Mawar Tak Berduri

Mawar Tak Berduri
Chapter 50


__ADS_3

Mawar terbangun, matanya menyipit menyesuaikan cahaya yang ada diruangan tersebut, kepalanya masih terasa berdenyut dan pusing, sudut bibirnya pun terasa perih, ia mencoba menegakkan kepalanya, lehernya terasa sangat pegal, karena ia tidur dengan posisi duduk di kursi.


Samar terdengar suara orang yang sedang bercerita, ia masih menyesuaikan keadaan dirinya, matanya sangat sulit untuk dibuka. Perlahan ia memaksa membuka matanya, nafasnya terasa sesak, bau tak sedap menguar dalam indra penciumannya, pengap, bau air seni sangat menyengat, dan seperti bau alkohol.


Saat kesadarannya telah penuh, Mawar sedikit mengingat, kenapa dia bisa berada disini. Ya tadi Vivi meneleponnya, wanita itu meminta pertolongan padanya, ia naik taksi dan menemukan seorang supir taksi palsu. Laki-laki berbadan tinggi tegap itu memaksakannya untuk turun, namun ia memberontak, laki-laki itu menamparnya, bahkan memukulnya, Mawar sempat lari, karena menendang alat vital pria tersebut.


Namun saat ia mencoba lari, dia seperti mendapat pukulan dibelakangnya, dan tiba-tiba ia tak sadarkan diri.


Terdengar derap suara langkah mendekat, Mawar kembali memejamkan matanya. Terdengar suara pintu terbuka.


Kreeettt


"Bos wanita itu belum sadarkan diri" ujar suara salah seorang laki-laki.


"Hem biarlah" ujar suara satu lagi.


"Bos, bagaimana kalau kita nikmati wanita ini dulu, wanita tua itu tidak akan mengetahuinya"


Mendengar ucapan laki-laki tersebut membuat Mawar takut, namun sebisa mungkin dia bersikap tenang, Mawar terus melafalkan doa, berharap ada orang yang datang bisa membantunya.


"Jangan bodoh, wanita tua itu sangat licik, kita baru dibayar satu juta, dan dia tahu dimana keluarga kita"


"Tapi dia bodoh, kalau memang dia ingin menghancurkan wanita ini, kenapa dia tidak biarkan kita menikmatinya, jarang-jarang bos kita dapat mangsa sebagus ini, aku ingin tahu, bagaimana rasa dibalik pakaiannya yang tertutup itu" ujar suara itu lagi, membuat Mawar semakin bergetar, ia benar-benar takut jika hal itu terjadi padanya.


"Sya, tolong aku!" pinta Mawar dalam doanya.


Sebenarnya laki-laki yang satunya juga membenarkan ucapan temannya, dia juga tertarik terhadap tubuh mulus putih Mawar, kelakianya pun mulai sesak.


"Kita tunggu kabar dari wanita tua itu, jika dia sudah mendapatkan apa yang dia mau, baru kita berpesta"


Setelah mengucapkan itu, keduanya pergi, mungkin mereka akan mencari pelampiasan sementara, setelah milik mereka terusik oleh kemolekan tubuh Mawar.

__ADS_1


...****...


Hari semakin petang, suasana dirumah mama Rika terlihat sudah rapi dan sudah ada beberapa pejabat setempat yang datang. Mama Rika mondar mandir, Mawar yang tak terlihat, dan ponselnya tidak bisa dihubungi. Ia bertanya kepada para pekerja, namun tidak ada yang tahu, namun salah satu penjaga rumah tadi mengatakan, melihat Mawar pergi dengan tergesa-gesa, lalu naik taksi.


Terdengar suara mobil Rasya, membuatnya semakin panik, Rasya pasti akan murka, tidak mendapati keberadaan istri tersayangnya, apalagi Rasya sedari siang terus menghubunginya, dan menanyakan keberadaan Mawar, tapi mama beralasan jika dia masih berada di toko perhiasan.


Mama Rika langsung menghampiri anaknya, Rasya datang bersama papa Reyhan, pemandangan ini jarang sekali ia lihat, anak dan suaminya bersama.


Mama Rika langsung menceritakan jika Mawar pergi dari siang, dan tak tahu kemana, sampai saat ini belum kembali, dan benar dugaannya. Rasya benar-benar murka, dia panik, dimana Rasya pernah merasa diikuti.


"Kenapa Mama tidak jujur dari tadi Ma, jika Mama nggak menutupinya, mungkin Rasya sudah bertindak dari tadi siang"


"Mama tidak tahu kalau akhirnya jadi begini, Mama kira Mawar ada keperluan mendesak, apalagi tokonya memang sedang kebakaran"


"Sudah-sudah jangan berdebat, kita berdoa saja, tidak terjadi apa-apa pada Mawar"papa Reyhan coba menengahi "Mungkin dia sedang bersama Marvin, Marvin juga belum ada kabar kan?" tanyanya pada Putri yang sedang menangis, gadis itu sudah memakai kebayanya, dan sudah didandani cantik.


