Mawar Tak Berduri

Mawar Tak Berduri
Chapter 68


__ADS_3

Siapa yang ingin memiliki trauma? siapa yang tidak ingin menemani istrinya berjuang bertaruh nyawa? Apalagi ini merupakan anak pertama, pasti dia ingin melihat secara langsung, malaikat kecil itu hadir kedunia.


Semua orang bisa berdamai dengan lukanya, tapi susah dengan traumanya.


Rasya menyendiri, mengutuk dirinya sendiri, dia marah pada traumanya yang tidak pernah hilang. Padahal dia sangat yakin, dia bisa melewati ini. Dia telah berjuang keras demi bisa menemani Mawar dalam persalinannya, tanpa ada yang tahu, selama beberapa bulan ini, Rasya telah melakukan terapi pada dokter yang merupakan sahabatnya.


Saat melihat noda darah pada pakaian Mawar, Rasya kembali mengingat pesan sahabatnya, bahwa trauma bisa hilang jika kita dia menghilangkan semua pikiran negatif dan menghilangkan rasa takut, serta fokus pada masa depan. Rasya mengingat wajah bayi yang baru lahir, ada rasa sedikit tenang.


Namun saat dia tidak sengaja melihat darah yang keluar dari jalan lahir Mawar, kepalanya mendadak pusing, matanya berkabur, sekeras mungkin Rasya mengingat wajah bayi nan lucu, tapi kepalanya seperti berputar-putar, perutnya serasa mual, semua diluar kendalinya, dia tak dapat lagi menopang badannya.


"Sayang...."


Mama Rika memegang bahu Rasya, laki-laki itu duduk melantai, dengan pandangan kosong kedepan, saat dia tersadar, Mawar telah melahirkan bayi perempuan mereka.


Beruntung dokter yang menangani Mawar tidak kehilangan fokus saat Rasya pingsan, ada lima perawat yang menemaninya, yang tiga tetap fokus pada Mawar, sedang yang duannya lagi membantu membawa Rasya keluar dari ruang persalinan.


Mawar sempat panik dan kehilangan fokus pun bisa melahirkan anaknya dengan sekali tarikan nafas, dia sebenarnya sangat ingin marah pada Rasya, namun saat tahu Rasya murung dan seolah menyalahkan dirinya, Mawar menjadi iba. Kini dia sedang dijahit oleh dokter, sambil dibantu seorang perawat memberi ASI pertamanya, sehingga Mawar tidak begitu merasakan jahitan yang dilakukan oleh dokter. Setelah semua selesai, Mawar kini dipindahkan pada ruang perawatan VIP yang cukup besar, yang bisa menampung banyak tamu.


Rasya masuk bersama Mama Rika, mama Rika bisa membujuk Rasya untuk segera memberi seruan nama sang pencipta pada telinga anaknya. Rasya tak dapat membendung air yang mengalir di pipinya, bak banjir rob, buliran itu keluar begitu derasnya. Melihat wajah cantik bayi dalam gendongannya


Rasya terus menciumi pipi merah itu, dengan terus mengucap kata maaf yang tiada henti, lalu ia mengecup kening Mawar, dan mengucapkan banyak terima kasih, karena telah berjuang sendiri, dan mengucapkan kata maaf.


"Apap kamu jelek kalo nangis" seru Mawar yang mencoba membuat Rasya tersenyum.


Rasya mengernyit "Apap?"


"Iya, kamu Apap dan aku Amam"


"Apa itu ide dari Chio?" Rasya tahu jika itu kata terbalik yang biasa Mawar gunakan saat bicara dengan Chio


"No.... itu ide aku hubby"


"Terus Mama sama Papa dipanggil apa?" seru Mama Rika

__ADS_1


"Kenen dan Kekak" itu suara Abdi, laki-laki itu masuk bersama dengan Marcel, Reyhan, David Marvin dan juga Putri.


Semua yang mendengar itu tertawa.


