
Sang supir menatap iba pada majikannya, iya tak tega melihat Mawar yang sedari pagi terus bersedih, iya, sedikit banyak ia tahu permasalahan yang terjadi dikeluarga baru ini.
Sesampainya dirumah Mawar meletakkan lagi makanan yang dia bawa, wanita itu padahal belum makan sama sekali, dia menjadi tidak berselera, padahal sejak dari rumah, ia begitu antusiasnya, ingin makan bersama sang suami. Dia kembali ke kamarnya dengan perut kosong, namun tidak merasakan lapar sama sekali.
Teh sumi, seorang pembantu baru yang dikirimkan mama mertuanya pun menatap iba wajah sedih itu, walau dia baru bekerja di sini, dia merasa jika Mawar atasan yang baik.
Langit kini berganti gelap saat hari beranjak sore, Mawar masih terus menunggu kepulangan Rasya, dia berdiri didepan jendela kamarnya seperti biasa, melihat mobil Rasya yang pulang dari bekerja, matanya terus menatap keluar, biasanya suaminya pulang lebih awal dari yang dia kabarkan, dan membawakan makanan kesukaan untuknya.
Namun kini sudah lewat dari jam biasanya, namun belum ada tanda-tanda kedatangan mobil Rasya. Mawar mencoba menghubungi suaminya itu, namun panggilannya tak direspon. Mawar mendesah, akan sampai kapan Rasya mendiaminya seperti ini. Mawar tak ingin putus asa, dia mengirimkan pesan pada suaminya.
"Sya, jam berapa kamu pulang?"
Lama Mawar menunggu balasan, namun saat ia melihat lagi, pesannya belum juga dibaca, it's oke, mungkin Rasya sibuk, batinnya.
Kini waktu semakin berjalan, jam menunjukkan pukul tujuh, Mawar masih setia menunggu Rasya didepan ruang keluarga yang terhubung langsung dengan ruang tamu, Mawar menghilangkan kejenuhannya dengan menonton acara kartun anak-anak disalah satu channel televisi.
"Non Mawar nggak makan, masakannya sudah siap dari tadi non" ucap teh sumi mengingatkan Mawar.
"Sebentar lagi teh, nggak lama lagi Rasya pasti pulang" jawab Mawar tanpa mengalihkan pandangannya pada layar televisi yang menampilkan kartun anak laki-laki yang bisa membelah dirinya manjadi tiga.
Teh Sumi hanya mengangguk, "Non Mawar mau dibuatkan minum sama teteh?" tawarnya, setahunya Mawar belum makan apa-apa sedari siang.
"Nggak usah teh, takut kenyang, nanti makanya jadi nggak selera"
Wanita berusia di atas empat puluh tahun tersebut meninggalkan Mawar, sebenarnya dia ingin menemani Mawar, namun ia tak mau lancang, sebab mereka belum saling mengenal.
Dikantor Rasya, Abdi baru saja keluar dari ruangannya, dia sudah bersiap akan pulang, tampilannya tak serapi tadi pagi, laki-laki bertubuh tinggi itu hanya menggunakan kemeja biru laut yang sudah digulung kesiku. Ia terkejut saat melihat ruangan Rasya masih nampak terang, biasanya, atasannya itu sudah pulang lebih awal. Dia melihat sekretarisnya yang masih berkutat didepan layar lebar didepannya, ia menghampiri wanita yang serius mengetik tersebut.
"Sin pak Rasya belum pulang"
Sinta sang sekretaris mendongak
"Ih pak Abdi ngagetin tau" jawab Sinta seraya mengelus dadanya "Belum pak"
"Yasudah kamu pulang duluan, pesan taksi, ini sudah malam, jangan naik kendaraan umum" perintahnya menegas
"Pak Abdi jangan perhatian, nanti saya meleleh gimana? kan bahaya Pak" Sinta menutup mulutnya, terkekeh sendiri atas ucapannya.
"Emang kamu es krim meleleh"
"Pak Abdi suka bener deh"
__ADS_1
"Udah siap-siap, jangan banyak bicara"
"Ongkosnya atuh pak sekalian" Sinta menengadahkan tangan kirinya.
"Bayar sendiri, nanti diganti tanggal dua lima"
"Itumah gaji saya gajian pak, dibayar pak Rasya" Sinta mengerucutkan bibirnya sebal.
Abdi tak lagi menanggapi ocehan sekretarisnya, dia mengetuk pintu Rasya, sebelum masuk keruangan sahabatnya itu.
"Apa ini tanda-tanda mau kiamat, seorang Rasya lembur!" ejek Abdi pada Rasya yang tak menggubris kehadirannya. Laki-laki itu sibuk membolak-balikkan kertas yang ditangannya, lalu mengetikkan sesuatu pada huruf-huruf kotak didepannya.
"Kalo mau pulang, pulang aja, nggak usah ngerecokin orang"
Abdi tak menanggapi ucapan Rasya, ia malah berfokus pada ponsel Rasya yang terus menyala karena panggilan masuk.
