
Tak terasa sudah mendekati hari persalinan Mawar, dan juga merupakan hari persalinan Putri.
Hari ini Marvin berkunjung kerumah kakaknya, rumah itu sangat ramai, ada teh Sumi dengan segala celotehannya bersama Mama Rika, belakangan ini mama Rika selalu berkunjung kerumah Mawar jika Rasya sudah berangkat ke kantornya, ia menjadi seorang mertua yang siaga, untuk mengisi kesibukannya, mama Rika mengajak teh Sumi membuat kue kering, dan basah, berjaga-jaga jika ada yang berkunjung nanti mereka sudah memiliki stok makanan yang dibuat sendiri, serta Mawar yang juga ikut turut membantu, menghalau kantuk yang datang dan mengisi waktu.
Mama Rika yang tak pernah terjun langsung ke dapur selalu mendapat protes dari teh Sumi.
"Bu mixernya di puter dong Bu, kalau hanya diam megangnya, nanti telurnya nggak mengembang sempurna"
"Teh Sumi ini kenapa jadi cerewet banget sih, ini kan robot, udah pasti pinteran dia"
"Mana ada Bu, aduh Ibu ini, ahh nanti bantet kayak saya Bu ini kuenya"
"Makanya Teh Suminya jangan banyak protes, biar nggak bantet, ini teh Sumi bisa bantet pasti ibu sama bapaknya Teh Sumi waktu bikinya banyakan debat, jadinya bantet"
"Tuh kan Ibu, bawa-bawa fisik"
"Ihh Teh Sumi juga yang bilang bantet, saya kan cuma nerusin apa kata teh Sumi"
"Jangan pake diterusin Bu, kecuali Ibu mau nerusin kreditan panci saya, saya ikhlas Bu"
"Idihh nggak mau"
Mawar hanya geleng kepala, ada saja yang menjadi perdebatan teh Sumi sama mama Rika.
Mawar berjalan menghampiri Marvin yang duduk d sofa ruang tengah, dengan perut buncitnya, ia berjalan sambil memegangi perut bawahnya.
"Rumah Kakak selalu ramai Kak?"
Mawar mengangguk "Heem"
"Enak ya Kak"
"Kamu tahukan sifat Mama?"
"Terasa hangat ya Kak?"
"Itulah Mama, kehadiran Mama selalu membuat Kakak merasa tenang"
Marvin terdiam, ia teringat mamanya, dimana sekarang mamanya berada? Apa mamanya sehat? apa mama Vivi sama merindukannya juga? Entahlah, yang pasti sekarang Marvin akan menerima mamanya, jika mamanya kembali, dia sudah memaafkan mamanya.
"Vin"
Sentuhan tangan Mawar membangunkan Marvin dari lamunannya. Ia menoleh kearah Mawar yang duduk disebelahnya.
"Apa kamu lagi mikirin mama?" tanya Mawar, ia sangat tahu Marvin sangat dekat dengan Vivi
Marvin hanya menggeleng, dia masih belum mengakui jika ia merasakan itu.
"Jika kamu mau bertemu mama, mama akan datang, bersama papa kamu"
Sontak Marvin langsung menatap Mawar
"Maksud Kakak, apa selama ini Kakak berkomunikasi dengan mereka?"
Mawar mengangguk "Iya, tepatnya dengan papa kamu, papa Seno"
"APAA?" Marvin terkejut, dengan kenyataan bahwa Mawar berkomunikasi dengan papa kandungnya.
Sssttt
__ADS_1
"Pelanin suara kamu Marvin"
"Apa Kak Rasya tahu Kak?"
Mawar menggeleng "Tidak, tapi jika kamu sudah memaafkan mama dan papa kamu, Kakak akan jujur pada Rasya"
"Kak kenapa Kakak ngelakuin ini? apa Kakak tidak takut resikonya, jika Rasya tahu tentang ini?"
