
"Kamu?"
"Kenapa? mama sama papa sudah pada menunggu, cepat naik". Rasya berlalu begitu saja. Meninggalkan Mawar yang masih termangu ditempatnya. Rasya menjemputnya?
Itu benar Rasya atau jin yang menyerupai wajahnya. Mawar bergidik ngeri. Dia baru tersadar jika dia sudah berjalan cukup jauh dari rumah Putri. David yang tadi pamit sebentar katanya mau buang hajat di pom bensin yang tak jauh dari rumah Putri. Entah kemana?, apa dia harus menyebrang laut dulu, sampai selama ini. Apa emang ini sudah rencananya?. Mana mungkin juga kan Rasya tahu keberadaannya, jika bukan karena David.
Mawar dan Rasya akhirnya bersama menuju ke tempat retoran yang sudah ditentukan mama Rika. Seperti biasa, keduanya tak terlibat obrolan apapun, Rasya yang sibuk dengan gawainya, entah dengan siapa dia berbalas pesan?, mungkin dengan Putri, oh ya bagaimana sama Putri?. Ingin rasanya Mawar menanyakan hal itu, tapi dia akan pura-pura saja tidak tahu. Akan lebih sehat untuk telinganya, tidak mendengar kata-kata mulut berbisa Rasya.
Tak butuh waktu lama, mereka tiba direstoran steak. Memasuki ruang Viv restoran tersebut. Tanpa Mawar sadari, Rasya memakai cincin pertunangan mereka.
"Tuh yang ditunggu-tunggu akhirnya nongol juga". Mama Rika berdiri seraya tersenyum menyambut kedatangan Mawar dan Rasya.
Sedang Ibu Vivi hanya diam, dalam hati dia mencibir, yang mana Mawar masih memakai pakaian tadi siang. Papa Marcel sendiri memaksakan senyum, mengingat kejadian dimakam, Rasya yang menggandeng wanita lain. Papa Marcel menangkap Rasya memakai cincin di jari manisnya. Papa tersenyum kecut, ternyata Rasya pandai bersandiwara.
Rasya yang ditatap oleh Papa Marcel, mengangguk hormat, bersikap seolah tak terjadi apa-apa.
Mawar menyalami keempat orang tua mereka, lalu duduk disebelah Papanya. Papa menggenggam tangan putrinya, menyiratkan semua akan baik-baik saja, Mawar mengangguk mengerti akan maksud Papanya.
"Kita langsung makan saja ya dulu, soalnya makananya sudah siap". Saran Papa Reyhan.
Mereka makan dalam diam, hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
Setelah makan selesai, Papa Marcel dan Papa Reyhan membahas mengenai hari akad nanti.
Begitu juga dengan Mama Rika dan ibu Vivi, mereka telah sepakat, jika hanya akan melangsungkan akad saja. Sedang resepsinya akan dilaksanakan setelah urusan kantor Rasya selesai semua.
Tak ada pembantahan apa-apa dari Rasya dan juga Mawar, mereka menyetujui semua yang sudah jadi keputusan dari orang tua mereka.
"Maaf semuanya, saya pamit terlebih dulu, mau mengajak Mawar jalan-jalan". Ujar Rasya penuh hormat. Semua yang berada disana mengangguk, tapi tidak dengan Mawar, dia begitu terkesiap, apa yang direncanakan laki-laki ini?.
Mawar mengikuti langkah kaki Rasya menuju parkir. Setelah Mawar rasa mereka sudah aman, ia pu menghentikan langkahnya.
"Mau kemana kita?".
Rasya yang sudah jalan terlebih dahulu, seketika menoleh kebelakang. "Kemana?".
Ia kembali berjalan hendak masuk kedalam mobilnya.
Mawar begitu marah, Rasya mempermainkan dirinya, dengan langkah cepat ia menghampiri Rasya "Dasar cowok BRENGSEK, kamu nggak punya hati Rasya, kamu sudah sangat keterlaluan".
"Aku?", tunjuknya pada diri sendiri. " Jika Aku tidak punya hati, mana sudi aku menjemputmu dan datang kesini".
"Kenapa kamu tidak katakan saja semuanya, kalau kamu tidak menginginkan pernikahan ini?".
__ADS_1
"Itu tujuanku, membuatmu malu".
Mawar membelalakkan matanya, sungguh dia tak mengerti apa tujuan Rasya.
"Apa? membuat aku malu?" heh "Bukan cuma aku yang malu, tapi juga orang tuamu, kamu cuma mikirin diri kamu sendiri". Mawar menekankan telunjuknya kedada Rasya.
"Kamu masih mau disini, marah-marah nggak jelas, jadi tontonan banyak orang?". Mawar melihat sekelilingnya, benar ada beberapa orang yang berada disana melihat kearah mereka.
Diapun dengan terpaksa masuk kedalam mobil Rasya.
"Mau kemana kita?". Tanya Mawar lagi, karena Rasya belum memberi tahu, akan kemana mereka.
"Bukannya tadi aku sudah bilang, mau mengajakmu jalan-jalan".
"Turunkan aku disini Rasya"
"Belum jauh, nanti jika kamu bertemu mama papa, bagaimana?, aku yang akan dimarahi"
"Bukan urusanku". Nyalang Mawar.
Rasya tak menanggapi lagi, ia memasang headsetnya, melakukan panggilan pada seseorang. Membiarkan Mawar yang masih begitu marahnya.
"Kamu sudah siap?" Tanyanya pada seseorang diseberang sana.
"...".
Mawar tak tahu siapa yang dihubungi Rasya, namun dia berpikir, ini ada kaitannya dengan Putri.
