Mawar Tak Berduri

Mawar Tak Berduri
Chapter 49


__ADS_3

Sesampainya dirumah, Rasya menyuruh Mawar istirahat, istrinya itu terus memaksa untuk menemani Chio, Rasya tak ingin Mawar terlalu lelah "Kamu dengerkan sayang, tadi David yang akan mengurus semuanya, dia akan mendampingi Chio sampai selesai, dia lebih berpengalaman menangani kasus kayak gini, saudara kamu itu bisa diandalkan" diselaminya mata teduh itu, dia ingin Mawar mendapatkan ketenangan.


"Dan untuk kerugian, biar aku yang akan menanggung semua, ada Abdi yang akan membantu mengurus data-data pembeli yang hilang, semua barang yang akan dikirim, dokumen semua yang ikut terbakar, jadi kamu nggak usah mikirin itu semua, biar belutku cepat menghasilkan bibitnya"


Rasya mengaduh, cubitan semut itu kembali mendarat dipinggangnya.


"Nggak lucu" Mawar kesal, bisa-bisanya Rasya masih memikirkan belutnya disaat dia sedang panik seperti ini,


"Aku emang nggak lagi melucu sayang" ia membelai pipi putih tanpa jerawat itu.


"Kalo kamu senyum gini, belut aku bereaksi lagi, kenapa ya?" lanjutnya, masih terus berusaha mendapatkan yang dia mau.


"Sya, ya Ampun, aku tau tujuan kamu, lihat ini udah jam brapa, kamu bisa kesiangan, kita harus mempersiapkan pernikahan Putri juga"


"Sebentar aja sayang"


"Nggak bisa, aku harus bantuin Mama"


"Iya aku tahu, tapi sebentar aja ya" pintanya memelas, Rasya langsung melucuti pakaian Mawar, membopongnya ke kamar mandi. Akhirnya Mawar hanya bisa pasrah, Rasya kalau soal belutnya tak melihat kondisi lagi, padahal istrinya dalam keadaan mood yang tidak baik.


Pergulatan itu kembali terjadi dikamar mandi, Mawar yang awalnya tidak berselera sama sekali, kini terhanyut akibat kepiawaian Rasya dalam memancingnya, Mawar terus menggeliat, ******* itu kembali keluar dari mulutnya.


Setengah jam berlalu, kini keduanya sudah bersiap dan rapi, Rasya akan kekantor, sedang Mawar akan membantu mama Rika dirumah, mempersiapkan pernikahan Marvin dan Putri


"Aku kedinginan Sya, tadi pagi mandi jam tiga subuh, sekarang mandi lagi, mana belum tidur sama sekali" Rasya terkekeh mendengar celotehan Mawar, istrinya itu semakin cerewet.


"Yasudah abis aku berangkat kerja, kamu tidur lagi ya" Rasya terus memperhatikan wajah cantik istrinya yang sedang memasangkan dasi untuknya.


"Mana bisa, aku malu sama Mama, masa pagi-pagi udah tidur"


"Hei, Mama bukan tipe mertua kayak gitu, apalagi dia tahu kamu kurang tidur"


Mulut Mawar sudah maju beberapa senti "Kamu lupa, mama hari ini pasti sibuk, hari ini pernikahan Putri dan Marvin" ingatkan Mawar pada Rasya, ia masih memegangi dasi Rasya yang sudah rapi. "Aku nggak nyangka, Putri akan menjadi adikku" ujarnya bahagia


"Kamu senang?" Mawar mengangguk,


"Mereka sangat cocok, Putri anak yang baik, nggak neko-neko, beruntung Marvin bisa mendapatkan Putri" lanjutnya


"Kayak aku, beruntung bisa dapetin kamu" Rasya merengkuh pinggang istrinya, dan menyatukan bibir mereka

__ADS_1


"Udah" lepas Mawar bibirnya "Nanti bisa panjang urusannya" Rasya tertawa terbahak, ya, dia pun sudah mulai terpancing lagi.


