Mawar Tak Berduri

Mawar Tak Berduri
Chapter 34


__ADS_3

Mawar sudah selesai membuatkan sarapan untuk Chio dan Marvin. Setelah sarapan mereka akan mengunjungi official store rose's mom. Ini kali pertama untuk Mawar datang langsung melihat store parfum miliknya yang dikelola Chio.


"Sudah berapa lama Kak, rose's mom berdiri?" Tanya Marvin disela sarapan mereka.


"Sudah hampir tiga tahun Vin"


Marvin mendongak, terkejut akan pengakuan kakaknya yang ternyata telah merintis bisnis sudah lama. "Sudah selama itu Kak? tapi kok kenapa baru launching sebulan lalu"


"Ehh anak kecil, ini bukan buka usaha kerupuk ya, satu hari jadi? usaha kerupuk aja butuh waktu lama supaya produk mereka laris dan tetap bertahan," Sela Chio, geram atas pemikiran Marvin. "Ini parfum bermerek bukan parfum Refill,"


"Marvin nggak nyangka, ternyata Kakak sehebat ini" Puji Marvin mengabaikan ucapan Chio.


"Bukan Kakak, tapi Chio dan tim, Kakak nggak pernah ngelakuin apa-apa"


Marvin mencibir, melihat Chio yang menepuk dadanya congkak.


"Jangan merendah Mawar, kalau bukan karena kamu juga, ini semua tidak akan terbentuk." Ucap Chio, yang merasa berkat ide Mawar lah dia dan teman-temannya bisa mendirikan rose's mom.


"Apapun itu, pokoknya kalian keren, Mama saja...." Marvin menghentikan kalimatnya, dia tiba-tiba teringat mamanya.


Mawar dan Chio saling lirik, Marvin yang langsung terdiam dan menunduk, saat mengucapkan kata mama.


Mawar menyadari, mungkin Marvin merindukan mama Vivi.


"Habiskan sarapannya Vin, sebelum kita ke toko, kita bicara sebentar ya." Marvin menurut, jika tidak menurut dengan Mawar, dengan siapa lagi dia akan mengadu.


Marvin dan Mawar kini berada di balkon apartemen Chio. Mereka berdiri pada pembatas besi, menatap pemandangan pagi hari kota metropolitan ini.


"Kamu kecewa sama ibu Vin?."


Marvin tidak menjawab, dia hanya menunduk.


"Kakak tahu, kamu pasti kecewa dengan keadaan keluarga kita sekarang ini, tapi jangan pernah membenci mereka, kita tidak pernah tahu, alasan mengapa mereka melakukan semua ini?, jangan terlalu banyak menuntut, didunia ini, tidak ada manusia yang sempurna, semua punya masa lalu, kita hanya dituntut untuk mengerti tanpa menambah beban untuk mereka"


"Tapi Marvin tidak sekuat Kakak, Marvin tidak tahu bisa seperti Kakak"


"Kakak tahu, semua butuh waktu dan proses,"


"Bagaimana Kakak bisa melakukan semua, padahal Kakak hidup dalam keterbatasan, dan Kakak_"


"Selalu sendiri?" Sela Mawar.


Marvin mengangguk samar, membenarkan ucapan Mawar.

__ADS_1


Mawar menarik nafas panjang. "Kakak juga tidak sekuat yang kamu lihat, dulu diumur Kakak mungkin...." Mawar nampak mengingat-ngingat, "Sepuluh tahunan, Kakak hampir memberontak, mencari perhatian, dan mungkin komplain sama ibu, karena ibu terlalu sayang sama kamu, tapi ibu Marina, guru bimbingan Kakak dulu, dia memberikan Kakak sebuah buku, karya Richard Carlson, padahal Kakak belum ngerti sama sekali tentang isi buku" Mawar tertawa kecil, mengingat betapa anehnya gurunya waktu itu, memberikan buku inspirasi pada anak kecil.


Mawar yang dulu suka ngambek, tidak mau belajar, mengeluh pada ibu Marina karena sering ditinggal sendirian dirumah.


"Kita dituntut untuk mampu mengelola hal-hal kecil dalam hidup, karena biasanya, hal-hal kecil itulah yang menciptakan rasa sakit terberat dalam hidup kita, dan Kakak harus melakukan hal-hal kecil, untuk menghilangkan rasa sakit itu, seperti banyak membaca buku."


"Kamu lakukan saja, apa yang menurut kamu bisa membuat kamu bahagia, dan jangan memikirkan hal yang membuat kamu terus merasa sakit." Lanjut Mawar lagi.


"Semudah itu kak?"


Mawar menggeleng "Semua butuh proses."


...******...


Kini mereka sudah berada di toko parfum rose's mom. Ruko lantai tiga itu merupakan kawasan perkantoran, dan juga tak jauh dari kawasan kampus swasta, lokasi yang cukup strategis. Warna store itu cukup aestetik, sesuai dengan warna anak muda masa kini.


