Mawar Tak Berduri

Mawar Tak Berduri
Chapter 38


__ADS_3

"Sya...." Suara Mawar serak.


"Nikmati sayang" Mawar menggeleng, ini nggak benar, tapi tubuhnya tak bisa menolak setiap perlakuan Rasya.


Rasya semakin turun menyusuri leher jenjang milik Mawar, ahh rasanya Rasya tak ingin berhenti. Rasa ini membuatnya ingin memiliki Mawar seutuhnya. Dikecupnya tulang selangka milik Mawar. Rasya menatap dua gundukan kecil milik Mawar, tangannya sudah terangkat ingin menyentuh benda yang belum sempat ia sentuh kemarin. Kaos besar putih yang dikenakan Mawar sedikit menurun, membuat Rasya bisa melihat sedikit belahan dada itu, darahnya berdesir.


Tiba-tiba Mawar bangkit, membuat Rasya terjerembab.


Rasya mengaduh "Sayang, apa-apaan sih?" Kepalanya terbentur jok mobil, beruntung jok miliknya lembut.


"Maaf Sya, kita lagi didalam mobil, nanti banyak yang lihat"


Rasya bangkit, tangannya mengunci tubuh Mawar yang menyandarkan tubuhnya pada pintu mobil.


"Jadi kalo lagi nggak dimobil mau?" Goda Rasya, ia mengangkat satu alisnya.


Mawar menyingkirkan tangan Rasya, "Jangan ngaco kamu, cepat pakai bajunya, nanti orang mikir yang tidak-tidak"


"Kan emang kita abis...."


"Rasya ya ampun, bisa nggak jangan bikin masalah, cepat pake bajunya"


Rasya kembali mengadu cubitan kecil Mawar terasa panas di pinggangnya "Mawar kamu sekarang udah berani KDRT" Diusapnya bekas cubitan tadi "Aku nggak mau pake baju tadi, bekas wanita lain, nanti kamu nggak mau dekat aku" Kini Rasya sudah kembali duduk ditempatnya.


Mawar sedikit membenarkan ucapan Rasya. Dia mengedarkan pandangannya kesekitar dia melihat ada toko baju pria, tak jauh dari sana.


"Tunggu disini" pintanya. Mawar turun tanpa menunggu persetujuan Rasya. Rasya terus melihat kearah Mawar, gadis itu masuk pada outlet pakaian pria.


Tak butuh waktu lama, Mawar sudah kembali dengan paper bag ditangannya.


"Pakai ini, aku nggak tahu ukuran kamu, semoga saja pas"


Rasya membuka isi paper bag tersebut, sebuah kaos putih polos tanpa kerah, Rasya memakainya.


"Pas" Rasya merapikan kaosnya.


Mawar terpesona, Rasya terlihat sangat cocok dengan kaos putih itu, kulit Rasya yang bersih menjadi terlihat bersinar, memancarkan sisi tampannya, yang selama ini tertutup sifat angkuhnya.


"Aku tau aku ganteng, jangan diliatin terus, nanti kamu makin jatuh cinta"


"Dasar kepedean"


Mobil itu melaju pelan, Rasya ingin menikmati waktunya bersama Mawar lebih lama, tangannya terus menggenggam tangan Mawar.


Sesekali Mawar mencuri pandang melalui ekor matanya, bibirnya terus menyunggingkan senyum kecil "Rasya" gumamnya. Tangannya yang satu terus memegangi kalung pemberian Rasya. Tak pernah ia menyangka, akan sedekat ini, luluh pada laki-laki mulut berbisa, yang selalu menghardiknya dengan kata-kata pedas.

__ADS_1


Laki-laki yang mati-matian memintanya untuk membatalkan pernikahan mereka, namun setelah ia menuruti kemauannya, laki-laki ini justru dengan gigihnya, ingin segera menikahinya. Aneh memang.


"Sya, boleh aku tanya sesuatu?"


"Apa?" Ia menoleh sebentar, lalu kembali fokus pada jalanan.


"Apa yang membuat kamu menjadi berubah?"


Laki-laki itu tersenyum, "Karena aku belum mengenalmu" Rasya mengeratkan genggamannya, membawa tangan Mawar, meletakkan dipahanya.


"Kamu belum mengenal aku sepenuhnya"


"Kamu salah, aku bahkan sudah mengenal kamu, seutuhnya." Rasya menempelkan kartu aksesnya pada Terminal Parkir Elektronik (TPE). Mencari slot kosong untuk mobilya.


"Kita turun dulu, nanti kita bahas"


Rasya membukakan pintu untuk Mawar, menggandengnya, mereka menyusuri jalan trotoar, yang ramai oleh pedagang kaki lima. Berjalan bersisian, keduanya terlihat sangat serasi, pasangan yang sedang jatuh cinta ini terus menebarkan senyum.