"Ihhh kok nggak keren" seru Mama Rika


"Terus apa?" tanya Marvin


"Amo dan Apo" sahut David


Lagi mereka tertawa, perdebatan terus terjadi hanya untuk panggilan pada kakek dan nenek yang sedang berbahagia atas kelahiran cucu pertama mereka.


"Kalau begitu panggil saja Aki dan Nini" usul Abdi lagi


"Enak saja, saya belum terlalu tua ya" protes Papa Reyhan yang tak setuju dengan ide Abdi yang baru.


"Ahh terserahlah, kalian para Ninik-ninik mau dipanggil apa, yang penting keponakan ku, harus memanggil aku Kakak, sebab mau kalian balik bagaimana pun, akan tetap jadi Kakak, ya kan sayang?"


Abdi sudah mengulurkan tangannya ingin menggendong bayi yang baru berusia beberapa jam itu.


Rasya menepuk tangan itu


"Tangan kamu nggak steril Abdi, ambil wudhu dulu, baru bisa pegang anak aku, biar dia nggak sawan"


"Anying, emang aku bawa setan apa?" umpat Abdi


"Abdi tolong telinga cucu Amo masih suci, nggak boleh denger kata-kata nggak bagus" sanggah mama Rika yang tidak terima cucunya mendengar ucapan tak baik itu. Dan akhirnya panggilan untuknya ia jatuhkan pada panggilan "Amo"


Abdi segera menutup mulutnya "Maaf Amo" ruangan Mawar kembali ramai, sebab Abdi dan Rasya terus berdebat, tidak ingin anaknya memanggil Abdi Kakak, tidak pantas kata Rasya, Abdi cocoknya dipanggil Pakde saja, sebab memang dia sudah tua.


"Sudah-sudah, kalian pada keluar, cucu saya dan anak saya mau istirahat" usir Marcel pada semuanya.


"Yahhhhhh"

__ADS_1


Seru semuanya kompak


Dengan wajah kecewa, akhirnya mereka keluar, sebab bayi merah itu menangis, dan Mawar ingin memberi kembali ASI pada anaknya.


Diruang itu tinggal Mawar dan Rasya, sedang yang lainnya menuggu diluar, kini mereka berdebat tentang nama anak Rasya


"Kalian itu dari tadi berdebat terus, tadi masalah panggilan untuk neneknya, sekarang anaknya, biarlah Amam dan Apap nya yang nentuin" David menengahi perdebatan para Apo dan Amo bayi Mawar, ia menggeleng, pusing atas keributan yang tiada henti.


Tak lama ponsel David berdering, ia menjauh untuk mengangkat panggilan itu.


"Iya sayang, kamu sudah dimana"


"...."


"Baiklah aku jemput sekarang"


Tanpa berpamitan David meninggalkan orang-orang yang terdiam saat mendengar panggilan David pada lawan bicaranya, membuat rasa penasaran membuncah pada kepala mereka.


Saat tahu David pergi, rasa kecewa, penasaran semakin membumbung tinggi, mereka tak pernah tahu dan melihat David dengan wanita, sekarang laki-laki itu seperti sudah memiliki kekasih.


Didalam ruangannya, dengan setia Rasya membantu Mawar, sebab wanita itu sedikit takut saat menggendong anaknya, berbeda dengan Rasya, dia seperti sudah terbiasa dan luwes, sebab dia sudah kursus cara mengurus bayi tanpa sepengetahuan Mawar.


Laki-laki yang baru saja menyandang status sebagai seorang ayah itu menjadi suami dan ayah yang siaga, dia tahu akan kekurangan dan kesalahan dia di masa lalu, maka dari itu Rasya menebusnya dengan banyak belajar dan membaca tentang cara mengurus bayi, dan berusaha agar Mawar tidak mengalami *syndrome baby blues.


.


.


.


.


Mungkin sisa dua chapter lagi akan tamat, dan aku akan sambung cerita Abdi.

__ADS_1


Tinggalkan jejaknya ya, biar aku makin semangat, love you all ❤️😘😍*


__ADS_2