Mawar Tak Berduri

Mawar Tak Berduri
Bonchap 2 (Selesai)


__ADS_3

Setelah operasi kaki Vivi selesai dan berjalan lancar, dan Vivi sudah diperbolehkan pulang. Sesuai keinginan Mawar, Vivi mengontrak rumah yang tidak jauh dari kediaman Mawar, dan Vivi mau Mawar merawatnya, walau Mawar tidak intens mengurusnya, karena ada Seno, yang masih stand by disamping istrinya.


Terkadang Seno masih suka bolak-balik Jakarta-Magelang, karena ada sawah dan kontrakan yang masih harus dia urus, untuk dia jual, dan uangnya akan ia berikan pada Marvin. Sebab Vivi sudah memberikan semua asetnya pada Mawar, termasuk sapi yang ia minta kala itu.


Marvin tidak cemburu terhadap kakaknya, sebab menurut Marvin, Mawar berhak atas semua itu, dan tidak sebanding dengan apa yang Marvin dapat selama 23 tahun dihidupnya, yaitu kasih sayang dan perhatian dari mamanya.


Mawar juga membawa perawat, yang akan menjaga Vivi 24 jam


7 bulan berlalu


Kini usia Marsha sudah menginjak usia tujuh bulan, dan sudah banyak memiliki kepintaran, bayi cantik itu begitu mirip dengan Apapnya, tidak sesuai dengan yang Rasya inginkan, dia ingin anaknya mirip dengan Amamnya.


"Apa masalahnya Apap, bukankah kata orang bagus jika anak perempuan mirip dengan ayahnya, rejekinya lancar"


"Tidak ada hubungannya Amam, itu mitos, tetap saja jika dia malas bekerja, dia tidak akan kaya, walaupun dari keluarga kaya, hartanya akan habis juga"


"JADI MAU KAMU APA? kamu tidak mau mengakui anak kita, baiklah jika itu maumu, aku berdoa suatu saat Marsha mirip muka suami tetangga, bukan mirip Apapnya" ucap Mawar sengit dan penuh amarah


"Astaga, amit-amit, jangan sampe sayang" Rasya mengetuk-ngetuk keningnya, lalu mengetukkannya pada lantai.


Ada-ada saja, Rasya yang tidak ingin mendengar komentar orang jika anaknya mirip dengannya, bukannya biasanya ayah akan senang jika anaknya dibilang mirip dengannya, ini malah ingin anaknya mirip dengan Amamnya. Padahal itu membuktikan bahwa genya lebih kuat dari gen istrinya.


"Awas menjauh dari Marsha, kalo kamu tidak mau mengakuinya" Mawar mendorong tubuh Rasya yang sedang menemani anaknya bermain lalu menggendong bayi yang tidak tahu apa-apa tentang pertengkaran tidak berfaedah orang tuanya.


"Sayang... bukan itu maksudku, aku senang jika Marsha mirip dengan aku, tapi dulu aku sangat ingin Marsha mirip dengan mu" ucap Rasya membela diri.


"Tidak usah berkilah Rasya" panggilan Mawar sudah berubah, menandakan jika dia sangat marah.


"Sayang, tolong jangan marah, aku sangat menyayangi Marsha"


"Awas menjauh" tepis Mawar yang ingin menggendong Marsha


Rasya menggaruk tengkuknya, padahal tadi dia hanya ingin cerita pada Mawar, saat dia memposting wajah Marsha, banyak yang berkomentar, jika anaknya itu sangat mirip dengannya, dan dia ingin semua orang bilang, jika Marsha sangat mirip dengan Amamnya, itu menandakan jika dia sangat menyayangi istrinya.


Apa malam ini dia akan berpuasa?


TIDAK!!


Rasya tidak mau, dulu belutya sangat menderita karena tidak bisa masuk kedalam sarangnya, sebab Mawar masih takut, jika jahitannya akan terbuka lagi. Dia harus merayu Mawar, apapun caranya.


