Mawar Tak Berduri

Mawar Tak Berduri
Chapter 53


__ADS_3

Ketukan pintu menghentikan obrolan mereka, seorang dokter paruh baya datang, rambutnya nampak sudah dipenuhi oleh warna putih itu mengulas senyum. Marvin berdiri, memberi ruang untuk dokter tersebut.


"Selamat pagi" sapa dokter tersebut ramah "Maaf saya mengganggu waktunya sebentar ya, saya periksa keadaan Pak Marcel terlebih dahulu"


Mawar dan yang lainnya mengangguk, mempersilahkan sang dokter untuk memeriksa Marcel.


"Perkembangan Pak Marcel cukup baik, detak jantungnya pun sudah kembali normal, saya kagum, pak Marcel punya semangat tinggi untuk sehat" jelas sang dokter "Tekanan darahnya juga sudah normal" lanjutnya setelah menerima hasil pemeriksaan perawat yang datang bersamanya.


"Ini pasti berkat kedatangan anak-anak Pak Marcel" pujinya, setelah melihat pada kedatangan Mawar.


"Iya dokter, saya harus sehat, agar bisa melihat kelahiran cucu pertama saya" ucap Marcel, iya melirik kearah Mawar


"Ahh Papa" Mawar tersipu malu atas ucapan papanya, ia melihat Rasya yang malah membuang muka, pura-pura tidak mendengar ucapan papa mertuanya, membuat Mawar mencebik, awas saja nanti minta ya, ancam Mawar dalam hati.


"Wah benarkah?, selamat jika seperti itu, memang dukungan keluarga sangat penting untuk mendukung kesehatan orang tua seperti kita ini pak, apalagi melihat anak-anak kita berkumpul dan semua akur"


"Iya benar dokter, merekalah semangat hidup saya sekarang"


Marcel tak dapat menyembunyikan lagi kebahagiaannya, dia harus berusaha menjadi ayah yang baik lagi untuk Mawar, dan menerima Marvin sebagai anaknya, bagaimana pun, Marvin tidak bersalah atas tindakan Vivi.


"Baiklah Pak Marcel, selamat beristirahat, semangat untuk sembuh, bagaimana pun, diri kita sendirilah yang menentukan kita bisa cepat membaik, tetap jaga pola makan, dan sering-sering joging pagi" nasihat dokter pada Marcel, "Jika tidak ada halangan, besok Anda sudah bisa pulang" lanjutnya lagi, dokter itu berlalu, setelah memberikan resep obat yang harus ditebus untuk papa Marcel.


Sepeninggal dokter Marcel menatap Marvin


"Vin benar kamu akan menikah?"


"Iya Pa"


"Siapa wanita itu?"


Marvin tidak menjawab, dia begitu takut, bukan takut akan dimarahi, tapi takut akibat kesalahannya, Marcel tak mau menerimanya.


"Nanti juga Papa tahu Pa, dia gadis yang baik untuk Marvin" Mawar yang menjawab, seolah tahu kebimbangan Marvin.


Hari beranjak siang, Mawar dan Rasya kembali pulang, Marvin meminta dia yang akan menjaga papa Marcel, dengan senang hati, papa Marcel menerima itu. Kelegaan terlihat pada wajah Marvin, dia berjanji akan mengurusi papa Marcel seperti papanya sendiri.


Rasya akan membawa Mawar ke suatu tempat, Rasya berpamitan pada Marcel dan membisikkan sesuatu, entah apa yang dikatakan suaminya itu, membuat sang papa terlihat sangat sumringah.


"Apa yang kamu katakan tadi, kenapa harus berbisik?" Mawar memajukan bibirnya beberapa senti, kini mereka sedang dalam perjalanan menuju tempat yang Rasya janjikan.


"Rahasia donk sayang, ini urusan antar lelaki" jawab Rasya tanpa melihat kearah Mawar.


Mawar tak ingin berkonfrontasi lagi, dia memilih diam, melihat keluar jendela mobil, saat melihat ada pedagang rujak mangga yang biasa mangkal di lampu merah. Mawar menelan ludahnya, dia belum pernah makan buah seperti itu, kini dia begitu inginnya merasainya.


"Sya aku mau itu" tunjuknya pada abang yang memanggul buahnya, menjajakan dari satu mobil ke mobil lainnya.


"Apa?"


