Mawar Tak Berduri

Mawar Tak Berduri
Chapter 8


__ADS_3

Pagi sekali Mawar sudah berkutat didapur. Setelah pengakuan Rasya mengenai perasaannya kepada putri, ia memutuskan untuk melakukan hal yang mungkin akan membuat Rasya makin tak menyukainya, entahlah, Mawar seperti orang yang tak terkendali, melakukan hal-hal yang membuat Rasya marah membuat Rasya marah adalah sesuatu yang menyenangkan. Tinggal delapan hari terhitung hari pernikahan mereka, ia ingin tahu, sejauh apa usaha Rasya ingin menggagalkan pernikahan ini.


Tak ia pedulikan, wajah tegang para pekerja dirumah itu.


Semalam ia sudah meminta izin kepada ibu, sebelum ia keluar dari rumah ini, ia ingin belajar memasak untuk calon suaminya, akhirnya ibu Vivi mengizinkannya karena ia tahu, apa yang dilakukan Mawar, akan membuat Rasya semakin tak menyukainya.


Setelah membuat sarapan sederhana, Mawar bergegas membersihkan diri, ia mengenakan blouse putih, dengan dipadukan rok skirt sebetisnnya, memoles sedikit wajah cantiknya, menyemprotkan minyak wangi, ia berdiri didepan kaca, memutari badannya, memperhatikan pantulan dirinya sendiri yang, Perfect, pujinya pada diri sendiri.


Mawar nampak bersemangat, ia berlari kecil menuju mobilnya, sudah ada David berdiri dibadan mobil, yang siap mengantarnya menuju rumah Rasya.


Semua yang dilakukan Mawar tak luput dari perhatian papanya, papa Marcell Pramudita.


Papa nampak iba akan nasib Putri satu-satunya itu, kesalahan besar yang ia lakukan dimasa lalu, membuat hidup putrinya tak mendapatkan kasih sayang darinya, "maaf". Lidahnya keluh untuk mengungkapkan kata sederhana itu, menjadi kata yang sulit terucapkan.


Empat puluh menit, Mawar sudah sampai dirumah keluarga Rasya, ia turun dengan menjinjing tempat makan berukuran sedang tiga susun susun tersebut.


Ia menekan bel rumah itu, tak lama, pintu dibukakan oleh wanita yang berumur sekitar empat puluh lima tahunan, rumah itu masih nampak lengang, bukan karena penghuninya belum bangun, namun saja mereka masih berada dikamarnya masing-masing.


"Ini non Mawar ya" seru Art tersebut


Mawar menganggukkan kepala seraya tersenyum manis, "Apa ibu dan semua belum bangun?." tanyanya menelisik kedalam rumah bernuansa Eropa tersebut, dengan cat didominasi warna putih.


"Silahkan masuk non, sebentar saya panggilkan ibu dulu". Art itu membukakan pintu lebih lebar, untuk Mawar. Ia bergegas menuju lantai dua, memberitahukan nyonya besarnya, karena ada tamu spesial untuk mereka.


Mama Rika nampak antusias, mendengar jika Mawar datang berkunjung kerumahnya, ia yang memang sudah rapi sejak tadi, langsung membangunkan Rasya.


"Ada apa sih ma, pagi-pagi mama udah heboh sih?" gerutunya pada mama


"Cepat kamu mandi, kamu harus lihat, siapa yang datang" seru mama yang tak menyurutkan semangatnya.


Melihat sang mama nampak sangat bahagia, Rasya penasaran, siapa sebenarnya yang datang sepagi ini?.


Iapun bergegas membersihkan diri.


"Sayang maaf menunggu lama" mama Rika turun bersama sang suami, papa Reyhan Mahardika. Pasangan itu bergandeng tangan layaknya pasangan pengantin baru, mereka nampak harmonis diumur yang sudah tidak muda lagi.


"Nggak tante, Mawar juga belum lama datangnya" Mawar mengharu, matanya nampak berkaca, semua seisi rumah ini menyambutnya dengan baik. Ia menyalami tangan kedua orang tua Rasya.


"Ada apa ini sayang om penasaran, nggak biasanya kamu datang kerumah ini"


"Nggak papa om, Mawar hanya ingin sarapan bareng sama om dan tante, Mawar pikir, ada baiknya Mawar mengenal lebih dekat keluarga om dan tante"


"Kamu nggak perlu repot seperti itu"

__ADS_1


"Iya sayang" sahut papa Reyhan juga


"Apa yang kamu bawa nak?" lihat mama Rika rantang bersusun tiga yang ada diatas meja.