Suasana sore yang begitu cerah, mendukung mereka untuk menikmati hari bersama. Melihat berbagai bangunan putih peninggalan zaman VOC, mereka terus berjalan menyusuri museum Fatahillah, cafe Batavia, dan bangunan bersejarah lainnya. Rasya yakin, Mawar belum pernah merasakan hal ini.


Dia ingin membahagiakan Mawar melalui hal-hal sederhana.


"Sayang kamu mau naik sepeda?"


"Aku nggak bisa"


"Aku yang bawa" Tawarnya


"Sepertinya menarik"


Menyewa sebuah sepeda ontel, Rasya mengajak Mawar berkeliling, dengan topi berwarna merah muda, membuat Mawar terlihat semakin cantik. Rasya menarik tangan Mawar, untuk melingkarkan dipinggangnya. Mawar terlihat begitu antusias, tak hentinya tawa itu terus terukir diwajahnya.


"Are you happy, baby?" (Kamu senang sayang?). Tanyanya tanpa menoleh, Mawar mengangguk, terasa kepalanya yang menempel pada punggung bidang kekasihnya.


Rasya melenggak-lenggok kan sepedanya, membuat Mawar berteriak histeris, membuatnya mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari Mawar.


Puas mengendarai sepeda, kini mereka mencoba kuliner dicafe yang terkenal disana, Rasya memesankan menu andalan cafe tersebut.


Hari beranjak malam, suasanapun semakin ramai, pengunjung dari berbagai kalangan memenuhi kota ini. Alunan musik dari street music menjadi penghibur dimalam yang indah.


"Kamu sering kesini?" Tanya Mawar, ia menyandarkan kepalanya pada bahu Rasya.


"Dulu waktu masih sekolah"


"Teman kamu banyak Sya?"

__ADS_1


Pertanyaan Mawar mengisyaratkan, bahwa dia iri dengan kehidupan muda mereka, yang bisa menikmati masa muda dengan bermain kesana-kemari bersama teman-teman mereka.


"Nggak, dari dulu temanku cuma Abdi" Rasya mengecup pucuk kepala Mawar, dia tahu kehidupan Mawar pasti sangat membosankan. Mata Mawar memejam, meresapi setiap perlakuan Rasya.


"Kalian berteman dari dulu"


"Abdi anak broken home, dia sering dibully, karena kedua orang tuanya sering kawin cerai, Abdi tidak punya teman selain aku, dan dia bisa menerima semua sifat aku yang seperti ini" Mawar mengangkat kepalanya, untuk pertama kali dia kagum pada sifat Rasya, dia tersenyum.


"Aku bangga sama kamu"


"Makanya, ayo cepat kita menikah"


"Sya... bukan kayak gitu juga" Mawar sudah memajukan bibirnya beberapa senti.


"Kamu masih ragu sayang?" Rasya membelai rambut Mawar.


"Aku cuma belum siap"


"Mawar, aku tahu semua yang terjadi di keluarga kamu"


Degh


"Apa maksud kamu?"


"Iya, aku sudah tahu semuanya, tentang papa Marcel, dan mama Vivi yang bukan ibu kandung kamu"


Mawar mengingat dimana Rasya menitipkan kebaya pernikahan mereka pada security rumah mereka, hari dimana papa dan ibu Marcel bertengkar.


"Apa kamu tidak mau mencari dimana ibu kandung kamu?"


"Sya aku_ " wajah Mawar memucat, dia tak menyangka Rasya sudah mengetahui semuanya. "Aku ingin pulang" Mawar beranjak, kakinya terasa lemas.


"Kamu nggak papa sayang?" Tanya Rasya dia melihat perubahan raut wajah Mawar.


"Aku cuma mau pulang"


...*******...


"Kamu tidur sama aku malam ini" Cegah Rasya saat Mawar yang hendak masuk ke unitnya.


"Kamu gila, kita bukan suami istri, mana bisa seperti itu"


Ada rasa khawatir, Rasya merasa mereka diikuti seseorang, entah siapa, yang dia ingat, motor yang sama yang dilihatnya didepan toko Mawar. Rasya tak ingin terjadi sesuatu pada Mawar.


"Please untuk kali ini menurut, kamu yang membuat aku seperti ini, dari tadi kamu selalu diam, ada yang harus kita bahas" Rasya tak ingin memberi tahu Mawar, tak ingin Mawar takut.

__ADS_1


Mawar melihat keseriusan dalam ucapan Rasya. Diapun menurut, dan mengikuti langkah Rasya.


__ADS_2