Mawar Tak Berduri

Mawar Tak Berduri
Chapter 19


__ADS_3

"Mas.... kamu nggak papa?". Disentuhnya tangan Rasya yang sedang mengemudikan mobilnya.


"Eh.... nggak papa". Rasya tersenyum, melihat sekeias, Putri yang duduk disebelahnya, lalu ia kembali fokus kejalan didepannya.


"Dari tadi mas Rasya diem aja". Putri merasa ada aneh dengan sikap Rasya.


"Iya nggak papa" sahutnya lagi, tersenyum agar Putri tak curiga lagi.


"Bapak-bapak tadi..." Putri menjeda kalimatnya "Eh laki-laki yang bertemu kita tadi, Putri sering melihatnya, kayaknya mas saling kenal ya?". Ia bertanya lagi, yakin sekali, dari tatapan keduanya, bahwa mereka saling mengenal, namun sedang terjadi perselisihan.


Rasya tak menjawab "Kalian pernah ngobrol?".


Putri menggeleng "Putri pernah menegurnya, tapi nggak ditanggapi".


Bukan kasihan Rasya malah tertawa "Duh kasihanya". Rasya membelai rambut panjang Putri.


"Jangan pegang-pegang rambut Putri, kalo pegang lagi bayar". Ancamnya dengan mata mendelik.


"Sekarang berani bernegosiasi ya" dikelitiknya perut Putri.


"Ihhh Mas bahaya loh, kamu lagi nyetir". Putri menghalau tangan Rasya yang terus berusaha untuk menggodanya.


"Iya iya... siap tuan Putri".


"Apa sih...". Putri sangat takut, akan sikap manis Rasya.


Tiba-tiba saja Rasya diam, ia memikirkan kata-kata yang pas, agar tak membuat ini menjadi salah paham, karena ia benar-benar masih ragu "Nanti kamu sift berapa?"


"Aku izin, masuk middle mas," Putri melirik Rasya "Makanya pagi-pagi aku udah kemakam ayah sama bunda".


"Izin lagi aja, nanti biar Abdi yang urus, aku mau ajak kamu makan malam"


"Aku nggak enak, sering izin seperti ini"


"Jangan khawatir, semua aman, kamu percaya kan, Abdi nggak pernah mengecewakan?".


Putri memanyunkan bibirnya, Rasya selalu berbuat sesuka hati, sering mengganti jam kerjanya.

__ADS_1


"Oke diem kamu aku anggap iya"


"Mas.... aku kan belum jawab..." Kesal sekali rasanya. Ehh, kira-kira ada apa ya mas Rasya ajak aku makan malam?. Apa...? uhhh Putri tahannnn dulu.


...****...


Mawar meminta David untuk mengantarnya ke kantor ibu Vivi, ia harus menyakinkan diri, atas pilihannya. Dulu ibu sempat menjanjikan jika ia berhasil meluluhkan hati Rasya, maka ibu akan memperlakukannya sama seperti Marvin, dan membiarkan Mawar memanggilnya mama. Sungguh ini hal yang sangat diinginkan Mawar, ia membayangkan bagaimana rasanya nanti ibu memeluknya, akan seperti apa rasanya dipeluk seorang ibu? sungguh ia ingin merasakan hal itu. Dan ibu juga akan memberikan dia kesempatan untuk membuka usaha kembali.


Mawar sangat yakin, ia bisa melakukan ini, tak ia pedulikan Rasya yang akan pasti sangat marah padanya, karena tak bisa membuat ini gagal.


Yang terpenting dalam hidupnya sekarang ini ibu Vivi, walau ibu tak berjuang untuk mendapatkan hatinya, ialah yang akan berjuang.


"Non, kita sudah sampai".


Suara David membuat Mawar yang sedang melamun menjadi tersentak "Sudah sampai?"


Mawar mengedarkan pandangannya kesekitar, kantor ibu Vivi memang tidak terlalu besar, namun kantor ini cukup apik, dimana gedung lima lantai tersebut memiliki bangunan unik dibandingkan bangunan yang lainnya. Taman depan yang cukup luas, ditanami berbagai macam bunga yang berwarna-warni, dengan banyak sekali meja-meja kecil lengkap dengan kursi kayunya yang aestetik, digunakan untuk karyawan yang merasa jenuh, bisa berpindah keluar ruangan, yah pekerjaan mereka yang menuntut untuk banyak berkreativitas, membuat ibu Vivi pintar dalam memilih sebuah konsep para pekerjanya. Ia ingin para karyawannya betah bekerja bersamanya, dengan mengeluh-eluhkan dirinya. Memang kantor ibu Vivi merupakan kantor kedua atau kantor cabang milik perusahaan keluarganya, namun kehebatannya dalam memimpin, tak bisa diragukan lagi, ia benar-benar serius dalam hal ini.


Ini untuk pertama kalinya, Mawar menginjakkan kaki di perusahaan milik keluarganya, ia tak tahu menahu akan hal ini, akses masuk pun dipermudah karena adanya David, yang memang sudah dikenal banyak karyawan disini, sedang dia sendiri, hanya beberapa yang mengetahui, jika ia anak sulung dari pemilik perusahaan, itupun para pimpinan tertentu saja, saat mereka menghadiri acara pertunangannya.


