
Dikamar pengantin baru.
Kamar ini tidak berhiaskan taburan kelopak bunga mawar diatas tempat tidurnya, tidak ada lilin-lilin kecil yang menyala sebagai pengganti penerangan. Tidak ada sprei khusus untuk menutupi tempat tidur itu, bahkan tidak ada hal sedikit pun berbau romantis sebagai pengantin baru.
Kamar ini nampak biasa saja, tetap terlihat seperti perpustakaan mini, jika orang pertama kali masuk kedalamnya. Hanya saja sepreinya baru diganti akibat pergulatan panas mereka. Namun hal itu tidak mengurangi sedikitpun keromantisan kedua pasangan yang baru hitungan jam menyandang status sebagai suami istri.
Rasya baru saja meletakkan ponselnya pada nakas, dia baru menyelesaikan pekerjaannya yang ditinggalkan, demi meminang wanita yang telah memporak-porandakan hatinya.
Entah sejak kapan wanita itu menetap dihatinya, menguasai seluruh hati, pikiran bahkan sampai ke seluruh urat-urat yang ada didalam dirinya. Terkesan berlebihan memang, tapi itu kenyataannya, baru saja dia meninggalkan wanita itu hanya untuk melihat pekerjaannya, tidak lebih dari 30 menit, tapi rasanya seperti habis meninggalkan berhari-hari.
Laki-laki itu langsung merebahkan kepalanya pada paha sang istri yang sedang membaca buku, istrinya sedang berselonjor, menyandar pada kepala ranjang. Tangan sang istri langsung mengusap rambutnya lembut, dengan senyum yang membuat hati adem, seperti kutub Utara, nyess.
"Kamu baca sih sayang?" tanyanya, ia memiringkan kepalanya, menciumi perut sang istri, dengan tangan yang tak bisa diam.
"Novel" jawab istrinya singkat.
Kepala itu sontak melihat cover buku yang bergambar bunga mawar, ia merebutnya dari tangan sang istri, "Nanti aja bacanya, aku mau ngobrol, boleh?" pintanya memelas,
Novel itu, yang dia tahu isinya hanya kehaluan sang penulis, yang membuat pembaca banyak menghayalkan hal-hal aneh, pria yang begini, begitu, ahh membuat para wanita banyak menuntut ingin memiliki pria seperti yang ada dicerita novel.
"Apa?"
"Terima kasih, sudah menerima aku, terima kasih, sudah memberi aku kesempatan, menjadi tempat singgah di pelabuhan terakhir aku"
"Aku juga terima kasih, kamu mau menerima segala kekurangan aku"
Rasya menggeleng, membuat Mawar merasa geli dipahanya, "Kamu nggak ada kekurangan sama sekali, aku ingin suatu saat nanti, jika kita punya anak, semua sifat dan rupa semua dari kamu"
Mawar mengernyitkan keningnya, menarik senyum simpul "Kenapa?"
"Kamu baik, sabar, penyayang, pemaaf, cantik"
Mawar tertawa mendengar pujian yang berlebihan dari suaminya itu. "Baru sadar?" godanya "Bukanya aku paku kuntil anak, kaku,"
"Sayang, sudah, jangan diingat lagi, itu sudah berlalu"
Mawar masih terus saja tertawa, membuat Rasya bangun dari tidurnya, langsung membungkam mulut sang istri, lama ia menyesap, menggigit bahkan menghisapi bibir yang tak berhenti mengejeknya.
"Jangan diungkit lagi, aku minta maaf" Mawar tersenyum mendapati Rasya yang begitu tulus mengatakannya.
"Iya" ujarnya seraya membelai rahang tegas suaminya.
Rasya memejam, meresapi tangan halus yang terus membelainya. Dia genggam tangan sang istri, "Kenapa kamu mau menerima aku? padahal selama ini aku kurang baik padamu?"
"Harus aku jawab?"
