Mawar Tak Berduri

Mawar Tak Berduri
Chapter 39


__ADS_3

"Apa-apaan ini? ini nggak adil" Wajah Vivi begitu geram. Marcel mengirimkan surat cerainya melalui pengacaranya. Dan untuk harta gono-gini dia hanya mendapatkan satu mobil yang sekarang dipakainya, sebuah villa didaerah puncak senilai setengah miliar, serta apartemen yang dibelinya sendiri.


Sedang untuk saham perusahaan dia tidak mendapatkannya sama sekali, padahal dia selama ini ikut andil dalam memajukan perusahaan, sekaligus mencari investor disaat mereka hampir mengalami kebangkrutan.


"Kita lihat saja Marcel, sampai mana kamu bisa melakukan ini padaku."


Vivi menghubungi pengacaranya, menanyakan atas gugatan harta gono-gini yang diinginkan.


Setelah mendapatkan jawaban yang membuat hatinya lega, Vivi kembali menghubungi seseorang, untuk melakukan rencana mereka, semua sudah tidak bisa ditunda, tindakan Marcel padanya, benar-benar menginjak harga dirinya.


...***...


Pagi ini Rasya mengantarkan Mawar kerumah papanya, setelah semalam dia menceritakan bahwa telah mengetahui bahwa Mawar bukan anak dari Vivi. Mawar sangat malu pada Rasya, bagaimana pun, dia tidak ingin keburukan keluarganya diketahui orang lain, termasuk Rasya.


Mawar terus menggigiti kukunya, dia begitu gugup, walau sudah menyakinkan dirinya, untuk menanyakan siapa ibu kandung dia yang sebenarnya.


Rasya melirik Mawar yang duduk disebelahnya, sangat terlihat Mawar seperti banyak mencemaskan banyak hal.


Mobil Rasya sudah berhenti dirumah besar milik keluarga Mawar. Rumah berpagar tinggi itu sangat terlihat sepi. Seperti tak ada kehidupan. Seorang penjaga rumah lari tergopoh-gopoh, ingin melihat siapa yang pulang.


"Non Mawar, Alhamdulillah Non pulang" Ucapnya setelah melihat Mawar yang datang, ia membukakan pagar untuk mobil Rasya bisa masuk.


"Apa kabar mang Ujang?" Tanya Mawar kepada penjaga rumahnya.


"Baik Non, cuma bapak sudah dua hari ini sedang tidak enak badan"


Mawar terkesiap "Papa sakit?"


"Iya Non" Ujang tak ingin menjelaskan, jika ibu Vivi sudah lama tidak pulang kerumah ini.


Mawar berlari meninggalkan Rasya, ia begitu cemas, ada rasa bersalah meninggalkan papanya. Tanpa memberi tahu keberadaannya.


Mawar naik kelantai dua, dimana kamar sang papa berada. Tanpa memikirkan keberadaan ibu Vivi yang tidak terlihat. Dia mengetuk pintu itu, namun tak ada jawaban. Dibukanya pintu itu secara perlahan.


"Pa...." Panggil Mawar pada sang papa. Namun ada sahutan.


Dilihatnya sang papa sedang tertidur pulas, Mawar menatap nanar sang papa, wajah tua yang masih terlihat gagah itu terlihat begitu lelah.


"Sayang, aku boleh masuk?" Rasya datang, menyembulkan kepalanya, dengan mengulas senyum. Mawar menoleh, membalas senyum kekasihnya.

__ADS_1


"Papa tidur?"


Mawar mengernyitkan keningnya.


"Aku nggak boleh manggil Papa?" Jawabnya seolah tahu apa yang Mawar pikirkan.


Mawar menggelengkan kepalanya tanpa suara, meminta Rasya untuk tak banyak bicara.


"Aku sudah menghubungi David, nanti dia akan datang, jangan pergi kemana-mana sendiri"


"Kenapa kamu menghubungi David, memang dia udah nggak disini?"


"Ceritanya panjang, nanti juga kamu tahu" Rasya mengecup kening Mawar begitu lembut. "Aku kerja dulu, jika ada apa-apa, cepat kabari aku."


Mendengar itu membuat Mawar menghangat, Rasya begitu mengkhawatirkannya. "Kamu hati-hati"


Rasya menunjuk bibirnya, meminta Mawar untuk menciumnya. Dengan dua jari yang ditempelkan di bibirnya, kemudian menempelkan ke bibir Rasya, Mawar mengabulkan permintaan laki-laki yang sudah mengklaim bahwa dia miliknya seorang.


Walau sedikit kecewa, Rasya menerima itu, dia sedang terburu-buru, banyak meeting yang harus dia hadiri hari ini.


