
"Selamat sore, ada yang bisa dibantu?"
Sapa penjaga toko ramah, wanita itu tersenyum manis, mencoba menarik perhatian Rasya. Jarang sekali toko mereka kedatangan pengunjung pria, apalagi setampan Rasya
"Saya mau lihat-lihat dulu" Rasya terus melihat setiap pajangan parfum yang tersusun rapi di etalase kaca, yang dijaga betul kerapian dan kebersihannya.
Rasya berdecak kagum, walau parfum ini baru launching sebulan lalu, namun, nampaknya Mawar sudah memikirkan matang konsepnya.
"Mas cari parfum untuk siapa?, disini hanya tersedia parfum wanita"
Jelas panjaga toko, wanita yang mengenakan seragam kaos berwarna nude, sesuai dengan warna khas dari parfum itu, dengan rambut yang dicepol rapi. Terus mengikuti Rasya dari belakang.
"Untuk wanita yang spesial," jawab Rasya asal, padahal tujuannya kesini untuk menjemput Mawar.
"Boleh tahu karakternya seperti apa, kami bisa meracik sesuai dengan karakter pemakaiannya" Wanita itu mencoba memberikan pelayanan terbaik untuk pengunjung toko mereka.
"Karakter Doraemon" lagi jawabnya asal.
"Boleh spesipiknya?, mari mas bisa mengisi formulir terlebih dahulu, nanti akan saya berikan pada peracik, beliau bisa meracik sesuai data pembeli"
"Oh ya? bisa seperti itu?"
"Iya mas, mari isi datanya terlebih dahulu, atau kalau tidak mau menunggu mas juga bisa mengambil yang sudah tersedia dipajangan."
Prang
Prang
Tak ingin berlama-lama, Rasya menjatuhkan dua botol parfum yang jika dilihat dari desain botolnya, merupakan harga yang lebih tinggi dibanding yang lainnya.
"Aduhhh mas kok dijatuhin sih" Wanita penjaga toko itu terkejut sekaligus panik.
"Maaf aku nggak sengaja" Rasya begitu santainya.
"Mas harus ganti, tau kan menjatuhkan berarti membeli"
"Kan aku nggak sengaja"
"Biar nggak sengaja mas, tapi tetap harus ganti"
"Kalo aku nggak mau, gimana?"
"Mas saya bisa disuruh ganti rugi, mas nggak kasian apa, gaji saya bisa habis untuk ganti rugi ini" Wajah panik wanita itu begitu terlihat, bahkan wajahnya terlihat pucat.
Hal itu membuat pengunjung yang lain ikut geram dengan Rasya.
Mendengar keributan, Mawar dan yang lainnya turun, melihat apa yang terjadi.
"Ada apa ini?" Chio datang lebih dulu, karena memang dia sedang berada di ruang pengemasan bawah.
"Pak Chio maaf, mas ini menjatuhkan botol parfum, tapi nggak mau bayar sebagai ganti ruginya." Jelas panjaga toko kesal.
Mawar yang melihat itu memutar mata jengah, Rasya pasti sengaja melakukan ini, begitupun Marvin dan Chio.
Chio mendekati mereka, "Kamu beresin ya," perintahnya pada wanita itu, dan diangguki olehnya. Mulut wanita itu sudah maju, kesal terhadap Rasya.
Sedang Chio hanya menggeleng, dia meninggalkan Rasya, menyerahkan semua pada Mawar. Begitu juga Marvin, dia mengajak yang lainnya untuk melanjutkan pekerjaan mereka.
Mawar menghampiri Rasya, tangannya dilipat didada.
"Kita keluar" Ajak Mawar pada Rasya, dia tak mau berdebat dengan laki-laki menyebalkan ini, pasti akan menggangu pengunjung yang lain.
Mereka berdiri didepan mobil Rasya
__ADS_1
"Puas udah bikin kekacauan"
"Aku cuma pengen ketemu kamu"
"Ada cara yang lebih elegan? kamu bisa minta tolong pada Cinta, untuk bisa panggilin aku, nggak harus bikin dia kesal" Mawar memijit pelipisnya
"Kalo cara itu, kamu pasti lamakan?"
"Kamu mau apa kesini?"
"Mau jemput kamu sayang" Kerlingkan Rasya genit.
"Nggak usah genit"
"Sama calon istri sendiri, nggak papakan?"
"Maaf, mantan calon istri" Ralat Mawar
"Sekarang calon istri lagi sayaaang"
"Jangan pede ya"
"Aku sangat percaya, kamu tulang rusukku" Ujar Rasya, dia tersenyum miring, senang membuat Mawar kesal.
"Sebaiknya kamu pulang, aku sibuk"
"Kita pulang sekarang ya, aku mau ajak kamu jalan-jalan" Pintanya memohon
"Aku nggak bisa Sya,, jangan bikin aku sulit"
"Apanya yang sulit Mawar, ada Chio dan Marvin"
"Aku bukan kamu, yang selalu mengandalkan orang" Mawar kini merasa menemukan hidupnya, mengurus sendiri usaha yang selama ini diimpikan.
Rasya sudah dapat mengontrol dirinya, tak emosi mendengar jawaban Mawar.
"Teriak saja, aku nggak peduli" Mawar menantang balik Rasya.
"Oke" Rasya sudah mengambil ancang-ancang, dia sudah menarik nafas dalam-dalam.
"W...." Mawar membungkam mulut Rasya dengan kedua tangannya, matanya melotot tak percaya, Rasya senekat ini. Rasya terdorong kebelakang, membuatnya menempel pada badan mobil depan.
