
Kini Mawar sedang tertidur, setelah mendapat pengobatan dari dokter keluarga Rasya. Beruntung Mawar tidak mengalami luka serius, walau masih menyisakan banyak luka memar pada wajahnya.
Rasya terus mengecupi telapak tangan istrinya, hatinya begitu sakit, melihat banyak sekali luka yang dialami wanita ini. Baru saja dia ingin membuat istrinya wanita paling bahagia, tapi dia malah kecolongan, dia merasa menjadi suami yang tidak berguna, tidak bisa menjaga istrinya.
"Maafkan aku sayang, maaf aku yang tidak bisa menjaga mu, terlambat membantu mu" Rasya tak bisa membayangkan jika Mawar tak cepat diselamatkan, pasti malam ini istrinya menjadi santapan laki-laki liar itu.
Semua pakaian yang sempat Mawar pakai tadi siang semua telah dibakar, Rasya tak sudi melihat bekas tangan orang lain pada pakaian Mawar. Saat membersihkan tubuh Mawar pun, Rasya pastikan tak ingin terlewat sejengkal pun agar tak menyisakan jejak tangan orang lain.
Waktu menunjukkan pukul satu dini hari, Rasya masih belum bisa memejamkan matanya. Dia mendapat kabar dari David, jika otak dibalik semua ini adalah Vivi, ibu tiri Mawar. Dan kejadian yang menimpa toko juga adalah ulah wanita itu.
Hehh, Rasya tersenyum kecut, bisa-bisanya semua orang terkecoh dengan ulah satu orang, dan dibuat kelimpungan, sungguh pintar otak licik Vivi.
Rasya kini terpikirkan papa Marcel, laki-laki itu sedang terbaring dirumah sakit, akibat serangan jantung mendadak, sebab Vivi membuat keributan dikantor, dan menunjukkan video Mawar, wajar saja jika papa Marcel syok.
Beruntung Marcel cepat tertolong, sebab David menghubungi Seno untuk mencari keberadaan Vivi. Dan menemukan Marcel yang sedang memegangi dadanya, sedang Vivi sedang mengambil uang di brankas milik Marcel.
Seno, seorang laki-laki yang baru diketahui Rasya identitasnya, merupakan ayah biologis dari Marvin, Rasya benar-benar tercengang mendengar kabar tersebut, begitu juga mama dan papa Reyhan, mereka tidak menyangka, jika Vivi mempunyai rahasia sebesar itu, dia yang juga melakukan dosa besar, namun menuntut dendam kepada Mawar, anak yang menurutnya menjadi penyebab kehancuran rumah tangganya bersama Marcel, benar-benar wanita tak tahu diri.
Wanita itu semakin menjadi, tatkala Marcel menceraikannya, dan dia tak mendapatkan saham sepersenpun dari perusahaan. Lagi-lagi Mawar yang ia jadikan sebagai tempat balas dendamnya.
Marvin belum mengetahui tentang ayah biologisnya, sebab David tak memberi tahu hal tersebut didepan Marvin, bukan rana mereka memberi tahu hal tersebut, biarlah itu menjadi urusan Vivi dan Seno, orang yang bertanggung jawab atas Marvin.
Sungguh Rasya ingin semua cepat berakhir, dia saat ini hanya ingin fokus pada kebahagiaan Mawar, menebus semua kesalahannya.
Rasya melihat wajah tenang Mawar yang sedang tertidur pulas, begitu banyak penderitaan yang telah dilewati istrinya ini, Rasya begitu bersyukur, kini bisa memiliki Mawar kembali yang tidak membalas sakit hati atas perlakuannya dulu.
Rasya merapikan selur rambut yang menutupi sebagian wajah Mawar, memperhatikan sisa-sisa luka pada wajahnya, hatinya kembali sakit, betapa kuatnya pukulan itu. Rasya berjanji, dia tidak akan membebaskan orang-orang itu, termasuk Vivi, dia pastikan mereka akan mendekam di penjara seumur hidup.