"Iya, aku mau tahu"
Mawar menarik nafasnya panjang "Karena menikah dengan laki-laki yang mau menghubungimu kembali setelah bertengkar, menyelesaikan masalah dan mengingatkan padamu, bahwa betapa pun sulit keadaan, dia tidak akan meninggalkanmu, kamu laki-laki bertanggung jawab untukku"
"Kamu terlalu banyak membaca buku sayang"
__ADS_1
Rasya kembali menyatukan bibirnya, ia tak pernah bisa tahan jika melihat bibir milik istrinya, seperti magnet yang terus menyedot perhatiannya.
"Kita kehotel yuk, aku nggak enak kalau disini" pinta Rasya, dia merasa tak bebas jika harus berlama-lama dirumah mertuanya, apalagi dia yang masih belum meminta maaf pada papa Marcel atas ketidak kurang ajarannya dulu.
"Aku maunya kerumah Mama, aku mau tahu kamar kamu" Rasya melihat jam yang melingkar ditangannya.
"Baiklah, setelah dikamar mu, sekarang dikamar ku juga"
"Apa sih, nggak gitu juga" Mawar melempar Rasya menggunakan bantal
"Cieee yang udah ngerasain setruman belut, mau lagi ya?" godanya pada sang istri
Mawar tak mengindahkan itu, ia berlalu, meninggalkan Rasya, berpamitan pada papanya.
...****...
Jam 10 malam mereka baru tiba dirumah keluarga Rasya, rumah itu nampak sepi, bahkan sudah gelap, karena sebagian dari mereka sudah terlelap dialam mimpinya.
"Kita langsung kekamar aku aja, mama sama papa pasti sudah tidur, martabak telornya kasih ke security aja" Rasya mengambil plastik yang ada ditangan istrinya, lalu memberikan pada para penjaga rumahnya.
Baru saja Mawar satu langkah memasuki kamar Rasya, kamar yang luas, didominasi dengan warna monokrom, Rasya langsung merengkuh pinggang sang istri, merapatkan tubuh itu pada balik pintu, tak memberi kesempatan dan aba-aba lagi, bibirnya membungkam bibir mungil dan tipis itu, menanggalkan kaos yang dipakai istrinya, tangannya juga meremati dada sang istri, sesekali ia menghisap puncak dada itu, dan memainkan lidahnya.
Dengan sekali tarikan, pembungkus bawah sang istri pun tak luput dari tangan Rasya yang mulai terampil, memainkan jemarinya, hingga membuat Mawar melenguh.
Rasya langsung menggendong tubuh Mawar, tanpa melepaskan bibirnya, direbahkanya tubuh itu dengan penuh kehati-hatian, memberikan percikan-percikan yang dapat membuat Mawar menggila, berteriak menyebut namanya, meminta hal lebih, walau masih sedikit kesusahan, ia kembali dapat memasuki inti tubuh istrinya.
Hentakan-hentakan terus ia lakukan, sampai setruman listrik itu membuat keduanya merasakan ledakan yang luar biasa. Malam ini, mereka kembali berkeringat, dengan cinta yang begitu besar, namun tempat yang berbeda.
"Terima kasih sayang, i love you" bisiknya pada telinga Mawar.
Jam 4 subuh Mawar sudah terbangun, ia sengaja memasang alarm sedini mungkin, sesuai pesan papanya, ia tidak boleh bangun kesiangan jika dirumah mertua, meskipun mertua itu baik. Tetap adat kesopanan harus dijaga. Mawar sedih mengingat wajah papanya yang sendu saat ia berpamitan semalam. Papanya pasti kesepian saat ini, dirumah besar itu, seorang diri.
Mawar langsung berkutat didapur, setelah membersihkan dirinya, sebenarnya dia bingung mau membuat apa, karena belum tahu kebiasaan dirumah ini, namun dia berinisiatif, membuat nasi goreng, dengan telur dadar, tak lupa juga dia membuat acarnya.
"Duh non, non istrinya den Rasya ya?, duh kok non didapur sih?, nanti saya dimarahin sama nyonya besar"
Wanita lanjut usia itu tergopoh-gopoh menghampiri Mawar.
"Nggak papa Bu, saya mau siapkan sarapan untuk keluarga suami saya, Ibu bantu saya aja gimana, soalnya saya belum tahu selera keluarga ini"
Mata wanita ini berkaca-kaca.
