
Seharian ini Vivi uring-urinangan, ia tak bisa masuk ke kantor suaminya, eh ralat mantan suaminya, karena walau belum sah di pengadilan tapi Marcel sudah menalaknya. Aksesnya kekantor Marcel sudah diblokir, juga akses ke kantor cabang yang selama ini jadi tempatnya menjabat sebagai kepala cabang juga ditutup. Mencoba menghubungi ponsel laki-laki itupun tak bisa, karena nomornya juga sudah di blokir.
Vivi mendatangi rumah yang dulu pernah ditempatinya, rumah yang penuh kenangan pahit untuknya. Tetap sama, dia pun tak bisa masuk ke rumah itu, padahal dulu dia sangat dihormati, disegani bahkan ditakuti dirumah itu. Penjaga rumah itu tak ada lagi yang tunduk padanya. Benar roda kehidupan cepat berputar.
Dia melihat dari kejauhan, dirumah itu nampak sedang ada acara, namun ia tak bisa mendapatkan informasi apa-apa. Tapi dia dapat menebak, jika yang berkunjung kerumah itu adalah keluarga Mahardika.
Vivi tersenyum mengejek, pasti kedatangan keluarga Mahardika untuk minta pertanggung jawaban atas ulah Mawar, sebab dia telah membuat malu keluarga itu. Dia tinggal menunggu kabar, jika Mahardika akan mencabut semua saham dari perusahaan mereka, dan membatalkan kerja sama yang telah disepakati, sebab perjodohan itu kini batal.
Vivi tinggal menunggu Marvin, anaknya bisa dijadikan alat, untuk memperoleh harta gono-gini lebih banyak lagi, bagaimana pun juga, Marvin memiliki haknya.
Suara pintu apartemennya terbuka. Seno seorang laki-laki berumur hampir 50 tahun namun rambutnya belum terlihat memutih. Seorang sarjana arsitektur, asisten pribadi dari perusahaan konstruksi, mencintai dan memacari istri orang, wanita itu mantan pacarnya sewaktu sekolah pertama dulu, bahkan mereka memiliki seorang anak laki-laki yang tak pernah ia sentuh sedikitpun.
Demi wanita yang begitu ia cintai, ia rela melakukan semua yang wanita itu minta, tanpa menuntut balik, sampai kini pun ia tak memiliki pendamping hidup. Benar-benar cinta buta.
"Ada masalah apa?" tanyanya lembut, ia tahu jika wanitanya sedang dalam keadaan mood yang tidak baik.
"Aku tidak bisa menemui Marcel sama sekali mas, dia benar-benar menutup akses untuk ku"
"Sudahlah Vi, untuk apa kamu menuntut dia lagi, kita tinggal menunggu surat cerai kamu, agar kita bisa menikah, aku ingin bertemu Marvin, perkenalkan padanya, bahwa aku ayahnya"
"Belum saatnya mas, aku sedang memperjuangkan hak Marvin"
"Sudah, nggak cukup apa yang Marcel berikan sama kamu, toh aku juga bisa mencukupi kebutuhan kalian, kita selesaikan masalah kamu, setelah itu kita hidup bahagia"
"Apa yang kamu punya sekarang mas?"
"Hei kita bisa bahagia, kita ngangon sapi dikampung, kamu tau Vi, sapi ku sekarang sudah sepuluh, dan salah satu dari sapiku ada yang hamil, sebentar lagi aku bisa bikin kesebelasan"
Jelas Seno, dia begitu bersemangat, agar kekasihnya mau ikut dengannya.
__ADS_1
"Mas kamu itu sarjana arsitek, masa kamu ngangon sapi? masa panen juga nunggu lebaran haji"
"Apa salahnya, aku juga punya kontrakan 10, hasil desain ku, kamu juga tahu, belum lama aku udah beli sawah lagi, itu cukup untuk hari tua kita"
"Aku harus memperjuangkan hak ku dulu mas, aku nggak pernah rela melihat Mawar bahagia"
"Astaga Vi, sudah hentikan, aku takut ini semua akan jadi boomerang buat kamu, kamu tinggal hubungi Marvin, ajak dia baik-baik, kita jelaskan semua sama dia"
"Aku sedih mas, Marvin selama ini tinggal bersama Mawar, dan aku rasa dia sudah tahu siapa dia, dari kemarin anak itu tidak bisa dihubungi"
Sebenarnya hati Seno sangat sakit jika mendengar tentang Marvin, dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk putranya itu, namun dia harus bersabar, demi mendapat cinta seutuhnya dari wanita yang begitu dia cintai ini.
Seperti biasa, setiap habis pertengkaran, keduanya akan menghabiskan malam yang panjang, Vivi selalu luluh pada laki-laki yang begitu mengerti dan memahami apa keinginannya, itulah yang membuatnya betah hidup tanpa status dengan laki-laki itu.
...****...
"Aku antar kamu pulang"
Ckk,
Marvin berdecak, wanita didepannya ini begitu keras kepala.
"Aku pasti akan bertanggung jawab, tapi untuk sekarang, berikan aku waktu, aku harus menghubungi keluarga ku terlebih dahulu, aku juga butuh menenangkan diri"
"Kamu mau lari dari tanggung jawab?" tatap Putri nyalang, ia takut ini hanya akal-akalan Marvin saja.
"Kamu tahu apartemen kukan, kamu bisa datang kesini jika aku ingkar, tapi untuk sekarang, lebih baik kamu pulang dulu, aku hanya menumpang disini, nanti kalau teman ku pulang, kita bisa habis"
"Aku justru menunggu teman mu pulang, biar dia tahu perbuatan bejat temannya ini"
__ADS_1
Putri benar-benar kesal, Marvin seolah mencari alasan untuk menghindar dari tanggung jawabnya.
"AKU BILANG AKU NGGAK SENGAJA"
Putri menangis, mendengar suara keras Marvin, dia tidak pernah mendapat bentakan dari siapa pun, apalagi Rasya, laki-laki terakhir yang dia kenal memperlakukan dia begitu lembut, walau berakhir pedih.
Melihat Putri menangis, Marvin menjadi tidak tega, dia merendahkan tubuhnya, hendak menenangkan.
"Jangan sentuh aku" Putri menepis tangan Marvin yang ingin menolongnya.
Marvin tersenyum mencibir "Bahkan semalam kita melakukannya"
"Jangan diungkit, gara-gara kamu aku bisa kehilangan masa depan ku"
"Kamu pikir aku tidak kehilangan masa depan ku, kamu lihat aku juga masih muda, sama kayak kamu, bisa jadi kita seumuran" Marvin memijat keningnya, dia begitu pusing, bagaimana dia menjelaskan pada Mawar tentang ini, Marvin takut jika kakaknya itu murka.
"Aku berharap kamu tidak hamil" lirihnya, Marvin tidak bisa membayangkan, diusianya yang masih begitu muda, dia sudah dipusingkan dengan urusan rumah tangga.
Marvin terus berusaha bisa mengantar Putri kembali kerumahnya, untuk saat ini, dia benar-benar butuh waktu sendiri dulu, mempersiapkan diri, untuk menjelaskan pada Mawar.
Waktu menunjukkan pukul delapan malam, akhirnya Putri bisa diluluhkan, Marvin mengantar Putri dengan taxi, karena sepeda motornya masih tertinggal di club' malam, tempat laknat yang membuatnya dalam masalah besar.
.
.
.
.
__ADS_1
Hayo jangan lupa tinggalkan jejaknya, biar othor bisa dauble up ☺️❤️❤️