
Mawar terus memukul dada Rasya, akibat kelakuan suaminya dia harus menanggung malu.
"Semua gara-gara kamu"
Hiks
Hiks
"Gimana nanti kalau ketemu Mama" Rasya hanya terkekeh, melihat istrinya yang kelimpungan.
"Mama pasti ngerti sayang, mama kan juga pernah muda" Rasya kembali memakaikan kemeja Mawar yang sempat ia lempar ke sembarang arah.
Terdengar suara langkah mama Rika semakin mendekat.
Rasya memutar lehernya, melihat mama yang datang, tetap tak melepaskan dekapannya, karena Mawar masih bersembunyi didadanya.
"Mama kenapa pulang lagi sih?"
"Kenapa, kamu keganggu?" mama mencebik,
"Huh, meja Mama dari Kalimantan harus ternodai, semoga cepat jadi cucu, mama rasa meja Mama cukup kuat, menantuku tidak terlalu berat"
Mawar memperlihatkan wajah malunya
"Ma ... maafin Mawar"
Mama Rika tertawa
"Nggak papa sayang, lanjutkan acara kalian, maaf Mama tadi ada yang ketinggalan"
Mawar bernafas lega, setelah kepergian mertuanya.
"Kita pindah kekamar yuk" bujuk Rasya, matanya sudah berkabut dengan tangan yang terus mengusap pipi lembut istrinya.
Cup dikecupnya bibir itu sekilas
"Aku nggak mau, Sya kamu juga mau kekantor kan, kamu udah rapih loh, nanti lecek lagi"
"Aku bisa mandi lagi, dan ganti baju"
"Kamu tuh ya, pikirannya, semalam kan udah"
"Kurang, tiap deket kamu belut aku pengennya nyetrum terus" akibat ucapannya, Rasya mendapat hadiah cubitan kecil dari Mawar
"Sakit sayang" Rasya langsung menggendong sang istri, membawanya menaiki tangga
"Badan kamu berat juga sayang, padahal badan kamu kecil, apa sudah ada baby nya ya?"
Plak
Pukulan itu mendarat dibahu Rasya
"Baru kemarin, nggak mungkin jadi bayi ajaib" membayangkan itu keduanya tertawa, hingga tak terasa mereka telah sampai dikamar Rasya.
Suara merdu kembali menggema dikamar pasangan yang sedang dimabuk cinta itu, mereka seakan tak ingin membiarkan waktu terbuang begitu saja. Menyalurkan rasa satu sama lain, Rasya semakin keras menghentakkan miliknya, saat mereka akan mencapai puncak kenikmatan. Mawar semakin mengeratkan pegangannya, saat Rasya membawanya terbang ke nirwana, memegang kendali atas dirinya.
"Sekarang sayang"
Buncahan larva itu kembali memenuhi kawah milik sang istri, bukti cinta keduanya begitu besar. Wajah Rasya memerah saat sang belut menyetrum sasarannya. Dia ambruk disamping istrinya, mengecup kening Mawar yang basah oleh keringat.
"Terima kasih" ucapnya lembut tepat didepan wajah Mawar. Mawar hanya mengangguk, dia masih merasakan sisa percintaan mereka tadi.
Suara dering ponsel memutuskan pandangan keduanya. Tangan Mawar mencoba menjangkau benda itu yang berada dinakas.
"Siapa?" tanya Rasya setelah Mawar dapat mengambil ponselnya.
"Marvin"
"Yaudah angkat aja, aku mau bersihin badan dulu" Rasya bangkit, ia menuju ke kamar mandi.
"Iya Vin" angkat Mawar telepon dari adiknya.
"Kak ... " suara Marvin terdengar lirih.
"Ada apa, apa yang terjadi?"
"Kakak dimana, kenapa nggak pulang"
__ADS_1
Mawar lupa, dia belum memberi tahu Marvin dan Chio bahwa dia sudah menikah dengan Rasya.