"Kakak yakin, jika Rasya akan memaafkan mama"
Marvin menyugar rambutnya frustasi, dia takut jika Rasya akan marah kembali, jika mengetahui kakaknya diam-diam berkomunikasi dengan papanya.
Tapi didalam lubuk hatinya, dia ingin bertemu mama dan juga papanya, kesalahan mereka yang lalu biarlah berlalu, bagaimana pun juga, mama Vivi adalah wanita yang melahirkannya kedunia ini, dan Seno adalah papa kandungnya, darah lebih kental dari pada air.
Marvin nampak berpikir, dia menggaruk keningnya.
"Papa kamu selalu menanyakan tentang kamu Vin, dia menyesali perbuatannya dulu, maafkanlah mereka sebelum terlambat, mama saat ini sedang sakit, ia menderita gula darah"
Lagi-lagi Marvin terkejut
"Mama sakit?" lirihnya
"Iya"
"Baik Kak, Marvin akan menemui Mama"
"Dan Seno?" tanya Mawar memastikan, ia sampai menunduk, melihat wajah Marvin yang fokus pada karpet berbulu pada lantainya.
Marvin hanya mengangguk samar, tapi Mawar menganggap jika itu jawaban Marvin.
"Baiklah, Kakak akan menghubungi papa kamu nanti, dan membuat janji, kapan kalian akan bertemu" Mawar beranjak dari duduknya "Siang ini Kakak mau menemui Rasya dulu kekantornya, sekaligus memberi tahu tentang mama"
Marvin mendongak melihat Mawar
"Sangat yakin adikku" Mawar mencubit gemas hidung mancung Marvin
Mawar bersiap akan kekantor suaminya, dia akan membuat kejutan untuk Rasya, dengan membawa kue buatan mama dan teh Sumi.
Dengan diantarkan pak Aryo, Mawar sampai dikantor Rasya, kini para karyawan disana sudah mengenal Mawar. Mawar pun dihantarkan sampai keruangan Rasya oleh resepsionis.
"Terima kasih ya mba" ucap Mawar sopan
"Sama-sama Bu, ini sudah jadi tugas saya, jika terjadi apa-apa sama Ibu, nyawa saya taruhannya"
Candaan mereka terhenti saat pintu ruangan Rasya terbuka, Abdi keluar dengan membawa berkas ditangannya, ia terpaku melihat Mawar yang semakin memancarkan kecantikannya disaat hamil tua.
"Pak Abdi pak Rasyanya ada kan?" tegur resepsionis tersebut
"A-ada" Abdi mengutuk dirinya, bisa-bisanya dia gugup didepan Mawar, padahal dia paling jago menyembunyikan sesuatu.
"Gila ya Mawar, aku sampe terpesona loh, kamu hamil kok makin cantik sih?" Lagi, ucapan sesungguhnya yang ia balut dengan candaan.
"Nggak usah peres sama istri orang" Rasya mengagetkan Abdi, ia mendorong kepala Abdi "Apalagi ini istri atasan sendiri, jika masih betah kerja, sonoh kembali keruangan kamu" usir Rasya
"Pelit banget yang punya istri cantik, hati-hati Mawar, jangan mau digempur dikantor" selorohnya, dengan mengusap kepala belakangnya bekas dorongan Rasya, lalu Abdi pergi, sebelum mendapat pukulan dari temannya itu.
"Sayang kok kesini sih, nanti kalo kamu kenapa-napa dijalan bagaimana?"
"Aku kan diantar pak Aryo hubby"
__ADS_1
Rasya selalu terenyuh jika Mawar memanggilnya hubby, hal itu membuatnya berbunga-bunga seperti anak ABG yang sedang jatuh cinta.
Rasya menggeser tempat kue yang Mawar letakkan diantara mereka, menaruhnya di atas meja. Ia mendekatkan duduknya pada istrinya.
"Benar kata Abdi, kamu semakin cantik sayang" Rasya meletakkan rambut Mawar yang menjuntai menutupi wajahnya dibelakang telinga.