"Ya Ampun jarang sekali, wanita seperti non mau berkutat didapur, Bapak sama ibu itu sarapannya apa saja, yang penting enak" dia melihat bahan yang sudah disediakan Mawar.
"Non mau bikin nasi goreng?" tanyanya lagi, Mawar mengangguk.
"Pas sekali, saya juga rencananya mau buatin nasi goreng, sudah lama saya tidak buatkan nasi goreng untuk bapak sama ibu" wanita berbeda generasi itu membuat makanan bersama, sesekali mereka terlibat obrolan yang membuat mereka tertawa.
Mawar membangunkan Rasya, agar bisa sarapan bersama keluarganya. Setelah Rasya siap, keduanya turun dengan tangan Rasya yang tak lepas dari pinggang Mawar, membuat Mawar risi, dilihat oleh mertuanya.
Mawar menangkap sosok laki-laki yang selama ini selalu mengantarnya kemana saja, dia duduk disebelah mama Rika, mereka terlihat akrab dan dekat seperti keluarga.
__ADS_1
"Kok pak David ada disini?" tanya Mawar heran.
Semuanya saling berpandangan, dan akhirnya ma Rika berdiri, "Duduk dulu sayang, nanti mama jelaskan"
Mama Rika duduk kembali, "Semalam kalian sampai jam berapa?"
"Jam 10an Ma" jawab Rasya, dia tahu, isterinya masih bingung dengan keberadaan David.
"Maaf semalam Mama sama Papa tidak menyambut kalian"
"Tidak apa-apa Ma" jawab Mawar, dia masih menatap David.
Setelah makan, mama Rika menceritakan kepada Mawar siapa David sebenarnya
"Kita tinggal menunggu pengakuan dari papa Marcel, untuk mengungkapkan yang sebenarnya" ujar mama Rika
"David adalah orang suruhan Mama untuk mengetahui keberadaan kamu Mawar, mama merasa bersalah atas hilangnya adik dari pengasuh Rasya dulu, sekarang David bekerja di perusahaan Papa, jabatannya juga cukup tinggi, karena David juga lulusan luar negeri"
Mama Rika juga menjelaskan kematian dari ibunya David, semua atas ketidak sengajaan Rasya, dan membuat Rasya takut jika melihat darah sampai saat ini.
"Jadi bi Nur yang suka kamu mimpikan itu, ibunya David Sya?" tanya Mawar, dia ingat Rasya pernah mengigau, menyebut nama itu.
Rasya mengangguk, membenarkan ucapan istrinya.
Mawar berdiri, menghampiri David, ia memeluk laki-laki itu panuh haru. Ternyata dia memiliki saudara lain, yang baru diketahuinya.
"Terima kasih sudah kuat, kamu masih hidup, untuk menjadi satu-satunya harta yang aku punya saat ini" ucap David begitu dalam, ia memeluk erat adiknya ini.
Mereka berdua mengharu, kenyataan ini membawa mereka bersama, takdir yang begitu indah, mempersatukan mereka, melalui keluarga mama Rika yang panuh kasih sayang.
"Udah selesaikan, sudah tau juga jika ini adik kamu, makanya jangan kelamaan jomblo, jadi jangan peluk istri orang lagi" Rasya melepaskan pelukan mereka begitu saja.
Melihat itu, semua yang ada disana hanya geleng kepala atas sikap posesif Rasya.
Setelah semua pergi, Rasya langsung mengangkat Mawar keatas meja makan, menarik kemeja sang istri, kembali membungkam bibir itu, tangannya hendak membuka pengait pembungkus dada istrinya.
"Astaga, mata Mama belum cukup umur melihat acara live seperti ini"
Keduanya terkejut, Rasya langsung memeluk tubuh Mawar agar tak terlihat, sedang Mawar menahan malu yang tiada terkira.
"Semua gara-gara kamu Sya, nggak mau sabaran" geram Mawar.
.
.
.
.
Met malam Jumat semuanya,,, ada yang begadang nggak ini, Jangan lupa tinggalkan jejak ❤️❤️❤️
__ADS_1