Mawar Tak Berduri

Mawar Tak Berduri
Chapter 40


__ADS_3

Memasuki pemakaman umum, Mawar dan Papa Marcel terus melangkah, melewati setiap blok-blok gundukan tanah yang ditumbuhi rumput hijau. Mengikuti langkah sang Papa, mereka berhenti pada satu makam, bertuliskan nama Warda. David ikut turut serta, setelah mendapat banyak pertanyaan dari Papa Marcel, jika dia tidak lagi melaporkan apapun pada Vivi.


David begitu terkesiap, dadanya bergemuruh, mendapati nama itu tertulis jelas, seperti yang diceritakan mama Rika, jika ibunya memiliki seorang adik bernama Warda. Mawar benar keponakannya, satu-satunya saudara yang dia miliki saat ini. Selama ini, keluarga papa Marcel memperlakukan Mawar dengan tidak baik.


David mengepalkan tangannya, walau bukan kekerasan fisik yang mereka lakukan kepada Mawar, namun jelas sekali, mereka menyerang Mawar secara mental, walau tak berdampak buruk untuk Mawar, tapi David tahu, apa tujuan Vivi selama ini, menyiksa Mawar pelan-pelan.


Sekuat tenaga dia menahan emosi, ingin sekali dia menghajar Marcel saat ini juga, orang tua macam apa dia, menuruti kemauan istrinya, mentelantarkan Mawar. Padahal semua ini karena perbuatannya, namun Mawar yang harus membayarnya. KEJAM.


Mawar bersimpuh, matanya berembun, dirabanya batu nisan, mengelus pelan, jarinya meraba satu demi satu huruf yang tercetak warna emas itu. Dia mamaku? ini benar mama? Selama ini mama tidur disini? meninggalkan aku sendiri, berjuang untuk mendapatkan kasih sayang.


"Sayang kami datang, maaf aku baru bisa membawanya kesini" Papa Marcel menitikkan bulir beningnya, "Dia begitu mirip dengan mu, tak sedikitpun dia mengambil wajahku, dia sudah dewasa, anak ki_" Papa Marcel menjeda kalimatnya "Anak kita tumbuh menjadi gadis yang cantik dan baik, semua menurun dari mu"


Mawar tak berucap apapun, dia hanya menangis, memeluk makam mamanya. Berharap dia benar memeluk raga sang mama. Bingung, harus apa dia, mama meninggalkannya dalam suatu kesalahan, apa dia harus marah?.


"Mawar datang Ma, peluk Mawar Ma, cium Mawar, kenapa Mama ninggalin Mawar sendiri?, kenapa Mama nggak bawa Mawar aja?"


Hiks


Hiks


Bulir bening itu meringsek keluar tanpa bisa dihalau.


"Tapi Mama tenang, Mawar nggak jadi anak nakal, Mawar nurut sama Papa, Mawar nurut sama Ibu Vivi ma"


Kata-kata Mawar sungguh menampar papa Marcel, benar, Mawar menuruti semua kemauan mereka, benar Mawar tumbuh jadi anak yang baik, dia sama sekali tak pernah membantah. Ya Allah ampuni aku.


Papa Marcel merendahkan badannya, memeluk putrinya yang sedang memeluk gundukan tanah itu.


"Maafkan Papa sayang"


Semesta seakan mendukung suasana hati yang kembali berduka, panas mentari berganti gulungan awan kelam, satu demi satu titisan air jatuh membasahi bumi yang kering. Tetesan itu semakin datang membawa segerombolan pasukan, namun tak membuat insan yang untuk pertama kali datang menemui orang yang begitu berharga dihidupnya untuk beranjak.


Seperti begitu banyak hal yang ingin diungkapkan, namun entah harus dimulai dari mana, waktu seakan tak cukup untuk mencurahkan segala isi hati.


Ajakan dan tarikan dari sang papa tak dihiraukan. Dia ingin tetap tinggal, ingin mencurahkan segala yang selama ini dia lalui.


David datang membawa payung, tak ingin sang keponakan menjadi sakit, wanita itu tak beranjak sama sekali. Papa sudah lebih dulu menepi, karena dia tak mungkin kuat, badan yang sudah rentan tak boleh lengah, sebab banyak yang harus dia selesaikan.


Air mata itu bercampur dengan derasnya hujan, yang entah kapan akan berhenti, seperti mewakili hatinya, yang merasa belum puas memeluk pusara dihadapannya.

__ADS_1


Seorang laki-laki tampan itu datang, wajahnya begitu khawatir, mendapati wanita yang dicintainya terlihat begitu rapuh, melawan derasnya hujan, bajunya basah mencetak tubuhnya yang atletis.


"Sayang...."