"Kamu lagi ngegombal hubby?" tatap Mawar mata Rasya yang sudah terlihat berkabut
Sungguh panggilan baru itu selalu membangkitkan sesuatu milik Rasya dibawah sana, dengan cepat Rasya menyatukan bibir mereka, menghisap dan menggigiti bibir Mawar.
"Hubby, boleh aku ngomong sesuatu dulu" lepas Mawar ciuman mereka, ia menangkup wajah Rasya, mengusap lembut rahang suaminya.
"Apa?" lepas Rasya tangan Mawar, ia menciumi leher Mawar yang terekspos, ia sudah tak bisa menahan sesuatu yang sudah memberontak itu.
Mawar memejam, menikmati sentuhan bibir Rasya yang dengan lembut mengecupi lehernya.
"A-aku ss-slama ini, s-suka ber-ko-mu-ni-ka-si d-dengan ayah biologis Marvin" Suara Mawar terbata, seiring dengan kecupan Rasya dan tangan yang sudah meremat kedua gundukan dada Mawar yang membesar akibat kehamilannya.
"Aku sudah tahu" jawab Rasya, tak menyurutkanya terus menciumi leher jenjang Mawar, dan kini sudah turun ke tulang selangkanya
Mawar memegang kepala Rasya, untuk suaminya itu menghentikan aksinya,
"Hubby kamu sudah tahu?"
Rasya hanya mengangguk, dia benar-benar sudah tak tahan lagi, tangannya kini sudah menelusup kedalam dress Mawar, mengusap-usap paha halus milik istrinya.
"Kamu nggak marah"
Lagi Rasya hanya menjawab dengan menggeleng.
"Kamu serius hubby"
"Hemmm"
"Sejak kapan?" tanya Mawar lagi memastikan
"Nanti saja ya bahasnya, kita pindah keruangan aku dulu"
Rasya mengangkat tubuh mungil Mawar yang sudah membuncit. Ia mengunci pintu terlebih dahulu, lalu membawa Mawar pada ruangan pribadinya. Dengan perlahan Rasya meletakkan Mawar pada ranjang single miliknya.
Kembali ia menunduk, menyatukan kembali bibir mereka, ia melepaskan pakaian miliknya dan milik Mawar, dengan sangat lembut dan hati-hati, Rasya memasuki inti istrinya, sehingga lenguhan kecil keluar dari bibir Mawar, membuat Rasya mempercepat gerakannya, memaju mundurkan pinggulnya, wajah Rasya memerah kala buncahan itu keluar bersamaan dengan getaran pada paha Mawar, menandakan mereka bersama-sama mengeluarkan cinta mereka.
Dengan nafas yang masih terengah-engah, Rasya mengusap bulir yang menetes pada dahi Mawar, siang ini mereka kembali berkeringat bersama. Rasya selalu merasa, Mawar tambah terlihat cantik saat berkeringat setelah mereka berhubungan, membuat belutya kembali bangun.
"Sayang nambah boleh?" pintanya dengan memelas
"Nggak mau, buat nanti malam aja ya, aku capek, perut aku menegang" usap Mawar perutnya
"Eh bukan berarti mau melahirkan kan sayang?" tanya Rasya sedikit panik
"Entahlah, aku juga nggak tahu"
Rasya bangkit dan memakai pakaiannya, dan memakaikan pakaian Mawar.
"Aku ke kamar mandi sebentar hubby" pamitnya pada Rasya
"Aku temenin ya"
"Nggak usah, aku bisa sendiri"
__ADS_1
Rasya membiarkan Mawar berjalan sendiri memasuki kamar mandi. Sampai pintu itu tertutup,
Saat dikamar mandi, Mawar akan memakai ****** ********, ia melihat gumpalan darah keluar dari miliknya, tubuh Mawar sedikit bergetar, ia tahu jika itu merupakan tanda-tanda akan melahirkan, namun sebisa mungkin ia tenang, Rasya pasti akan panik, jika mendengar dia mengeluarkan darah. Kembali ia melihat noda darah pada celananya.