
Malam merangkak naik, di kamar yang berbeda, tempat yang berbeda, perbedaan dua pasangan ini bak langit dan bumi, disatu kamar terdapat dua pasangan yang sangat sibuk dengan aktivitas mereka, suara-suara merdu terus mengudara demi mencapai titik puncak yang mereka inginkan. Keringat pun bercucuran, sebagai bukti bahwa mereka bekerja keras dalam mendayung mahligai, mencapai nirwana cinta mereka. Kecupan di kening ia berikan kepada sang istri sebagai ungkapan terima kasih, dan bukti bahwa dia sangat menyayangi wanita yang menyandang gelar nyonya muda Mahardika.
Dikamar yang berbeda, pasangan yang belum genap 24 jam menyandang status sebagai pasangan suami istri ini nampak begitu senyap, tak ada aktivitas berarti untuk mereka, malam pertama yang seharusnya digunakan untuk menyatukan cinta mereka, kini hanya berteman kebisuan, tak ada obrolan apapun sebagai penghantar tidur, dan tidak ada yang mau memulai obrolan terlebih dahulu, mereka sama-sama enggan untuk sekedar saling menyapa, mencoba mengakrabkan diri.
Suasana canggung menyerang keduanya. Tidak, mereka tidak tidur terpisah seperti pasangan lain yang dijodohkan, atau berebut tempat tidur, mereka tetap satu ranjang, hanya saja posisi mereka yang saling membelakangi, mata dipaksa memejam, namun kepala berperang pada pikiran masing-masing. Padahal mereka pernah melakukannya, tapi itu dalam keadaan tidak sadar, sekarang mereka telah halal, tetapi justru terjebak dalam situasi yang canggung.
Hingga pagi menyapa, pasangan baru itu tetap dalam kebisuan, untuk mandi pun, Putri harus bangun jam 4, agar tak bergantian dengan suaminya. Marvin bukan tak tahu itu, namun ia setuju, mereka tak harus berebut siapa yang lebih dulu kekamar mandi.
Berbeda dengan pasangan yang sedang dimabuk asmara, mereka kembali melakukan aktivitas penyatuan keduanya, bak belum puas, seakan tak ada esok lagi,
"Sya..." suara serak itu terdengar seksi, membangkitkan sesuatu dibawah sana, sang laki-laki semakin cepat memacu kendalinya, agar bisa mencapai puncak secara bersamaan, hingga erangan panjang keluar dari keduanya.
"Udah ya, aku capek Sya"
Rasya terkekeh "Tapi nanti pulang lagi ya?" pintanya dengan muka yang dibuat sesedih mungkin.
"Nggak janji, asal kamu pulang bawain rujak serut, tapi yang isinya lengkap, ada buah delima dan jeruk balinya"
"Ya ampun sayang, kayaknya sekarang lagi nggak musim jeruk bali deh"
"Aku nggak mau tau, kalo nggak bawa kamu juga harus puasa"
"Astaga, sayang, kok kamu tega sih"
"Makanya cariin ya"
"Aku usahain sayang, tapi kalo belum dapet kamu jangan marah, kasian nanti belut aku"
"Ihhh.... kamu yang dipikirin belut kamu terus sih" Mawar memukul dada keras suaminya.
Rasya tertawa, mengambil tangan Mawar, lalu ia kecup tangan itu "Abis enak sih" jawabannya itu mendapat hadiah cubitan kecil dari Mawar, membuat Rasya mengadu "Iya-iya nanti aku cari sampai dapat ya" Rasya membawa Mawar dalam pelukannya
"Sayang nanti David datang bersama pengacara yang akan mendampingi kamu, kita buat laporan untuk menjerat wanita itu, dia bisa dihukum seumur hidup, karena banyak terjerat pasal, dia juga dalang dari pembakaran store rose's mom"
"Ibu?" tanya Mawar memastikan
"Iya, dia harus mendapatkan hukuman yang setimpal, perbuatannya tak dapat diterorir lagi"
__ADS_1
"Sya, aku kan nggak apa-apa, apa ini nggak terlalu berlebihan?"
Rasya menjarakkan tubuhnya, untuk melihat wajah sang istri, ditangkupnya kedua pipi Mawar "Kamu bilang ini berlebihan? tidak sayang, aku sudah mencari pengacara handal untuk menjerat wanita iblis itu, aku tidak terima, dia hampir saja membuat kamu mengalami pelecehan, nanti aku juga akan menemani kamu untuk membuat laporan ke kepolisian, aku yakin wanita itu juga tidak akan tinggal diam, dia pasti melakukan hal diluar dugaan kita untuk melakukan pembelaan" yakinkan Rasya pada istrinya.
