
Rasya kini begitu memanjakan Mawar, walaupun terbilang Mawar hamil tidak mengalami perubahan sikap, dan tidak mengalami morning sickness, tetap saja membuat Rasya begitu protektif, Mawar dilarang kemana-mana jika tanpa dia, semua makanan yang dibuat oleh teh Sumi, harus menanyakan terlebih dahulu padanya.
Hingga usia kandungan Mawar sudah memasuki usia tujuh bulan, perut wanita itu sudah sangat menonjol, namun badannya tetap tak mengalami perubahan. Rasya sangat bingung, padahal porsi makan istrinya dua kali lipat dari biasanya.
Mereka baru saja selesai mengarungi puncak nirwana.
"Syaaa, aku lapar, pengen gado-gado yang didepan komplek"
Rasya melihat jam pada ponselnya, waktu menunjukkan pukul satu malam, ia terkekeh, istrinya benar-benar tak tahu waktu,
"Sayang, bukanya tadi kamu sudah makan nasi goreng sama pempek juga ya"
"Masih laper lagi" Mawar mendusel-dusel diketek sang suami
"Kalo kamu mintaknya jam segini, aku jadi iseng, yang jual nanti bukan mbok yang biasanya, tapi mbok tak kasat mata"
Mawar memajukan bibirnya,
"Tapi aku pengen sekarang"
"Mana bisa sayang, tidur yuk, besok siang baru kita beli disana"
"Aku nggak bisa tidur, masih laper"
"Aku bikinin makanan aja, sup ayam mau, segerloh malam-malam begini, bagus juga buat bayi kita"
"Mau"
"Pinter" Rasya mengacak rambut istrinya, keduanya beranjak menuju dapur.
...****...
Siang hari dirumah Marcel, Putri sedang bersiap hendak pergi kerumah sakit untuk memeriksakan kehamilannya. Putri dan Marvin janjian akan bertemu dirumah sakit.
__ADS_1
Kini Marvin disibukkan bekerja di perusahaan Marcel, walau dia tidak menjabat tinggi disana, tapi Marvin senang menjalaninya.Tak banyak yang heran, mengapa Marvin mau menjabat sebagai pegawai biasa, namun itu tidak berlaku lama, seiring berjalannya waktu, mereka redam dengan sendirinya. Dan tak ada yang tahu juga jika Marvin bukan merupakan anak dari pemilik Pradipta contraktion.
Walau gosip tentang keretakan keluarga Marcel sudah tersebar di kantor, namun tentang jati diri Mawar dan Marvin, Marcel benar-benar menutup itu. Dia tak ingin kesalahan yang pernah dibuatnya dulu, dapat merusak nama anak-anaknya lagi.
"Vin aku sudah sampai dirumah sakit, kamu dimana?" tanya Putri pada Marvin lewat sambungan teleponnya.
"Iya, aku sudah diparkiran, kamu tunggu diruang tunggu saja, nanti aku menyusul" Marvin langsung memutuskan panggilannya sepihak.
Putri mendesah pasrah, tujuh bulan pernikahan mereka, namun Marvin masih saja dingin, dan hubungan mereka belum ada kemajuan. Putri saat ini memilih tidak melanjutkan kuliahnya terlebih dahulu, sebab dia langsung hamil paska peristiwa yang menimpa nasibnya. Kegiatan sehari-harinya hanya mengurusi rumah, dan terkadang menemani Marcel dirumah, dan mengantar Marcel kerumah Mawar.
Dari jauh dia melihat Marvin datang, gaya tampannya menyita ibu-ibu yang sedang mengantri untuk pemeriksaan. Kemeja hitam yang digulung sesiku, kaca hitam bertengger dihidung mancungnya, Putri mencebikkan bibirnya, coba saja para ibu-ibu tahu sifat aslinya, pasti mereka tidak akan memandang kagum pada pria ini. Walau dia akui ketampanan Marvin, ah jika mengingat pria tampan, Putri pasti teringat pada Rasya, laki-laki yang sampai saat ini masih memiliki ruang tersendiri dihatinya.
Jika saja Rasya yang menjadi suaminya, pasti dia akan diperlakukan hangat seperti yang suka dilihatnya, dari cara Rasya memperlakukan Mawar. Mawar sangat disayangi dan dimanjakan Rasya selama kehamilannya. Apapun yang diinginkan Mawar pasti akan dituruti oleh Rasya.
Putri sadar jika selama ini yang ada dipikirannya salah, tapi dia juga tak dapat membohongi dirinya sendiri.
