
Diseberang sana, seorang wanita tua sedang memandang jauh didepannya, dulu dia selalu tampil cantik dan nyentrik, kini tampilannya begitu lusuh, berbanding terbalik 180 derajat dengan dia yang dulu. Rambut acak-acakan tak terawat, wajah kusam dan banyak flek hitam, keriput pada wajahnya sangat terlihat, tidak kencang seperti dulu, padahal hidupnya tidak terlalu sulit.
Memiliki suami yang begitu mencintainya, menerima dia apa adanya, memberikan hidup yang cukup layak, tidak kesusahan. Namun dia seperti kehilangan separuh hidupnya, semua yang diberikan suaminya tak membuatnya cukup bahagia, tanpa kehadiran anak sisinya, membuat hidupnya terasa hampa, Seno tak bisa menuruti keinginannya membawa Marvin untuk hidup bersama mereka, Marvin memilih hidup bersama laki-laki yang bukan ayah kandungnya.
Setelah Seno membawanya jauh dari hidup perkotaan, laki-laki itu menikahinya sah secara agama. Walau demikian, Seno tetap memprioritaskan dirinya, menjadikan dia ratu satu-satunya dalam istana mereka. Seharusnya dia bisa hidup bahagia, namun banyak penyesalan yang membuatnya tak bisa menikmati semua yang diberikan, ditambah kini penyakit diabetes yang menggerogoti tubuhnya, membuat badannya kurus, dan kulit yang menghitam serta kering.
Duduk pada bangku bambu panjang, yang terletak dibelakang rumahnya, rumah sederhana yang diberikan Seno, rumah yang tidak terlalu besar, rumah dengan tiga kamar, hanya terdapat ruang tamu dan dapur. Melihat orang-orang yang membersihkan kotoran sapi, terlihat Seno menghampirinya.
"Kamu sudah minum obatnya?"
Seno melepas topi caping yang melindungi kepalanya dari sinar matahari. Duduk disebelah Vivi, mengipaskan topi tersebut pada wajahnya agar dapat memberikan sedikit kesejukan.
Vivi tak menjawab, dia tetap nyaman pada dunianya, entah apa yang selalu dipikirkan wanita ini, setiap diajak bercerita dia tak pernah menjawab, Seno menghembuskan nafasnya, dia harus lebih bersabar lagi, dengan sendirinya, dia yakin Vivi akan melunak, dan mau berdamai dengan keadaan. Dan mereka nanti bisa bertemu dengan Marvin.
Seno beranjak dari duduknya, masuk kedalam lewat pintu belakang rumah mereka, tak lama ia kembali lagi membawa piring yang sudah ia isi dengan nasi dan lengkap dengan sayur dan lauknya.
"Kita makan dulu" dia mengaduk nasi, dan menyendokkan untuk Vivi
Aaaaaa
Pinta Seno agar Vivi mau membuka mulutnya, beruntung sekarang Vivi sudah sedikit mau menurut, wanita itu mengunyah makanannya. Seno tersenyum, setidaknya, dia tak lagi harus banyak melakukan atraksi agar Vivi mau makan. Seperti yang ia lakukan dulu, diawal dia mengajak Vivi tinggal bersama, Vivi tak pernah berbicara padanya, makan pun harus dipaksa, terkadang Vivi tidak makan sama sekali. Cinta yang tulus membuat Seno banyak bersabar, ia lakukan ini juga demi bisa bertemu Marvin, dan mengatakan jika dia ayah kandung Marvin.
Diam-diam Seno juga selalu berkomunikasi dengan Mawar, dia meminta Mawar untuk membujuk Marvin dan meminta bantuan pada Mawar agar bisa bertemu dengan Marvin.
Terlihat seperti tidak tahu malu memang, dia yang dulu meminta Mawar agar tidak menuntut Vivi, sekarang dia juga meminta bantuan pada Mawar untuk bisa bertemu dengan Marvin, dan selalu menanyakan tentang Marvin pada Mawar.
__ADS_1
Tangis pilu Seno setiap malam, melihat potret Marvin yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.
Seno berdehem, dia akan memberi tahu Vivi, tentang Mawar dan Marvin, berharap ceritanya akan membuat Vivi cepat pulih dari pikirannya.
