
Sudah tiga hari berlalu, sejak dimana Mawar diberi waktu untuk memberi keputusan, Rasya tetap saja bersikap dingin pada Mawar, namun sebisa mungkin Mawar mencoba meluluhkan hati sang suami. Ia terus memberi perhatian, menyiapkan pakaian Rasya bekerja, membuatkannya sarapan, dan masih membuatkan kopi sepulang Rasya bekerja.
Setiap hari juga ia mengirim pesan pada suaminya, kegiatannya hari ini, apa yang ia makan, dan menanyakan pukul berapa suaminya pulang, namun Rasya tak pernah membalasnya. Walau ada rasa sakit terhadap perubahan sikap Rasya.
Mawar mencoba mengerti atas kekecewaan Rasya, namun ia tak bisa merubah keputusannya, ia terlalu enggan berurusan dengan yang namanya kepolisian.
Pagi ini Mawar membuatkan Rasya jus jeruk kesukaannya, serta sepiring omelet yang juga merupakan kesukaan laki-laki itu. Sedang Mawar sudah tiga hari ini dia sarapan, makan siang, makan malam dengan nasi padang.
"Kamu makan nasi padang lagi" tanya Rasya dingin
"Iya, aku suka nasi padang, nggak pa-pa kan?" Mawar mengulas senyum termanisnya, menahan getir atas sikap cuek Rasya. "Aku menyimpannya di lemari pendingin, pagi aku hangatkan lauknya" mencoba menjelaskan walau Rasya tak bertanya.
"Sya, maaf atas keputusan ku, aku rasa aku tidak bisa merubahnya" sesal Mawar, ia menunduk, takut untuk menatap wajah suaminya
"Itu sudah menjadi keputusan mu, aku bisa apa?" Rasya mendorong kursinya, mengambil tas kerja yang ia letakkan di bangku sebelahnya.
Mawar mendongak, mendengar langkah Rasya. Ia berlari, mengejar langkah Rasya, lalu berdiri tepat didepan suaminya
"Jus kamu belum diminum Sya" tatapnya wajah tampan Rasya, laki-laki itu semakin dingin padanya.
"Aku sudah kenyang"
"Sya, jangan hukum aku seperti ini, aku tahu kamu kecewa, tidakkah kamu mengerti Sya, aku melakukan ini demi almarhum ibuku, aku mencoba menebus atas kesalahannya dulu, aku berharap dengan memaafkan ibu Vivi, ibu ku akan lebih tenang disana, hanya ini yang bisa aku lakukan untuknya" mohon Mawar, matanya sudah berkaca-kaca, ia sedih, ia merindukan suaminya.
Rasya menarik nafasnya "Jika ini yang terbaik menurut mu, aku tidak masalah"
"Tapi jangan diami aku, aku merindukan kamu Sya" Mawar tak dapat lagi menahan bulir beningnya, ia tak sanggup diacuhkan Rasya, dengan cepat ia memeluk tubuh tegap Rasya, ia tersedu-sedu didada suaminya.
__ADS_1
Rasya sebenarnya sudah memaafkan Mawar, namun sikap dinginnya tiga hari ini tak mampu merubah keputusan istrinya, dia kecewa. Ingin rasanya dia balas memeluk Mawar, namun ia juga ingin Mawar mengerti, jika dia begitu kecewa.
"Aku sudah terlambat Mawar, bisakah kau sudahi menangismu"
Degh
Bak pukulan batu besar menghantam dadanya mendengar ucapan Rasya, kejam sekali Rasya berkata seperti itu, disaat dia sedang membutuhkannya.
Mawar reflek menjauhkan tubuhnya
"Maaf" lirihnya, ia menghapus air matanya,
Lihat Mawar, bukankah kamu sudah siap atas resikonya, inilah yang akan kamu terima, jangan sakit hati atas ucapannya, Rasya juga tidak berusaha menghapus air matamu, padahal dia sangat benci melihat mu menangis
"Demi satu orang kamu bisa membuat banyak orang kecewa atas keputusan mu, sekarang jika kamu mau, kamu juga bisa membebaskan orang suruhannya, bukankah mereka cuma orang suruhan, bayaran yang mereka terima juga tidak seberapa, tapi jika kamu tahu, ada anak istri mereka yang mungkin menunggu kepulangan suaminya, berharap pulang membawa uang yang bisa mereka pakai untuk membeli makanan"
Ucapan Rasya benar-benar menamparnya, Rasya tak berucap keras, namun cukup menghardik hatinya.
