
"Kami dijodohkan..." Mawar menjeda kalimatnya. Dilihatnya raut wajah Rasya yang menegang.
Mawar menarik nafas dalam sebelum melanjutkan kata-katanya "Calon suami ku sebenarnya laki-laki baik, kami cuma belum saling kenal, tapi kalau dia bukan yang terbaik untukku, aku minta agar ia dijauhkan dari hidup aku, jika nanti dia kabur dari pernikahan kami, aku nggak masalah, mungkin keluarga hanya akan menanggung malu" Mawar terkekeh, ia seperti wanita tidak waras, diam saja dan mendukung kebohongan calon suaminya, secara terang-terangan.
Kata-kata Mawar tepat mengenai sasaran, Rasya seolah tertampar.
Tapi, kebenciannya pada Mawar yang tak beralasan, seolah menutup hatinya.
"Mbak Mawar itu orang yang baik, Putri yakin mba suatu saat mba Mawar diberi jodoh dan laki-laki yang baik untuk mba Mawar."
"Aamiin.. semoga kamu juga ya, semoga kamu mendapatkan laki-laki yang benar-benar mencintai kamu,"
"Aamiin" jawab Putri dan Mawar serempak, mereka berdua tertawa.
Rasya melirik Mawar melalui kaca spion tengah, ia baru menyadari bahwa Mawar memiliki lesung pipi, yang membuatnya terlihat sangat cantik, eh tunggu, itu berkat Putri, Mawar adalah wanita kaku menurutnya, ini semua karena Putri yang membawa aura positif untuk Mawar.
Lagi-lagi Rasya mengingkari kenyataan.
"Terus kenapa nggak kamu aja yang kabur, menikah bukanlah hal yang bisa dipermainkan bukan?, kalau emang dia nggak suka, nggak usah dipaksain, kamu itu sama saja menyisa diri kamu sendiri, dan calon suami kamu, kamu jangan mementingkan egomu sendiri." Ucap Rasya, ia seolah memberi tahu Mawar, agar kabur dari pernikahan mereka, dan Mawar yang menjadi pelaku utama penyebab semua kekacauan.
Mawar yang tahu arah pembicaraan Rasya memilih diam, mendengarkan Putri yang terus berceloteh hingga membuat Rasya tertawa lepas. Dan ia menjadi obat nyamuk untuk mereka. Sungguh ironi .
* * *
Mawar mendudukkan dirinya di sofa yang ada dibutik itu, ia mendial nomor David, meminta agar bisa menjemputnya di butik. Ia keluar menuju mobil Rasya, mengetuk kaca mobil.
"Kalian duluan saja ya, aku sudah dijemput calon suamiku."
Degh
Calon suami?
Rasya tersenyum mengejek, apa dia mau berusaha meluluhkan hatinya? Nggak mungkin, Rasya tak akan bersimpati pada Mawar. Ia menerka pasti David yang akan menjemputnya.
"Baguslah, kalau calon suami kamu sudah dapat hidayah" Rasya menarik sudut bibirnya mengejek, mendukung keputusan Mawar.
Mawar diam, melihat mobil Rasya yang menjauh hingga tak terlihat, meninggalkan dia yang terpakur seorang diri.
* * *
Dari kejauhan, Marvin, adik Mawar, ia yang melihat kedatangan Rasya dari balkon kamarnya, mengikuti mereka sampai kebutik, duduk di minimarket diseberang butik itu, ia curiga atas sikap Rasya, saat menjemput kakaknya, Rasya tak singgah dulu untuk menyapa keluarganya, beginikah seharusnya, sikap seorang calon suami terhadap keluarga istrinya?. Apalagi dia melihat ada perempuan lain yang berada didalam mobil calon kakak iparnya itu, Mawar yang duduk dibangku penumpang belakang, menambah kecurigaannya selama ini, bahwa kakaknya tidak bahagia atas perjodohan yang orang tuanya terima.
Marvin terus mengikuti arah mobil David dan Mawar, ia ingin tahu, kemana selama ini kakaknya itu menghabiskan waktunya, tak diizinkan sekolah disekolah formal, setelah lulus kuliahpun ia tak diizinkan bekerja, padahal perusahaan keluarganya sedang mengembangkan banyak cabang, atas kerja sama bersama perusahaan keluarga Rasya.
Ia sengaja mengulur waktu tak ingin mengambil alih pimpinan, karena ia merasa kakaknya lah yang seharusnya terlebih dulu diperkenalkan sebagai pengganti ayahnya, walau kakaknya perempuan, tetap saja , Mawar punya wewenang atas pengurusan perusahaan keluarganya.
Marvin selama ini cukup berdiam diri, mengikuti semua yang mamanya inginkan, menanamkan rasa percaya sang mama terhadapnya, agar sang mama mau terbuka atas ketidak adilan perlakuan atas dirinya kepada sang kakak, namun nihil, pancingannya kepada mamanya tak membuahkan hasil.
__ADS_1
Bertahun-tahun ia menyanjung mama, membelikan hadiah mahal, ikut mengucilkan sang kakak, berpura-pura tak peduli terhadap kakaknya, tetap saja mamanya tak termakan atas rayuannya mengorek tentang jati diri Mawar sebenarnya, mulut mamanya seakan terkunci rapat, yang ia tak memiliki passwordnya untuk membukanya.
Berhenti disebuah taman ditengah-tengah kota, taman yang dijadikan para anak muda untuk nongkrong, mengembangkan bakat mereka, taman yang sering dijadikan tempat konser musik, disinilah kakaknya menghabiskan waktu.
