Mawar Tak Berduri

Mawar Tak Berduri
Chapter 59


__ADS_3

Dipagi buta Mawar masih terlelap dalam tidurnya, karena ia baru bisa terlelap setelah hampir menjelang pagi. Namun ia mendengar seperti suara-suara yang sibuk merapikan barang. Mawar memaksakan membuka matanya, ia meraba-raba disebelahnya nampak kosong. Rasya sudah bangun? tanyanya pada diri sendiri.


Mawar memaksakan bangun walau kepalanya terasa berat, ia mengucek matanya yang terasa masih ingin terus menempel, ia lihat Rasya yang sedang memasukkan pakaiannya dalam sebuah travel bag mini, Mawar membola, mau kemana Rasya sepagi ini? kenapa tidak membangunkan ku?


"Sya, kamu mau sudah bangun?" tanyanya dengan suara khas bangun tidurnya.


"Hemm" Rasya hanya menjawab dengan deheman.


Mawar sudah tidak bisa menahan diri lagi, dia bangkit dengan kepalanya yang sakit, sebab belum makan sedari kemarin. Mawar memegang tangan Rasya yang sibuk memasukan pakaiannya.


"SYA MAU KEMANA?" tatap Mawar tajam suaminya "Marah dengan ku nggak harus menghindar, kita selesaikan sekarang" tegas Mawar yang ia rasa sikap Rasya sudah berlebihan.


Rasya berhenti mengemasi pakaiannya, melihat kearah Mawar "Aku tidak marah, aku hanya butuh waktu, sekarang aku ada pekerjaan keluar kota, mungkin akan sedikit lama" Rasya enggan berdebat lagi


"Kenapa tidak membangunkan aku, kamu sudah tak menganggap aku istrimu lagi?" netra Mawar sudah berkaca-kaca, apa Rasya akan meninggalkannya?


"Jangan berpikir yang macam-macam, aku hanya tidak ingin merepotkanmu istirahatlah lagi" lirihnya,


Lalu apa keputusanmu menganggap aku sebagai suami mu?


Namun urung ia katakan, Rasya pun bingung akan bersikap seperti apa, disisi lain dia sangat menyayangi Mawar dan tak tega, disisi lain dia masih begitu gengsi untuk meminta maaf, yah lagi-lagi egonya masih menguasai dirinya.


"Berapa lama? kemana?" tanya Mawar yang tak ingin ditinggal,


Bolehkah aku ikut? pintanya dalam hati, ia masih begitu tahu diri atas kesalahannya


"Belum tahu, hanya ke Medan" jawab Rasya singkat, ia masih begitu dingin


"Jangan lupa kabari aku" Mawar ikut berdiri yang mana Rasya sudah akan siap berangkat, ia masih mengamati wajah tampan suaminya yang enggan menatap wajahnya.


Sampai dipintu depan pun Rasya sama sekali tak melihatnya, padahal laki-laki itu selalu menciumnya, mengecup seluruh wajahnya, dan terkadang malah malas untuk bekerja, selalu ingin berdekatan.


Mawar masih menunggu disana, sampai mobil sang suami yang berlalu, entah keberadaannya dilihat atau tidak, dan saat mobil itu melewatinya, Rasya sama sekali tak melihat kearahnya, atau melembaikan tangan, mengecup dari jauh walau akan hilang oleh udara.


Dadanya terasa sesak, tersakiti walau tak berdarah. Apa hidupnya akan terulang seperti dulu, dengan orang yang berbeda, diacuhkan dan tak dianggap, rasanya rasa itu terus menghantuinya, walau kadang hati sudah ikhlas, namun rasa trauma akan diabadikan masih saja ada.


Kini Mawar hanya menyibukkan diri menonton acara makan-makan, entah itu dari televisi, ataupun melalui berbagai macam sosial media, ia melakukan itu, agar menggugah selera makannya, terlambat makan akhir-akhir ini membuatnya terasa mual. Terkadang jika dia sangat menginginkan makanan itu, ia mengajak teh Sumi untuk membuat bersama-sama.


Setelah beberapa waktu lalu ia setiap hari makan masakan Padang, kini Mawar begitu menginginkan makanan khas daerah Sumatra Selatan, Pempek, ia selalu menelan ludah setiap melihat pembawa acara menampilkan makanan yang terbuat dari tepung tapioka yang dicampur dengan gilingan ikan, lalu dicelupkan kedalam kuah berwarna gelap, yang terbuat dari gula merah dan cuka.


Jika sudah makan itu Mawar bahkan lupa untuk makan nasi, bangun tidur pun ia hanya ingin makan makanan itu. Teh Sumi selalu mengingatkan Mawar untuk tidak berlebihan memakan kuah dari pempek tersebut, karena rasa asam pada kandungan cuka tersebut bisa membuat asam lambung naik, apalagi Mawar tidak mengimbanginya dengan makan nasi.


Sudah empat hari Rasya belum kembali, mengabarinya pun tidak, namun Mawar tetap memberi pesan kepada Rasya walau tak sekalipun suaminya itu membalasnya.

__ADS_1


Titik dimana kini Mawar merasa kesepian, ia benar-benar merindukan Rasya, perhatiannya, sentuhan laki-laki itu, terasa masih membekas, "Sya sesibuk itu kamu?" lirihnya.


Sebuah notifikasi masuk pada ponselnya, dengan cepat Mawar membuka pesan tersebut, dengan tak sabar, berharap Rasya mengabarinya. Namun semua tak seperti yang ia harapkan, itu adalah pemberitahuan dari grup keluarga mereka, terpampang jelas disana, sang papa mengunggah sebuah foto yang menampilkan alat tes kehamilan. Putri akhirnya mengandung cucu pertama dikeluarga mereka.