"Sebenarnya masih ada waktu jika kamu mau berubah pikiran, tapi aku rasa kamu lebih menyayangi wanita itu, dari pada aku yang nggak berguna sama sekali sebagai seorang suami"
Jederrrr...
Ucapan Rasya begitu telak, bak disambar petir, ucapan Rasya begitu sakit, Mawar seakan tak mampu lagi berdiri, ia berpegang pada pergelangan tangan Rasya, Mawar terus menggeleng, bukan seperti itu maksud nya, bukan seperti ini yang ia harapkan.
Rasya menghempaskan tangan Mawar begitu saja, ia berlalu meninggalkan Mawar yang masih terisak, ia tak memperdulikan istrinya, berharap Mawar menyadari kesalahannya.
Mawar jatuh melantai, ia tak sanggup lagi menahan sakit dihatinya, ia tak bisa jauh dari Rasya, tapi ia juga tak bisa merubah keputusannya. Ia menyadari kesalahannya, membuat banyak hati yang kecewa, namun Mawar percaya, suatu saat nanti, akan ada banyak hal yang baik kedepannya.
__ADS_1
...****...
Siang menjelang, Mawar mencoba menepiskan egonya, ia berinisiatif membawakan makan siang untuk Rasya, dengan dihantarkan sopir yang sudah disiapkan Rasya untuk mengantarnya kemana saja.
Ini kali pertama Mawar mendatangi kantor suaminya. Gedung bertingkat menjulang tinggi, dengan tulisan Mahardika corp dipuncak gedung tersebut. Dengan dihantarkan supir tersebut, Mawar dapat mengakses kantor Rasya, sang supir juga menjelaskan jika Mawar adalah istri dari pemimpin perusahaan ini. Sang resepsionis mengangguk mengerti, sebab Abdi pernah berpesan, jika suatu hari ada istri dari atasannya itu datang, dia harus menyambutnya, dan tak boleh mengatakan pada siapapun, sebab Rasya sendiri yang akan memperkenalkannya.
Mawar bersama sang resepsionis tersebut masuk dalam lift, dalam hati wanita itu mengucap kagum atas kecantikan Mawar, pantas Rasya tidak pernah terpincut wanita lain, istrinya saja nyaris tanpa cela. Wajah cantik bak blasteran, kulit putih halus khas wanita Asia, rambut coklat bergelombang, walau hanya menggunakan dress putih gading selutut tanpa lengan, kaki jenjang yang dibalut flat shoes berwarna hitam, tas jinjing berwarna senada dengan sepatunya, Mawar nampak terlihat begitu anggun dan cantik
Saat sampai kelantai yang dituju, sang resepsionis tersebut menghantarkan Mawar keruangan Rasya. Dia juga memberitahukan kepada sekretaris Abdi, jika Mawar adalah istri dari atasan mereka.
Nampak raut wajah sekretaris Abdi yang diketahui bernama Sinta, menatap sedih pada Mawar
"Maaf Bu, barusan saja pak Rasya makan diluar bersama pak Abdi" jawab Sinta penuh sesal.
"Ahh tidak apa-apa, saya memang tidak memberi tahunya akan datang" Mawar mencoba menutupi rasa kecewanya. Padahal tadi dia sudah memberi pesan pada Rasya, jika dia akan datang dan ingin makan siang bersama.
Dengan wajah lesu, Mawar kembali membawa rantang nasi yang ia siapkan untuknya makan bersama Rasya. Sekuat tenaga Mawar menahan agar tak menangis.
Ia langsung menghubungi sang supir untuk mengantarnya pulang. Sesampainya didalam mobil, Mawar tak dapat lagi menahan kesedihannya, ia menangis tersedu, tak disangkanya Rasya akan setega ini padanya.
Kabar tentang keputusan Mawar yang tak ingin memenjarakan Vivi sudah sampai ke telinga keluarga Rasya dan Marcel. Semua kecewa, tak terkecuali Marvin. Dia tak mengerti apa yang dipikirkan kakaknya, padahal ia sudah menghubungi Mawar, jika dia tidak mempermasalahkan itu, Vivi harus bertanggung jawab atas perbuatannya, karena sudah banyak membuat kekacauan.
.
.
.
__ADS_1
.
Hari Minggu aku kasih dauble up ya, kasih Hadiah yang banyak juga donk buat Mawar, othor nyesek senyeseknya nulis part ini.. 😢😢