Ia merendahkan tubuhnya, membawa tubuh mungil yang sudah basah itu dalam dekapannya.


"Kita pulang, kamu bisa sakit" Dibelainya rambut Mawar, mengecup kepalanya.


Mawar menggeleng, "Ini mamaku Sya, aku baru bertemu dengannya, mama pasti masih kangen sama aku"


Rasya mengusap wajahnya yang basah oleh air hujan, agar tak menghalangi pandangannya.


"Tapi ini hujan Mawar, mama kamu pasti marah, dia nggak suka melihat anaknya seperti ini"


Mawar terisak dalam dekapan Rasya, dia sangat rapuh saat ini.


"Kita pulang" Tak mengangguk atau menolak, Rasya membantu Mawar berdiri, membawanya kembali kemobil.


Sepanjang perjalanan Rasya terus memeluk badan Mawar yang sudah terasa dingin. Wajah gadis itu bahkan sudah memucat. Rasya terus mengusap-usap bahu gadis itu, agar tetap terasa hangat.


Sesampainya dirumah Papa Marcel, Rasya langsung membawa Mawar kekamarnya, refleks dia ingin mengganti pakaian yang sudah sangat basah. Beruntung Mawar masih didalam sadarnya, ia menahan tangan Rasya.


"Aku bisa sendiri" Ucapnya, dengan wajah yang sudah manyun.


"Diluar ada David sama Papa, nanti mereka mikir yang macam-macam"


Rasya semakin terbahak, dia senang, Mawar sudah kembali lagi, jutek tapi tetap lembut.


"Kita mandi bareng ya"


Plakkk


Pukulan itu tepat pada pundak Rasya, Mawar berdiri mendorong Rasya agar keluar kamarnya.


"Kamu tega banget sih sayang, aku dah nolongin kamu, aku juga basah loh ini, aku harus mandi"


"Kamu bisa mandi dikamar David atau Papa"


"Aku maunya mandi disini, bareng kamu"

__ADS_1


"Rasya keluar nggak" Mawar sedikit menekan ucapannya.


"Iya iya, tapi sun dulu" Pintanya menunjuk pipi.


"Astaga" Mawar menutup pintu kamarnya sedikit keras, membuat tawa Rasya kembali pecah.


Rasya membalikkan badannya, sudah ada David yang menatapnya tajam.


"Apa?" Rasya seakan menantang David "Makanya jangan jomblo terus, biar tahu rasanya jatuh cinta"


"Masih sombong, ingat kamu harus mendapat restu ku untuk mendapatkan dia" David berlalu, setelah memberikan handuk dan pakaian ganti untuk Rasya.


...****...


Ditempat lain, Marvin sibuk dengan pekerjaannya, dia hari ini berinisiatif menjaga toko, melayani pembeli, rasanya menyenangkan, bisa berinteraksi langsung dengan pembeli, dia bisa tahu, apa yang paling disukai, sekaligus tebar pesona, karena memang banyak dari kalangan wanita yang datang.


"Selamat sore" Sapanya, setelah mendengar pintu terbuka, dia membalikkan badannya.


Marvin terpaku, melihat kedatangan wanita paruh baya, dengan gayanya yang simple, namun tetap memperlihatkan keanggunannya, dilihat dari pakaian dan aksesoris yang digunakan, semua serba bermerek.


Wanita itu menatap tegas kearahnya, melihat setiap sudut isi toko itu.


"Kenapa, kamu nggak suka Mama datang?"


...****...


"Kenapa Mama kesini?" Ucap Marvin dingin


Kini mereka direstoran Jepang, yang tak jauh dari toko.


"Begini cara kamu menyambut Mama? apa wanita itu yang membuat kamu berubah?"


"Siapa yang mama maksud?"


"Kamu nggak usah berkilah Vin, Mama kesini ingin memberi tahu kamu, cepat pulang, Papa menceraikan Mama"


Marvin tersenyum kecil "Itu bukan urusan Marvin, dia bukan Papa Marvin" Marvin berdiri, dia muak dengan situasi ini. Dia jijik dengan mamanya, mama tak menyadari kesalahannya.


"Marcel memberikan semua aset perusahaan pada Mawar, kita harus merebutnya, kamu harus dipihak Mama, kita punya hak atas perusahaan Vin"

__ADS_1


Marvin menghentikan langkahnya, tanpa menoleh dia meninggalkan mamanya. Tak dihiraukan mama yang terus memanggilnya.


Marvin melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, bertemu mama membuatnya frustasi. Ada rasa iba, saat mengetahui mamanya dikhianati, diceraikan, bahkan tak mendapatkan bagian dari perusahaan, namun kesal saat mengetahui dia juga sama dengan Mawar, anak hasil perselingkuhan.


__ADS_2