"Pak David". Sapa sekretaris ibu Vivi, wanita yang mengenakan kemeja maroon tersebut berdiri, dan memberi hormat kepada Mawar dengan membungkukkan sedikit badannya. David telah memberi tahunya terlebih dahulu, sebelum datang kesini.


"Iya, ibu sudah menunggu".


"Silahkan non". Persilahkany Mawar untuk masuk.


Mawar menarik nafasnya dalam, mengumpulkan keberanian untuk bicara pada ibunya, hanya bicara pada ibu sendiri pun dia harus mempersiapkan mentalnya, hidup satu atap namun tak bertegur sapa, sungguh keluarga aneh. Pelan ia melangkahkan kakinya, ia seperti anak kecil yang sehabis melakukan kesalahan besar, sehingga takut dimarahi jika mengakuinya ataupun ketahuan, padahal jika memang seperti itu, justru ia akan sangat senang hati melakukannya, namun ini berbeda, ia yang bahkan seumur hidupnya tak berani menegur, karena itu akan membuat ibunya kesal dan marah.


Tok


Tok


Tok


"Masuk". Ujar suara wanita dari dalam ruangan yang serba tertutup itu.


Mawar menekan handle pintu itu sangat pelan. Lalu ia masuk, dilihatnya Ibu sedang berkutat dengan layar yang ada dihadapannya. Ia tetap berdiri, tak ingin duduk didepan Ibunya atau disofa. Ia merasa tak pantas.

__ADS_1


"Bicaralah, aku sibuk, tak banyak waktuku mengurusi urusan yang tak penting" Ketusnya, ia muak jika harus berhadapan berdua dengan Mawar, apalagi berbagi udara yang sama.


"Apa tawaran ibu masih berlaku?".


Ibu Vivi terdiam, ia memutar bangku kebesarannya kearah Mawar, namun tak ia melihat wajah cantik putrinya. Dibuangnya wajah kesamping.


"Sebegitu pentingnya, sampai kau harus kesini?"


"Mawar tak bisa menundanya"


Ibu tersenyum mengejek, "Rasya tak menyukaimu?"


"Mawar hanya ingin menyakinkan diri".


"Lakukan jika memang kamu mampu?"


"Beri Mawar jawaban yang pasti".


Heh.. lagi ibu tersenyum menyebalkan. "Ternyata Rasya suda membuat mu memilih"


"Apa hal itu sulit untuk Ibu, memberi restu dihari bahagia Mawar? Bu... apa salah Mawar? Apa Mawar tidak lahir di rahim Ibu? Mawar tak pernah ingin mencari tau apa yang terjadi, biarlah semua kenyataan pahit yang menbuat ibu terluka, Mawar bawa sampai mati, katakan pada Mawar Bu, apa yang harus Mawar lakukan? agar Mawar bisa mendapatkan kasih sayang ibu?"


"MAKA PERGILAH" Ibu tersulut, dia tak suka keadaan ini.


"Yakinkan Mawar Bu... agar Mawar merasa kuat untuk menghadapi semua kedepannya, Ibu tahu?, Mawar sangat mencintai Ibu, Ibu segalanya untuk Mawar, Mawar rindu jika Ibu tidak pulang, Mawar selalu menunggu Ibu. percayalah, Mawar berjuang untuk Ibu, bukankah Mawar sudah melakukan semua yang Ibu mau?, Mawar sudah berjuang, sampai detik ini, Mawar berusaha menjadi yang sempurna, yang ibu mau, tidak pernah membuat ibu malu, Mawar ingin seperti yang lainnya Bu, bisa mencium telapak tangan Ibu_". lidah Mawar tercekat, Mawar terduduk, ia sudah tak tahan lagi, menangispun rasanya sulit untuknya.


"STOP!!" Ibu Vivi mengangkat tangannya, ia sakit jika harus mendengar semua, ia tak bisa melupakan semua, melihat Mawar membuat luka hatinya mengangah kembali.


"DAVIDDDD" teriak ibu Vivi.


"I- iya Bu" David datang dengan wajah tenangnya, walau ia lihat Mawar yang dibawah seperti orang tak bernyawa


"Bawa anak tak berguna ini keluar, dengar ya Mawar apapun yang kamu lakukan tidak akan membuat aku luluh, kamu menjijikkan untukku, jangan pernah lagi kau melakukan ini, ini membuatku muak" Ibu menumpahkan segala kekesalannya.


Mawar yang melantai hanya terdiam, siapa yang akan menjadi penguat hatinya? tak ada satupun orang yang perduli padanya, Mawar sadar, jika dia hanya figura dikehidupanya.


Air mata tolong turunlah jika itu bisa membuat hatiku lega, jangan mengering jika aku benar-benar belum puas, buatlah aku hidup kembali sesudahnya. Bawa aku pada dunia yang baru, ceria yang baru... jangan kau bersembunyi, itu akan membuat ku sulit untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik... jangan membuat aku membeku.

__ADS_1


Mawar...


__ADS_2