
Lelah sudah Mawar menangis, tak pernah ia seperti ini, sudah biasa ibu memperlakukannya bagai orang asing, tapi ini didepan umum, Rasya sudah dipastikan melihat semuanya. Ia tak peduli siapa laki-laki yang bersama dengan ibunya. Namun Rasya, calon suaminya, yang akan menjadi bagian dari kaluarganya juga, Mawar tak ingin kaluarga Rasya tahu semua.
Sesuatu yang ia tutup rapat, seburuk apapun ibunya, seburuk apa keluarga memperlakukanya, Mawar ingin tak ada satu orangpun mengetahui yang ia alami.
Tak ingin mencari tahu mengapa ia diperlakukan berbeda, tak peduli kenyataan apa yang sebenarnya disembunyikan keluarganya. Toh semua tak akan merubah jalan hidupnya. Apapun kenyataannya hanya akan membuatnya semakin sakit, ia sudah terlalu lelah.
Hiks...
Hiks...
Bulir bening itu tak berhenti mengalir, "Ibu.. tolong berubahlah, aku menyayangi kalian, jangan buat semua terkuak, apapun yang terjadi mohon, berhentilah.."
Bahunya bergetar, isak tangis itu tak dapat ia hentikan. Ia takut hal buruk akan menimpa keluarganya. Tak dapat dipungkiri, sesuatu buruk yang disimpan rapat akan terkuak dengan sendirinya. Mawar tak ingin keluarganya dikenal buruk oleh orang lain.
Tak mudah memang ia menjalani semua, namun ia menikmati perjalanan hidupnya.
Sejak dari restoran Mawar tak berhenti menangis, beruntung Chio sedang berada disana, tak dapat ia bayangkan, jika Rasya yang mengantarnya pulang, dalam keadaan suasana hatinya yang tak baik, Rasya pasti akan mengucapkan kata-kata pedas, Mawar tak akan sanggup mendengarkan orang lain mengucapkan hal-hal buruk tentang keluarganya, sedang mereka tak tahu cerita yang sebenarnya.
"Aku makin yakin, kalau kamu memang benar bukan bagian dari mereka, Mawar, mana ada seorang ibu memperlakukan anaknya sendiri seperti itu. Astaga.. aku nggak habis pikir". Ucap Chio.
Ya.. kebetulan Chio sedang melakukan pertemuan dengan kliennya, direstoran yang sama dengan Mawar.
Sebenarnya Chio sudah selesai terlebih dahulu, namun ia ingin memastikan Mawar sampai dirumah dengan selamat. Ia curiga dengan sikap Rasya yang acuh pada Mawar. Chio memperhatikan mereka dari jauh. Dia yang selama ini hanya mendengar sedikit cerita tentang hidup sahabatnya itu, kini melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri, semua lebih menyakitkan dari yang ia dengar, sikap Rasya, sikap ibu Vivi serta baiknya mama Rasya.Terbuat dari apa hati Mawar? hingga ia sanggup menghadapi semuanya.
Jika hal itu terjadi padanya, mungkin Chio lebih memilih pergi dari rumah dari pada harus hidup tersiksa. Padahal semua rencana busuk dan jahat telah diajarkannya, namun Mawar menolak. "Biarlah semua terjadi, sampai aku menutup mata, semua akan terkubur bersama jasadku, apapun itu, mungkin akulah yang harus menebus kesalahan yang orang lain perbuat, sehingga aku harus menjalani semuanya, bukankah semua kesalahan harus dipertanggung jawabkan."
Kesal, Chio sangat kesal, Mawar harus berpasrah, padahal jika Mawar mau melawan, ibu Vivi juga tak akan berbuat seenak jidatnya.
Chio tak dapat berbuat banyak, saat ini dia hanya mampu mendukung semua keputusan Mawar.
Lelah menangis akhirnya mawar tertidur, namun suara ketukan pintu membuatnya terbangun kembali. Kepalanya terasa berdenyut pusing, ia yang baru akan terlelap terpaksa harus membukakan pintu, "siapa ya? nggak biasanya ada yang mengetuk kamarku". gumamnya.
Mawar mematung, ini dia tidak salah lihat kan, yang sekarang berdiri didepan pintu kamarnya adalah papa.