"My lovely Rose" baca Abdi pada nama yang tertera.
"Dari bini noh, tar belut nggak dikasih masuk sarang kelimpungan" selorohnya penuh ejekan
"Berisik bangsat"
"Aku cuma mau Mawar tahu, bahwa keputusannya sudah membuat banyak orang kecewa, terlebih David, sepupunya yang memang ingin memenjarakan wanita iblis itu, bisa saja dia mencari wanita itu sampai kelubang semut sekalipun, kalo bukan Mawar memohon untuk melepaskan wanita itu" Rasya menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kebesarannya.
"Itu karena dia menyayangi ibunya bukan?"
"Terlalu berlebihan, apalagi sekarang Mawar tahu kalo wanita itu bukan ibunya, ingat kan dulu, Mawar menerima perjodohan kami hanya demi bisa memanggil wanita itu mama, biar bisa sama seperti Marvin, konyol sekali, senaif itu Mawar"
"Ya ya ya katakan apapun tentang Mawar saat kalian sedang bertengkar, entar juga kalo udah baikan main sosor tanpa tahu tempat" ucap Abdi yang tahu betul bagaimana Rasya jika didekat istrinya
"Mawar terlalu lemah, aku nggak suka wanita lemah, tapi aku malah menyukai Mawar, bahkan menikahinya"
"Kau sadar atas ucapan mu bro, lupa Mawar yang juga mudah menerima dan memaafkan calon suaminya dulu, meminta Mawar meninggalkanya dihari pernikahanya, mungkin memang itu sifatnya, seharusnya suaminya harus menerima semua kekurangannya, setelah dia bisa menerima semua kekurangan suaminya yang labil, walau sudah tua" Abdi terkekeh, dia bingung suka berkata menasehati orang lain, yang dia sendiri belum manjalani itu.
Alih-alih marah, Rasya nampak berpikir dan mencerna ucapan Abdi.
"Aku hanya butuh waktu untuk itu, aku juga butuh menenangkan diri"
"Yasudah aku pulang dulu kalo begitu, semoga kamu dan Mawar cepat baikan" Abdi beranjak dari duduknya.
"Mawar kutunggu jandamu" Abdi secepat kilat menghilang seperti punya jurus jin, setelah mengatakan kata memanasi.
__ADS_1
"Bangsat, sialan, ucapan mu" umpat Rasya pada Abdi yang sudah menghilang.
Ia pun membereskan mejanya, ada rasa takut atas ucapan Abdi, walau saat ini dia sedang kecewa, tapi pada kenyataannya, ia begitu takut kehilangan.
Rasya sampai dirumah pukul delapan lebih, lampu-lampu dirumahnya masih menyala semua, ia yakini Mawar masih menunggunya, istrinya itu tidak menyukai rumah gelap.
Belum juga Rasya memegang handle pintu rumahnya, namun pintu itu sudah terbuka, nampak wajah istrinya keluar dengan senyum yang sangat ia rindukan menyambut kepulangannya. Seharusnya senyum itu dapat menghilangkan penatnya, namun egonya terlalu tinggi, dia masih belum bisa memaafkan Mawar.
"Sya kamu baru pulang" Ambil paksa Mawar tangan Rasya, mencium telapak tangan suaminya penuh hormat.
Hati Rasya terenyuh,
*B*eginikah sifat aslimu, sangat mudah memaafkan kan, padahal aku mengabaikan mu seharian ini, menghindar agar tak makan siang bersama, namun kau tak marah sama sekali
"Kamu udah makan Sya, aku masak yang spesial untuk kita, dibantu teh Sumi"
"Aku udah makan diluar"
Degh
Hati Mawar melemah seketika, ia terpaku menatap punggung Rasya yang menghilang didalam kamar.
Mawar benar-benar mengabaikan perutnya yang belum terisi sedari pagi. Dia ikut berbaring disebelah Rasya setelah laki-laki itu membersihkan diri dan berganti pakaian. Tak ada pembicaraan apapun,
Mawar bahkan menahan keinginannya mengobrol, mengatakan bahwa tadi siang dia datang kekantor, dan bercerita banyak hal, seperti yang biasa mereka lakukan.
Dilihatnya Rasya yang telah memejam, dengan tubuh telentang, tangan yang ia letakkan diatas keningnya. Mawar berganti posisi membelakangi Rasya, memagis dalam diam, bahunya yang bergetar, menahan isakan.
Aku sudah memutuskan, aku harus bisa menerima resikonya, tidak ada tangis atau kesedihan, ibu semoga yang aku lakukan dapat menebus kesalahan ibu dulu.
Mawar memejamkan matanya, membuat aliran pada cairan yang mendorong terus keluar.
.
.
.
.
Tenang ini nggak akan lama, Jangan lupa like komen yang banyak, biar Arsya uwwu lagi
__ADS_1