"Itu, buah mangga itu, kayaknya enak dimakan siang kayak gini"


"Nggak boleh, itu tidak sehat, nanti kita beli mangga di supermarket, minta bibi yang membuatkan dirumah"


"Aku nggak mau, maunya yang itu, warnanya menggoda" Mawar terus merengek, entah mengapa, mangga begitu itu begitu menggodanya.


"Itu banyak memakai pewarna sayang, bukan warna asli" Rasya pernah melihat pada sebuah acara televisi, buah seperti itu bukan memakai pewarna makanan, tapi pewarna tekstil.


"Kamu pelit, aku mau yang itu, nggak mau yang lain" rajuknya


Rasya menggelengkan kepalanya, tidak pernah Mawar seperti ini, begitu manja, dan sedikit memaksa. Akhirnya iapun menuruti kemauan istrinya.


Rasya memanggil abang buah tersebut

__ADS_1


"Lima bang" ujar Rasya


"Mau pake sambal gula merahnya nggak Pak?" tanya abang penjual yang menggunakan topi berwarna merah itu


"Boleh" jawab Rasya tanpa bertanya dulu, dari pada nanti dia salah.


Buah mangga dengan bungkusan bubuk garam yang sudah dibumbui cabai itu begitu menggoda Mawar, namun saat ada sambal gula merahnya, Mawar mendadak jadi tidak berselera.


Ditaruhnya lagi buah itu didasboard mobil, membuat Rasya mengernyitkan dahinya.


"Loh nggak jadi dimakan?" tanya Rasya heran


"Udah nggak nafsu" jawabnya asal tanpa dosa


"Kenapa?" tanya Rasya lagi, namun tetap fokus pada jalanan.


"Kenapa dipakein sambal gula merah, aku tadi maunya pake garam aja"


"Ya ampun sayang, kan itu dipisah, tinggal disisihin aja"


"Tetep aja bikin nggak nafsu, kenapa tadi nggak tanya aku dulu, mau pake sambel atau nggak?"


Rasya menepuk jidatnya, Mawar jadi seribet ini, padahal niat dia meminta sambal gula merah, jaga-jaga, jika Mawar ingin sambal, tapi mengapa jadi dia yang salah.


"Yasudah nanti kita beli lagi"


"Nggak usah"


Rasya menghela nafasnya, ada apa istrinya ini? dia tak mau berdebat, kondisi Mawar yang masih banyak luka, lebih baik dia menuruti apa pun itu.


Mereka memasuki perumahan yang begitu asri, banyak pepohonan yang sengaja ditanam untuk membuat perumahan itu terasa sejuk, didepan sana ada ibu-ibu berjalan menggandeng anaknya. Rasya berhenti, memanggil ibu tersebut, dia memberikan beberapa lembar uang berwarna merah, dan mangga yang tidak jadi dimakan Mawar tadi.


"Beli makanan buat anaknya Bu, lalu pulang, kasihan anak ibu dibawa panas-panas begini" ucap Rasya pada ibu tersebut.


Setelah ibu tersebut menjauh, Mawar baru sadar jika mangganya Rasya berikan pada orang lain.


"Kenapa mangganya malah dikasih ke orang?" tanya Mawar kesal


"Kan kamu nggak mau"


"Kenapa nggak tanya dulu sama aku?"


"Ya ampun sayang, tadi kan kamu juga liat aku kasihnya, kenapa kamu nggak bilang"


Mawar sudah sangat kesal, Rasya hari ini begitu menyebalkan.


"Kita mau kerumah siapa?" tanya Mawar, dia menelisik pandangan keluar.


"Kerumah mantan calon istri aku dulu"


"Hah?" Mawar terkejut, ia menoleh kearah Rasya.


"Nanti aku kenalin"


"Kamu punya banyak calon istri? ngapain kita kesini? turunin Aku" bentak Mawar pada suaminya.


Rasya hanya terkekeh, "Kita sudah sampai" dia mengklakson, membuat seorang laki-laki berpeci hitam, dengan kaos polos putih itu berlari membukakan pintu pagar untuk mereka.


"Terima kasih Pak Dadang" ucap Rasya,ia memberikan satu lembar uang berwarna biru pada laki-laki tersebut, dan memakirkan mobilnya pada halaman rumah bercat putih, dengan nuansa ala eropa tersebut.