Bukan mall, bukan tempat hiburan malam, kakaknya hanya menghabiskan waktunya di taman, membeli makanan pedagang kaki lima, lalu ia bagikan kepada para pengunjung lainnya.
David menyadari, jika mereka sedang diikuti, Marvin yang mengikuti mereka, David membiarkan itu, ia ingin tahu, apa yang akan Marvin lakukan, apakah akan membuat Mawar dalam masalah besar, atau hanya ingin tau, apa yang Mawar lakukan.?
Melihat kakaknya berbicara dengan seorang laki-laki, tertawa sangat lepas kakaknya bersama laki-laki itu, ia menyadari, kakaknya hanya menghabiskan hari, untuk menghibur diri, kakaknya kesepian. Benar-benar membosankan hidup kakaknya.
Marvin merasa menjadi sosok adik yang sangat bodoh, membiarkan kakaknya hidup berteman dengan sepi. Tersempil pertanyaan dihatinya, apa yang membuat kakaknya begitu patuh terhadap aturan mamanya?. Apa sama dengannya, hanya ingin membangun kepercayaan mama terhadap dirinya?.
Marvin tak pernah tahu, jika kakaknya pernah membangun bisnis sendiri, tapi hal itu cepat diketahui sang mama, atas laporan pengawalnya.
Bukan fisik, mamanya menyiksa hidup kakaknya dengan membiarkan Mawar hidup dalam kesendirian.
Ia lajukan kendaraannya, menuju kantor sang mama.
"Maaf mas Marvin, ibu sedang tidak bisa diganggu." Halau sekretaris pribadi mamanya yang memang mengenal Marvin.
"Ada siapa didalam?." tanyanya sengit
"Ibu sedang bertemu klien penting"
"Oke, aku tunggu disini." mendudukkan dirinya didepan meja sekretaris mamanya.
"Apa yang kamu lakukan Vin?" nyalang mama Vivi atas kelancangan putranya yang masuk tanpa mengetuk pintu.
"Marvin rindu ma, kita ketemu kalo sarapan doank,"
"Maaf pak" basa basinya menyapa klien mama Vivi seraya menundukkan kepala. Lalu ia mengamati wajah laki-laki itu, seperti.. tak asing, pikirnya.
"Nggak masalah, lagi pula kami sudah selesai, iya kan bu?" Jawabnya, karena memang mereka baru selesai, mengerjakan tugas yang membuat mereka berkeringat, membakar kalori melintasi lembah kenikmatan.
Mama Vivi sangat gugup, ia bersyukur Marvin datang, disaat mereka telah menyelesaikan pekerjaan mereka. Pekerjaan yang sesungguhnya versi mama Vivi.
Laki-laki itu berpamitan, meninggalkan Marvin dan mama Vivi.
"Tumben kamu kekantor"
"Marvin rindu ma" ujarnya seraya mencium tangan mamanya.
"Jangan rayu mama ya, tadi pagi kamu sudah mama kasih jatah bulanan" tebak mama maksud tujuan anaknya.
"Kan tadi Marvin udah bilang, kangen, ih mama pikirannya negatif Mulu, pulang yuk mah, udah waktunya pulang kan?"
Mama Vivi menempelkan telapak tangannya di kening Marvin "Masih normal kok?." menggeserkan tangannya kekanan kiri
__ADS_1
"Normal lah mah, kan Marvin sehat, Marvin ajak mama ke tempat makan paling enak."
Digandengnya tangan sang mama, agar mengikuti kemauannya.
* * *
Mawar celingukan, matanya terus menatap ke pintu masuk, berharap orang yang mengajaknya bertemu segera datang.
"Oke.. tiga puluh menit lagi, waktu yang cukup buat aku nunggu." padahal sudah lebih dari setengah jam dia menunggu, Rasya tiba-tiba saja mengajaknya bertemu.
Diluar, Rasya sudah datang dari tadi, ia tak lantas turun, sengaja ingin mengerjai Mawar, sejauh mana wanita itu sanggup menunggunya, tapi Rasya tak menyadari kecerobohanya, persembunyiannya sudah diketahui David, akibat tak pernah memperhatikan Mawar, ia bahkan tidak mengenali mobil yang terparkir disebelahnya.
Rasya hanya memantau Mawar dari jauh, gadis itu masih setia menunggu.
David, mengirim pesan pada Mawar
"Non, pak Rasya sudah tiba dari tadi, apa non mau menunggu, atau mau kita tinggalkan saja? beliau ada di parkiran"
Tak lama David mengirim foto mobil Rasya.
Mawar yang polos,langsung mengirim foto itu pada Rasya, tak ada niatannya untuk mengerjai Rasya kembali.
Saat menerima pesan dari Mawar, Rasya membelalakkan matanya, iya yang tadinya menyenderkan kepalanya di bangku mobil, sontak mengangkat tubuhnya, melihat kesana kemari. Ia menghembuskan nafas, saat David membuka kaca mobilnya, dan melambaikan tangan padanya.
"Akhh" merasa malu sendiri, ia memukul setir mobil.
"Jadi niat kamu ngajakin aku ketemu? cuma buat ngerjain aku doank" Mawar tersenyum miris "Sya aku cukup berdiam diri, dengan perlakuan kamu selama ini, aku ikuti semua sandiwara kamu."
Mawar berdiri meninggalkan Rasya, kecewa dengan sikap Rasya padanya.
Mawar yang lemah, tak bisa menangis, entah mengapa sulit sekali ia meluapkan semua kekesalannya.
Saat tangannya sudah menyentuh handle mobil, Rasya datang, menahan pintu yang akan dia buka
"Aku menyukai Putri, aku mencintainya." Ucap Rasya, berharap Mawar mengerti kondisi dirinya saat ini.
.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1