Putri tidak menyangka, nasibnya akan semalang ini, dulu dia merasa menjadi penyebab gagalnya pernikahan Mawar, dan kini, dia seolah mendapat karmanya, laki-laki yang membuatnya seperti ini, malah menghilang tak ada kabar.


...****...


Sungguh tidak bisa diterima, dia melempari apa saja, agar Marcel mau turun menemuinya. Dia tidak perduli lagi, jika dianggap sebagai wanita tidak waras.


Usahanya membuahkan hasil, Marcel turun menemuinya.


"Apa maumu, membuat keributan ditempat ku?"


Vivi tersenyum mencibir "Akhirnya kamu mau turun juga, kamu yang memaksa ku malakukanya Marcel, coba jika kamu tidak mempersulit aku, semua tidak akan terjadi"


"Apa tujuan mu Vivian, masih merasa kurang apa yang sudah aku beri?"


"Kamu cukup pintar Marcel, apa kita harus membahasnya disini? menjadi tontonan para karyawanmu?" Vivi menatap tajam Marcel, menunjukkan kekuatannya, bahwa dia sedang tidak takut apa-apa.

__ADS_1


Marcel paham, jika wanita licik ini pasti memiliki sesuatu yang dapat membuat dirinya lemah. Iapun membuat para karyawannya membubarkan diri, dan melanjutkan pekerjaan mereka, dan mengisyaratkan pada asistennya, agar masalah ini tidak terendus media, dan tidak menjadi perbincangan karyawannya.


"Wah-wah, aku tidak menyangka jika perusahaan mu semakin kuat ya, dan besanmu itu tidak mempermasalahkan status Mawar yang anak haram" ucap Vivi penuh ejekan, ia duduk menyilangkan kakinya di sofa yang ada diruangan mantan suaminya itu.


Marcel menatap nyalang pada Vivi "Jaga ucapan mu, Mawar bukan anak haram, aku dan Warda sudah menikah"


"Wow, sudah menikah?" ucapan itu penuh ejekan.


"Lalu apa bedanya Marvin, kamu bahkan berhubungan dengan laki-laki biadab itu hingga kini, tapi aku tidak pernah mengusikmu sama sekali" ujar Marcel sengit, dia sampai menunjuk-nunjuk Vivi


"Marvin ada karena ulahmu Marcel, apa kamu pikir mudah mengurus bayi yang bukan darah dagingnya, melihat dia seakan mengoyak luka yang belum kering, apalagi setiap hari harus melihatnya, kamu memang tidak pernah mengerti perasaanku, kamu nggak pernah memikirkan perasaan aku Marcel, dengan mudah kamu meminta ku mengurusnya tanpa bertanya apa aku bersedia atau tidak, dan sekarang, kamu membuang aku dan Marvin bagai seonggok sampah, kamu tidak memberi hak Marvin sama sekali" Vivi seolah mengungkapkan semua isi hatinya, yang selama ini ia pendam.


"Jadi semua ini masih tentang hak waris Marvin, dasar wanita tidak tahu MALLU, anggap saja hak Marvin sudah aku berikan sejak dia kecil, bukankah aku sudah mengurus anak yang bukan darah dagingku dengan baik, dia menikmati semua kemewahan itu, yang tidak pernah kamu berikan pada Mawar" ucap Marcel penuh penekanan.


Vivi tertawa, sungguh bodoh sekali mantan suaminya ini. Dia mengeluarkan benda pipih miliknya, dan menampilkan video Mawar yang menangis, tangan yang diikat di bangku kayu, mulutnya yang diikat menggunakan sapu tangan, dengan tangan seorang laki-laki yang sedang membuka kancing kemeja Mawar, sehingga menampilkan belahan dada putih mulus yang masih meninggalkan jejak kepemilikan Rasya.


Melihat itu membuat Marcel terbelalak, dia sungguh kalah telak, dadanya sesak, nafasnya seolah berhenti seketika, "DASAR WANITA IBLIS"


"Berikan semua saham kepemilikan milik mu pada Marvin, maka Mawar akan baik-baik saja" wanita itu tersenyum penuh kemenangan.


Semua orang berhasil dibuat kecoh olehnya, setelah semua sibuk mengurusi toko yang terbakar, dengan leluasa dia bisa membalaskan dendamnya pada Mawar, membuat Mawar merasakan sakit yang dulu dia rasakan.


Dan tanpa disadari Marcel, video itu sedang menghubungkan pada ponsel Rasya.


.


.


.


.

__ADS_1


Jeng jeng jeng.... tolong jangan bully aku ya, bully mama Vivi aja 😁😁


__ADS_2