
"Sebenarnya Rasya masih sendiri, apa kamu suka sama dia?". Tanya Mawar lembut, dia harus tau semuanya, sebelum mengambil keputusan.
"Emm... mas Rasya baik, perhatian, lembut, dan yang pasti tampan...". Putri menutup mulutnya malu.
Mawar menarik nafasnya lagi, dia harus kuat, dari jawaban Putri, Mawar menyimpulkan bahwa keduanya memang saling menyukai, tapi hatinya berkata, bahwa dialah tetap yang akan menjadi pemenangnya, bolehkah dia egois?, menjadi duri dihubungan Rasya dan Putri. "Jadi apa yang bisa aku tolong?"
"Nggak ada mba, Putri cuma mau nanya aja, takut jika mas Rasya ternyata sudah punya calon istri, tapi Putri nggak tahu".
"Ikut aku yuk..." Mawar berdiri, "Oh ya bukanya Rasya memberimu kartu kredit?".
Putri mengangguk "Kemana mba?".
"Udah ikut aja..." Mawar memaksa Putri berdiri, untuk ikut dengannya.
Kini mereka masuk pada boutique ternama, Mawar mengajak Putri untuk membeli gaun yang akan dikenakannya nanti malam, sepatu tas dan aksesoris seperti kalung dan jam tangan. Mereka memilih-milih, sampai tak sadar mereka telah menghabiskan waktu hampir setengah hari, sekarang waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore.
Tak lama ponsel Mawar berdering, panggilan masuk dari tante Rika, Mawar menepi untuk mengangkat panggilan teleponnya.
"Iya tante". Ujarnya sedikit berbisik
"Sayang nanti malam Tante akan mengadakan makan malam, bersama papa mama kamu dan juga Rasya, kita akan membahas banyak hal dan persiapan, sebelum hari akad kalian". Ujar suara diseberang sana.
"Iya tante". Mawar tidak yakin Rasya akan datang, pasti Rasya lebih memilih makan malamnya bersama Putri.
"*Makasih sayang, nanti Tante akan menyuruh Rasya menjemputmu".
Tut Tut Tut
Lagi-lagi Mawar menghembuskan nafasnya, pasti dia akan tersakiti lagi, sampai kapan dia akan bertahan?.
Mawar kembali lagi menghampiri Putri yang sedang mencoba-coba pakaian disana. Setelahnya mereka pergi ke salon kecantikan, Mawar ingin membuat Putri tampil cantik saat makan malam nanti.
__ADS_1
Dikantornya, Rasya yang baru saja mendapat kabar dari sang mama, begitu frustasinya, mama yang tak bisa dibantah keinginannya. Dia memutar otak, mencari alasan agar tak menghadiri makan malam yang membosankan, apalagi harus melihat Mawar.
"Aku heran sama kamu Sya, Mawar yang begitu perfect aja disiasiain", Abdi menggelengkan kepala, "Hati-hati nanti nyesel".
"Yaudah buat kamu aja". Ujarnya cuek, sambil menandatangani berkas-berkas yang menumpuk diatas mejanya.
"Bener ya... nanti malam biar aku yang jemput dia, kalau kamu nggak mau". Abdi begitu semangatnya, sampai Dia yang tadi menyandarkan badan pada sandaran kursi, kini menegakkan badannya.
"Jadi sekarang kamu jadi alih profesi?". Matanya melirik Abdi yang duduk diseberang mejanya.
Abdi malah terkekeh geli, "Kenapa? cemburu? maunya apa sih ini bujang tua lapuk?" Ia mentertawakan Rasya.
"Sialan... Pergi nggak, mengganggu konsentrasi aja". Rasya berdiri hendak menimpuk Abdi yang selalu mengejeknya. "Nanti kalau sudah selesai aku panggil, kerja yang benar, jangan godain sekretaris terus".
"Ampun pak bos". Secepat kilat Abdi menghilang dibalik pintu, dari pada terkena amukan singa jantan.