"Ahh ini cuma sarapan biasa tante, maaf Mawar tidak bertanya dulu kesukaan om dan tante, jika memang om dan tante nggak suka, gak papa nggak dimakan"


"Mana boleh begitu, makanan yang sudah dibuat nggak baik nggak dimakan"


"Tenang, kita pemakan segalanya" Jawab papa Reyhan, yang diakhiri gelak tawa mereka.


Mawar terenyuh, badannya gemetar, ia tak pernah merasakan ini, setiap hari ia tak pernah bertegur sapa pada keluarganya, hanya kebisuan yang menghiasi meja makan disaat mereka sarapan bersama.


Rasya mematung, ia tak menyangka jika tamu istimewa itu adalah Mawar, calon istrinya yang teramat ia benci. Rahangnya mengeras menahan kesal, ingin rasanya ia menyeret Mawar keluar, membuat paginya menjadi buruk, namun sekuat tenaga ia menahan diri, tak mungkin ia lakukan hal itu didepan mama papanya.


"Rasya sini, kenapa malah diam disitu?" Panggil mama Rika, membuyarkan lamunannya. "Ayo kita sarapan bersama, Mawar membawa sarapan untuk kita."


Rasya menaikkan sebelah alisnya, apa yang sebenarnya yang direncanakan Mawar?, ia mendekat, duduk disebelah Mawar. Diperhatikannya Mawar yang sibuk, nampak acuh padanya menyiapkan sarapan.


Pagi ini mereka sarapan bersama, diwarnai dengan celotehan mama dan papanya Rasya yang terus memuji masakan Mawar, walau ini untuk pertama kalinya Mawar masak, namun rasanya tak mengecewakan. Mawar belajar tutorial melalui internet. Yah, selama ini dia hanya bisa menonton tanpa mempraktekan, kini dia bisa melakukannya.


"Ma Rasya berangkat dulu." Rasya berdiri, mendorong kursi, memberi ruang untuk ia berjalan.


"Tumben sayang, ini masih jam tujuh loh," ujar mama


"Oh iya, papa hampir lupa itu, semoga hasilnya sesuai dengan yang kita rencanakan, Sya kita harus lebih teliti lagi dalam membuat sebuah acara."


Rasya menganggukkan kepala sebagai jawaban.


Mawar berdiri "Aku antar kamu sampai depan ya?"


"Tidak perlu" Tolak Rasya ketus.


"Rasya.." mama melototkan mata sebagai ancaman "Tidak apa-apa, nanti kamu juga kamu terbiasa" mama Rika menyetujui Mawar.


Mau tak mau Rasya mengiyakan, jika ia menolak pun, pasti mamanya tetap memaksa.


Dibawanya tas kerja dan jas, ia sampirkan ditangannya.


"Biar aku yang bawa ya." Mawar mengambil tas da jas miliknya begitu saja.


Rasya menggeram, kesal atas tindakan Mawar hari ini.


Setelah sampai dimobilnya, Rasya yerjalan terlebih dahulu, membalikkan badannya.

__ADS_1


"Sini" diambilnya paksa tas dan jas miliknya yang dibawa Mawar.


"Apa yang kamu rencancanakan, cewek paku kuntilanak?" ucap Rasya penuh penekanan.


Mawar tak menjawab, ia menarik nafas, menghembuskannya perlahan, tahan dan sabar..


Ia mendekat, mengikis jarak diantara keduanya, tangannya justru terulur, merapikan kancing kemeja Rasya yang tak perlu dirapikan.


Nafas keduanya seolah berhenti, dua insan yang tak pernah berdekatan dengan lawan jenis ini, justru berperang melawan jantung yang berdetak tak karuan, menyelamatkan nyawa masing-masing.


Rasya tak menampik tangan yang bertengger didadanya, bukan ia menyukainya, tapi tangan dan mulutnya tak mampu melakukan apa-apa.


"Kamu hati-hati."


Apa? Mawar melaknat mulutnya yang lancang.


Ia mendongak, menatap mata yang justru menatapnya juga. Ia berjinjit, menempelkan benda kenyal mereka, menahannya beberapa detik.


Sungguh ia tak ada niatan seperti itu.


Otaknya nampak mendadak tidak waras.


"Jangan memikirkan aku, tapi jika kamu terus memikirkan aku, mungkin bumbu masakan yang aku racik sudah bereaksi."


Rasya mengerutkan keningnya, tak mengerti dengan kata bumbu yang Mawar maksud.


Mawar mnipiskan bibirnya, "PELET"


*Jederrrr...


.


.


.


.


Bersambung..


Maaf ya up-nya telat, tetiba ada acara keluarga yang mendadak.. semoga kalian suka chapter ini.. makasih yang masih setia menunggu Mawar..


Visual nya nyusul ya ✌️✌️*

__ADS_1


__ADS_2