Putri positif hamil, dua garis itu terlihat begitu jelas tanpa samar sama sekali.


Dengan sangat senang Papa terus mengucap syukur, meminta doa agar Putri dan bayi yang ada dalam kandungannya diberikan kesehatan dan keselamatan sampai proses persalinan.


Berbagai ucapan selamat pun datang silih berganti, tak terkecuali Mawar,


"Selamat ya Put, semoga kamu dan baby sehat selalu, doakan aku cepat menyusul"


Balas Mawar dalam grup itu, namun tak ada yang menanggapi ucapannya.


Disela banyaknya ucapan selamat itu, papa Marcel mengungkapkan bahwa Marvin dan Putri belum melakukan hubungan suami istri lagi setelah peristiwa yang membuat mereka bersatu, hal itu justru membuat Marvin menjadi bulan-bulanan disana.


"Papa apa-apaan sih, memalukan Marvin sekali, itu aib pa" yang diakhiri imoji sebal dari Marvin. Tanpa Marvin sadari ia telah mengakui hal tersebut.


Mawar tertawa namun ia meloloskan bulir bening itu, ia menghapus air matanya dengan jari telunjuknya.


Papa, Marvin, Mawar senang kalian bahagia, doakan Mawar, agar Mawar ikut merasakan kebahagiaan kalian.


Dengan tanpa malunya, butiran-butiran itu semakin deras meluncur tanpa bisa dicegah. Namun ada satu hal lagi yang membuat Mawar seakan dunianya semakin runtuh, Rasya mengucapkan selamat kepada kedua pasangan itu.


"Sefatal itukah kesalahan ku, kau mengabaikanku Sya"


Mawar tak sanggup lagi, dia menangis sejadi-jadinya dalam kesendirian. Mawar sebenarnya menyadari jika tanda-tanda itu ada dalam dirinya, namun ia terlalu takut, ia selalu takut dari dulu, jika kenyataan tak sesuai dengan yang diharapkannya. Ia enggan melakukan tes itu, apalagi situasi mereka sedang dalam keadaan tidak baik.


Mawar memejam, terlalu lama menangis membuatnya kelelahan, tak pernah ia sesakit ini, perlakuan ibu Vivi sama sekali tak membuat ia sesesak ini, namun Rasya, dia sengaja membuat Mawar sakit berkali-kali lipat.


Mawar mematikan ponselnya, enggan lagi terlalu dalam menyakiti dirinya.


Setelah sehari kejadian itu, Mawar tak keluar kamar sama sekali, hanya teh Sumi yang masuk mengantarkan makanan untuk Mawar


"Non makan dulu, dari kemarin non Mawar belum makan" ujar teh Sumi khawatir


"Tarok saja teh, nanti Mawar makan" jawabnya masih dengan tersenyum kepada teh Sumi.


"Saya kabari Den Rasya ya, biar Den Rasya cepat pulang"


"Nggak usah teh, jangan kabari siapa pun, aku nggak pa-pa" ujar Mawar dengan suaranya yang lemah.


Malam hari teh Sumi kembali membawakan makanan untuk makan malam Mawar, teh Sumi melihat makanan yang ia hantarkan tadi siang masih nampak utuh. Teh Sumi mencari Mawar tak ada ditempat tidur, teh Sumi terus memanggil.

__ADS_1


"Non, non Mawar, non ada dimana" teriaknya


Ceklek


Pintu kamar mandi itu terbuka, manampilkan wajah pucat Mawar.


"Ya Ampun non, mukanya pucat banget sih non" khawatir teh Sumi, ia menghampiri majikannya itu, ingin membantu memapahnya. Namun belum sampai tangan itu menyentuh bahu Mawar, Mawar lebih dahulu ambruk.


"Astaga ya Allah non" teh Sumi menangis melihat keadaan Mawar.


"MANG DADAAAANGGGG PAK ARYO" teriak teh Sumi pada penjaga rumah itu dan supir Mawar.


Dengan cepat ketiganya membawa Mawar kedalam mobil, membawa ke rumah sakit terdekat.


Belum lama mobil mereka keluar dari perumahan itu, mobil Rasya tiba didepan rumahnya, ia beberapa kali membunyikan klakson, meminta mang Dadang membukakan pintu pagar rumahnya.


Lama Rasya menunggu, akhirnya ia membuka sendiri untuk mobilnya lewat, "Tak dikunci ujarnya, kemana mang Dadang?"


Setelah memarkirkan mobilnya, Rasya bergegas masuk, langkahnya tak menyurut, ingin memberi surprise kepada istrinya, sebuah kain ulos ia pesan kepada pengrajin tradisional disana, dan kue Bika Ambon yang dibuat spesial sesuai pesanan Rasya.


"Sayang...." buka Rasya kamarnya


Sepi, kamarnya nampak sepi, namun ia melihat ada dua nampan yang ada dinakas masih nampak utuh.


"Sayang...." panggilnya lagi


Ia terus mencari hingga kekamar mandi. Nihil, tak ada siapapun.


Rasya berlari ke kamar teh Sumi "Teh Sumi" panggilnya pada asisten rumah tangga mereka. Sepi, semua terlihat sepi.


Rasya ingat, mobil Mawar, ia berlari keluar, benar, mobil itu tak ada.


"Kemana mereka?"


Rasya mendial nomor Aryo, menanyakan kebenaran mereka.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komenya, bila perlu kasih bunga yang banyak 😍😍


__ADS_2