Mawar hanya terdiam, dia tak tahu, apa ini cara yang terbaik atau tidak.
"Kamu jangan ragu oke, aku akan selalu ada untuk kamu, kita memiliki banyak bukti untuk menjeratnya, dan orang-orang suruhannya bisa menjadi saksi" Mawar masih terlihat ragu, dalam lubuk hatinya, dia tak menaruh dendam sama sekali kepada Vivi.
"Aku bersih-bersih badan dulu, sebentar lagi David datang, kita sama-sama ke kantor polisi"
Mawar hanya mengangguk samar.
Rasya telah menghilang disebalik pintu kamar mandi, Mawar menghela nafasnya, dia tidak menyangka jika Rasya akan melaporkan Vivi. Tak lama ponselnya berbunyi, nomor tak dikenal tertera disana.
Mawar ingin mengabaikannya, namun ia takut jika itu panggilan penting. Dengan ragu, ia menggulir tombol hijau, untuk menerima panggilan tersebut.
"Alhamdulillah kamu mengangkatnya nak" ujar suara diseberang sana
"Ini dengan siapa?" tanya Mawar yang tak mengenali suara tersebut
"Saya Seno, ayah biologis Marvin"
Mawar terkejut mendengar pangkuan laki-laki yang tidak ia kenali ini.
"Nak, saya titip Marvin padamu, aku percaya, Marvin akan bahagia dengan kaluarganya, sampaikan permintaan maaf saya pada Marvin, maaf telah menjadi ayah yang tidak bertanggung jawab, sampaikan juga pada Marvin, bahwa saya sangat menyayanginya, saya tidak memiliki banyak waktu, Vivi bersama saya, saya akan membawanya pergi, saya berjanji dan menjamin, jika dia tidak akan menggangu kalian lagi, tolong nak jangan laporkan Vivi, demi Marvin"
"Sayang bawakan handuk, aku lupa membawanya" teriakan Rasya mengagetkan Mawar
"I-i iya" jawab Mawar terbata
"*Terima kasih nak Mawar, tolong jangan ceritakan ini pada siapapun"
Tut Tut tut*
Panggilan itu terputus, Mawar masih terdiam, dia mendengar suara laki-laki itu, ayah biologis Marvin, jadi ini benar, Marvin benar-benar memiliki ayah biologis lain, ia masih tidak percaya ini, kemarin dia hanya mendengar ceritanya saja, tapi hari ini, orang itu menghubunginya.
"Sayang handuknya mana?" Rasya kembali berteriak, sebab Mawar tak kunjung datang.
__ADS_1
"Iya" jawab Mawar cepat, dia tak mau Rasya curiga.
"Kamu kok lama sih?" tanya Rasya yang sudah keluar kamar mandi
"Tadi aku ambil pakaian kamu dulu" kilah Mawar
"Terus bajunya mana?" lihat Rasya Mawar yang tak membawa pakaiannya.
"Aku bingung, kamu mau pakai yang mana" Mawar beralasan, ia menipiskan bibirnya karena merasa gugup telah berbohong
Rasya tersenyum, "Apapun yang kamu pilih aku pakai"
"Gombal"
"Kok gombal sih? kan aku lagi nggak merayu sayang" Rasya menyentil hidung bangir istrinya gemas.
"Yasudah aku ambilkan dulu" Mawar berlalu ke ruang walk in closed, mengambil pakaian Rasya. Rasya menatap curiga Mawar, seperti ada hal yang disembunyikan oleh istrinya ini.
Setelah Rasya dan Mawar rapi, tak lama suara bel berbunyi
"Itu pasti David dan pengacara yang aku ceritakan tadi" mendengar itu, Mawar memaksakan senyumnya, sebisa mungkin dia menutupi kebimbangannya.
"Sya, Mawar perkenalkan, ini pak Rizal, beliau yang akan membantu kita menangani kasus ini"
Rasya berjabat tangan dengan laki-laki tersebut, dan mempersilahkannya duduk.
"Sebelumnya aku mau memberi tahumu, maaf ini kesalahan ku, seharusnya aku sudah menangkap Vivi tanpa bantuan Seno, tapi sekarang Seno menghilang, ia membawa Vivi pergi, tapi jangan khawatir mereka pasti cepat ditemukan"
Mawar meremasi dress yang dipakainya, ia benar-benar gugup, akan apa dia sekarang, menutup kasus ini, atau tetap mencari Vivi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
.
.
.
.
__ADS_1
Ayo jangan lupa tinggalkan jejaknya, dan yang suka ceritanya jangan lupa komen ya... ❤️❤️❤️ selamat malam Minggu, kalian jalan-jalan kemana nih??