"Nanti kakak ceritain"
"Tolong Marvin Kak"
"Ada apa Vin"
"Kakak kesini dulu, Marvin sekarang di apartemen"
"Ya, tunggu Kakak"
Panggilan pun terputus.
"Kenapa?" Suara berat itu mengagetkan Mawar
"Sya, kamu sudah rapi, maaf aku belum sempat nyiapin pakaian kamu"
"Nggak masalah sayang, ada apa Marvin?"
Mawar menggeleng "Sepertinya Marvin sedang butuh teman, aku boleh keapartemen?"
"Boleh, aku antar sekalian ke kantor"
"Kamu nggak Papa?"
"Untuk istri sendiri"
Mawar mengulas senyum mendapati perkataan Rasya, ia langsung mengecup pipi suaminya.
"Terima kasih suamiku" ucapnya lembut, Mawar langsung berlari kekamar mandi.
Rasya terkesima dengan ucapan Mawar, panggilan suamiku membuatnya berbunga-bunga, istrinya benar sudah menerimanya, walau belum ada ungkapan sayang yang keluar dari bibir itu.
...****...
Rasya mengantarkan Mawar sampai apartemen Chio, dia mengantar sang istri sampai depan pintu.
"Tunggu aku pulang, nanti aku jemput" pesannya, sambil mengacak rambut istrinya.
"Makasih ya"
Mawar sudah mengerti apa yang diinginkan oleh suaminya ini.
Cup
"Makasih ya"
Rasya berlalu setelah memastikan Mawar sudah masuk ke unit Chio.
"Kakak diantar kak Rasya" tanya Marvin
"Kaka belum cerita kan? kemarin nomor kamu nggak bisa dihubungi"
Marvin mengerutkan keningnya, bertanya secara tidak langsung
"Kakak sudah menikah dengan Rasya" ucap Mawar jujur, dia mengulum senyum malu-malu.
"Hah, apa Kak? menikah"
Mawar hanya mengangguk.
"Serius?"
"Iya"
"Kok bisa?"
Mawar mengendikkan bahunya "Mungkin memang kami berjodoh"
"Kakak kabur saat hari pernikahan, terus ketemu disni, dekat, sekarang Kakak tiba-tiba sudah nikah sama dia, Kakak yakin atas pilihan Kakak?"
"Mudah-mudahan ini keputusan yang terbaik Vin"
Mawar melihat wajah sendu Marvin, adiknya ini seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Kemarin kakak hubungi nomor kamu, tapi nggak bisa dihubungi, Kakak mau kamu hadir di pernikahan Kakak"
__ADS_1
Marvin menundukkan wajahnya, melihat kakinya yang mengusak lantai. Bagaimana dia menjelaskan pada Mawar, dia malu, dia belum sanggup.
Hari dimana setelah dia bertemu sang mama, Marvin memutuskan untuk bertemu teman-temannya, saat itu salah satu dari temannya ada yang sedang berulang tahun. Marvin memang suka nongkrong bersama teman-temannya, namun dia tidak pernah bergonta-ganti pasangan, ataupun mengenal dunia kelam kota ini.
Temannya mengadakan acara disebuah club malam, akhirnya dia pun ikut bergabung, entah apa yang terjadi, dia seperti dijebak. Namun Marvin masih sadar, dia tidak boleh berlama-lama ditempat terkutuk ini. Dia kabur dari sana, disaat teman-temannya sedang berpesta.
Semakin lama Marvin merasakan badannya semakin panas, tubuhnya bereaksi hebat, ada getaran yang dia tak mengerti itu apa. Marvin sadar, dia tidak bisa mengendarai kendaraannya, akan berakibat buruk untuk orang lain, jika dia memaksakan. Akhirnya Marvin ketepi jalan menunggu taksi yang lewat. Setelah itu, dia tidak tahu apa yang terjadi, saat dia bangun hari bahkan sudah sangat siang.
Marvin mendengar suara wanita menangis, dia mencoba bangkit, namun dia terkejut, badannya yang sudah polos, dan mendapati noda merah ditempat tidurnya. Marvin memijit kepalanya, mencoba mencari kepingan puzzle yang sebenarnya terjadi. Yah dia ingat, dia menarik tangan seorang wanita, dia melakukan paksa pada gadis itu.