"Kamu hati-hati ya, jangan lupa pulang cepat, terus kabari aku perkembangan Chio" mereka sudah berada di pintu depan, Mawar mengantar Rasya yang ingin berangkat kerja


"Kamu lebih perhatian sama Chio dari pada suami kamu sendiri" ucap Rasya cemburu


"Kamu cemburu sama Chio?"


"Iya, karena dia yang selalu ada untukmu, tapi itu dulu, sekarang, cuma aku yang bisa bikin kamu bahagia, pastiin waktu kamu cuma buat aku" colek Rasya hidung mancung istrinya, tak lupa ia juga mencium kening Mawar, kali ini sedikit lama, seperti mereka akan berpisah lama.


Mawar memejamkan mata, meresapi ciuman sang suami, serta menghirup aroma parfum Rasya yang masih terasa sangat segar, diapun mecium punggung tangan Rasya. Untuk pertama kalinya, dia mengecup bibir Rasya terlebih dahulu, Rasya yang merasa bahagia, menahan tengkuk Mawar, agar ciuman itu semakin dalam.


"Udah nanti ketahuan mama lagi" Rasya terkekeh


"Nanti kita cari rumah ya, maaf aku belum ada waktu untuk kamu"


"Iya, nggak papa"


Mawar melambaikan tangan saat Rasya sudah menjalankan mobilnya, Rasya membalasnya dengan klakson mobil miliknya


Seharian ini Mawar benar-benar dibuat sibuk, dia membantu mama Rika mempersiapkan segala hal, walau ini hanya akad seperti yang dia lakukan kepada Rasya, namun cukup menyita waktu, jika dulu dia hanya terima beres, kali ini ikut andil dalam mempersiapkan segala sesuatunya.


"Putri kamu kekamar tamu ya, nanti ada MUA yang datang, kebayanya sudah mba tarok diatas tempat tidur, sama jas yang akan dipakai Marvin" Mawar mengantar Putri kekamar tamu, untuk Putri bersiap-siap.


"Makasih mba, Putri benar-benar terharu, Putri seperti mendapatkan keluarga baru"


"Hei, kamu lupa, kita memang keluarga, Marvin itu adikku" mereka berpelukan, Putri merasakan ketulusan hati Mawar.


"Mama kemana mba?" Putri mengurai pelukan mereka.


"Lagi ambil cincin untuk kalian nanti"


"Apa mama tahu ukuran jari kami"


"Itulah hebatnya mama, dia tahu segala hal, kita dapat orang tua yang hebat"


Mawar kekamarnya, dia terus menghubungi Marvin, namun tak bisa.


"Apa Marvin ikut mengurus toko?"

__ADS_1


Mawar menghubungi David, menanyakan keberadaan Marvin, namun ternyata Marvin tidak ada disana.


Tak lama ponsel Mawar berdering, nomor Vivi tertera disana.


"Bu...." ujarnya sedikit ragu


"Mawar, tolong Mama" Suara Vivi terdengar seperti ketakutan.


"Mama?" antara percaya atau tidak, Vivi memintanya memanggil mama


"Tolong Mama"


"Mama ada dimana sekarang?"


"Kamu kesini, nanti Mama kirim lokasinya"


"Iya Ma, Mawar kesana sekarang" tanpa pikir panjang lagi, Mawar bergegas keluar. Ia sangat terburu-buru, takut terjadi sesuatu yang buruk pada Vivi.


Didepan sudah ada taksi yang menunggunya, tanpa menaruh curiga Mawar langsung masuk. Sepanjang perjalanan Mawar tak memperhatikan arah taksi itu membawanya. Mereka berhenti disebuah bangunan kosong tua.


"Pak kenapa kita berhenti disini?" tanyanya pada sang supir


"Kita sudah sampai" supir itu berbalik badan


Mawar membelalakkan matanya, dia terkejut dengan penampilan supir itu. Wajah garang dan menakutkan, ciri khas seorang preman.


"Siapa kamu?"


"Ayo kita turun, nyonya Vivi sudah menunggu"


.


.


.


.


Guys emang seperti ini alurnya, kalian suka nonton korea kan?, aku sih suka, cerita yang g monoton, ini ciri khas dari aku sendiri 😍😍 love you, yang masih setia

__ADS_1


__ADS_2