Rasya mengeratkan pelukannya, menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang sangat ia rindukan, hingga akhirnya iapun ikut terlelap.
Mawar terjaga dari tidurnya, ia merasakan kedinginan, walau Rasya mengapit tubuhnya, namun tetap saja membuatnya merasa hawa dikamar Rasya cukup dingin, ditariknya selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya, aneh sekali, tidak biasanya dia merasa dingin seperti ini, ia meletakkan tangannya pada kening, namun tak merasa demam, ia merasa susah bergerak, Rasya memeluknya terlalu erat. Perlahan Rasya melepaskan pelukan itu, ia duduk bersandar pada kepala ranjang
Mawar membulatkan matanya, pantas saja dia merasa dingin, ternyata Rasya mengganti pakaiannya dengan baju berbahan tipis transparan, perasaan tadi dia memakai piyama lengkap, juga memakai dalaman yang lengkap, kenapa sekarang dia sudah berganti pakaian kurang bahan ini, senyenyak itukah dia tidur? sampai tak sadar suaminya mengganti pakaiannya? Astaga, dari mana Rasya mendapatkan pakaian ini? Mawar membelai rambut Rasya lembut, ada-ada saja kadang tingkah suaminya, Mawar masih tidak menyangka, jika dia akan hidup bersama laki-laki mulut berbisa ini.
__ADS_1
Kini Mawar sudah rapi, ia tengah memperhatikan kamar Rasya, kamar berwarna monokrom ini sangat rapi, Rasya benar-benar tipe laki-laki pembersih, kamar ini tidak begitu banyak pernak-pernik, cuma ada tempat tidur, satu sofa panjang dan sebuah televisi yang menempel di dinding dan terdapat ruang walk in closed, Mawar baru sempat memperhatikan kamar suaminya, sebab ia yang tak diberi kesempatan sedikitpun oleh Rasya untuk melihat-lihat isi kamar ini, setiap mereka dikamar, Rasya pasti langsung membuatnya sibuk.
"Sayang kami udah bangun" suara bariton khas bangun tidur membuat Mawar melihat kearah suaminya, Rasya melihat jam pada ponselnya
"Ini masih gelap loh, kamu kok udah rapi aja, mau kemana hem?" lihatnya Mawar yang sudah rapi "Kok kamu udah ganti baju?"
Mawar menghampiri Rasya, duduk ditepi ranjang dekat suaminya, Rasya langsung memeluk paha Mawar, mendusel-dusel pada paha yang sudah terhalang dress maroon yang dikenakan Mawar
"Kamu yang ganti baju aku? aku kedinginan Sya" Ucapnya, tangannya mengusap lembut rambut Rasya
"Kenapa nggak bangunin aku sayang? kan ada aku yang bisa ngangetin kamu"
"Aku masih sakit, nanti pasti kamu minta yang yang aneh-aneh"
"Aku nggak akan minta yang aneh-aneh, nyatanya semalam kamu tidur nyenyak kan"
"Iya iya aku percaya" Rasya semakin mengeratkan pelukannya pada paha Mawar.
Rasya baru mengingat jika Marcel saat ini sedang dirawat dirumah sakit. "Sayang, hari ini juga kita akan menjenguk papa Marcel, beliau dirawat dirumah sakit"
Mawar terkesiap mendengar itu "Papa? Papa sakit apa?"
"Kamu jangan terkejut" Rasya berangsur duduk, menarik Mawar agar bersandar didadanya "Papa terkena serangan jantung, saat melihat video itu"
"Papa tahu? ayo Sya! kita kesana, siapa yang menjaga Papa sekarang?" Mawar menjauhkan tubuhnya, dia juga tahu video apa yang dimaksud Rasya
"Ada Marvin, dan juga ada bibi yang menjaga Papa"
Mawar dan Rasya telah sampai dirumah sakit. Nampak Marvin yang sedang tertidur disofa yang ada diruangan VIP tersebut. Sedang Marcel sedang disuapi bibi yang memang menemaninya belakangan ini.
