Mawar Tak Berduri

Mawar Tak Berduri
Chapter 18


__ADS_3

Rasya terus menunggui Putri yang masih berdoa, gadis itu menggunakan selendang putih untuk menutup kepalanya, sesekali kain itu bergoyang-goyang disaat angin meniup, memberikan hawa sejuk, pada lehernya yang mulai berpeluh. Rambut panjangnya yang menjuntai pun tak luput dari terpaan angin, sehingga mengganggu pandangannya.


Rasya bergeser, menutupi cahaya matahari yang menerpa wajah cantiknya, agar tak terasa kepanasan. Putri mengangkat kepalanya, tersenyum sebagai ucapan terima kasih. Rasyapun membalas dengan tersenyum kecil.


"Hari ini, hari peringatan kematian ayah sama bunda mas... mereka pergi meninggalkan Putri dihari yang sama, kecelakaan travel saat ayah bunda menuju Bandung, Putri juga ada bersama mereka waktu itu, cuma takdir tak berpihak pada Putri, membuat Putri masih hidup, padahal jika boleh memilih, Putri ingin ikut bersama ayah dan bunda."


Hikss


"Ini nggak adil buat aku mas, ayah sama bunda meninggalkan Putri sendiri, disaat Putri sangat membutuhkan mereka..."


Suara gadis itu bergetar, nampaknya ia masih sangat terpukul. Padahal peristiwa itu sudah terjadi sangat lama, tujuh tahun berlalu. Saat Putri dan orang tuanya pulang dari Bandung menuju Jakarta, mereka baru saja menghadiri pesta pernikahan kerabat mereka yang berada di Bandung. Karena kondisi jalanan yang licin, sehabis hujan, travel yang mereka tumpangi mendadak oleng ke kiri, dan menabrak pembatas jalan, sehingga peristiwa naas terjadi, Putri harus kehilangan kedua orang tuanya. Walau bundanya sempat akan dibawa kerumah sakit, namun takdir berkata lain, bundanya menyusul sang ayah.


Beruntung, kedua orang tuanya memiliki saudara yang baik, sehingga Putri mampu menyelesaikan sekolahnya, sampai Putri lulus sekolah Menengah Atas. Sang tante, kerabat dari bundanya sebenernya menawarkan Putri untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, namun Putri tak ingin membebani mereka lagi, ia cukup tahu diri, apalagi tantenya bukanlah dari keluarga berada, namun karena kemurahan hati mereka, mereka ingin Putri melanjutkan pendidikannya.


Rasya merendahkan tubuhnya, dipegangnya bahu Putri, ia bawa tubuh gadis itu kedadanya, ia biarkan wanita itu menangis, membuat kemeja yang dikenakannya basah oleh air mata Putri.


Putri merasakan nyamannya, ditenggelamkan wajahnya pada dada bidang Rasya, menumpahkan segala kepenatan yang selama ini ditanggungnya seorang diri. Baru kali ini ia berani mencurahkan segala isi hatinya, Rasya menjadi orang pertama yang melihatnya selemah ini.


Memalukan sekali kamu Putri....


Namun ia tak pedulikan itu lagi, ia ingin merasakan ini untuk saat ini.


"Jangan sedih lagi, sekarang kamu tak lagi sendiri bukan? aku akan selalu ada untukmu, menemanimu". Rasya mengusap punggung Putri, memberikan ketenangan.


Putri melerai pelukannya mendengar ucapan Rasya. Ia selami mata laki-laki itu, mencari kesungguhan atas ucapannya, Putri tak menemukan kebohongan sama sekali, Rasya tulus mengatakan itu, Putri tersadar jika kemeja yang Rasya kenakan basah.


"Kemeja kamu basah mas".


"Nggak apa-apa, nanti juga kering" Rasya tertawa, "Kamu jelek kalo nangis gini". Dirapikanya rambut Putri dengan jemari kedua tangannya.

__ADS_1


Putri tersipu malu atas perlakuan manis Rasya.


"Kan kalo senyum gini tambah manis". Godanya, sampai Putri memukul lengannya.


"Gombal"


"Sakit tau...." Rasya mengaduh pura-pura kesakitan.


"Eh maaf mas.... beneran sakit ya?". Diusap-usapnya bekas pukulannya tadi.


Perasaan tadi mukulnya nggak kenceng deh.


"Sekarang udah nggak...."


Rasya menatap wajah Putri, membuat Putri menghentikan usapannya, pun menatapnya juga. Mata mereka beradu, Putri merasakan desiran aneh pada dadanya. Rasya yang tersadar segera memutus pandangan mereka terlebih dahulu.


Rasya berdehem membuat Putri tersadar, dan menghilangkan kecanggungan diantara keduanya.


"Kamu sudah selesai? ini udah mulai panas."


Putri mengangguk "Iya mas".