"Awas bos, pikir-pikir lagi, nyesel belakang loh". Abdi kembali, menyembulkan kepala pada pintu yang ia buka sedikit.
Rasya kembali duduk dibangku kebesarannya, ia memijit pelipisnya, pusing dengan keadaannya sekarang.
"Abdi bawakan kopi" Rasya menghubungi Abdi melalui intercom miliknya. Mumgkin dengan sedikit kopi bisa meringankan sedikit beban pikirannya.
Setelah satu jam, Putri selesai didandani, ia mematut dirinya di cermin, memutar badannya kekiri kekanan, tak percaya jika yang dilihatnya sekarang adalah dirinya. Dia yang memang tak pernah bersolek, kini hanya dipoles sedikit, dan diberi riasan membuat dirinya jauh berbeda. Rambut panjangnya dibuat bergelombang diujung, gaun sederhana yang dipilihkan Mawar juga sangat cocok dengan tubuhnya yang proposional, gaun berwarna navy selutut dan tanpa lengan, membentuk lekuk tubuhnya. " Ya Ampun ini benar aku kan?". Tanyanya pada diri sendiri. Disentuhnya pipinya menggunakan jemarinya dengan hati-hati.
"Kamu sangat cantik". Puji sang perias.
"Terima kasih". Kembali ia melihat pantulan dirinya. "Apa ini nggak berlebihan ya".
Putri keluar dari ruang rias tersebut, karena Mawar sudah menunggunya didepan. Mawar pun tak kalah terpesona dengan penampilan Putri, lagi dia merasa memang tak pantas untuk Rasya, Putri jauh lebih sempurna, Mawar merasa Putri juga wanita yang tulus.
"Kami cantik banget, aku yakin Rasya pasti akan terpesona dengan penampilan kamu".
__ADS_1
"Makasih banyak ya mba, semua berkat mba Mawar"
"Aku cuma bantu sedikit, tetap kan pakai uang Rasya" Mereka tertawa.
"Mba aku nggak enak sama mas Rasya, nanti aku dikiranya manfaatin uangnya".
"Tenang, jangan khawatir, bukankah dia memberi kamu kartu itu untuk kamu pakai?, bukan untuk kamu jadikan pajangan didompet, uang dia nggak bakal habis".
Beruntungnya nasib kamu Put, Rasya begitu perhatian padamu, lirihnya dalam hati, sekarang dia yang bingung, harus apa nanti malam, Rasya sudah dipastikan tak akan menjemputnya.
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, Mawar telah mengantar Putri kerumahnya, sebelum Rasya datang menjemput wanitanya.
Wanitanya, Mawar tersenyum miris, ya aku membantu persiapan wanita tunangan ku untuk berkencan dengannya. Sedang aku tak mempersiapkan apa-apa untuk acara dengan keluarganya. Untuk apa melakukan persiapan, sedang dia sendiri tak diharapkan keberadaannya.
Hari ini hari yang begitu berat untuk Mawar, pagi sekali Rasya mengajaknya bertemu, hanya memberikan pilihan yang berat, yang harus dia pilih. Dia yang memberanikan diri menemui sang ibu, namun tak mendapatkan jawaban yang dia mau. Dan sekarang dia membantu wanita yang disukai Rasya, untuk membuat kencan mereka yang berkesan.
Langkah Mawar terhenti, saat mobil hitam mewah berhenti dihadapannya. Seorang laki-laki turun dari mobil itu, langkah gagah itu mendekat kearahnya membuat Mawar terpesona, penampilan rapi yang menambah wajah tampannya. Sorot lampu jalan dari belakang tubuhnya, membuat Mawar harus menajamkan penglihatannya, apa dia tak salah lihat, sosok itu datang menghampirinya.
"Apa kamu baru lihat cowok tampan heh?. Dasar norak" Laki-laki itu tersenyum mencibir.
"Kamu?"
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa ya tinggalkan jejak...