"Kamu sudah sangat dekat sama orang disini?" Mawar masih dengan nada ketusnya.

__ADS_1


"Ia, karena aku nanti bakal tinggal disini, makanya aku sudah kenal mereka" Rasya turun, ia memutari mobil, membukakan pintu untuk Mawar.


"Aku nggak mau turun, kalo kamu ada urusan, jangan lama, aku tunggu disini aja"


Rasya tertawa, atas sifat ketus Mawar hari ini.


"Ayo turun dulu, jika kamu suka kita beli rumah ini, tapi kalo kamu nggak suka, kita bisa cari yang lain"


Mata Mawar membola mendengar ucapan Rasya


"Maksud kamu, kita beli rumah?"


Rasya mengangguk "Iya, hadiah aku buat kamu"


Senyum bahagia terbit pada bibir Mawar, "Benar buat aku?"


Lagi Rasya hanya mengangguk "Ayo turun"


"Tapi gendong" rengeknya lagi


"Dengan senang hati" Rasya langsung menggendong tubuh mungil Mawar, membawa masuk kedalam rumah yang sebenarnya sudah ia beli tersebut.


Dengan perlahan Rasya merebahkan Mawar pada sofa yang ada diruang tamu itu, ia mengungkung tubuh istrinya, menatap lamat-lamat wajah cantik yang tak pernah membuatnya bosan, pandangan mereka saling mengunci, perlahan Rasya merendahkan tubuhnya, "Kalo kita sudah pindah, kita bebas melakukan apapun tanpa ada yang mengganggu" bisiknya, tepat diwajah Mawar


Dengan gerakan cepat, Rasya menyatukan bibir mereka, lagi, Rasya tak memberi kesempatan untuk Mawar melihat-lihat dulu rumah itu, ciuman mereka semakin dalam, tubuh Rasya sudah menindi tubuh istrinya, hingga Mawar bisa merasakan sesuatu yang sudah sangat keras milik suaminya, Rasya menggesekkan miliknya diatas perut bawah sang istri, kali ini Mawar berinisiatif membuka kancing kemeja suaminya, tanpa melepaskan pagutan itu, dengan cepat, kemeja Rasya sudah terlempar ke sembarang arah.


Kaki yang saling membelit itu bergerak tak beraturan, mencari sesuatu yang mereka inginkan.


"Pak Rasya...." suara itu terhenti "Maaf pak saya tidak tahu" suara pak Dadang mampu membuat kedua manusia itu menghentikan aktivitas mereka.


Lagi-lagi Mawar merasa mereka seperti tidak tahu tempat, Rasya selalu membuatnya seperti ini.


"Maaf sayang, ternyata masih ada gangguan" mereka tertawa, kenapa selalu saja ada yang melihat mereka dalam keadaan yang kurang tepat.


Kini mereka berkeliling, melihat-lihat rumah mereka, rumah berlantai satu itu sudah terisi lengkap segala perabotan, ada tiga kamar, dengan satu kamar utama, satu kamar tamu, dan satu kamar lagi, dijadikan ruang kerja Rasya, dengan halaman belakang sengaja Rasya buat sebuah kolam renang yang tidak terlalu besar, dan beberapa alat olahraga, antara taman belakang dan dapur cuma dihalangi kaca besar, sehingga jika sedang memasak, Mawar bisa melihat suaminya berolahraga ataupun berenang.


Rasya sengaja membeli rumah satu lantai ini, agar jika nanti Mawar hamil atau sudah memiliki anak, Mawar tidak akan kerepotan harus naik turun.


"Kamu tahu sayang apa yang spesial dari rumah ini" kini mereka berada di pantry, dengan berdiri saling berhadapan, dengan Mawar menyender pada meja pantry.


"Apa"


"Karena jarak dari rumah orang tua aku, sama rumah Papa Marcel sama"


"Maksudnya" tanya Mawar memastikan


"Iya, jarak dari sini kerumah Papa Marcel dan jarak dari sini kerumah Mama aku sama, aku sudah mengukurnya, dan tidak lebih atau kurang"


"Kamu benar-benar mengukurnya dengan alat ukur?" tanya Mawar bodoh


"Kamu pikir aku tidak ada kerjaan, sayang jaman sekarang tinggal buka aplikasi, semua selesai"


"Kenapa harus sama jaraknya"


"Karena aku ingin bersikap adil untuk mereka"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2