Marvin juga suka membawakan makanan yang diinginkannya, namun itu terasa berbeda, tak ada kemesraan, Marvin tak ada inisiatif untuk mengajaknya makan diluar, atau menawarkan mengajak jalan-jalan, padahal Putri sangat ingin Marvin melakukan itu padanya. Putri sering melayangkan protes terhadap Marvin, jika dia seperti ini akibat ulahnya, tapi laki-laki itu berkilah, jika dia butuh waktu.
"Sudah lama?" tanya Marvin, dia mendudukkan pantatnya pada kursi panjang besi yang berada disebelah pintu dokter.
"Sudah makan?"
"Sudah" jawab Putri singkat,
Tak ada obrolan apapun lagi, Marvin kembali sibuk dengan ponselnya.
Hanya seperti itu obrolan mereka, pertanyaan berbasa-basi yang mereka lakukan setiap hari selama pernikahan mereka.
Tak lama nama Putri pun dipanggil, keduanya masuk, untuk mengetahui perkembangan janin mereka.
Putri membaringkan tubuhnya diatas brankar, sedang Marvin berdiri disampingnya, bak seperti suami siaga lainnya. Seorang dokter wanita meletakkan cairan Ultrasound gel diatas perut Putri. Menempelkan alat USG pada tersebut.
Mereka melihat kearah layar yang memperlihatkan calon bayi mereka, terlihat pada layar, gambaran bayi itu walau tidak terlalu jelas, membuat degup jantung Marvin berdenyut, hatinya tersentuh, darahnya berdesir hebat. Membuat mata Marvin berkaca-kaca. Refleks tangannya menggenggam tangan Putri. Membuat Putri terlonjak kaget. Membuat ia tak fokus pada dokter yang menjelaskan tentang perkembangan bayi mereka.
__ADS_1
Setelah melakukan pemeriksaan, Marvin dengan hati-hati menuntun Putri menuju meja dokter, Sang dokter menjelaskan banyak tentang perkembangan bayi mereka.
"Alhamdulillah, pertumbuhan bayinya bagus, letaknya juga sudah sesuai dengan umurnya, berat bayinya juga sudah cukup"
Marvin dan Putri mendengarkan dengan seksama semua yang dijelaskan dokter
"Jangan lupa, sering dipancing ya Pak untuk pucuk ASI-nya, agar nanti bayinnya tidak kesusahan dan ASI-nya cepat keluar, dan sering-sering dijenguk ya pak mendekati kelahirannya" ujar dokter itu.
Marvin dan Putri hanya saling pandang, bukan tidak mengerti penjelasan dokter, mereka sangat mengerti dan paham. Namun itu yang menjadi masalah mereka, selama ini, mereka tidak pernah melakukannya.
Setelah mereka keluar dari ruang dokter Obgyn, keduanya disergap kebisuan, mereka masih teringat tentang ucapan dokter tadi, mereka berperang pada pikiran masing-masing.
Sampai masuk kemobil pun kedua insan ini masih tetap dalam kebisuan. Diperjalanan tiba-tiba Marvin membelokkan mobilnya pada sebuah restoran ala Eropa ternama membuat Putri mengernyit heran
"Kita mau kemana Vin?" tanyanya, ia memiringkan tubuhnya untuk melihat wajah Marvin.
"Kita makan dulu disini, ini tempat makan favorit mama dulu, habis ini kita belanja perlengkapan bayi" Marvin tersenyum, ia rasa sudah waktunya ia membuka hati untuk Putri, setelah melihat calon bayi mereka, ia kasihan pada Putri.
Dan wanita satu-satunya yang ia ajak untuk makan ditempat makan favorit sang mama. Marvin tiba-tiba saja ingat mamanya, wanita yang pernah mengandung dan melahirkannya
Putri seperti mendapat siraman air ditengah gurun pasir, mendengar ucapan Marvin, walau Marvin masih belum seromantis seperti laki-laki lain, yang menanyakan dulu apa dan mau dimana mereka makan, namun sedikit sikap perubahan Marvin membuat hati Putri berdesir.
Lagi-lagi Marvin memperlakukan Putri berbeda, Marvin menggandeng tangan Putri memasuki restoran tersebut, membuat Putri tak dapat berbuat apa-apa. Ia biarkan Marvin membawa tangannya.
.
.
.
.
*Slow update ya, lagi pulkam.
__ADS_1
Kira-kira nanti kalo aku mau lanjut bikin cerita Abdi pada suka nggak ya, setelah cerita Mawar tamat. Komenya donk yang mau cerita Abdi*