"Papa...". Lirihnya
Papa Marcel tak kalah terkejut, mendapati mata Mawar yang membengkak, apa yang terjadi, sampai membuat Mawar menangis seperti ini? ingin rasanya ia menarik Mawar dalam pelukannya, menjadi pendengar dikala anaknya sedang dalam masalah, menghapus air matanya, tangan yang terulur terpaksa ia tarik kembali, "Sudah waktunya makan malam" ucap papa dingin tanpa ekspresi. Menutupi canggung, ia yang tak pernah berinteraksi dengan putrinya. Papa berbalik hendak menuju meja makan.
"Mawar nggak lapar pa... kalian duluan saja". Suaranya terdengar serak, khas orang habis menangis, sebenarnya Mawar ingin ikut bergabung, ini pertama kalinya, papa datang ke kamarnya, menawarkan makan malam bersama, tapi ia belum mau bertemu ibu Vivi.
Badan yang sudah berbalik, kini harus kembali, menatap wajah putrinya yang sendu "Apa papa boleh masuk?"
"Hah...?"
Apa dia tidak salah dengar? apa pengaruh menangis sampai kupingnya bermasalah?
"Papa tidak boleh masuk?" ulang papa, karena Mawar hanya mematung, tak memberinya masuk.
Tak menjawab, Mawar hanya menggeser badan memberi akses untuk papa masuk.
Papa Marcel mengayunkan langkah, pertama kali untuknya, memasuki kamar pribadi Mawar, ia mengedarkan pandangannya keseluruhan sudut ruangan, tak ada yang spesial dari kamar Mawar, kamar dengan nuansa serba putih hanya terdapat ranjang king size, fasilitas yang ibu Vivi berikan, serta meja rias disisi sebelah kiri ranjangnya, rak buku yang menempel didinding, nampak sangat nyaman, karena diletakkan disisi jendela, dan terdapat satu kursi santai, yang biasa Mawar gunakan untuk membaca.
Papa berdiri dijendela, menyibak hordengnya, pemandangan pertama yang terlihat adalah kolam renang belakang, serta rumah kecil untuk para ART beristirahat. Papa menghela napas panjang, dadanya terasa sesak, bulu kuduknya meremang, rasa bersalah itu semakin menelusup, selama ini Mawar memperhatikan mereka dari sini, jika mereka mengadakan acara keluarga.
__ADS_1
Sumber ; google design interior
"Mawar marah pada papa?".
Mawar yang masih berdiri diambang pintu terhenyak akan pertanyaan papanya.
"Kenapa papa bertanya seperti itu?"
Nyess...
Pertanyaan balik itu membuat papa semakin merasa bersalah, penyesalan yang tiada berguna, dua puluh lima tahun, Mawar tumbuh tanpa perhatian serta kasih sayang darinya, namun anaknya tumbuh menjadi gadis yang baik, meski bukan jawaban atas pertanyaannya, namun hal itu cukup menjelaskan, bahwa Mawar tak pernah marah pada dirinya.
"Tuhan... ampunilah aku..." mohonya.
Papa menengadahkan kepalanya, menghalau air mata yang akan jatuh, malu untuknya meminta maaf, mengakui segala kesalahannya.
"Tak lama lagi kamu jadi istri seorang pengusaha, jangan lupakan papa"
Apa ini..?, maafkan papa yang tak tahu malu sayang.
Mawar mendekat, ia berdiri tak jauh dari papa Marcel.
"Mawar boleh minta satu hal pa?".
Papa Marcel membalikkan badannya, menghadap Mawar, diamatinya wajah Mawar, penasaran apa yang akan diminta Mawar. Jantung papa berdebar, takut-takut jika Mawar bertanya tentang dirinya, mengapa ia diperlakukan berbeda dengan Marvin.
"Apa itu?"
"Mawar ingin menyekolahkan teman Mawar, apa itu boleh?".
"Untuk siapa?"
"Untuk teman Mawar, apa itu boleh?" tanyanya lagi to the point.
"Kenapa kamu tidak minta kado pernikahan?"
"Mawar boleh memintanya pa?"
"Tentu!!"
"Peluk Mawar pa..."
Darah papa seakan berhenti mengalir, badannya gemetar, seharusnya ini bukan permintaan, seumur hidupnya belum pernah ia lakukan ini pada Mawar, kaki papa terasa lemas.
Mawar langsung berhambur, memeluk tubuh papa Marcel yang mematung, ia terisak disana... Tubuhnya bergetar hebat, memberi tahu, jika ia sangat menginginkan ini.