Berkali-kali dia minta maaf pada wanita itu, dan menjelaskan kalau dia dalam keadaan tidak sadar. Namun nasi sudah menjadi bubur, semua yang sudah terjadi, tidak bisa diulang lagi.
Bahkan jika bisa, dia ingin mengembalikan keperawanan wanita itu, dengan cara apapun. Ya dia tidak bisa melakukan itu.
"Vin"
Sentuhan tangan Mawar membangunkan Marvin dari lamunannya. Marvin mengangkat kepalanya. Melihat Mawar.
"Kamu kenapa?"
Marvin terlihat menarik nafasnya panjang.
"Kak ..." Marvin menitikkan air matanya, dia takut kakaknya kecewa. "Maafkan Marvin" lirihnya
Mawar menangkap hal serius dari Marvin.
"Ada apa Vin, apa yang terjadi, kamu kenapa?"
Berondongan pertanyaan Mawar membuat Marvin menciut, lidahnya semakin keluh.
"Apa jika Marvin jujur Kakak tidak marah?" Marvin malah membuat Mawar semakin gusar
"Katakan Vin, ada apa?"
"Marvin.... memperkosa_" Marvin tak dapat melanjutkan kata-katanya. Dia benar-benar takut.
"Katakan yang jelas Vin" tanya Mawar tegas, dia berharap salah dengar, dan Marvin salah berucap.
Marvin hanya mengangguk, membenarkan ucapannya.
"Astaga Vin, bagaimana bisa?"
Marvin menceritakan awal mula dia bertemu sang mama, dan ikut dalam acara ulang tahun temanya, dan berakhir dia melakukan itu hal itu dikamar apartemen Chio.
"Jadi kamu melakukan malam pertama, mendahului Kakak Vin?, kamu nggak mau tersaingi oleh Kakak?" ada rasa kecewa dihati Mawar, namun dia tidak bisa menghakimi Marvin, ini murni karena kecelakaan.
"Kak, bukan begitu"
"Tidak ada solusi lain Vin, selain kamu bertanggung jawab atas perbuatan kamu"
"Tapi Marvin masih terlalu kecil Kak, Marvin berharap wanita itu tidak hamil"
"Tapi tetap kamu harus bertanggung jawab, kalau tidak kamu bisa dipenjara"
"Kakak jangan menakuti Marvin"
"Kakak nggak nakutin Vin, tapi itu jalan satu-satunya untuk kamu" keduanya terdiam setelah perdebatan itu.
"Kamu pernah mengantarnya pulang kan Vin, kita kesana sekarang, Kakak takut dia nekat melakukan hal-hak yang tidak diinginkan, karena frustrasi"
"Kak.... " Marvin ingin menentang keputusan Mawar, namun dia tak kuasa, walau mereka bukan saudara, hanya Mawar yang begitu tulus padanya.
"Ayo kita kesana sekarang" Mawar tak ingin mengulur waktu lagi. Semakin lama mengulur waktu, takut terjadi masalah lain, dia juga seorang wanita, dia tahu betul bagaimana perasaan wanita itu.
Dengan menggunakan taksi online, mereka menuju kerumah wanita yang menjadi korban Marvin. Semakin dekat dengan rumah yang dituju, membuat Mawar semakin was-was, dia mengenal betul arah jalan mereka. Dia sering datang kesini. Dia mencoba menepis segala yang ada didalam pikirannya, mungkin hanya kebetulan.
Tak lama taksi pun berhenti tepat didepan rumah Putri, Mawar semakin terkesiap, dia berharap, bukan, bukan Putri wanita itu. Dia juga melihat mobil mama mertuanya sudah terparkir disana.
"Tuhan, aku berharap ini salah" Mawar melafalkan doa dalam hati.
.
.
.
.
__ADS_1
Ayo donk jejaknya, makasih buat kalian yang masih setia i love you all ❤️😘😍