Tubuh Rasya yang lebih tinggi, membuat Mawar harus berjinjit, membuat jarak mereka lebih dekat.
"Dasar nggak waras" Cerca Mawar
Rasya bersorak senang, dia menarik pinggang Mawar, sehingga tubuh mereka saling menempel, dia mengecup-ngecup tangan Mawar yang menutup mulutnya. Pandangan mereka saling mengunci, Mawar merasakan setruman listrik menjalar tubuhnya, setiap kali Rasya melakukan ini padanya.
Posisi mereka yang begitu intim, membuat mereka menjadi perhatian orang yang kebetulan lewat.
"Kita jadi perhatian orang jika kamu masih menutup mulut aku" Suara Rasya terdengar tidak jelas, namun Mawar dapat menangkap ucapan Rasya.
Dia menjauhkan badannya, dan melepaskan pelukan Rasya. Mawar sangat malu.
"Kamu serindu itu Mawar, sampai ingin berdekatan seperti ini, tunggu diapartemen, kita lakukan ya" Goda Rasya, yang mendapat tatapan intimidasi Mawar.
"Jangan ngaco kamu Sya" Rasya terkekeh, Mawar semakin lucu disaat marah, mukanya yang putih, sangat terlihat memerah.
"Jadi mau kan pulang sekarang?" Rasya mendekatkan wajahnya, namun Mawar malah memundurkan wajahnya.
"Terpaksa" Jawab Mawar, dia sudah menekuk wajahnya. Enggan berdebat lagi, lebih baik mengalah.
Rasya mendekat lagi, menundukkan wajahnya, tepat didepan dada Mawar. Menyadari itu, Mawar langsung menutup dadanya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Leher kamu terlalu polos" Rasya mendongak, melihat wajah Mawar yang sudah memerah, seperti siap memarahinya lagi. Rasya lalu menegakkan badannya.
"Diam disini" Perintahnya, dan Mawar menurut.
Rasya berjalan kebelakang Mawar, mengambil kotak yang ia simpan disakunya.
Mawar tersentak, Rasya memakaikan kalung dilehernya, ia membalikkan badannya, berhadapan dengan Rasya.
"Apa ini?" Mawar memegangi liontin kalung berbentuk hati itu, menatap laki-laki yang tadi pagi memeluk wanita lain
"Cuma rantai kapal" sarkasnya, Rasya terkekeh.
"Sya...."
Cup
Kecupan itu mendarat dipipi Mawar.
"Kamu semakin cantik pakai ini." Ujar Rasya.
Mawar masih menatap Rasya bingung.
"Aku nggak mau bekas wanita lain."
Mendengar itu Rasya semakin terkekeh,
"Emang menurut kamu bekas siapa? Hem" Tanyanya menggoda, "Kamu harus tau semua yang terjadi sayang" Diselaminya mata coklat wanita yang membuat dunianya lebih berwarna ini.
"Yuk jangan kelamaan" Rasya menggandeng tangan Mawar, membukakan pintu untuk wanitanya.
Rasya masuk kedalam mobilnya, dia teringat menaruh sesuatu di kursi penumpang, tangannya meraih bucket bunga Mawar berukuran besar.
"Untuk kamu" Rasya meletakkan bucket bunga itu dipangkuan Mawar. Mawar masih menatap aneh pada Rasya, yang memberikannya hadiah bertubi-tubi.
"Aku bukan istri kamu, yang abis mergoki suaminya selingkuh, terus kamu mau menutupi kebohongan kamu" Ucap Mawar ketus.
"Aku selingkuh?" Rasya mengulum senyum, benar dugaannya, Mawar cemburu. "Kamu lebih cantik ya kalo lagi cemburu" Ia kembali menggoda Mawar.
"Cemburu, buat apa?"
Rasya bangkit hendak memeluk Mawar.
"Jangan sentuh aku, aku nggak mau bekas wanita lain" Setelah mengucapkan itu, Mawar menggigit bibir bawahnya, ia seolah mengkonfirmasi, bahwa benar dia cemburu.
Rasya semakin terbahak-bahak "Bahkan tadi kita udah pelukan sayang" mata Rasya fokus pada bibir Mawar yang ia gigit, membuat ia ingin sekali merasai lagi bibir yang dari kemarin dia rindukan. Dengan cepat Rasya membuka kemejanya, membuangnya sembarang.
"Kamu mau apa?" Mawar terbelalak, dada polos Rasya terpampang didepannya, membuat darahnya berdesir hebat.
Rasya tak peduli pertanyaan Mawar, dia mengambil lagi bucket bunga yang tadi diberinya, melemparkan kembali ke belakang. Ia menempelkan bibirnya dengan bibir Mawar. Merasai manisnya bibir tipis itu.
"Jangan digigit lagi" Ucapnya, lalu kembali mencecap bibir manis Mawar, mengigit kecil bibir bawah milik Mawar, "Biar aku yang gigit." katanya lagi, disela ciuman mereka.
Sekali lagi Mawar terlena, ia malah membalas ciuman Rasya, ciuman mereka semakin menuntut, tangan Rasya kini menarik tengkuk Mawar agar ciuman mereka semakin dalam. Sedang tangan Mawar sudah berada pada dada polos Rasya.
Entah siapa yang merebahkan jok milik Mawar, kini tubuh Rasya sudah menindi tubuh mungil Mawar. Lenguhan kecil itu terdengar merdu. Mengiringi aktivitas keduanya.
.
.
.
.
__ADS_1
*Bersambung
Sssttt cuma selingan 🤭😍*