Sesak... itu yang papa Marcel rasakan... ia tak dapat bernafas, oksigen seakan tak dapat ia hirup, mulutnya tak bisa berkata apa-apa, tak dapat ia ungkapkan perasaannya saat ini, berdosanya dia, Mawar yang tak tahu apa-apa harus merasakan semua penderitaan ini.
Ragu-ragu papa mengangkat tangannya, memeluk tubuh putrinya yang terguguh, papapun tak dapat lagi membendung hatinya, air mata itu turun tanpa diminta, keduanya hanyut dalam suasa yang mengharu.
Dari sebalik pintu, Marvin melihat pemandangan yang membuat hatinya ikut sedih sekaligus bahagia. Ia yang tadi menunggu papa untuk makan bersama, penasaran apa yang terjadi, hingga papanya tak kunjung datang. Ia pun memutuskan menghampiri kekamar sang kakak, namun yang ia lihat justru pemandangan yang mengharukan.
Cukup lega, ternyata papa sudah membuka hatinya untuk Mawar, walau masih terbesit rasa penasaran, mengapa mereka melakukan itu terhadap kakaknya?. Dienyahkanya pikiran tentang Mawar yang bukan kakak kandungnya.
Ahh...
__ADS_1
Pikiran orang dewasa memang sulit dimengerti. Ia putuskan untuk kembali ke meja makan, lebih baik ia makan duluan, perutnya sudah tak sabaran, mengingat udang asam manis dengan asap yang masih mengepul tadi.
"Ehh.. mama udah pulang?" matanya melotot, melihat mama yang sudah duduk.
"Dari mana kamu? kenapa belum makan? kemana papa?"
"Mama kebiasaan, kalo nanya borongan"
Disendokya nasi, lalu udang, namun saat mau mengambil sayur, ia melihat mama yang beranjak dari duduknya,
"Ma.. Marvin punya hadiah untuk mama.." diletakkannya lagi piring yang sudah ia isi.
Digandengnya mama Vivi menuju ruang keluarga, Marvin tak ingin, mama merusak momen papa dan Mawar.
"Kamu punya uang?" tanya mama saat Marvin sudah menyuruhnya duduk di sofa.
"Kenapa Marvin nggak punya uang? pertanyaan mama tuh aneh, punya mama sama papa kaya, nggak mungkinkan mama biarin Marvin jadi gembel"
"Sampai kapan kamu kayak gini, cepet kekantor, mama akan siapkan semua, pemindahan kepemilikan saham serta perusahaan atas nama kamu"
"Santai ma, waktu Marvin masih banyak, kalo hidup Marvin sampe seumuran mama, waktu Marvin masih ada tiga puluh tahun lagi" jawabnya santai, tidak dengan mama, mama melotot mendengar jawaban putra kesayangannya.
Mama melipat tangannya di dada "Kamu yakin bisa hidup sampai umur lima pulu tahun, gimana kalo kamu besok ketabrak mobil"
"Astaghfirullah ma... mama nyumpahi Marvin?"
Marvin terkejut, tapi ia tahu mama hanya asal bicara.
"Makanya, cepat kamu kekantor, emang kata kamu mudah membangun usaha, semua nggak semudah yang kamu pikir, mama dan papa butuh waktu berpuluh-puluh tahun, agar perusahaan kita maju seperti sekarang"
"Ma... mama kan punya besan kaya, dia pasti bakal bantu kita, nggak mungkin kan dia biarin usaha besannya koleps, apalagi mertua kak Mawar, kayaknya dia sayang banget sama kakak, pasti dia akan bantu kita, mama jangan khawatir"
Mama Vivi menyomot mulut Marvin yang asal, gemas, anaknya itu sekarang banyak bicara.
"Kenapa kalian disini, kenapa nggak makan". suara papa Marcel membuat mama Vivi dan Marvin menoleh.
"Papa dari mana? mama menunggu papa dari tadi, sudah selesai sinetron menangisnya?"
Marvin terkejut, kenapa mamanya bisa tahu?. Sedang papa santai, ia tak menanggapi pertanyaan istrinya, ia berjalan menuju meja makan.
Mereka makan tanpa Mawar, Marvin tak lagi berceloteh, muka mama Vivi menyeramkan, melebihi wajah Susana. Keheningan menambah kehororan yang Marvin rasakan, hingga ia lupa, tentang hadiah untuk mamanya.
Marvin Pradipta
.
.
.
.
*Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like dan komenya ya,, ❤️❤️*