Rasya masuk kekamarnya, mengganti pakaiannya, ia lihat Mawar sedang memberikan ASI pada Marsha, ia membawa semua pakaian kotor, dan memasukkannya kedalam mesin cuci, lalu ia mengepel lantai, setelah itu Rasya memasak makanan kesukaan Mawar.


Mawar keluar dari kamarnya, ia selalu saja ketiduran jika selesai member ASI pada anaknya, ia melihat Rasya yang sedang menjemur pakaian ditaman belakang, lalu ia melihat kearah pantry, ada tudung saji, sepertinya ada makanan didalam sana, Mawar membuka tudung saji itu, ada ayam goreng dan sayur bayam, serta sambalnya, Mawar mengernyitkan keningnya, perasaan teh Sumi belum pulang dari rumah Vivi, kenapa ada makanan? apa ini Rasya yang masak? Mawar mengulum senyum.


"Sayang...." Rasya melingkarkan tangannya pada perut Mawar "Maafin aku, bukan maksudku seperti itu_"


"Mandi sana, kamu berkeringat, aku nggak kuat nyium baunya" Mawar menutup hidungnya dan melepaskan tangan Rasya pada perutnya


"Baik, aku mandi, tapi kamu maafin aku kan?" Rasya menangkup wajah yang sedikit lebih berisi itu.


Mawar memutar matanya keatas, nampak menimang, apa dia akan memaafkan atau tidak, tapi Rasya anggap, Mawar memaafkannya, ia pun langsung mengecup bibir istrinya singkat


Cup


"Nunggu jawaban kamu kelamaan sayang" Rasya langsung menghilang dibalik pintu kamar.


...*****...


"Apap kamu ngapain nyuruh aku pake baju ini?" tanya Mawar saat Rasya memintanya memakai baju muslim putih.


Ya pagi ini, walau jam masih menunjukkan pukul enam pagi, Rasya sudah menyuruh Mawar bersiap, dan dia yang akan memandikan Marsha, serta mendandani Putri cantiknya, sedang Mawar tinggal terima beres.

__ADS_1


"Pakai saja, aku ingin mengajak kalian ke suatu tempat"


"Kemana?"


"Bukan surprise jika aku memberi tahu kamu" Rasya langsung mengecup bibir Mawar yang akan bertanya lagi


"Marsha sudah rapi, aku akan bersiap, dan kamu tunggu didepan dengan Marsha oke Amam" Marsha pun ia pakaikan gaun putih, dan juga bandana dengan warna senada


Mawar tak lagi protes, ia menurut saja. "Duh anak Amam cantiknya, mirip sekali dengan Apap" cium Mawar gemas pipi wangi bedak khas bayi itu.


Tak lama Rasya pun keluar dengan baju koko putih, dan celana chinos berwarna cokelat susu.


"Kita mau kemana sih, kok pake baju couple?"


"Surprise, jika bertanya lagi, kita tidak jadi berangkat, dan akan berakhir ditempat tidur, mau?" nada ancaman itu membuat Mawar bungkam.


Mereka kini sampai disebuah pemakaman umum, disana sudah nampak Marcel dan David yang sudah menunggu, berpakaian sama, serba putih.


"Hubby, kamu yang mengatur semua?"


"Iya, untuk istri ku tercinta, aku sudah berjanji bukan, akan mengajak Marsha bertemu neneknya, dan kita sudah lama, tidak berkunjung kemakam ibumu"


Dibawah cahaya matahari yang akan menunjukkan sinarnya, mereka berjalan menyusuri blok-blok pemakaman, suasana nampak hening, tenang dan damai, setelah sampai ditempat yang dituju, mereka duduk bersimpuh didepan makam bertuliskan nama Warda.