Mereka bergandengan tangan, suasana yang tadi begitu mengharu, kini tergantikan rasa bahagia, bibir Putri tak hentinya melengkungkan senyum, ia tak mengerti keadaan ini, namun perhatian Rasya membuat Putri benar-benar serasa lebih berwarna.


Baru saja mereka meninggalkan makam beberapa langkah, Rasya berhenti, melihat pria paru baya yang juga sedang melihatnya dengan pandangan yang sulit ia artikan. Pria itu membawa bucket bunga ditangannya, cukup besar bucket bunga itu, bunga Mawar yang berwarna warni.


Lama mereka saling memandang, Rasya merasakan begitu gelisahnya, apa yang harus ia jelaskan pada laki-laki itu, ia sungguh tak terbiasa berkilah. Apalagi dalam keadaan seperti ini, dia bersama wanita lain, dengan statusnya yang menjadi tunangan anak dari laki-laki tersebut.


Papa Marcel begitu sakitnya melihat pemandangan ini, tunangan Putrinya bersama wanita lain, laki-laki yang akan menjadi imam putrinya beberapa hari lagi, bergandeng tangan begitu mesranya, iapun menangkap, tak ada benda yang melingkar dijari laki-laki itu. Ia menggeram, menahan amarah yang begitu membuncahnya, namun ia harus tahan, sebagai laki-laki sejati ia tak boleh mengambil keputusan yang gegabah.

__ADS_1


Ia melangkahkan kakinya, melewati begitu saja Rasya yang masih memandangnya, dengan perasaan bersalah.


"Mas kenal dia?" tanya Putri yang merasa jika Rasya dan laki-laki tersebut saling mengenal.


"Ahh... itu... sepertinya ia, tapi mungkin lupa, kami pernah ketemu dimana?" Rasya begitu gugupnya, Papa Marcel yang seolah tak mengenalnya. Namun apakah ini bisa ia jadikan alasan untuk memutuskan pertunangan dan membatalkan pernikahan mereka? Rasya masih belum yakin itu. Rasya juga baru menyadari mereka yang bergandengan tangan, segera dilepaskannya tangan mereka. "Maaf ya aku lancang". Kilahnya.


Putri terpaku, Rasya yang melepaskan tangan mereka, kamu harus sadar Putri, jangan berharap lebih, ingat, jangan sampai kamu terlena. Namun disisi lain Putri sungguh, ia sangat nyaman bersama Rasya.


Ia kembali melihat kebelakang, dimana seorang laki-laki paruh baya tersebut juga sedang menatap mereka.


Papa Marcel tau, ia sering bertemu Putri dimakam ini, namun karena mereka yang tidak saling mengenal pun, tak bertegur sapa, karena menurutnya biasa, bertemu berkali-kali dengan orang yang sama, ditempat yang sama, karena ini memang pemakaman umum. "Mawar apa kamu baik-baik saja? apa kamu tahu tentang ini?". Lagi-lagi ia merasa menjadi Ayah yang bodoh dan tak berguna. "Jika kamu mau, Ayah akan membatalkan pernikahan ini, ini tak baik untukmu, tak apa jika Ayah harus merugi, saatnya Ayah menebus semuanya". Ratapi nasib putrinya.


Papa Marcel berjongkok, meletakkan bucket mawar diatas pusara dihadapannya, dibacanya lagi nama yang tertulis dibatu nisan hitam, bertuliskan huruf berwarna emas, WARDAH , Lahir 26 September 1977. Wafat 25 Agustus 1996. Ditundukkanya kepala, Papa Marcel memejam, bayangan masa lalu, dimana ia begitu tergila-gilanya pada kecantikan gadis polos ini. Ia yang berstatus sebagai suami orang namun kepincut dengan gadis belia yang bekerja dirumahnya, walau gadis ini dari desa, namun kulitnya begitu putih dan mulus, Papa Marcel awalnya bisa mengendalikan dirinya, namun tuntutan istrinya yang mengharuskan sang istri disibukkan sering bekerja keluar kota, membuatnya sebagai laki-laki normal membutuhkan wanita sebagai penyalur kebutuhan hasratnya. Bak pucuk dicinta ulam pun tiba, sang gadis ternyata juga menyambutnya, mereka yang sering ditinggal berdua, membuat keduanya leluasa melakukan hubungan terlarang itu, ditambah cuaca yang memang sedang musim hujan, keduanya larut pada hubungan yang semakin jauh, mereka saling jatuh cinta, hingga sulit untuk mereka berpisah, karena buah hati cinta mereka sudah tumbuh pada rahim gadis itu.


"Aku datang"


"Maaf baru menjengukku lagi"


"Maafkan aku, semua salahku, aku telah menyiksa kalian... ". Papa Marcel tak dapat melanjutkan kata-katanya lagi, semua berat untuknya, lidahnya keluh, badannya pun bergetar, Papa Marcel begitu menyesali kesalahannya.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2