Mawar Tak Berduri

Mawar Tak Berduri
Chapter 9


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju kantornya, Rasya terus teringat Mawar yang telah mencuri ciuman pertamanya. Sekarang bibirnya sudah tak perjaka lagi, bibir yang ia jaga agar tak jajan sembarangan itu telah ternodai, gadis istimewa yang ia harapkan menjadi wanita pertama menyentuh miliknya, tak bisa ia harapkan lagi. Mawar mengambil semua impianya, wanita yang tak diinginkanya.


Pikirannya dibuat tak tenang, bisa-bisanya Mawar dengan lancang menempelkan bibir mereka. Apa Mawar biasa melakukan hal ini? Rasya tersenyum getir, wanita semacam apa yang dipilih mama untuk menjadi pendampingnya. Mawar memang terlihat polos dan tak pernah bergaul, terkesan kaku. Tapi mana tahu kepribadian wanita itu. Barusan saja Mawar melakukan hal yang tak ia duga, bahkan dia yang diusia dewasanya saja, belum pernah melakukan hal itu.


Kejadian beberapa menit lalu benar-benar membuat pikirannya kacau. Bak slow motion, bibir merah muda nan tipis itu menghipnotis matanya, ia dibuat fokus hingga tak dapat menghindari kecelakaan bibir yang seharusnya tak terjadi.


Hal itu terus berulang, bak kaset yang terecord terus berputar diotaknya. Meski hanya sekilas, kecupan itu membekas, dan begitu masih terasa dibibirnya. Rasya meraba bekas jejak bibir Mawar. Jantungnya pun ikut berdebar, dikala mengingat kejadian itu.


Akkhhh.. Sial...siall..sial...


Rasya memukul-mukul setir mobil, merutuki kebodohan dirinya sendiri.


Ponsel miliknya yang terus bergetar di jok penumpang pun tak ia hiraukan.


Rasya bahkan menggeleng-gelengkan kepalanya kasar, untuk menghalau bayang-bayang Mawar.


Tangan putih nan lentik milik Mawar yang menyentuh kancing bajunya, wangi parfum Mawar bagai mengikuti kemana arahnya melangkah, menguasai indra penciumannya. Wangi bunga mawar yang khas bercampur vanilla, itu yang Rasya tangkap dari parfum yang Mawar kenakan, selebihnya ia tak tahu, ada wangi lain yang ia rasa dalam kombinasi parfum milik Mawar, yang membuat aromanya tajam, dan menenangkan seperti aroma terapi.


Sesampainya di kantor, sapaan dari para pegawai sama sekali tak ia balas, padahal selama ini ia dikenal sebagai atasan yang ramah, walau demikian, hal itu tak mengurangi sedikitpun wibawanya sebagai pewaris tunggal Mahardika corp.


Laki-laki dengan tinggi badan 185cm itu terus berjalan menuju ruangannya.


"Selamat pagi pak Rasya." sapa Abdi, sekretaris, merangkap asisten pribadinya, seorang sahabat yang bisa ia percaya untuk menghandle bisnis cafenya juga, berkat campur tangan dingin Abdilah ia bisa menjalankan perusahaan milik ayahnya, sekaligus usaha cafe impiannya.


Tak mendapat jawaban dari sang atasan, Abdi mencebikkan bibir seraya mengangkat kedua bahunya. Tak biasanya Rasya sejutek ini.


Tapi ia tetap mengikuti langkah lebar Rasya sampai keruangannya.


Rasya duduk di kursi kebesarannya, masih dengan mode diam. Otaknya tak bisa diajak bekerjasama, kedatangan Mawar pagi ini, ditambah wanita itu datang membawa makanan yang diakui buatannya sendiri, membuat otak Rasya berpikir menjadi tak waras. "Apa benar Mawar memakai pelet pada makanannya?, mungkin nggak sih, dijaman serba canggih seperti ini, masih ada orang menggunakan hal-hal semacam itu? Selicik itukah keluarga Mawar demi bisa menjalin kerja sama, sampai melakukan hal licik itu?" Rasya terus menerka-nerka, pikirannya terus dipenuhi oleh Mawar.


Ia mengetuk-ngetuk telunjuknya pada meja.


"Abdi... kamu tau, cara menghilangkan obat pelet?."Akhirnya iapun menanyakan hal aneh pada sang asisten yang sedari tadi ia kacangin.


"Hah??" Abdi terkejut dengan pertanyaan Rasya.


"Iya.. cara bisa ngobatin pelet."


"Dukun?"


"Selain dukun"


"Apa? dinegara kita emang dukun yang paling pintar, bisa ngobatin segala macam penyakit, pelet, diguna-guna, santet, terus.." Abdi nampak berpikir "Nah bisa rubah kuntil anak jadi cewek cakep, pake paku emas."


"Kamu lulusan luar negeri tapi percaya sama dukun" sungut Rasya


"Apalagi..? lagian ya Sya, dari datang muka sudah kayak ceo-ceo dicerita novel yang suka dibaca Tania, tampan, muda, tapi dingin dan jutek, tiba-tiba ngomongin obat pelet," Abdi menggelengkan kepala, atas pertanyaan Rasya "Ada apa sih?" Abdi bersedekap, menanti cerita sahabatnya.


"Pagi tadi Mawar datang, bawa makanan, terus kita sarapan makanan yang dia bawa" Rasya menyandarkan badanya pada sandaran kursi, memijit keningnya yang berdenyut akibat terus memikirkan Mawar.


"Terus salahnya dimana? wajar kan calon istri kasih perhatian sama calon suaminya" Abdi terkekeh, melihat keanehan Rasya.