Mawar takjub atas banyaknya pengunjung, lantai satu itu diperuntukkan khusus untuk toko, dan terdapat satu meja kasir, masuk kedalam, mereka naik kelantai dua. Dilantai dua, diperuntukkan untuk pengemasan dan ruang peracikan. Chio memperkenalkan Mawar pada teman-temannya. Kini mereka naik ke lantai tiga, lantai tiga Chio khususkan untuk tempat istirahat, terdapat dua kamar tidur berukuran 3x2m,cukup luas jika untuk sekedar beristirahat.


Banyak celotehan yang terdengar memuji kecantikan Mawar, kulitnya yang putih bersih, membuat Mawar begitu mempesona dimata teman Chio, yang memang rata-rata laki-laki semua.


"Mba Mawar sering datang ya biar kita bisa cuci mata setiap hari"


"Kita nggak akan absen, walau hujan petir, jika mba Mawar setiap hari kesini."


Mawar terlihat begitu mengharu, seperti ini rasanya jika hidup dihargai oleh orang lain.


Mawar kembali ke apartemen Chio sendiri. Sebab Chio dan Marvin membantu toko, sebab banyak orderan yang membuat teman mereka kewalahan.


Didepan pintu, Rasya terlihat sedang menunggu kedatangan Mawar. Matanya menatap tajam Mawar yang berjalan mendekat. Mawar melihat kilatan amarah pada mata Rasya. Hemmm ada apa lagi sih? Dengus Mawar sebal, hari ini dia cukup lelah.


"Dari mana kamu?" Tanyanya sedikit meninggi.


"Ada apa lagi Sya?" Entah mengapa, padahal sudah biasa Rasya berucap ketus, untuk kali ini, Mawar begitu tidak terimanya Rasya sedikit membentaknya.


"Kamu bertanya ada apa?"


Mawar menggeleng malas, sifat Rasya sungguh tidak bisa ditebak, semalam dia sangat manis dan manja, saat bangun tidur pagi tadi juga, dia merengek seperti anak kecil yang tidak mau ditinggal.


"Sya minggir aku mau masuk" Pinta Mawar sebab Rasya berdiri menghalangi pintu masuk


"Kamu tidak dengar aku Mawar? aku bertanya kamu dari mana?" Rasya bergeser, memberi ruang untuk Mawar menempelkan kartu akses.


"Aku dari toko, bersama Marvin dan Chio" Mawar masuk diikuti Rasya.

__ADS_1


"Toko? toko apa? kenapa pergi seharian? kenapa tidak izin? kenapa tidak memberi tahu aku?, kemana mereka? kenapa kamu sendiri, aku bisa mengantarmu." Rentetan pertanyaan penuh khawatir itu membuat kepala Mawar begitu pusing.


"Kenapa harus bilang, memangnya kamu siapa?" Ucapan itu keluar begitu saja dari mulut Mawar.


"Aku siapa katamu?" Pertanyaan bodoh apa Mawar.


"Astaga Mawar, kamu tidak tahu? aku khawatir, aku tinggal sebentar ke kantor sebentar, kamu menghilang, ponsel kamu kenapa tidak bisa dihubungi?"


"Aku tidak membawa ponsel Sya"


Rasya menyugar rambutnya, dia yang pergi untuk mengecek pekerjaannya sebentar, dan ingin pulang cepat agar bisa bermanja pada Mawar, ternyata Mawar tidak berada ditempat. Mendapati hal itu dia begitu kesal. Apalagi Mawar yang berucap dia siapa? membuat Rasya begitu meradang, namun ia tahan.


"Jika mau pergi kemana-mana, harus izin dulu, biar aku yang mengantarmu"


"Kenapa harus izin? memangnya kamu siapa?" Lagi pertanyaan itu keluar, hati Mawar masih sakit, Rasya yang tiba-tiba marah tidak jelas.


"Masih bertanya siapa?, padahal semalam kita begitu dekat? Astaga Mawar kau_" Rasya menarik pergelangan tangan Mawar, agar Mawar menghentikan kegiatannya yang sedang mengikat rambutnya. Mengacuhkan ucapannya.


Rasya hendak menyambar bibir Mawar yang begitu ia rindukan, bibir itu sudah menjadi candu untuknya.


Mawar yang sigap sontak menoleh kearah lain, cukup semalam dia khilaf, tak ingin hal itu terulang lagi.


"Jangan lakukan lagi, kamu menyakiti ku Sya"


"Semalam kita sudah melakukannya bukan?, kamu juga menikmatinya"


"Aku hanya kasihan padamu, karena kamu sedang sakit."


Degh....


Ucapan Mawar tepat menghantam dada Rasya.


Hanya kasihan.


.


.


.


.


*Bersambung...

__ADS_1


Maaf ya..., padahal semalam juga sudah selesai ngetik, tapi aku rasa gak ngefeel, aku hapus lagi, tetap aja kurang feel, semoga suka, terima kasih yang masih setia ❤️❤️*


__ADS_2