaan, mungkin saat ini juga, Rasya akan membawa Mawar kekantor KUA, andai Mawar mau.
Rasya begitu sibuknya mengurus semua program televisi yang akan tayang, mereka akan merombak beberapa tayangan untuk bulan depan, menyeleksi, tayangan yang berkualitas, dipadukan dengan candaan yang bisa menghibur para pemirsanya, melepas penat sehabis bekerja.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, beruntung semua timmnya dapat diandalkan, jadi pekerjaan mereka cepat diselesaikan.
Rasya memanggil Abdi agar datang keruangannya.
"Jika tanda tangan milikmu berharga, tanda tangani ya, tapi kalo nggak, bawa pulang aja" perintahnya, seraya menepuk-nepukkan tumpukan file yang harus dia tanda tangani.
"Iya, nanti aku bawa, kalo bumi udah nggak waras, kayak otak bos saya" Balas Abdi tak kalah sengit.
Rasya tertawa "Hati-hati Abdi, lumayan kan uang pelunasan apartemen dua bulan, makanya, kerja yang benar" Rasya menepuk pundak Abdi, lalu berlalu, dengan jas yang ia sampirkan pada tangannya, seraya menenteng tas kerjanya.
"Iya ngancem terus" Abdi terus menggerutu.
Rasya menelepon Marvin, menanyakan keberadaan Mawar saat ini, dia harus menurunkan sedikit egonya, merubah sifat, menyesuaikan dengan Mawar, agar dia pantas untuk gadis itu.
Tak butuh waktu lama, mobil Rasya sudah terparkir didepan official store milik Mawar. Rasya tak lantas turun, dia mengamati ruko itu, "rose's mom, ini milik Mawar?" Rasya tersenyum simpul, dia benar-benar tak tahu apa-apa tentang Mawar, gadis sejuta rahasia. Dibalik sifat lemah lembutnya, tersimpan banyak kekuatan. "Kamu harus segera jadi milikku sayang".
Rasya turun dari mobilnya, menghembuskan nafas, dia terasa gugup, seperti anak ABG yang sedang pedekate.
Namun matanya menangkap sosok dua laki-laki mencurigakan. Kedua laki-laki itu mengenakan jaket hitam, dengan helm full face, nampak sedang mengamati toko milik Mawar.
Siapa mereka?
.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1