Didepan Rasya berpapasan dengan David yang baru tiba. "Aku mencurigai ada orang yang sedang mengikuti Mawar, jangan bawa dia kemana-mana, ingat jika semua sudah terbukti, berarti dia benar keponakan mu, maka jagalah dia dengan baik" Ucapan itu begitu menegas, bahwa dia tidak bercanda.


"Aku belum tahu, baiklah, aku berangkat dulu, ingat jangan teledor" Ucap Rasya lagi, seperti tak ada hormatnya.


David hanya menggeleng kepala, pikirnya Rasya berubah paska kabur dari rumah, nyatanya tidak sama sekali.


Didalam kamar papanya, Mawar terus memandangi wajah damai itu. Dia biarkan papanya tidur, tak ingin membangunkannya. Mawar duduk pada sofa yang ada dikamar itu. Tanpa terasa dia tertidur karena sang papa belum juga bangun.


Papa Marcel membuka matanya, setelah minta dibuatkan sarapan oleh pembantunya, dia langsung minum obat, yang menyebabkanya tertidur, dia harus kuat dan sehat, menghadapi kemungkinan yang terjadi kedepannya, dia harus melindungi Mawar.


"Mawar" Panggilnya


"Papa" Mawar langsung terbangun, mendengar suara papanya, dia berhambur, memeluk tubuh sang papa.


"Kamu pulang nak" Suara papa bergetar, dia merindukan anaknya. Mawar hanya mengangguk. Lama keduanya saling berpelukan, mengurai rindu satu sama lain.


Mawar melepaskan pelukannya "Papa sakit?" Tanyanya.


"Papa hanya kurang istirahat, tadi sehabis sarapan, Papa minum obat, membuat Papa mengantuk"

__ADS_1


"Kemana Ibu pa?" Tanya Mawar yang tidak mendapati keberadaan Vivi sejak dia datang.


Pertanyaan Mawar membuat Papa teringat wanita itu, bagaimana dia menjelaskan pada Mawar, jika Vivi bukanlah ibu kandungnya. Tanpa dia ketahui jika Mawar sudah mengetahui itu.


"Papa minta maaf, Papa rasa sudah waktunya kamu mengetahui yang sebenarnya"


Mawar diam, menunggu papa melanjutkan kata-katanya. Ini yang dia mau, papanya jujur tentang semuanya.


"Jangan tanyakan lagi tentang keberadaan wanita itu dirumah ini, dia bukan ibumu, Papa sudah menceraikannya"


"Apa?" Bukan pengakuan tentang ibu Vivi, yang bukan ibu kandungnya membuat Mawar terkejut, namun ucapan papa yang mengatakan mereka akan bercerai, Mawar tak menyangka, papanya sudah melakukan semua sejauh ini.


"Maafkan Papa, karena kesalahan Papa, kamu jadi menanggung semuanya, kamu pasti sangat tersiksa selama ini" Papa menundukkan kepalanya, penyesalannya begitu dalam.


"Biarkan Papa menebus segalanya, semua waktu yang terlewati, walau Papa tahu, apapun yang Papa lakukan sekarang, tidak akan bisa menebus kesalahan Papa, bukan Papa tidak mencari mu, Papa tahu kamu bersama Marvin, tapi Papa membiarkan itu, Papa yakin, kamu dan Marvin punya alasan sendiri, mengapa kalian tidak pulang kerumah ini"


"Aku dan Marvin sudah mengetahui semuanya Pa, kami mendengarnya"


"Maafkan Papa, kalian mengetahui ini, dengan cara yang tidak tepat"


"Mungkin memang sudah jalanya seperti itu Pa, disaat aku dan Rasya akan menikah, membuat Mawar bisa memilih yang terbaik untuk Mawar"


"Papa bersyukur kamu tidak jadi menikah dengannya, dia laki-laki yang kurang tepat untuk kamu, dia memiliki wanita lain"


Mawar tersenyum, "Papa salah paham"


"Apanya yang salah paham, papa melihat mereka dimakam Ibumu"


Pengakuan Papa membuat Mawar seakan tertimpa batu besar, kenyataan bahwa ibu kandungnya, wanita yang telah melahirkannya kedunia ini sudah tidak ada, padahal dia masih berharap jika ibunya hanya terasingkan dari kota ini. Harapan bisa memeluk sang ibu langsung sirna begitu saja, tergantikan rasa sakit dan kecewa begitu mendalam.


.


.


.


.


Happy weekend semua, terima kasih yang masih setia sama Mawar, apa lah daya karya yang masih jauh dari kata sempurna ini...

__ADS_1


__ADS_2