Mawar Tak Berduri

Mawar Tak Berduri
Chapter 16


__ADS_3

Rasya yang sudah menggigit separuh rotinya menjadi tak berselera. Diletakkannya lagi roti kedalam piring yang ada dihadapannya. Dia harus menghentikan ini, hari pernikahan mereka tinggal menghitung hari, yang mana Rasya masih belum siap dan belum bisa menerima Mawar, dan dia belum bisa menentukan perasaannya pada Putri.


"Loh kok nggak jadi dimakan?." Mama yang melihat itu jadi sedih, padahal tadinya Mama sudah merasa senang, karena Mawar sudah mulai memberikan perhatiannya pada Rasya.


"Itu kan roti kesukaan kamu, Mawar tahu selera kamu, padahal dia nggak pernah nanya lo sama Mama." Terang Mama agar Rasya mau menghargai perjuangan Mawar.


"Rasya kenyang Ma." Dielapnya mulut menggunakan tissu lalu bangkit mendorong kursi, memberi ruang untuk dia lewat.


"Pa, Ma ... Rasya jalan dulu." Disalaminya punggung tangan kedua orang tuanya.


Mama memandang punggung putranya hingga tak terlihat lagi, menghembuskan nafasnya pasrah. "Kalo Mawar tahu, dia pasti sedih."


"Biarkan Ma... seiring berjalannya waktu Rasya pasti bisa menerima Mawar." Diusapnya tangan istrinya menenangkan. Mama mengangguk, ia berharap pun demikian. Semua berjalan sesuai rencananya.


"Sudah jangan dipikirkan, semoga mereka berjodoh, kita tidak bisa memaksakan kehendak pada Rasya, bukankah kita hanya ingin melindungi Mawar, dan mengetahui siapa dia?, kita yang salah, tak memberi tahu pada Rasya yang sesungguhnya." Mama Rika lagi-lagi mengangguk, jauh didalam lubuk hatinya, Mama ingin Rasya bisa mencintai Mawar, namun ia sadar, tak bisa memaksakan egonya.


"Papa berangkat dulu, Mama jangan kekantor jika lelah, Mamakan harus menyaksikan pernikahan mereka, jadi Mama harus sehat, semua keperluan untuk akad sudah Papa urus, semoga sampai hari H-nya tidak ada halangan apapun." Papa Reyhan seolah mengerti kegundahan istrinya. Dikecupnya pucuk kepala Mama Rika, dielusnya pipi istrinya menggunakan ibu jarinya.


Cup


Mama Rika tersentak kaget, ia bersemu malu, sudah setua ini, Papa selalu saja masih romantis dan mengerti semua yang ia rasakan. Papa Reyhan tertawa melihat wajah mama yang merona.


"Lihat muka mama begini, Papa jadi malas kekantor."


"Hemm... kenapa bisa begitu?." Mama yang dari tadi diam, akhirnya buka suara, Mama mengernyitkan keningnya


"Muka Mama ngegemesim." Dilihatnya waktu pada tangannya, "Masih ada waktu, yuk Ma... " ajaknya pada sang istri yang masih belum mengerti.


"Kemana?." tanya mama heran.


"Kita bikin adik untuk Rasya." kerlingkan Papa matanya.

__ADS_1


Plaakk


Pukul Mama Rika bahu suaminya, gemas bisa-bisanya suaminya itu memikirkan hal konyol, padahal dia sendiri sudah rapi untuk bersiap. "Papa tuh udah tua masih genit, inget umur Pa" Mama melotot sebal. "Mama nggak mau."


"Mau ya Ma..." Rengek papa bak anak kecil.


"Nggak..."


"Harus mau, gimana kalo Papa nyari yang masih gresh diluar." Papa menaik turunkan alisnya.


Lagi-lagi Papa harus mengaduh, karena cubitan Mama yang bak gigitan semut berbisa.


"Papa tuh suka sembarangan kalo ngomong"


"Papa kan bercanda MA..." Papa mengelus perut sampingnya, bekas cubitan Mama.


"Nggak lucu"


...****************...


"Dimana kamu? ada yang harus kita bicarakan, aku tunggu di danau dekat rumah"


Rasya mematikan panggilannya begitu saja, tanpa menunggu jawaban dari Mawar.


Apa? Rasya mengajak bertemu? Di danau? Ada hal apa? dari suaranya Mawar dapat menyimpulkan, Rasya seperti sedang marah. Kenapa? apa salahnya?.


Mawar tak berharap mendapat perlakuan manis dari Rasya, jangankan diperlakukan manis, menyapa pun rasanya Rasya sangat tak ingin.


Mawar meminta David sang supir untuk kembali ketempat yang diminta oleh Rasya. Ia yang awalnya mau kerumah Putri pun ia urungkan.


Butuh waktu dua puluh menit untuk Mawar sampai ketempat Rasya. Dilihat Mawar laki-laki itu sudah menunggunya, Rasya berdiri pada badan mobil hitam miliknya, dengan kedua tangan ia masukkan kedalam saku celana, kaca mata hitam bertengger di hidung mancungnya. Mawar sempat terkesima dengan pesona Rasya, namun harus ia tepiskan rasa itu, tidak, Mawar tidak ingin terluka terlalu dalam.

__ADS_1


Rasya pun melihat mobil Mawar yang mendekat, tak ingin membuang waktu, Rasya menghampiri mobil yang bahkan belum terparkir dengan benar.


Mawar yang baru turun dari mobil pun terperanjat, Rasya sudah berdiri dihadapannya.


"Jangan membuang waktu untuk hal yang tidak berguna, hentikan semuanya, aku bahkan bisa sakit perut memakan makananmu"


Mawar hanya mematung, masih mencerna ucapan Rasya.


"Hari pernikahan kita sebentar lagi bukan?, kau tinggal memilih aku atau kau yang harus kabur dari pernikahan."


Bak disambar petir, Mawar tak percaya atas yang didengarnya, Rasya memberinya pilihan yang tak sama sekali menguntungkan untuknya. Bak makan buah simala kamak.


"Jika aku yang harus melakukan itu, itu berarti kau mempermalukan dirimu sendiri, ditinggal calon suami di hari pernikahan." Rasya tersenyum smirk menyebalkannya.


"Mawar, kamu tau kita tidak saling mencintai, kuharap kamu mau membatalkan pernikahan ini." Ucapnya lirih, tak lagi ketus.


Mawar tak bergeming, ia terus menatap wajah Rasya yang begitu tegasnya, meminta ia kabur di hari pernikahan. Membuat dialah penyebab semua kekacauan.


Mawar yang terbiasa disakiti oleh keluarganya pun, tak merasakan apa-apa, hatinya seolah telah membeku.


Hawa panas yang menyerang pendengarannya seakan menguap. Tak mendapat respon dari Mawar, Rasya membalikkan badan, ia berharap Mawar cukup mengerti dan paham apa yang harus ia lakukan.


"Aku nggak mau, aku ta akan membatalkan pernikahan ini, walau kau menangis nanah sekalipun."


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2