Marcel memimpin doa, yang diamini oleh anak dan menantunya, dia menyeka air mata yang akan jatuh,


"Sayang aku datang, bersama anak menantu kita, dan juga cucu cantik kita yang semakin pintar dan menggemaskan, namanya Marsha, aku juga datang bersama David, keponakan mu, aku harap engkau merasakan kebahagiaan kami saat ini, tenanglah disana, tunggu aku di pintu surga"


Ucap Marcel dalam hatinya, ia memejamkan mata, seperti merasakan kehadiran Warda didekatnya, ditengah-tengah mereka, wanita itu nampak cantik dengan pakaian putih, tersenyum begitu manis, sangat mirip dengan Mawar, Warda seperti mencium Marsha dan mencium Mawar, tak terasa, air mata yang ia tahan jatuh begitu saja, tepat mengenai nisan itu.


Setelah selesai menabur bunga, dan menyiramkan air, mereka pergi dari pemakaman itu.


Mawar kembali terkejut, dengan banyaknya rombongan mobil didepan sana yang telah menunggu mereka, Chio, Abdi, mama Rika, papa Reyhan, Seno, dan juga Vivi yang duduk di kursi roda.


"Kita akan berbulan madu" bisik Rasya ditelinga Mawar. Sontak Mawar melihat kearah suaminya. Ia tak dapat menyembunyikan lagi kebahagiaannya, Rasya memberinya begitu banyak hadiah.


"Aku tidak marah jika kau menangis karena bahagia, tapi aku marah jika kau menangis karena sedih, karena sebisa mungkin aku akan selalu membuat mu bahagia" lihat Rasya mata yang sudah berair itu, dan menghapusnya "Maaf jika bulan madu ini terlambat, dan lebih tepatnya ini tour keluarga" diselaminya mata coklat Mawar, mata teduh yang selalu membuatnya jatuh cinta berkali-kali.


"Kemana Marvin dan Putri, kenapa mereka tidak ikut?"


"Kamu tidak tahu, Putri sedang mengandung adik Puma"


"Apa?"


"Heemm, kenapa kamu juga mau?" Rasya mengedipkan matanya.


"Aku sudah implan dua tahun" Mawar berjalan menyusul yang lainnya masuk ke mobil, membuat Rasya tertawa.


Mobil mereka melaju menuju bandara Halim Perdanakusuma. Tak lama mereka langsung check in, karena Rasya memilih penerbangan awal, dan satu-satunya penerbangan yang akan menuju ke Luwuk Sulawesi Tengah hari ini.


Mawar tak dapat berkata-kata lagi, Rasya benar-benar membuatnya menjadi wanita paling berharga, dan bahagia. Ini merupakan pertama kali untuknya menaiki armada besi udara. Dan Rasya langsung membawanya ketempat yang jauh, Luwuk Sulawesi tengah.


Ada rasa sedikit takut saat pesawat akan take off, namun Rasya yang mengerti itu, dia langsung menggenggam erat tangan Mawar, mencoba memberi kekuatan.


"Maaf jika ini terkesan norak, tapi ini yang pertama kali untuk aku"


"No problem Amam, aku sangat mengerti itu" tarik Rasya kepala istrinya untuk bersandar di bahunya.


Sengaja Rasya mengajak seluruh anggota keluarganya, sebab agar ada yang menjaga Marsha, saat dia dan Mawar akan menghabiskan waktu berdua, Mawar pasti tidak mau, jika tidak membawa Marsha, sedang Marsha full ASI, dan itu tidak mungkin ia lakukan.


Dibutuhkan sekitar 3 jam 40 menit mereka sampai pada bandara Syukuran Aminuddin Amin. Mereka langsung dijemput bis mewah yang disewa Rasya secara privat, sebab dia mengajak Vivi yang dalam keadaan kurang sehat, dan membutuhkan kenyamanan.

__ADS_1


Sebuah bis yang memiliki interior mewah siap membawa mereka pada hotel yang telah di siapkan Rasya untuk keluarganya.


"Gila banget punya bos, dia enak-enakan duduk dikelas bisnis, kita disuruh duduk dikelas ekonomi" gerutu Abdi ketus yang merasa ketidak adilan Rasya.