__ADS_1


"Cewek paku kuntilanak itu bilang, kalau makanan yang dia bawa, ada peletnya"


"Terus.. kamu percaya gitu?"


"Apalagi, jangan percaya sama kepolosan wanita jaman sekarang kan?"


"Hahaha" tawa Abdi menggelegar "Kamu tuh aneh, pintar tapi nggak bisa bedain, mana yang beneran polos, mana yang pura-pura polos"


"Bisa aja kan, keluarga Mawar menggunakan segala macam cara buat memikat keluarga aku"


"Makanya, pengalaman tentang wanita itu perlu, kayak aku, jadi bisa bedain cewek yang baik dan yang nggak"..


"Aku lebih baik begini, dari pada kayak kamu, penjelajah wanita, bikin penyakit saja."


Tak ingin menanggapi obrolan mereka, Abdi ingat akan hal "Oh ya, tadi Putri kirim pesan, kalau dia bawa sepeda ke cafe, heran kalian berdua ada hubungan apa si?" ucap Abdi pelan, namun bisa didengar Rasya.


"Astaga..." Rasya menepuk jidatnya "Aku lupa jemput Putri" diambilnya ponsel didalam laci, dilihatnya ada dua panggilan tak terjawab dari Putri, membuka pesan masuk atas nama Putri


"Mas Rasya jadi jemput Putri nggak"


"Kalo nggak sempet, nggak papa, Putri bawa sepeda aja, lagian mas Rasya ada meeting kan pagi ini?"


Dibalasnya pesan Putri


"Maaf ya put, pagi tadi aku buru-buru, jadi nggak sempet ngabarin kamu, nanti aku usahain bisa jemput ya"


Tak lama ponselnya bergetar


"Nggak usah mas, nanti Putri bisa pulang sendiri, lagian kan Putri bawa sepeda, hari ini Putri ship pagi, jadi pulang juga cepet."


"Nggak papa mas"


Diletakkannya lagi ponsel dalam laci, setelah membaca balasan dari Putri.


"Kalian sebenarnya ada hubungan apa?" tak bisa menahan rasa penasaran, Abdi menanyakan lagi atas kedekatan Putri dan Rasya, ia yang tahu beberapa hari belakangan, Rasya tak absen, antar jemput Putri ke cafe.


"Nggak ada"Rasya membuka komputer miliknya, memeriksa pekerjaan yang harus ia selesaikan.


"Beberapa hari ini, kamu antar jemput Putri ke cafe, hati-hati Sya, itu bisa jadi boomerang buat diri kamu sendiri."


"Maksudnya?" tanyanya tak mengerti maksud Abdi, namun tetap fokus pada layar monitor miliknya.


"Jika kamu menganggap kalian tak ada hubungan apa-apa, jangan terlalu memberi perhatian berlebih, bisa jadi dia menganggap perhatian itu sebagai hal yang serius" Abdi yang memang lebih berpengalaman masalah wanita, memberi peringatan atas tindakan Rasya.


"Aku tahu, itu biar jadi urusanku"


"Putri dan Mawar dua wanita yang menjadi korban atas tindakan yang kamu ambil, jangan demi menghindari pernikahan dengan Mawar, kamu malah melibatkan orang lain, cukup Mawar yang jadi korban."


"Omong kosong, terus korban kamu gimana?"


"Mereka bukan korban..."

__ADS_1


"Bisa kamu bacakan agendaku hari ini Abdi, kupingku mulai panas, lanjutkan nanti ceramahnya dimusholah sinetron PPT, siapa tahu nanti warganya pada insaf." potong Rasya, Abdi jika membicarakan masalah wanita, merasa paling mengetahui segala isi hati kaum hawa.


"Ehem" Abdi berdehem memulai membacakan agenda Rasya hari ini.


Setelah selesai membacakan agenda, mereka bersiap, menuju ruang meeting.


...****************...


Mawar masih malu atas tindakannya sendiri, mengapa ia begitu berani mencium Rasya. Ia meremas jarinya yang berkeringat, bagaimana nanti ia bertemu dengan Rasya, apa yang harus ia lakukan? Mawar menutupi mukanya dengan tas selempang yang ia bawa, salah tingkah sendiri.


Jantungnya masih berdegup tak karuan, ia tak pernah merasakan ini, ada apa dengan jantungnya?. Mawar memegangi dadanya, jantungnya masih berdetak tak normal.


"Non Mawar tidak apa-apa?." David menjadi khawatir, Mawar tak pernah seperti ini.


Mawar mengangkat kepalanya, mengulas senyum, menutupi malu yang mendera "Saya nggak papa pak David."


"Yakin non?"


"Iya" jawabnya singkat.


"Ehh bukanya itu wanita yang waktu itu bukan ya non?." tunjuk David wanita dengan rambut panjangnya, menggunakan sepeda berwarna pink tersebut.


Mawar mengikuti arah yang ditunjuk David, disaat melewati gadis itu, Mawar memastikan, jika ia juga tak salah lihat, jika yang dilihatnya Putri.


"Putri.." ucapnya pelan


"Berhenti pak David." pinta Mawar, setelah beberapa meter ia melewati Putri, dan memastikan, gadis itu benar Putri.



Muka jutek Rasya hari ini.



Mawar saat datang kerumah Rasya.



Putri Maheswari, gadis biasa yatim-piatu, bekerja di cafe milik Rasya


.


.


.


.


.


*Bersambung..

__ADS_1


Maafkan diriku yang baru muncul ini ya, othor remahan emping jengkol... didunia nyata lagi banyak tamu, jadi kalau rumah ramai, nggak bisa buat ngetik.. tetep di tambah di favorit ya Mawarnya... dan semoga suka sama visualnya..


l*


__ADS_2