Mata Marcel berkaca-kaca atas kedatangan anak semata wayangnya ini, melihat begitu banyak memar di wajah Mawar, dia tidak menyangka, akibat kebodohannya dimasa lalu, dan ketidak tegasanya jadi berbuntut panjang, hingga Mawar yang menanggung dan menebus semua kesalahannya, seharusnya dialah yang harus menanggung semuanya, bukan Mawar yang tak tahu apa-apa. Seharusnya dia sudah menyelesaikan dari dulu, malah bukan menunda-nunda, dan menuruti semua skenario Vivi, yang malah dibalas penghianatan juga oleh wanita itu.
Beribu kata maaf pun tak akan menebus semuanya.
__ADS_1
"Ma-af kan pa-pa" ucapnya lirih dan terbata, dia begitu malu, apalagi terhadap anak menantunya.
"Jangan pikirkan itu Pa, sekarang Mawar baik-baik saja, mungkin mama juga yang membantu mendoakan Mawar dari atas sana"
Sungguh ucapan Mawar membuat semua yang ada disana terenyuh. Marcel pun tak dapat menahan lagi bulir bening itu, semua terus mendesak keluar tanpa bisa ia hentikan.
Marvin terbangun sebab mendengar tangisan Marcel yang begitu terisak, ia lihat papa Marcel menangis panuh penyesalan. Marvin tidak bisa membenci laki-laki yang kini bukan papanya lagi, semua begitu cepat berputar, dulu dialah yang selalu menjadi prioritas, sekarang dia rasanya malu untuk berada ditengah keluarga ini, namun apapun tanggapan Marcel selanjutnya terhadap dia, Marvin hanya ingin menghabiskan waktunya mengurus Marcel, sebagai balas jasanya, karena Marcel selama ini sudah mengurusnya, memberikan semua kemewahan itu padanya.
"Papa tahu siapa David Pa?" Mawar menatap sang papa, menyakinkan jika papa baik-baik saja mendengar semua yang akan dia ungkapkan.
Marcel diam, dia hanya memandang anaknya, menunggu apa yang akan dikatakan Mawar,
Mawar menyeka air mata papanya "Dia anak dari Bi Nur, kakaknya mama, dia juga yang menyelamatkan Mawar Pa, bersama Marvin, Mawar begitu bahagia, mempunyai banyak saudara laki-laki yang bisa melindungi Mawar dan laki-laki kuat seperti Papa"
Marcel lagi-lagi tak dapat menahan air matanya, David ternyata keponakan sang istri, tanpa dia sadari, ternyata Mawar selama ini benar-benar dijaga oleh saudaranya sendiri.
"Pa, sebentar lagi Marvin juga akan menikah, Papa harus cepat sehat, agar bisa menyaksikan kebahagiaan Marvin Pa" Mawar terus bercerita, membuat semua mengharu, Rasya mengusap-usap bahu sang istri, betapa kuatnya Mawar selama ini menjalani hidupnya.
Marvin mendekat keranjang Marcel, dia merendahkan tubuhnya, menggenggam tangan Marcel "Izinkan Marvin mengurus Papa, Marvin tahu, mungkin Papa tidak sudi melihat Marvin, terima Marvin Pa, walau bukan sebagai anak, tapi sebagai orang yang membalas jasa atas kebaikan papa selama ini"
Marcel hanya mengangguk diam, hatinya begitu bahagia, anak-anaknya begitu mencintainya, padahal dia bukanlah ayah yang baik untuk dijadikan contoh oleh anak-anaknya.
.
.
.
.
*Semoga semua paham ya bab ini,
Aku ingin semua berakhir, biar Arsya (Mawar-Rasya) "julukan couple " yang diberikan salah satu pembaca yang nggak bisa aku sebutkan namanya, bisa uwwu kembali. Hehehe... makasih yang masih setia dan mendukung Arsya... i love you all ❤️❤️❤️*
__ADS_1