"Kalau kamu punya janji, turunin aku disini". Ucapnya tanpa menoleh kearah Rasya.
"Kamu ikut saja".
Mawar tak membantah lagi, dia terlalu lelah.
Tak berselang lama, mereka sampai pada sebuah restoran Jepang termewah yang ada di Jakarta.
"Jangan turun, nanti ada Abdi asistenku yang akan mengantarmu pulang". Rasya melepaskan seat beltnya, kemudian turun dari mobil, tanpa mengatakan apa-apa lagi pada Mawar.
Mawar mengikuti arah jalan Rasya, didepan pintu masuk, Mawar melihat Rasya berbicara pada seorang laki-laki yang usianya tak jauh beda darinya.
"Rupanya disini kamu mengajak Putri" Mawar menghela nafasnya, menyandarkan kepala pada sandaran kursi, "Semoga kamu tidak menyakiti Putri Rasya, cukup aku saja, karena aku sudah terbiasa, sedang Putri, dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi, dia harus bahagia".
Pintu mobil terbuka, menampilkan senyum manis Abdi.
__ADS_1
"Hai... " sapa Abdi ramah. "Maaf saya mendapat perintah Rasya, untuk mengan_"
"Iya..." Potong Mawar, dia sudah tak ingin mendengar basa-basi lagi dari orang lain. Dia benar-benar sudah lelah.
Abdipun masuk, dia juga tak menanyakan apa-apa lagi, mengerti suasana hati Mawar. Abdi menjalankan mobil, mengantar Mawar pulang. Ia tak perlu menanyakan alamat rumah Mawar lagi, karena Rasya sudah memberi tahunya.
Abdi melirik Mawar yang duduk disebelahnya, ada rasa iba dihatinya, apalagi dilihatnya Mawar yang mengenakan cincin pertunangan mereka, sedang Rasya, ia sama sekali tak pernah melihat Rasya memakai cincin itu selama dikantor. Abdi yang baru kali ini melihat Mawar dengan jarak sedekat ini, sangat mengagumi kecantikan Mawar, dia yang seorang playboy, bergonta-ganti pasangan, sering melakukan one night stand, bisa menilai, jika Mawar gadis yang baik, tidak seperti yang sering Rasya tuduhkan, kalau Mawar hanya memanfaatkan dia. "Dasar Rasya, gak tau barang bagus, umur doank tua, tapi pikiran masih cetek, malah milih bocah ingusan. Tapi kasihan juga Putri, Putri gadis yang baik, duhhh boss boss, nasib mu beruntung, dikelilingi gadis baik, semoga nanti tidak ada yang tersakiti". Batin Abdi, mengingat Rasya belum memberi kepastian pada Putri.
Sesampainya dirumah, Mawar langsung membersihkan diri, ia merebahkan tubuhnya, memandang ke langit-langit kamarnya, membayangkan yang sedang dilakukan Rasya dan Putri, Rasya mengungkapkan cintanya dengan cara yang romantis, kemudian keduanya menghabiskan malam mereka bersama.
Huhhh, buat apa sih Mawar memikirkan hal yang hanya membuatmu semakin sakit.
Dia pun melihat ponselnya, mengalihkan pikirannya, membuka email yang dikirimkan Chio. Seketika Mawar tersenyum merekah, melihat respon dari para pembeli dan hasil penjualan parfum yang semakin meningkat.
...----------------...
Keesokan harinya, Papa Marcel mengajak Rasya bertemu disebuah cafe, yang ternyata itu cafe milik Rasya.
Papa memasuki cafe tersebut, ternyata Rasya telah datang lebih awal. Ia menatap sengit pada Rasya. "Om tidak akan berbasa-basi, kamu tinggalkan gadis itu, atau kamu putuskan pertunangan dengan anak saya".
Rasya hanya menanggapi dengan tersenyum. "Om nggak mau duduk dulu Om?".
"Aku menghormati kedua orang tuamu, jika bukan mereka yang meminta, tak sudi aku menikahkan engkau dengan putriku".
Rasya tak menjawab, ia mencoba tenang "Duduk dulu Om,biar hatinya adem". Ucapnya mengejek.
"Bukanya Om senang ya, punya besan kaya?".
Papa Marcel menarik kemeja yang dikenakan Rasya. "Jaga ucapan kamu, aku tidak takut kehilangan uangku, bahkan aku akan membatalkan perjanjian kontrak kerja, dari pada menyerahkan anakku pada laki-laki tak bertanggung jawab seperti kamu". Dilepasnya cengkraman itu, membuat Rasya terdorong kebelakang. Untung dia bisa mengimbangi dirinya, sehingga dia tak terjatuh.
Rasya tetap tenang, ia merapikan kerah kemejanya. "Ingat Om, Om akan membayar mahal jika melakukan itu". Entah keberanian dari mana, Rasya mengatakan hal kurang ajar pada calon mertuanya.
"Aku tidak takut sama sekali, aku tidak akan membiarkan kamu menyakiti anakku".
Papa Marcel pergi begitu saja setelah mengatakan itu. Tak disangka Ia malah berpapasan dengan Putri yang baru tiba didepan pintu masuk, gadis yang ia lihat bersama Rasya. Papa Marcel mengacuhkan Putri yang akan menyapanya.
Putri terkejut ada Rasya dicafe, Ia kembali melihat Papa Marcel yang baru keluar, dilihatnya Rasya yang sedang memijat pelipisnya. Putri menghembuskan nafasnya, yakin sekali, bahwa keduanya sedang habis bertemu dan terjadi masalah.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...