"Aku terkadang tidak tahu, apa yang bisa membuat mu senang kembali, tapi aku harap kabar yang aku bawa ini, membawa angin segar untuk hidup kita"
Seno menyuapkan kembali nasi pada Vivi, lalu menyuapkan untuk dirinya sendiri.
"Aku selalu berkomunikasi dengan Mawar"
Degh
Mendengar itu membuat Vivi langsung cepat berdiri dari duduknya, ia menatap Seno tajam, darahnya seakan berhenti, mendengar nama Mawar disebut, ada rasa takut dan penyesalan menjadi satu dalam dirinya.
"Mawar sekarang hamil, usia kandungannya sudah memasuki usia tujuh bulan, dia hidup bahagia bersama Rasya, kamu tahu, membebaskan kamu, adalah penderitaan untuk Mawar, dia dijauhi semua keluarganya, termasuk suaminya, dia mengorbankan dirinya demi kamu, dia benar-benar menganggap kamu seperti ibunya sendiri, dia melindungi mu, bahkan Marvin pun mendukung jika Mawar melaporkan kamu pada yang berwajib, tapi semua sudah berlalu, Mawar kini sudah bahagia"
Seno kembali mengulas senyum, dia begitu kagum pada sosok Mawar, entah kata apa lagi yang bisa ia ungkapkan untuk Mawar, dimana didunia ini dia bisa menemukan lagi, sosok baik itu
"Aku bangga punya anak seperti Mawar, kamu tahu juga sayang, Marvin juga sebentar lagi akan menjadi seorang ayah, istrinya sedang mengandung juga, usianya sama seperti Mawar, mungkin mereka akan melahirkan bersamaan" lanjut Seno, dia bercerita apa adanya, berharap akan membuahkan hasil
"Mawar memberikan semua informasi tentang Marvin padaku, dia hidup bahagia bersama istrinya dan juga Marcel, semoga kamu cepat sembuh, Mawar berjanji akan menemui kita, dan membawa Marvin serta cucu-cucu kita"
Tak terasa air mata mengalir dipipi Vivi, mendengar semua cerita Seno membuatnya ingin meminta maaf pada Mawar, hatinya selalu resa jika mengingat semua kesalahannya pada Mawar. Bukan Marvin yang membuatnya menangis, tapi Mawar lah yang selalu menggetarkan hatinya.
Seno menghapus air mata itu, ia yakin, Vivi sudah mulai tersentuh.
__ADS_1
"Bukalah hati mu, agar kita bisa bertemu mereka, melihat cucu kita"
"Bisakah kamu memberi semua sapi ternakmu untuk Mawar?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Vivi, itulah yang saat ini yang ada dipikirannya.
Sedang Seno merasa bahagia, ceritanya membuat Vivi mau berbicara padanya, walau permintaan itu terasa berat, namun dia akan mengabulkannya, sapi yang ia rawat dengan kesungguhan hati demi masa depan Marvin, tapi Vivi meminta memberikan pada Mawar, dia yakin Vivi tidak main-main dengan ucapannya, walau kata-kata itu yang pertama kali dia ungkapkan, tapi mungkin itulah yang bisa menebus semua kesalahannya pada Mawar walau tetap tak bisa sebanding.
"Berikan semua jika kamu mau? aku ikhlas asal kamu ada semangat untuk bangkit dan meminta maaf pada Mawar dan juga Marvin"
Tak menimbang lagi, Vivi berdiri, dia berjalan cepat menuju kandang sapi, dia mengambil cangkul, lalu membersihkan kotoran sapi pada kandangnya, membuang kotoran itu pada perasapan api yang dibuat Seno.
Melihat itu Seno sedikit khawatir, Vivi dikuasai oleh pikiran yang bisa membuatnya seperti orang yang kehilangan dirinya. Namun ia tak dapat berbuat banyak, sabarlah yang harus menemani ia kembali, seperti dulu, menunggu cinta Vivi meninggalkan Marcel.
.
.
.
.
.
Maaf belum bisa balas komenya satu-satu, nanti jika waktu sudah lengang, akan aku balas,, love you all ❤️😘😍
__ADS_1