"Sudah untung diajak, gratis pula, masih aja protes, cuma tinggal bawa diri" jawab Rasya tak kalah ketus dari sahabatnya itu.


"Sabar Chio, orang bawah seperti kita memang banyak ujiannya, berdoalah kita naik derajat, biasanya doa orang teraniaya seperti kita cepat dikabulkan" ujarnya merangkul pundak Chio


"Aku tidak masalah" jawab Chio enteng, tanpa membela Abdi yang padahal memihak padanya


"Kamu nggak asik Chio" dorong Abdi bahu Chio, yang tidak berpengaruh pada laki-laki bertubuh gempal itu.


Semua orang hanya geleng kepala mendengar ocehan Abdi.


Tak lama mereka sampai pada hotel, hotel yang terletak diatas bukit dengan view menghadap laut. Semua telah masuk pada kamar yang telah disediakan, lagi-lagi Abdi merasa tidak diadilkan, dia menempati kamar bertiga dengan David dan Chio.


"Sya, astaga, aku kira bakal dikasih kamar sendiri, nggak taunya bertiga, pengabdian aku bertahun-tahun benar-benar tidak dihargai, padahal aku karyawan paling loyalitas" ungkapnya yang amat didramatisir, seolah-olah menjadi korban yang tidak dibayar gaji selama berbulan-bulan.


"Nyesel ngajak nih manusia satu, protes mulu, kalo mau kamar sendiri, pesan sendiri, dan bayar sendiri" sengit Rasya yang sudah sangat kesal dengan temannya satu ini, Rasya langsung masuk kekamarnya, tak ingin mendengar rengekan Abdi lagi.


Malam tiba, semuanya berkumpul dan makan bersama, mereka memesan makanan khas daerah Luwuk, seperti salanggar, pisang Lowe, nasi jaha, Mulu siram dan onyop-onyop. Semua menikmati hidangan yang telah disajikan.


Setelah selesai mereka kembali kekamar masing-masing, dan ada saja drama yang dibuat Abdi, membuatnya selalu berdebat dengan Rasya.


Rasya masuk kekamarnya bersama Mawar, sedang Marsha tidur bersama Amo Rika


"Hubby terima kasih untuk semuanya" Mawar langsung mendekatkan badannya pada Rasya dan melingkarkan tangannya pada leher suaminya


"Untuk apa?" tanya Rasya yang menatap wajah Mawar dengan mata yang sudah berkabut, ia sangat mudah terpancing hanya dengan disentuh Mawar, apalagi dengan jarak wajah mereka yang sangat dekat, efek puasa yang terlalu lama, bahkan jantungnya berdegup sangat kencang.


"Untuk semua yang kamu kasih hari ini"


"Hanya terima kasih?" ucapnya memancing


Mawar yang sudah sangat tahu apa maksud Rasya, langsung menyambar bibir suaminya, diapun merindukan ini


"Aku merindukan setruman belut kamu hubby" bisik Mawar disela ciuman panas mereka.


"Kamu semakin liar Amam" Rasya langsung merebahkan Mawar pada tempat tidur, malam ini akan menjadi malam Rasya berbuka puasa.


Erangan dan ******* itu saling bersahutan, keringat bercucuran dari keduanya, baru saja 5 menit mereka istirahat, Rasya sudah mengungkung tubuh istrinya lagi.


"Lagi ya sayang, sebagai hadiahnya, besok kita ke Ampana"


"Serius hubby"


"Iya, hanya kita berdua, aku bantu kamu pompa ASI nya malam ini untuk stok Marsha"


Mereka tertawa bersama, dan akhirnya kembali pada aktivitas panas yang akan membawa mereka terbang ke nirwana.


...SELESAI...


.


.


.


.


.

__ADS_1


Semoga kalian senang dengan penutup ceritanya, sampai berjumpa 1 Januari tahun depan, dicerita baru aku, selamat tahun baru semuanya ❤️❤️❤️😍😍😍😘😘😘🤗


__ADS_2